Korporatokrasi dan Imperialisme Media

  “Sebagai akibat perang, berbagai korporasi telah menjadi seperti raja dan era korupsi di tingkatan tinggi segera mengikuti, dan kekuasaan uang akan berupaya memperpanjang kekuasaannya dengan merugikan kepentingan rakyat sehingga seluruh kekayaan akan terpusat di sejumlah tangan yang terbatas dan … Continue reading Korporatokrasi dan Imperialisme Media

Muhammad Amien Rais: Supaya Indonesia Tidak Runtuh

Konferensi Pers “Supaya Indonesia Tidak Runtuh” Yogyakarta, 3 September 2015 Supaya Indonesia Tidak Runtuh M Amien Rais Hakekatnya, ada dua bangunan yang paling penting bagi setiap negara, yaitu bangunan ekonomi dan bangunan politik. Bila kedua bangunan itu kuat dan tangguh, negara menjadi kuat dan kenyal menghadapi setiap tantangan yang ingin menghancurkan negara, baik dari kekuatan internal maupun eksternal. Namun bila bangunan ekonomi goyah dan akhirnya hancur, negara bisa mengalami dua kemungkinan: Pertama, bila bangunan politik ikut retak dan tidak solid, negara bisa ikut runtuh bahkan lenyap dan hilang dari peta dunia. Kedua, bila bangunan politik cukup padu dan tangguh, kehancuran … Continue reading Muhammad Amien Rais: Supaya Indonesia Tidak Runtuh

Para Minion

Lucu benar tingkah para minion dalam film Minion (2015). Sebelumnya, karakter ini mengemuka di hadapan anak-anak dalam film animasi yang juga sangat lucu, Despicable Me (2010) dan Despicable Me 2 (2013). Mereka adalah pengikut, pembantu tuan mereka yang berada di ruang kejahatan; Felonius Gru.

minionsGru adalah karakter yang menjadi ikon sekaligus pusaran utama film yang sifatnya menjadi judul pula dalam film itu; despicable, keji. Namun, ruang animasi anak-anak membuat makna despicable yang “keji” dan “kejam” itu menjadi turun nadanya, menjadi lembut dan bahkan lucu. Bagaimana bisa seorang yang keji dianggap lucu? Humor dengan level seperti itu memang bukan makanan awam. Lagipula, anak-anak mana pula yang memersalahkan itu.

Kamus Oxford memberi arti pada minion sebagai a follower or underling of a powerful person, especially a servile or unimportant one. Dalam pemakaian kata Inggris, minion pun dapat bersikap sebagai idiom untuk menggantikan istilah lain seperti servant ataupun servile. Dia bermakna pengikut, followers dan setia. Bagi para minion, khazanah nilai moral tidak ada. Moral bagi mereka adalah master-nya itu sendiri. Continue reading “Para Minion”

Terasing di Negeri Sendiri

Di jalanan lintas Sumatera, jejeran beberapa perkebunan kelapa sawit berdiri tegak. Seakan bersikap mengawal perjalanan, mereka menghujam tanah yang dulu dimerdekakan orang-orang yang kebanyakan tak ditulis dalam buku-buku sejarah. Sebagian kecil saja milik anak-cucu-cicit mereka. Dari jalan perkebunan, keluarlah truk-truk pengangkut sawit meninggalkan pekerja perkebunan dan warga sekitar yang tak kunjung makmur. Definisi kaum sejahtera di perkebunan adalah pemilik dan para eksekutif elit. Tentu, jumlah mereka sangat sedikit.

