Menikmati Kebengisan Politik 2014

Posted on Updated on

sketsaBarangkali, tak seorang Niccolo Machiavelli yang melukiskan politik dengan begitu bengis. Kebengisan adalah modal, menjadi tungku kekuasaan di mana rakyat adalah batubara yang pasrah. Rakyat yang diceritakan itu tak memiliki posisi untuk menatap kekuasaan. Tapi dia perlu, minimal sebagai saksi. Si saksi yang tak punya kuasa untuk merubah itu.

Tapi, kekuasaan adalah kesendirian yang absolut. Fir’aun adalah perlambang kekuasaan manusia di mana dia sendirian berada, nun, di titiknya yang tertinggi. Dia eksis menyendiri di puncak piramida tanpa ada sesuatu apapun yang menyamai ketinggiannya. Dia tidak pernah menengadah, tapi suka menatap kaki-kakinya dengan mata yang berkilat-kilat, di mana apa yang ada di luarnya (selain rakyat, termasuk juga para hulubalang, punggawa, hingga para tentara) mengerubungi jari-jarinya seperti semut mengelilingi bongkahan gula. Karena itu, Fir’aun merdeka dari segala norma ataupun kewajiban atas nama moral. Mungkin ini mirip dengan ubermeench a la Friedriech Nietzsche, yang menganggap manusia pada titik tertingginya adalah manusia yang mampu membunuh moralitas yang di antaranya diciptakan oleh Tuhan. Moral Tuhan yang selama ini memenjarakan manusia sehingga tidak mampu menjadi “manusia sejati” yang telah keluar dari sebuah konsep yang bernama “normal”. Budak moral, seru dia. Kemerdekaan adalah lepas dari segala-galanya. Baru setelah itu, si manusia tadi mempunyai kemampuan untuk memproduksi sebuah hal yang baru; mencipta. Read the rest of this entry »

Mimpi Rakyat Sejahtera

Posted on Updated on

sketsa miskinOrang Indonesia punya mimpi; sejahtera. Tidak muluk-muluk sebenarnya. Sudahkah itu terealisasi? Sebagian. Sebagian ini pun mesti diperpanjang lagi debatnya; masih sebagian kecil dan bukannya sebagian besar. Kalau ceritanya adalah masih sebagian kecil saja yang sejahtera, maka sudah terjadi kesenjangan ekonomi dalam skala yang cukup masif. Dan itu berarti mimpi belum terealisasi. Read the rest of this entry »

Jelang Pemilu 9 April 2014, SBY Keluarkan Keppres 12/2014 Pro Cina

Posted on Updated on

koruptor BLBIDengan pertimbangan istilah “Tjina” sebagaimana disebutkan dalam Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor SE-06/Pred.Kab/6/1967 tanggal 28 Juni 1967, yang pada pokoknya merupakan pengganti istilah “Tionghoa/Tiongkok” telah menimbulkan dampak psikososial-diskriminatif dalam hubungan sosial warga bangsa Indonesia dari keturunan Tionghoa, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2014 tentang pencabutan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera itu. Read the rest of this entry »

Politisasi (Pemeluk) Agama

Posted on Updated on

ADALAH hal yang muskil untuk soekarno 1menghilangkan ideologi agama dalam partai politik di Indonesa. Dorongan agama merupakan salah satu yang utama ketika orang melihat politik. Bila seseorang melandaskan hidupnya, katakanlah, pada ayat yang berbunyi: amar ma’ruf nahi mungkar, maka adalah sebuah kepastian kalau itu hanya bisa dilakukan secara politik. Cara sosial maupun budaya, tidaklah mencukupi menanggung beratnya perjuangan untuk menegakkan ayat tersebut.

Untuk menyeru kebaikan, mungkin bisa dilakukan oleh siapapun. Namun untuk menentang kemungkaran maka kekuasaan adalah hal yang mutlak. Organisasi pelaku kemungkaran hanya bisa ditaklukkan dengan kekuatan. Ini karena kejahatan selalu dimulai oleh kekuatan dari kelompok jahat. Tidak ada pernah ada mereka yang jahat itu lemah. Mereka adalah orang-orang yang kuat, baik secara fisik, mental maupun organisasional.

Read the rest of this entry »

Jika Rakyat Membangkang

Posted on Updated on

ali4MUHAMMAD Ali. Pada 28 April 1967, di Houston, angkatan bersenjata Amerika Serikat (AS) memanggil nama juara dunia tinju itu. Disebut hingga tiga kali, nama itu tak kunjung berdiri. Seorang perwira memeringatkan, sikapnya itu bisa membuatnya meringkuk lima tahun di penjara dan denda US$ 10.000. Ali bergeming ketika ancaman itu diakhiri dengan panggilan keempat. Ali ditangkap. Di hari yang sama, Komisi Atletik New York mencabut izin bertanding termasuk gelar juaranya. Dia dihukum tak bisa bertanding di seluruh negara bagian Amerika Serikat hingga tiga tahun. Tiga bulan kemudian, pada 20 Juni 1967, juri pengadilan memutuskan Ali bersalah. Ali banding ke Mahkamah Agung AS. Pada 28 Juni 1971, Ali tetap diputus bersalah. Ali dinyatakan bersalah karena tidak mau masuk ke Angkatan Bersenjata Amerika dan dikirim dalam perang Vietnam. “Man, I ain’t got no quarrel with them Vietcong,” tegas dia. Read the rest of this entry »

Resistance to Civil Government (Civil Disobedience)

Posted on Updated on

Henry David Thoreau (12 Juli 1817 – 6 Mei 1862)
Henry David Thoreau
(12 Juli 1817 – 6 Mei 1862)

Resistance to Civil Government (Civil Disobedience)
by Henry David Thoreau
first published 1849 at anthology called Æsthetic Papers

* * *

I heartily accept the motto, “That government is best which governs least”; and I should like to see it acted up to more rapidly and systematically. Carried out, it finally amounts to this, which also I believe- “That government is best which governs not at all”; and when men are prepared for it, that will be the kind of government which they will have. Government is at best but an expedient; but most governments are usually, and all governments are sometimes, inexpedient. The objections which have been brought against a standing army, and they are many and weighty, and deserve to prevail, may also at last be brought against a standing government. The standing army is only an arm of the standing government. The government itself, which is only the mode which the people have chosen to execute their will, is equally liable to be abused and perverted before the people can act through it. Witness the present Mexican war, the work of comparatively a few individuals using the standing government as their tool; for, in the outset, the people would not have consented to this measure. Read the rest of this entry »

Kampusiana

Posted on Updated on

Brad Pitt gagah benar ketika tampil dalam film Troy. Berperan sebagai Achilles, Dia ksatria tak terkalahkan. Kuat bertarung, tahu bersiasat, cekatan menggunakan senjata, berani dan wajahnya memikat para wanita. Dia sempurna.

“Apakah kau tak takut mati?” tanya seorang perempuan kepadanya.
“Apa bedanya mati besok, nanti atau sekarang?” sahut dia.

Agaknya, pertanyaan Achilles itu sekaligus menjadi jawaban. Tak ada gunanya menggelisahkan sebuah kepastian. Mungkin kira-kira begitu.

Kita tidak bicara soal pertarungan laksana duel antara dua prajurit ataupun petinju. Mungkin ini agak-agak mirip dengan pertarungan politik yang kini makin kasat mata menuju Pemilu 2014. Tapi tak juga soal itu. Mirip-mirip iya. Read the rest of this entry »