Jajah

Bonaparte Before the Sphinx by Jean-Léon Gérôme (wikipedia)

Salah satu tafsir dalam sejarah menunjuk Napoleon Bonaparte, Kaisar Perancis, sebagai pembawa alam “modern” ke dunia Timur sewaktu dia datang ke Mesir pada akhir abad ke-18, 1798. Persenjataan tentara Napolean difasilitasi oleh mesin dan teknologi baru yang sama sekali belum dijamah oleh “Timur”; Timur masih menghunus pedang, Barat sudah mengokang senapan. Dengan pedang, Anda mesti sedekat mungkin dengan musuh, sementara dengan senapan, cukup dari jauh Anda sudah bisa membunuh. Kecepatannya jauh melampaui busur panah. Pantas Barat menang. Walau Anda punya ilmu kanuragan tingkat Brama Kumbara, bisa dipastikan kalah dengan ketajaman peluru. Jadi, beberapa orang mengeryitkan keningnya ketika dikatakan bambu runcing bisa mengalahkan mortir Belanda dan Inggris. Konon, kata pendukung teori ini, walau hanya bambu runcing, tapi juga dibekali dengan ilmu supranatural yang diolah melalui ritual ibadah tertentu. Hanya orang-orang alim yang jago soal itu. Tapi, kalau soal alim, masak kita bilang orang Mesir tidak alim sehingga harus kalah dari Napoleon yang tak berkhitan itu?

Continue reading “Jajah”

Iran Vs Israel + NATO + US

  The 1st and 2nd Israel + NATO + US most wanted person in the world. 1st ==> Ayatullah Ali Khamenei 2nd ==> Dr. Mahmud Ahmadi Nejad   “Itu (serangan) akan menjadi kesalahan yang sangat serius yang penuh dengan konsekuensi tak terbayangkan,” tegas Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (7/11/2011). Continue reading Iran Vs Israel + NATO + US

Dian Islam Politik Kian Redup

Pemilu 1955 sudah membelah tiga aspirasi orang Indonesia sesuai partai-partai pemenang pemilu yaitu PNI (nasionalis), Masyumi, Nahdhatul Ulama (Islam) dan PKI (komunis). Pemilu sepanjang Orde Baru pun tak menempatkan partai berasaskan Islam sebagai pemenang namun partai “nasionalis” lainnya bernama Golkar. Pemilu di zaman reformasi, 1999 dan 2004, juga sama, PDI Perjuangan dan Partai Golongan Karya bergantian menjadi pemenang.

Partai Islam? Poros NU dan Muhammadiyah yang dahulu menjadi kekuatan dalam Partai NU, Masyumi dan PPP (masa Orde Baru), sudah berbelah-belah menjadi Partai Amanah Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), PPP, PBR, PKS dan lain-lainnya. Suaranya, tak ada yang sampai 15%. Bahkan di Pemilu 2004 dan 2009 lalu, suara partai Islam paling besar tak lebih 8%.     Continue reading “Dian Islam Politik Kian Redup”

Bingkai Indonesia itu Pancasila?

Tetep dari komen di nbasis … selamat menikmati :

Hahaha … Saya pikir Anda ingin menyudahi diskusi ini. Tapi kemudian Anda tampaknya mesti bersusah susah mencari tahu soal saya, mulai dari panjaitan, tuan dibangarna, siagian silitonga, dan seterusnya. Informasi soal itu memang mudah didapatkan sama mbah google, termasuk yang dalihan na tolu itu. Mungkin Anda merasa sudah mengetahui soal mendalam dengan membaca itu. Tak apa-apa, itu cukup bagus untuk memperluas wawasan Anda. Lebih banyak lagi membaca, pahami dan dalami substansi dalhan na tolu itu. Tak cukup dengan diskusi semata. Bila di lingkungan Anda ada orang Batak, datangi saja, rasakan sendiri soal Dalihan na Tolu itu. Karena dengan begitu, Anda tidak sulit untuk memahami bagaimana rakyat Sumatera Utara menyelesaikan pembunuhan Azis Angkat itu secara adat tanpa pertumparan darah sama sekali. Karena itu, Anda pun mulai bisa menyadari bahwa kekeluargaan masih cukup kental walau agama berbeda-beda di suku Batak. Orang Batak sudah memahami dan menjalani itu, sebelum Soekarno bisa mengeja huruf-huruf Pancasila. Karena itu, pertanyaan Anda soal maukah kabupaten Toba Samosir, Taput dan seterusnya bergabung dengan Indonesia yang berdasar Islam? Ah, itulah sebabnya saya menyarankan Anda memperdalam soal suku bangsa Batak lagi. Continue reading “Bingkai Indonesia itu Pancasila?”

