Halat Hissar (A State of Siege)

mahmoud darwish

Mahmoud Darwish (source: darwishfoundation.org)

 

Halat Hissar/A State of Siege

by Mahmoud Darwish *)

A woman asked the cloud: please enfold my loved one
My clothes are soaked with his blood
If you shall not be rain, my love
Be trees
Saturated with fertility, be trees
And if you shall not be trees, my love
Be a stone
Saturated with humidity, be a stone
And if you shall not be a stone, my love
Be a moon
In the loved one’s dream, be a moon
So said a woman to her son
In his funeral
He goes on to add:
During the siege, time becomes a space
That has hardened in its eternity
During the siege, space becomes a time
That is late for its yesterday and tomorrow
Continue reading

Poligami dan Substansi Agama dalam Negara

PrintAlkisah, sebuah pemerintahan dinilai steril dari yang namanya agama. Agama mempunyai ranahnya sendiri dan negara-pemerintahan adalah ruang yang lain. Ini dasar dari sekulerisme, ada negasi antara yang sakral dan profan. Dia dibuktikan secara struktural. Agama tidak mendasari hukum negara, demikian juga hukum negara tidak berhak mengatur kehidupan dan syariat agama. Laiknya himpunan, pada dasarnya dia tidak mempunyai irisan hubungan.

Bila ditarik lebih ke belakang, sekulerisme punya nada filosofis yang “indah”. Ada banyak perspektif, tapi saya lebih tertarik dari perspektif humanisme. Pasca penciptaan manusia oleh Tuhan, manusia dibekali dengan kehendak asasi yang mandiri atau free will. Film drama komedi, Bruce Almighty (dibintangi Jim Carrey sebagai Bruce/manusia dan Morgan Freeman sebagai God/Tuhan) setidaknya menerangkan ini dengan cara yang sederhana. Continue reading

Demokrasi?

lebahSeperti lebah. Sarangnya begitu teratur, sebuah heksagon yang saling berdampingan. Ketika mereka mencari makan di luar, di kumpulan bunga-bunga, tak ada keributan yang terjadi. Mereka tak perlu ajaran soal antri. Tak ada pula kecemburuan ketika seekor lebah mendekati bunga yang sangat cantik dan berhasil memproduksi madu yang begitu banyak. Tidak ada yang merasa tidak adil ketika seekor lebah lainnya hanya mendapatkan bunga-bunga yang tak pernah dilirik manusia karena keburukannya; bunga-bunga yang tak pernah mendapatkan porsi di puisi-puisi manusia.

Mereka hidup dengan seekor ratu, yang memberi mereka jaminan eksistensi dan survivalitas di kemudian hari. Mereka tak perlu memilih ratu seperti layaknya manusia memilih pemimpin-pemimpinnya. Tak ada bantahan. Lebah hidup terus seiring waktu berputar di atas muka bumi. Continue reading

Menikmati Kebengisan Politik 2014

sketsaBarangkali, tak seorang Niccolo Machiavelli yang melukiskan politik dengan begitu bengis. Kebengisan adalah modal, menjadi tungku kekuasaan di mana rakyat adalah batubara yang pasrah. Rakyat yang diceritakan itu tak memiliki posisi untuk menatap kekuasaan. Tapi dia perlu, minimal sebagai saksi. Si saksi yang tak punya kuasa untuk merubah itu.

Tapi, kekuasaan adalah kesendirian yang absolut. Fir’aun adalah perlambang kekuasaan manusia di mana dia sendirian berada, nun, di titiknya yang tertinggi. Dia eksis menyendiri di puncak piramida tanpa ada sesuatu apapun yang menyamai ketinggiannya. Dia tidak pernah menengadah, tapi suka menatap kaki-kakinya dengan mata yang berkilat-kilat, di mana apa yang ada di luarnya (selain rakyat, termasuk juga para hulubalang, punggawa, hingga para tentara) mengerubungi jari-jarinya seperti semut mengelilingi bongkahan gula. Karena itu, Fir’aun merdeka dari segala norma ataupun kewajiban atas nama moral. Mungkin ini mirip dengan ubermeench a la Friedriech Nietzsche, yang menganggap manusia pada titik tertingginya adalah manusia yang mampu membunuh moralitas yang di antaranya diciptakan oleh Tuhan. Moral Tuhan yang selama ini memenjarakan manusia sehingga tidak mampu menjadi “manusia sejati” yang telah keluar dari sebuah konsep yang bernama “normal”. Budak moral, seru dia. Kemerdekaan adalah lepas dari segala-galanya. Baru setelah itu, si manusia tadi mempunyai kemampuan untuk memproduksi sebuah hal yang baru; mencipta. Continue reading

Mimpi Rakyat Sejahtera

sketsa miskinOrang Indonesia punya mimpi; sejahtera. Tidak muluk-muluk sebenarnya. Sudahkah itu terealisasi? Sebagian. Sebagian ini pun mesti diperpanjang lagi debatnya; masih sebagian kecil dan bukannya sebagian besar. Kalau ceritanya adalah masih sebagian kecil saja yang sejahtera, maka sudah terjadi kesenjangan ekonomi dalam skala yang cukup masif. Dan itu berarti mimpi belum terealisasi. Continue reading

Jelang Pemilu 9 April 2014, SBY Keluarkan Keppres 12/2014 Pro Cina

koruptor BLBIDengan pertimbangan istilah “Tjina” sebagaimana disebutkan dalam Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor SE-06/Pred.Kab/6/1967 tanggal 28 Juni 1967, yang pada pokoknya merupakan pengganti istilah “Tionghoa/Tiongkok” telah menimbulkan dampak psikososial-diskriminatif dalam hubungan sosial warga bangsa Indonesia dari keturunan Tionghoa, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2014 tentang pencabutan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera itu. Continue reading

Politisasi (Pemeluk) Agama

ADALAH hal yang muskil untuk soekarno 1menghilangkan ideologi agama dalam partai politik di Indonesa. Dorongan agama merupakan salah satu yang utama ketika orang melihat politik. Bila seseorang melandaskan hidupnya, katakanlah, pada ayat yang berbunyi: amar ma’ruf nahi mungkar, maka adalah sebuah kepastian kalau itu hanya bisa dilakukan secara politik. Cara sosial maupun budaya, tidaklah mencukupi menanggung beratnya perjuangan untuk menegakkan ayat tersebut.

Untuk menyeru kebaikan, mungkin bisa dilakukan oleh siapapun. Namun untuk menentang kemungkaran maka kekuasaan adalah hal yang mutlak. Organisasi pelaku kemungkaran hanya bisa ditaklukkan dengan kekuatan. Ini karena kejahatan selalu dimulai oleh kekuatan dari kelompok jahat. Tidak ada pernah ada mereka yang jahat itu lemah. Mereka adalah orang-orang yang kuat, baik secara fisik, mental maupun organisasional.

Continue reading