Jalan negara yang hancur total di Batu Jomba, Tapanuli Selatan. (maret 2015 -iwan)
Jalan negara yang hancur total di Batu Jomba, Tapanuli Selatan. (maret 2015 -iwan)

 

Continue reading “Terasing di Negeri Sendiri”

Romansa Mahasiswa

Saya teringat Soe Hok Gie. Beberapa orang mengatakan dia adalah legenda dalam pergerakan mahasiswa Indonesia. Dia sudah mirip ikon. Kata-katanya sering dikutip dan dia banyak dijadikan semacam role model bagi mahasiswa. Bayangkanlah betapa idealnya dia sebagai mahasiswa: dia belajar, tekun, suka membaca, tapi juga suka naik gunung dan tak lupa pacaran! Bahkan, wafatnya pun ketika dia sedang berada di puncak gunung. Lengkap benar deskripsinya.hhh Continue reading “Romansa Mahasiswa”

Satir

Penyair Khairil Anwar menulis bait yang perih ketika neneknya meninggal dunia: duka maha tuan bertahta. Nenek Khairil adalah orang yang memeliharanya sedari kecil. Seorang nenek atau kakek memang sering diceritakan memanjakan para cucunya.

islamo HL1Perih. Tapi, kita mungkin tak sama menafsir atau merasa apa yang tertulis di kalimat itu. Adakalanya suasana ataupun konteks pembaca ketika melihat itu memengaruhi kadar makna yang ada di kepalanya. Coklat rasanya sedap, tapi bagaimana mungkin rasanya bisa sama dengan gula jawa? Jamal Mirdad begitu renyah ketika menyanyikan syair dalam lagu Cinta Anak Kampung: “kalau cinta sudah melekat, gula jawa rasa coklat”. Cinta membuatnya setara, bahkan sama. Begitulah.

Continue reading “Satir”

Tanda

sketsaDalam Al-Quran, tanda disamakan ayat. Bahasa Indonesia sudah lama menyerap kata “ayat” ini dan kadang-kadang dia tak langsung disamakan dengan kata “tanda”. Dalam bahasa Inggris, tanda diterjemahkan dengan “sign”. Dalam kamus Oxford, disebutkan, “sign” sebagai objek yang menunjukkan adanya kemungkinan atau terjadinya sesuatu yang lain. Semacam ada hubungan kausal (sebab-akibat) antara satu fenomena dengan yang lain. Katakanlah dia sebagai jembatan makna. Lazim misalnya gemuruh dan petir dijadikan semacam tanda akan dimulainya peristiwa seperti hujan. Memang, tak jarang “tanda” itupun mungkin bisa saja keliru. Ini seperti yang terjadi pada kalimat: mendung tak berarti hujan. Continue reading “Tanda”

Poligami dan Substansi Agama dalam Negara

PrintAlkisah, sebuah pemerintahan dinilai steril dari yang namanya agama. Agama mempunyai ranahnya sendiri dan negara-pemerintahan adalah ruang yang lain. Ini dasar dari sekulerisme, ada negasi antara yang sakral dan profan. Dia dibuktikan secara struktural. Agama tidak mendasari hukum negara, demikian juga hukum negara tidak berhak mengatur kehidupan dan syariat agama. Laiknya himpunan, pada dasarnya dia tidak mempunyai irisan hubungan.

Bila ditarik lebih ke belakang, sekulerisme punya nada filosofis yang “indah”. Ada banyak perspektif, tapi saya lebih tertarik dari perspektif humanisme. Pasca penciptaan manusia oleh Tuhan, manusia dibekali dengan kehendak asasi yang mandiri atau free will. Film drama komedi, Bruce Almighty (dibintangi Jim Carrey sebagai Bruce/manusia dan Morgan Freeman sebagai God/Tuhan) setidaknya menerangkan ini dengan cara yang sederhana. Continue reading “Poligami dan Substansi Agama dalam Negara”

Demokrasi?

lebahSeperti lebah. Sarangnya begitu teratur, sebuah heksagon yang saling berdampingan. Ketika mereka mencari makan di luar, di kumpulan bunga-bunga, tak ada keributan yang terjadi. Mereka tak perlu ajaran soal antri. Tak ada pula kecemburuan ketika seekor lebah mendekati bunga yang sangat cantik dan berhasil memproduksi madu yang begitu banyak. Tidak ada yang merasa tidak adil ketika seekor lebah lainnya hanya mendapatkan bunga-bunga yang tak pernah dilirik manusia karena keburukannya; bunga-bunga yang tak pernah mendapatkan porsi di puisi-puisi manusia.

