Korporatokrasi dan Imperialisme Media

  “Sebagai akibat perang, berbagai korporasi telah menjadi seperti raja dan era korupsi di tingkatan tinggi segera mengikuti, dan kekuasaan uang akan berupaya memperpanjang kekuasaannya dengan merugikan kepentingan rakyat sehingga seluruh kekayaan akan terpusat di sejumlah tangan yang terbatas dan … Continue reading Korporatokrasi dan Imperialisme Media

Terasing di Negeri Sendiri

Di jalanan lintas Sumatera, jejeran beberapa perkebunan kelapa sawit berdiri tegak. Seakan bersikap mengawal perjalanan, mereka menghujam tanah yang dulu dimerdekakan orang-orang yang kebanyakan tak ditulis dalam buku-buku sejarah. Sebagian kecil saja milik anak-cucu-cicit mereka. Dari jalan perkebunan, keluarlah truk-truk pengangkut sawit meninggalkan pekerja perkebunan dan warga sekitar yang tak kunjung makmur. Definisi kaum sejahtera di perkebunan adalah pemilik dan para eksekutif elit. Tentu, jumlah mereka sangat sedikit.

Jalan negara yang hancur total di Batu Jomba, Tapanuli Selatan. (maret 2015 -iwan)
Jalan negara yang hancur total di Batu Jomba, Tapanuli Selatan. (maret 2015 -iwan)

 

Continue reading “Terasing di Negeri Sendiri”

Mimpi Rakyat Sejahtera

sketsa miskinOrang Indonesia punya mimpi; sejahtera. Tidak muluk-muluk sebenarnya. Sudahkah itu terealisasi? Sebagian. Sebagian ini pun mesti diperpanjang lagi debatnya; masih sebagian kecil dan bukannya sebagian besar. Kalau ceritanya adalah masih sebagian kecil saja yang sejahtera, maka sudah terjadi kesenjangan ekonomi dalam skala yang cukup masif. Dan itu berarti mimpi belum terealisasi. Continue reading “Mimpi Rakyat Sejahtera”

Bento, Benih Koruptor

iwan falsIwan Fals baru bernyanyi di Medan di penghujung Januari kemarin. Tajuk Konser Suara untuk Anak Negeri yang digagas itu, seakan-akan hendak mengantarkan pada momentum pemungutan suara pada April 2014 mendatang. Lagu Bento didendangkan. Lagu yang cukup dahsyat. Diciptakan di masa Orde Baru (Orba), lagu itu tak kehilangan momentumnya hingga kini. Walau dinyanyikan di ujung pergelaran, tapi saya merasa itu bukan menjadi titik akhir atau katakanlah sebuah kesimpulan yang murung mengenai kondisi yang terjadi di negeri ini dan setelah itu kita harus menyerah terhadap situasi seperti itu.

Tapi mari berasumsi positif kalau hal itu telah disengaja Iwan Fals agar setiap anak negeri memarahi kondisi itu dan kemudian merubahnya menjadi keadaan yang sebaliknya. Dan saya ingin mengambil satu noktah dari lagu itu bahwa keculasan, kelicikan, kemunafikan dan deretan sumpah serapah yang saya kira bisa kita pahami bersama dari lirik lagu Bento tersebut. Bahwa adalah lagu yang penuh amarah itu ditujukan kepada mereka-mereka yang elit, kelompok eksklusif apakah itu dari bilik politik, sosial, ekonomi maupun budaya. Mereka-mereka yang dengan sadar menipu dan memanipulasi kejahatan dalam wajah-wajah yang bermoral dan “adil”.