Bingkai Indonesia itu Saat Ini, ya, Pancasila

Masih tetap dari komen di nbasis, selamat mengikuti 😀

– – –

Kalau begitu, tidak ada jalan lain, Anda memang wajib datang sendiri ke Aceh untuk menyaksikan sendiri sehingga tidak mendasarkan sesuatu atas komentar teman-teman Anda. Saya sarankan, datang di hari Jumat. Anda boleh mulai dari daerah mana saja, atau boleh juga langsung ke Mesjid Raya. Soal polisi Syariah, yang mabuk-mabukan, akan tak adil juga melihatnya dengan polisi Indonesia yang didoktrin langsung oleh Pancasila itu, yang kelakuannya aneh bin ajaib itu. Contohnya? Baca koran dan nonton tivi la sekali-sekali. Continue reading “Bingkai Indonesia itu Saat Ini, ya, Pancasila”

Bingkai Indonesia

Dari komen saya di nbasis .
Islam bukanlah soal syariah semata. Sama-sama kita ketahui, syariah itu aspek hukum saja. Islam mengandung ideologi, sosial, politik, ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, keamanan dan seterusnya. Komprehensif betul Islam itu memandang kehidupan alam semesta. Islam holistik namanya. Islam yang sperti ini memang tidak diajarkan dalam kurikulum ketentaraan apalagi negara dalam bingkai Pancasila yang paradoks dan lemah itu. Soekarno sebagai Bapaknya Pancasila, bahkan bisa mempreteli hasil olahannya sendiri itu dengan komunisme. Luar biasa lemah itu Pancasila. Islam holistik itu menggerakkan setiap orang untuk menjadi lebih baik, lebih dinamis. Saya tidak tahu apakah di agama lain mengatur soal hubungan antara agama dengan profesionalisme. Namun, Islam mengatur secara rinci soal itu; berikan suatu pekerjaan pada ahlinya, bekerja keraslah, tuntutlah ilmu, pergunakan akalmu, aturlah urusan duniamu sebaik-baiknya, berorganisasilah, dst dst, itu di antara yang dipelajari dalam Islam terkait dengan manusia dan dinamika hidup di dunianya. Continue reading “Bingkai Indonesia”

Reformasi Jilid Dua: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Bagian Kedua: Dicurinya Makna Reformasi

Apakah yang terjadi dengan reformasi? Saya ingin meminjam pemikiran sastrawan Sutardji Calzoum Bachri. Dia adalah penyelamat ”kata”. Dan dari pemikiran dia soal “mantra kata”, mungkin kita bisa melongok sejenak apa yang telah, sedang dan akan terjadi di Indonesia ini dan terutama pada kata “reformasi”. Continue reading “Reformasi Jilid Dua: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”

Reformasi Jilid Dua: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Bagian Pertama: Memori Buruk dari Soeharto


Momentum yang diambil oleh lembaga survey IndoBarometer, telah menohok reformasi. Kejatuhan Soeharto yang nyatanya menjadi simbol tegaknya reformasi justru setelah 13 tahun kemudian dianggap sebagai pemimpin yang paling populer. Metode yang digunakan IndoBarometer boleh jadi akan mengundang perdebatan yang melelahkan. Namun paling tidak, survey itu telah menjadi potret betapa reformasi belum juga secara utuh mereformasi negara ini. Continue reading “Reformasi Jilid Dua: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”

Mengunyah Negara Islam dalam Jurnalisme Profetik

 


Nun, Demi Pena dan apa  yang mereka tuliskan (QS. Al-Qalam: 1)

* * *

Jurnalisme profetik (prophetic journalism) merupakan suatu bentuk jurnalisme yang tidak hanya menulis atau melaporkan berita dan peristiwa secara lengkap, akurat, jujur, dan bertanggung jawab atau sekedar memenuhi kaidah dan teknis jurnalistik semata. Tapi juga memberikan petunjuk ke arah transformasi atau perubahan berdasarkan cita-cita etik dan profetik Islam. Ini berarti, suatu jurnalisme yang secara sadar dan bertanggung jawab memuat kandungan nilai dari cita-cita ideologi, etik dan sosial Islam.

