Tujuan mencuci sebenarnya sudah jelas, membersihkan. Dari yang semula berselemak kotoran menjadi bersih. Bila semakin bersih, boleh jadi dia akan suci. Tidak ada lagi titik-titik noda, walau hanya sekedar noktah.
Karena itu mencuci adalah sebuah proses di antara kotor dan bersih. Kalau kotor dapat juga dikonotasikan dengan hal-hal yang buruk, maka “mencuci” adalah sebuah kata kerja agar yang buruk tadi menjadi baik. Mencuci menjadi sebuah proses negasi terhadap kekotoran sehingga kotor itu menjadi tidak eksis lagi. Jadi, sifat kata “cuci” tidak seperti memberi hijab atau pembatas. Atau katakanlah dia tidak seperti memberi topeng yang menutupi agar yang kotor tadi tampak bersih. Tidak, tidak begitu. Maksud dia mungkin lebih mirip seperti purgatorio, tempat perantara untuk penyucian segala dosa, seperti yang disebut Dante Alighieri dalam Divina Commedia. Read the rest of this page »




















Yang Ngomen