Untuk itu, kita harus berterima kasih kepada Iwan Fals. Continue reading “Bento, Benih Koruptor”

Si Seksi Pembunuh Negara (2)

corrupPedih. Korupsi di ibukota provinsi Sumatera Utara ini, memang cukup memedihkan. Orang Medan pernah tidak punya pemimpin karena dua-duanya masuk penjara. Walikota Medan dan Wakil Walikota Medan, Abdillah dan Ramli Lubis, tersangkut perkara korupsi mobil pemadam kebakaran. Bukan hanya mereka, Gubernur Sumut, Syamsul Arifin juga begitu. Beberapa walikota dan bupati di beberapa kota dan kabupaten di Sumut juga menjadi terpidana dan tersangka korupsi. Paling gres, kasus Bupati Mandailing Natal yang kini telah menjadi tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Continue reading “Si Seksi Pembunuh Negara (2)”

Si Seksi Pembunuh Negara (1)

corrupKorupsi. Seksi benar kata itu, saat ini. Hampir setiap hari, masyarakat melihat kata itu di koran-koran. Juga mendengar kata itu diucap di radio dan televisi. Pokoknya, dia seksi benar, seluruh mata melotot ketika dia muncul di hadapan. Saking seksinya, dia menjadi santapan sehari-hari, pagi kala sarapan, siang saat makan siang dan malam hingga menjelang tidur pun kata itu tetap muncul. Anak kecil pun tahu soal kata. Soal maknanya apa, nanti dulu. Soal sebabnya itu urusan belakang dan akibat yang ditimbulkannya jelas bukan porsi mereka untuk menelaah. Continue reading “Si Seksi Pembunuh Negara (1)”

Bila Pengusaha Bicara Orang Miskin

poor2SAYA membayangkan sekelompok orang dengan perut-perut yang kenyang sedang membahas orang-orang miskin. Apakah orang miskin itu lapar, kira-kira tak perlu dipertanyakan lagi bukan?

Pada event Indonesia Investor Forum 3 di Jakarta Convention Center pada penghujung Januari 2014, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, bicara “keras” soal kemiskinan yang melanda negeri ini dan ini dapat menjadi catatan yang menarik. Continue reading “Bila Pengusaha Bicara Orang Miskin”

Kesejahteraan dan Ideologi Keadilan

Eksistensi seseorang atau kelompok di Indonesia ditentukan apakah dia mampu memberikan pembenaran terhadap perilaku menyimpang dari kekuasaan. Kesejahteraan yang didapatkan mereka saat ini adalah sebuah keadilan bagi mereka. There is no alternative, seperti yang pernah diungkap oleh Margareth Thacher.

***

slavedealerSoal kapitalisme, The Iron Lady, Margaret Thatcher, pernah berujar singkat saja, “There is no alternative.”  Ketika ekonomi Inggris terpuruk di dekade 1970-1980-an, Thatcher tanpa ragu tidak hanya mengutip dan mengagungkan pemikiran John Adam Smith (1723-1790) soal kapitalisme dalam An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations, tapi dia juga adalah eksekutor paling kukuh di dekade 1980-an ketika dia memerintah Inggris.

Dilingkupi nasionalisme Inggris yang meninggi akibat kemenangan perang melawan Argentina memerebutkan Kepulauan Falklands (Argentina menyebutnya Las Malvinas), ekonomi Inggris di bawah pemerintahannya membumbung tinggi. Namun, Perdana Menteri Inggris terlama ini akhirnya jatuh juga. Kemarin dia baru wafat dan beberapa kawasan yang paling merasakan kuku besi kapitalisme-nya, merayakannya. Kapitalisme telah kehilangan salah satu pendukung paling gigih dalam sejarahnya. Continue reading “Kesejahteraan dan Ideologi Keadilan”

Purgatorio

purgatorioTujuan mencuci sebenarnya sudah jelas, membersihkan. Dari yang semula berselemak kotoran menjadi bersih. Bila semakin bersih, boleh jadi dia akan suci. Tidak ada lagi titik-titik noda, walau hanya sekedar noktah.