Mereka hidup dengan seekor ratu, yang memberi mereka jaminan eksistensi dan survivalitas di kemudian hari. Mereka tak perlu memilih ratu seperti layaknya manusia memilih pemimpin-pemimpinnya. Tak ada bantahan. Lebah hidup terus seiring waktu berputar di atas muka bumi. Continue reading “Demokrasi?”

Menikmati Kebengisan Politik 2014

sketsaBarangkali, tak seorang Niccolo Machiavelli yang melukiskan politik dengan begitu bengis. Kebengisan adalah modal, menjadi tungku kekuasaan di mana rakyat adalah batubara yang pasrah. Rakyat yang diceritakan itu tak memiliki posisi untuk menatap kekuasaan. Tapi dia perlu, minimal sebagai saksi. Si saksi yang tak punya kuasa untuk merubah itu.

Tapi, kekuasaan adalah kesendirian yang absolut. Fir’aun adalah perlambang kekuasaan manusia di mana dia sendirian berada, nun, di titiknya yang tertinggi. Dia eksis menyendiri di puncak piramida tanpa ada sesuatu apapun yang menyamai ketinggiannya. Dia tidak pernah menengadah, tapi suka menatap kaki-kakinya dengan mata yang berkilat-kilat, di mana apa yang ada di luarnya (selain rakyat, termasuk juga para hulubalang, punggawa, hingga para tentara) mengerubungi jari-jarinya seperti semut mengelilingi bongkahan gula. Karena itu, Fir’aun merdeka dari segala norma ataupun kewajiban atas nama moral. Mungkin ini mirip dengan ubermeench a la Friedriech Nietzsche, yang menganggap manusia pada titik tertingginya adalah manusia yang mampu membunuh moralitas yang di antaranya diciptakan oleh Tuhan. Moral Tuhan yang selama ini memenjarakan manusia sehingga tidak mampu menjadi “manusia sejati” yang telah keluar dari sebuah konsep yang bernama “normal”. Budak moral, seru dia. Kemerdekaan adalah lepas dari segala-galanya. Baru setelah itu, si manusia tadi mempunyai kemampuan untuk memproduksi sebuah hal yang baru; mencipta. Continue reading “Menikmati Kebengisan Politik 2014”

Mimpi Rakyat Sejahtera

sketsa miskinOrang Indonesia punya mimpi; sejahtera. Tidak muluk-muluk sebenarnya. Sudahkah itu terealisasi? Sebagian. Sebagian ini pun mesti diperpanjang lagi debatnya; masih sebagian kecil dan bukannya sebagian besar. Kalau ceritanya adalah masih sebagian kecil saja yang sejahtera, maka sudah terjadi kesenjangan ekonomi dalam skala yang cukup masif. Dan itu berarti mimpi belum terealisasi. Continue reading “Mimpi Rakyat Sejahtera”

Jika Rakyat Membangkang

ali4MUHAMMAD Ali. Pada 28 April 1967, di Houston, angkatan bersenjata Amerika Serikat (AS) memanggil nama juara dunia tinju itu. Disebut hingga tiga kali, nama itu tak kunjung berdiri. Seorang perwira memeringatkan, sikapnya itu bisa membuatnya meringkuk lima tahun di penjara dan denda US$ 10.000. Ali bergeming ketika ancaman itu diakhiri dengan panggilan keempat. Ali ditangkap. Di hari yang sama, Komisi Atletik New York mencabut izin bertanding termasuk gelar juaranya. Dia dihukum tak bisa bertanding di seluruh negara bagian Amerika Serikat hingga tiga tahun. Tiga bulan kemudian, pada 20 Juni 1967, juri pengadilan memutuskan Ali bersalah. Ali banding ke Mahkamah Agung AS. Pada 28 Juni 1971, Ali tetap diputus bersalah. Ali dinyatakan bersalah karena tidak mau masuk ke Angkatan Bersenjata Amerika dan dikirim dalam perang Vietnam. “Man, I ain’t got no quarrel with them Vietcong,” tegas dia. Continue reading “Jika Rakyat Membangkang”