Pramoedya Ananta Toer, Sebuah Wawancara Imajiner (1)


Dua tahun lalu, tepatnya, Minggu, 30 April 2006, sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, wafat di kediamannya, daerah Utan Kayu, Jakarta. Benarkah Pramoedya “meninggal”?

* * *

pramoedya ananta toerSastrawan besar itu “akhirnya” meninggal dunia. Tepatnya pada Minggu, 30 April 2006, di kediamannya daerah Utan Kayu, Jakarta, paru-parunya yang sering berkelahi dengan asap rokok –dalam hari-hari terakhirnya ini, keluarganya harus menyelipkan sebatang rokok di mulutnya mengantisipasi kegemarannya merokok – pun harus berhenti mengeluarkan oksigen. Pram memang perokok berat.

Tulisan ini dibuat untuk mengenang Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan yang kuat dan hidup dari dan di antara konflik dan polemik. Saya ingin mengenang wafatnya sastrawan ini dalam bentuk wawancara imajiner dengan Pramoedya. Terlepas dari salah atau tidaknya “prediksi” saya, wawancara ini disajikan dari banyak sumber mengenai pemikiran dan hasil karya Pram sendiri.

Toh memang, sepanjang hidup Pram sendiri tak pernah bebas dari polemik. Mulai Manifestasi Kebudayaan (manikebu) dan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dipimpinnya, polemik Magsaysay award dari Filipina, sampai polemik antara ritual Islam dan berkumandangnya lagu Internationale dan Darah Juang, sewaktu pemakamannya. Berikut petikannya.

Anda dikuburkan dengan ritual Islam tapi juga berkumandang lagu Internationale dan Darah Juang. Kan itu lagu kebangsaannya komunis?
Ha…ha…ha…Anda ini berpikir kok seperti zaman dan pemerintahannya Orde Baru. Dulu Syarikat Islam juga ada poros komunisnya, sampai disebut SI merah. Terus saya juga dikatakan pengikut komunisme hanya gara-gara saya memimpin Lekra. Dan gara-gara itu, saya dipenjara di Pulau Buru, tanpa pengadilan. Karya saya juga dibakar habis. Apa sekarang, setelah saya mati, saya mau dibakar juga, hanya karena sejarah?

Lho, dalam hari terakhir Anda, Anda kan mengatakan bakar saja saya?
Oh, itu. Anda baca di Jawa Pos ya. Ya, memang benar. Salah satu kegemaran saya, selain membakar rokok, ya membakar sampah. Begini, saya tidak mungkin memberi tahu Anda, apakah saya dibakar atau tidak di sini. Apalagi banyak pengagum saya yang beraliran materialisme, juga tidak akan setuju, bila setelah kematian itu ada alam kubur, saya tidak mau berpolemik di situ. Hanya saja, waktu itu kan kondisi saya sudah menurun. Saya sudah mengalami masa kritis beberapa kali. Pihak keluarga pun memutuskan menggelar tahlilan untuk mendoakan saya. Saya dengar itu permintaan mereka, ya kalau diberi kesehatan agar sehat, tapi kalau tidak ya mereka sudah ikhlas. Sampai pukul 02.00, terus saya bilang, dorong saya saja. Tapi sepertinya teman-teman dan keluarga masih menyemangati saya. Terakhir, ya itu, ketika ajal menjemput, saya mengerang, akhiri saja saya, bakar saya sekarang. Saya berangkat pukul 08.55 pagi. Dulu saya sempat berpesan, kalau saya mati nanti, jasad saya dibakar saja dan abunya ditebarkan.

Tapi sepertinya tidak dilakukan ya, Anda sepertinya menyesal?
Saya dulu pernah bilang sama Sinar Harapan. Nggak ngerti hidup saya begini. Dirampasin, diinjek, dihina. Karya saya pernah dibakar dan dirampas oleh rezim Orde Baru, gak ngerti saya sama mereka. Kalau negara membutuhkan, silakan ambil. Tapi, pakai tanda terima segala macem. Itu ‘kan lebih baik. Ini dirampas dan dibakari, nggak ngerti. Dokumentasi saya itu mulai abad sebelumnya. Berapa harganya, nggak bisa dihitung. Nggak ngerti kok bisa berbuat begitu. Tapi dari dulu saya sudah bosan dengan perasaan. Makanya karya-karya saya lebih banyak soal rasionalitas. Penulis sekarang juga harus berani dan mampu mengangkat hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat. Tapi memang ada resiko yang mesti ditanggung seorang diri. Banyak generasi sekarang yang pemikirannya terlampau miskin, perhatiannya pada kemanusiaan nggak ada. Itu urusan kalian lho, sudah bukan urusan saya lagi.

– – –

(bersambung ke tulisan 2)

One thought on “Pramoedya Ananta Toer, Sebuah Wawancara Imajiner (1)

  1. aku baru saja menegenal sosoknya, aku orang awam yang baru suka membaca, teman saya yang memperkenalkan saya tentang dirinya, hingga aku harus cari tahu siapa sebenarnya dia… aku salut dengan dia, ingin rasanya aku seperti dia. thanks my best fren Chairul al_attar

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s