Karena itu mencuci adalah sebuah proses di antara kotor dan bersih. Kalau kotor dapat juga dikonotasikan dengan hal-hal yang buruk, maka “mencuci” adalah sebuah kata kerja agar yang buruk tadi menjadi baik. Mencuci menjadi sebuah proses negasi terhadap kekotoran sehingga kotor itu menjadi tidak eksis lagi. Jadi, sifat kata “cuci” tidak seperti memberi hijab atau pembatas. Atau katakanlah dia tidak seperti memberi topeng yang menutupi agar yang kotor tadi tampak bersih. Tidak, tidak begitu. Maksud dia mungkin lebih mirip seperti purgatorio, tempat perantara untuk penyucian segala dosa, seperti yang disebut Dante Alighieri dalam Divina Commedia. Continue reading “Purgatorio”

Polonia

polonia1Kita membanggakan sesuatu yang bukan milik kita sendiri. Bandara Polonia Medan, satu di antaranya. Dia bukan milik kita. Polonia adalah ejaan latin untuk Polandia, sebuah negara lain yang ada di Eropa. Bagi Baron Michalski, orang Polandia yang pada 1872 mendapatkan konsesi lahan dari kolonial Belanda, kawasan itu memang bukan untuk sebuah bandara. Dia menamakan perkebunan tembakau miliknya itu dengan sesuatu yang ada pada dirinya, mengingatkan dirinya pada asalnya. Dia adalah orang Polandia. Continue reading “Polonia”

212

212. Wiro Sableng, seorang pendekar, tokoh fiksi karangan Bastian Tito (almarhum), merajah angka itu di dadanya. Itu salah satu warisan gurunya yang bernama, Sinto Gendeng. Senjatanya pun bertuliskan angka 212: Kapak Maut Naga Geni 212.

wiroDari nama dirinya dan gurunya, pembaca dapat melihat ada unsur utama yang ditanamkan kepadanya; sableng dan gendheng. Dua-duanya bermakna kegilaan. Namun, dia tak gila seluruhnya. Dia dikisahkan sebagai pendekar yang membela kebenaran dan kebaikan. Lawannya adalah hal-hal negatif seperti ketidakjujuran, kesewenang-wenangan, kezaliman, dan seterusnya. Ternyata, unsur “gila” tak seluruhnya bermakna negatif.

* * *

Continue reading “212”

Ahimsa

ahimsaKuat dan lemah ditentukan orang berdasarkan dayanya. Kata sederhananya adalah tenaga. Satu prinsip fisika berujar soal dinamisasi gerak, semakin cepat gerak, daya yang ditimbulkan juga semakin kuat. Namun, dalam diam juga ada gerak. Orang-orang suka menyebutnya dengan “potensi”. Dulu, Mohandas Karamchand Gandhi, sering dipanggil Mahatma Gandhi, memopulerkan kembali istilah “ahimsa” yang secara harfiah berarti “anti kekerasan”. Salah satu wujudnya adalah perlawanan dalam diam. Melawan kolonialisasi Inggris, dia malah mengkampanyekan pemakaian produk asli India. Bukan dengan senjata, tapi dengan diam. Continue reading “Ahimsa”

Subsidi

subsidiOleh pemerintah, subsidi dibuat padanannya, yaitu bantuan. Bantuan, mengandung makna positif daripada negatif. Misalnya, dalam doa-doa setiap orang yang beragama, manusia selalu membutuhkan bantuan dari Tuhan. Dia juga mengandung pengertian bahwa sesuatu yang berat akan diringankan. Beban menjadi berkurang kadarnya.  Yang lemah menjadi kuat atau paling tidak sedikit kuat dan yang penting tidak lemah lagi. Sifatnya jadi melindungi. Begitulah. Continue reading “Subsidi”

Buron

fugitive1Dikejar-dikejar itu pasti tak asyik. Kecuali bila Anda yang laki-laki dikejar-kejar oleh perempuan, atau sebaliknya perempuan dikejar-kejar laki-laki. Itupun, mesti ada syaratnya juga. Misalnya, bila Anda tak sreg dengan yang mengejar, maka boleh jadi perasaan Anda jadi tak asyik. Tapi bila sebaliknya, bisa dibayangkan kalau pepatah lama yang mengatakan bagai pungguk merindukan bulan menjadi realita. Kita pun menjadi bahagia, senang, sukaria dan seterusnya. Tidak hanya itu. Dikejar-kejar tentu beda maknanya dengan hanya sekedar datang dan menghampiri. Ada intensitas yang beda. Continue reading “Buron”