Masalah di sana terbuka lebar. Dalam tulisan Mohammad A. Siddiqi berjudul Ethics and Responsibility in Journalism: An Islamic Perspective, mengungkapkan hingga saat ini belum ada kode jurnalistik yang secara tegas didasarkan atas prinsip-prinsip Islam. Itu sebabnya, lebih dari 1 miliar muslim di seluruh dunia, tidak mempunyai kontrol terhadap informasi yang disajikan oleh pers di seluruh dunia terutama negara-negara adikuasa informasi.  Ia menyebut, negara-negara yang berpenduduk muslim seperti Indonesia, Pakistan, Turki, Mesir dan Iran serta negara-negara lainnya, masih mendasarkan jurnalisme pada bias sekuler. Meski demikian memang ada usaha untuk menuju ke sana. Di antaranya, Asian Islamic Conference yang dikelola oleh Liga Muslim Dunia di Karachi, Pakistan, pada 1978. Diputuskan di pertemuan itu kalau jurnalisme muslim mesti didorong untuk melawan monopoli barat di media massa dan propaganda anti Islam. Continue reading “Mengunyah Negara Islam dalam Jurnalisme Profetik”

Islam Phobia dan Gerakan Tanpa Nama

Bahwa rumus ketakutan terhadap potensi Islam sebagai rahmatan lil alamin merupakan rumus paling kuno yang diajarkan oleh sejarah sejak zaman diazankannya kalimat “la ilaha illa allah” mulai Nuh hingga Muhammad. Ini seperti kebijakan Namrudz kepada Ibrahim, ini bak putusan Fir’aun kepada Musa, seperti vonis Yahudi dan Roma kepada Isa, dan tentu saja dari pedang Quraish kepada Muhammad.

* * *

  Continue reading “Islam Phobia dan Gerakan Tanpa Nama”

Osama Dead? Big Lie from US and Media

Apa buktinya kalau Osama sudah tewas? Statemen Obama? Berita CNN? Toh, mayatnya tak bisa diakses. Keluarganya tak bisa mengidentifikasi. Ah, ada pula kabar tak sedap kalau popularitas Obama sedang jatuh dibikin Donald Trump. Di Indonesia, pola ini kelihatan tegas. Bila popularitas SBY sedang jatuh, maka akan ada pula tersangka teroris yang dibunuh. SBY pelakunya? Ah, belum tentu juga. Jangan-jangan Anda sedang ditipu mentah-mentah. Continue reading “Osama Dead? Big Lie from US and Media”

Mengapa Anda Masih Memperjuangkan Demokrasi?

Ketika Amerika Serikat mempertontonkan perilaku demokratis mereka dengan menggempur Libya, mengapa Anda masih memperjuangkan demokrasi?

Itu adalah hal aneh, lucu dan sama sekali di luar akal sehat. Anda akan ditertawakan kalau Anda mengaku mengklaim punya demokrasi dengan cara Anda sendiri. Katakanlah bila Anda orang Indonesia, maka Anda mengaku punya konsep “demokrasi Indonesia”. Bila Anda punya itu, maka wajiblah Anda meletakkannya dengan konvensi Amerika di dunia internasional bahwa mereka yang memiliki demokrasi, menerapkan demokrasi yang sempurna dan mempunyai wewenang untuk menafsirkan demokrasi.  Kalau Anda menganggap saya aneh, maka sayalah yang seharusnya menganggap Anda aneh karena meng-aneh-kan saya. Continue reading “Mengapa Anda Masih Memperjuangkan Demokrasi?”

Sidang Istimewa Bisa Dipercepat Bila Terjadi Sesuatu yang Mengancam Negara

Sidang Istimewa MPR RI adalah jalan konstitusional untuk menyelamatkan Republik Indonesia (RI). Arus reformasi 1998 juga salah satu jalan “konstitusional”. Setiap warga negara punya hak untuk mempunyai tafsir sendiri mengenai kondisi negaranya. Setiap warga negara juga punya hak untuk menafsirkan apakah ia akan memakai aturan main yang sudah dituliskan atau tidak. Apalah lagi sekedar untuk menyatakan kalau aturan main yang dibuat ternyata untuk melanggengkan kekuasaan yang nyata-nyata tidak membawa manfaat dan maslahat bagi seluruh warga negara.

Continue reading “Sidang Istimewa Bisa Dipercepat Bila Terjadi Sesuatu yang Mengancam Negara”

Kasus Tunisia dan Mesir Bisa Menjalar ke Indonesia

Gejolak yang saat ini sedang melanda Mesir dan Tunisia tidak cuma menjadi isu regional Timur Tengah. Jika ditilik lebih teliti, pemicu demonstrasi raya tersebut juga punya potensi di Indonesia. “Ini bisa menjalar ke Indonesia,” ujar Mantan Wapres Jusuf Kalla saat mengikuti acara Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), di Hotel Kempinski, Jakarta, Senin (31/1/2011).

Menurut JK, ada 3 faktor penyebab Mesir dan Tunisia mengalami perlawanan dari dalam. Pertama, karena tidak ada kebebasan alias demokrasi. Kedua, karena korupsi. Dan ketiga, karena masalah ekonomi. “Karena Indonesia kebebasannya banyak dan bahkan berlebih. Tapi ada KKN, korup, meningkatnya kemiskinan dan pengangguran atau gejolak pangan,” kata JK. Continue reading “Kasus Tunisia dan Mesir Bisa Menjalar ke Indonesia”

Soesilo Bambang Yudhoyono dan Diponegoro

Pangeran Diponegoro sudah menduga akan ditangkap Belanda ketika diundang oleh Gubernur Belanda dulu. Tapi dia datang dengan surban, keris dan kudanya. Dia kemudian betul-betul ditangkap, diasingkan dan kemudian wafat. Ratu Belanda via Gubernur Hinda Belanda meminta dengan amat sangat agar pelukis Raden Saleh menggambarkan peristiwa itu. Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, setelah Indonesia merdeka dari Belanda, menolak undangan dari Ratu Belanda karena adanya pengadilan di Den Haag tentang permintaan penangkapan Presiden Indonesia kepada pemerintah Belanda oleh kelompok Republik Maluku Selatan. SBY mengatakan, “Ini soal harga diri bangsa.” Continue reading Soesilo Bambang Yudhoyono dan Diponegoro

Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan (Naskah Kolonel Adjie Suradji)

Ini naskah yang ditulis oleh Kolonel Adjie Suradji di Harian Kompas. Naskah ini saya copas dari sini. Semoga bisa menjadi perenungan bersama.

=======================

Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan

Oleh: Adjie Suradji

Terdapat dua jenis pemimpin cerdas, yaitu pemimpin cerdas saja dan pemimpin cerdas yang bisa membawa perubahan.

Untuk menciptakan perubahan (dalam arti positif), tidak diperlukan pemimpin sangat cerdas sebab kadang kala kecerdasan justru dapat menghambat keberanian. Keberanian jadi satu faktor penting dalam kepemimpinan berkarakter, termasuk keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko. Kepemimpinan berkarakter risk taker bertentangan dengan ciri-ciri kepemimpinan populis. Pemimpin populis tidak berani mengambil risiko, bekerja menggunakan uang, kekuasaan, dan politik populis atau pencitraan lain.

Indonesia sudah memiliki lima mantan presiden dan tiap presiden menghasilkan perubahannya sendiri-sendiri. Soekarno membawa perubahan besar bagi bangsa ini. Disusul Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati.