Angkot

angkotKata “rakyat” dan “kecil”, entah mengapa selalu bersama-sama, sering disandingkan: “rakyat kecil”. Sungguh jarang kelihatan “rakyat besar”, “rakyat tinggi”, ataupun “elit rakyat”. Orang sosiologi mungkin akan mengatakan akan selalu ada proses marginalisasi terhadap kata “rakyat”. Dia mengalami pengecilan dan penyempitan makna, kata orang Bahasa Indonesia. Mungkin sudah nasib kata ”rakyat” untuk selalu berada dalam ruangan yang kecil. Continue reading “Angkot”

Kalah

loserKalah dan menang mempunyai beda makna setipis ari bawang. Salah satu padanannya adalah gagal dan berhasil. Saking tipisnya beda antara keduanya, sampai-sampai ada orang bijak yang mengatakan, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Kelompok pebisnis motivator malah sering berujar dengan cukup optimis, justru keberhasilan dan kemenangan merupakan kumpulan dari kegagalan dan kekalahan yang dialami sebelumnya. Continue reading “Kalah”

“N”

nSiapa superhero terkuat? Mungkin yang pernah dibuat oleh DC Comics, Superman. Apa profesinya? Jangan tersenyum dulu: dia memang seorang jurnalis. Kita tidak tahu juga mengapa penciptanya, Jerry Siegel dan Joe Shuster, menyematkan profesi itu kepada si manusia super itu. Profesi yang berkaitan dengan jurnalistik masih ada lagi, misalnya yang dibuat oleh Marvel, Spiderman. Profesi lain bukan tak ada. Batman, misalnya, adalah seorang pengusaha besar.   Continue reading ““N””

Murah

miskin1Tafsir membuat segalanya menjadi mungkin. Meski, wajib ada imajinasi yang membuat si penafsir tadi dapat mengembara dalam ruang yang tak terbatas. Mahal dan murah demikian juga. Bagi seorang kaya raya, harga BBM Bensin Premium yang rencananya dinaikkan Rp 6.500 per liter, itu tidak ada apa-apanya. Bagi orang miskin, walau tak ada pengaruh karena dipastikan dia tidak punya mobil pribadi berplat hitam, itu mahal. Continue reading “Murah”

Rumus

rumusPembagian yang rigid mengenai ilmu pengetahuan ada dua yaitu eksak dan non-eksak. Ilmu ekonomi secara makro berada di ranah ilmu pengetahuan sosial namun sebagian mengatakan ilmu ekonomi, terutama pada klausul generalisasi kesimpulan, sudah naik tingkat dalam sebuah ruang “kemungkinan pasti”. Tingkatan ini berbeda dengan ilmu-ilmu sosial –seperti sosiologi, psikologi, komunikasi, dan lain-lain dalam lingkup humaniora— yang rumus-rumus teoritisnya, generalisasi kesimpulannya, berlaku spesifik.

Pengaruh eksak, terutama hukum-hukum matematika yang mengungkapkan soal perhitungan dan kepastian, begitu kukuh dalam ekonomi. Alhasil, proses sebab-akibat begitu tegas. Satu kejadian “dimungkinkan pasti” akan mengakibatkan fenomena yang lain. Continue reading “Rumus”

Keumalahayati

art perempuan1Kurang lebih 400 tahun sebelum Raden Ajeng Kartini bisa menulis, di Kesultanan Aceh sudah malang-melintang nama Keumalahayati. Dia  perempuan, energik dan mampu mengemudikan kapal, bukan sampan. Dia tak cuma bisa menulis, dia juga mampu membaca peta, arah angin dan memimpin pasukan perang melawan penjajah Belanda.

Dituliskan dari wikipedia, bersumber dari acehpedia.org, Keumalahayati lahir dari keluarga pelaut. Ayah Keumalahayati bernama Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530-1539 M. Adapun Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M), yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam. Continue reading “Keumalahayati”