Continue reading “Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan (Naskah Kolonel Adjie Suradji)”

Malu Aku Jadi Orang Indonesia

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga Ke Wisconsin aku dapat beasiswa Sembilan belas lima enam itulah tahunnya Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya, Whitefish Bay kampung asalnya Kagum dia pada revolusi Indonesia Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya Dadaku busung jadi anak Indonesia Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy Dan mendapat Ph.D. dari Rice University Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army Dulu dadaku tegap bila aku berdiri Mengapa sering benar … Continue reading Malu Aku Jadi Orang Indonesia

Mitos Raja Adityawarman: Kerajaan Jawa Tak Pernah Taklukkan Sumatra

 

Penulis: Nirwansyah Putra
Bahan, data dan foto: Sri Mahyuni, Nirwan

 

* * *

Sejarahwan, Prof Uli Kozok, mengungkapkan versi baru soal sejarah Indonesia. Raja Adityawarman bukanlah “wakil” dari Majapahit di tanah Sumatra. Ekspedisi Pamalayu yang dilakukan kerajaan Majapahit pun bukan dalam rangka Sumatra, melainkan mencari persekutuan dengan kerajaan di Sumatra untuk menghadapi tekanan Kaisar Mongol, Kubilai Khan.

Adityawarman (sumber: wikipedia)

 

 

Adalah Prof Uli Kozok, seorang sejarahwan yang mengajar di Universitas Hawaii Manoa, Amerika Serikat, yang mengemukakan versi baru soal sejarah hubungan antara kerajaan di tanah Jawa, terutama Majapahit –yang sering disebut-sebut cikal-bakal Indonesia – , dengan kerajaan di tanah Sumatra. Tesisnya berkisar soal hubungan raja-raja Jawa dengan raja-raja di Sumatra terutama Malayu.

Uli juga memfokuskan pembicaraan soal sosok Raja Adityawarman, yang menurutnya punya peranan dan pengaruh untuk melihat kerangka hubungan itu. Tesis Prof Uli Kozok ini diungkapkan dalam ceramah ilmiah yang bertajuk “Meruntuhkan Mitos Adityawarman: Tokoh Penting dalam Sejarah Jawa-Sumatra di Universitas Negeri Medan” yang diadakan oleh Pussis-Unimed di gedung Lembaga Penelitian Unimed, pada 9 Maret 2010 kemarin.

* * *

Continue reading “Mitos Raja Adityawarman: Kerajaan Jawa Tak Pernah Taklukkan Sumatra”

Dendam SBY dan Partai Demokrat

Hampir-hampir saja dipastikan, Partai Demokrat secara institusi, kader hingga simpatisan bakal terus mendendam dan menyimpan dendam. Dan dendam itu bakal dibalaskan kepada partai, elit partai serta, elit politik serta tokoh masyarakat yang lebih memilih untuk memilih keputusan “Bailout Bank Century adalah salah dan harus diusut oleh penegak hukum”.

Aftermath of a Dictator by Harriet Muller (sumber: http://fineartamerica.com)


Continue reading “Dendam SBY dan Partai Demokrat”

Pangkostrad Baru, Arah Politik Berubah?

Pangdam I Bukit Barisan, Mayjen TNI Burhanudin Amin, dipromosikan jadi Pangkostrad. Burhanuddin Amin merupakan teman sealumni KSAD Jendral George Toisutta (AKABRI 1976) bagian Infranteri. Sebelum jadi KSAD, George memangku jabatan yang kini dipegang oleh Burhanuddin, yaitu Pangkostrad. Jabatan Pangkostrad adalah salah satu jabatan paling strategis di tubuh TNI AD, institusi militer di Indonesia, dan dalam hal tertentu peta perpolitikan di Indonesia.

Sebelumnya, Presiden SBY telah mengangkat Jendral TNI Djoko Santoso sebagai Panglima TNI. Djoko merupakan alumni 1975. Beberapa hari yang lalu, Letjen TNI Sjafrie Sjamsoedin, juga diangkat sebagai Wakil Menteri Pertahanan. Sjafrie sendiri, ditilik dari tahun alumninya (1974), merupakan senior dari Djoko Santoso. Dengan demikian, Djoko juga merupakan junior Letjen TNI (purn) Prabowo Subianto, yang bersama Sjafrie merupakan alumni 1974.

Continue reading “Pangkostrad Baru, Arah Politik Berubah?”