Para Minion

Lucu benar tingkah para minion dalam film Minion (2015). Sebelumnya, karakter ini mengemuka di hadapan anak-anak dalam film animasi yang juga sangat lucu, Despicable Me (2010) dan Despicable Me 2 (2013). Mereka adalah pengikut, pembantu tuan mereka yang berada di ruang kejahatan; Felonius Gru.

minionsGru adalah karakter yang menjadi ikon sekaligus pusaran utama film yang sifatnya menjadi judul pula dalam film itu; despicable, keji. Namun, ruang animasi anak-anak membuat makna despicable yang “keji” dan “kejam” itu menjadi turun nadanya, menjadi lembut dan bahkan lucu. Bagaimana bisa seorang yang keji dianggap lucu? Humor dengan level seperti itu memang bukan makanan awam. Lagipula, anak-anak mana pula yang memersalahkan itu.

Kamus Oxford memberi arti pada minion sebagai a follower or underling of a powerful person, especially a servile or unimportant one. Dalam pemakaian kata Inggris, minion pun dapat bersikap sebagai idiom untuk menggantikan istilah lain seperti servant ataupun servile. Dia bermakna pengikut, followers dan setia. Bagi para minion, khazanah nilai moral tidak ada. Moral bagi mereka adalah master-nya itu sendiri. Continue reading “Para Minion”

Jajah

Bonaparte Before the Sphinx by Jean-Léon Gérôme (wikipedia)

Salah satu tafsir dalam sejarah menunjuk Napoleon Bonaparte, Kaisar Perancis, sebagai pembawa alam “modern” ke dunia Timur sewaktu dia datang ke Mesir pada akhir abad ke-18, 1798. Persenjataan tentara Napolean difasilitasi oleh mesin dan teknologi baru yang sama sekali belum dijamah oleh “Timur”; Timur masih menghunus pedang, Barat sudah mengokang senapan. Dengan pedang, Anda mesti sedekat mungkin dengan musuh, sementara dengan senapan, cukup dari jauh Anda sudah bisa membunuh. Kecepatannya jauh melampaui busur panah. Pantas Barat menang. Walau Anda punya ilmu kanuragan tingkat Brama Kumbara, bisa dipastikan kalah dengan ketajaman peluru. Jadi, beberapa orang mengeryitkan keningnya ketika dikatakan bambu runcing bisa mengalahkan mortir Belanda dan Inggris. Konon, kata pendukung teori ini, walau hanya bambu runcing, tapi juga dibekali dengan ilmu supranatural yang diolah melalui ritual ibadah tertentu. Hanya orang-orang alim yang jago soal itu. Tapi, kalau soal alim, masak kita bilang orang Mesir tidak alim sehingga harus kalah dari Napoleon yang tak berkhitan itu?

Continue reading “Jajah”

Politisasi (Pemeluk) Agama

ADALAH hal yang muskil untuk soekarno 1menghilangkan ideologi agama dalam partai politik di Indonesa. Dorongan agama merupakan salah satu yang utama ketika orang melihat politik. Bila seseorang melandaskan hidupnya, katakanlah, pada ayat yang berbunyi: amar ma’ruf nahi mungkar, maka adalah sebuah kepastian kalau itu hanya bisa dilakukan secara politik. Cara sosial maupun budaya, tidaklah mencukupi menanggung beratnya perjuangan untuk menegakkan ayat tersebut.

Untuk menyeru kebaikan, mungkin bisa dilakukan oleh siapapun. Namun untuk menentang kemungkaran maka kekuasaan adalah hal yang mutlak. Organisasi pelaku kemungkaran hanya bisa ditaklukkan dengan kekuatan. Ini karena kejahatan selalu dimulai oleh kekuatan dari kelompok jahat. Tidak ada pernah ada mereka yang jahat itu lemah. Mereka adalah orang-orang yang kuat, baik secara fisik, mental maupun organisasional.

Continue reading “Politisasi (Pemeluk) Agama”

Etika: Sebuah Perkenalan

Seorang mahasiswi berjalan di sebuah lorong di kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Pakaiannya, kalau menurut orang-orang yang berkecimpung di dunia mode, termasuk casual: jeans dan t-shirt berwarna coklat muda. Namun, lengan bajunya tidak panjang hingga ke pergelangan, tapi sampai ke siku saja. Tampaknya, ia menyelaraskan warna pakaiannya dengan warna kulitnya yang coklat muda keputih-putihan.

Wajahnya tidak terlalu lonjong dan tidak juga bulat, apalagi persegi. Rambutnya panjang sebahu. Bibirnya tipis. Bila dia tersenyum, maka rangkaian make-up yang hinggap di wajahnya, tampak semakin bersinar. Sinar wajahnya itu, mungkin, menjadi pemikatnya. Dan serombongan mahasiswa yang duduk-duduk di trotoar kampus. Suitan nakal terdengar. Ada yang bersiul panjang, ada yang memanggil-manggil, ada pula yang mengedipkan matanya. Mereka lalu tertawa-tawa. Tapi sayang, tak ada satupun yang menyambangi gadis itu. Gadis itu terus melenggang, melewati mereka. Kepada mereka, si gadis memberi imbalan sepotong senyum. Dia pun masuk ke lokalnya. Sendirian saja. Continue reading “Etika: Sebuah Perkenalan”

Mitos Raja Adityawarman: Kerajaan Jawa Tak Pernah Taklukkan Sumatra

 

Penulis: Nirwansyah Putra
Bahan, data dan foto: Sri Mahyuni, Nirwan

 

* * *

Sejarahwan, Prof Uli Kozok, mengungkapkan versi baru soal sejarah Indonesia. Raja Adityawarman bukanlah “wakil” dari Majapahit di tanah Sumatra. Ekspedisi Pamalayu yang dilakukan kerajaan Majapahit pun bukan dalam rangka Sumatra, melainkan mencari persekutuan dengan kerajaan di Sumatra untuk menghadapi tekanan Kaisar Mongol, Kubilai Khan.

Adityawarman (sumber: wikipedia)

 

 

Adalah Prof Uli Kozok, seorang sejarahwan yang mengajar di Universitas Hawaii Manoa, Amerika Serikat, yang mengemukakan versi baru soal sejarah hubungan antara kerajaan di tanah Jawa, terutama Majapahit –yang sering disebut-sebut cikal-bakal Indonesia – , dengan kerajaan di tanah Sumatra. Tesisnya berkisar soal hubungan raja-raja Jawa dengan raja-raja di Sumatra terutama Malayu.

Uli juga memfokuskan pembicaraan soal sosok Raja Adityawarman, yang menurutnya punya peranan dan pengaruh untuk melihat kerangka hubungan itu. Tesis Prof Uli Kozok ini diungkapkan dalam ceramah ilmiah yang bertajuk “Meruntuhkan Mitos Adityawarman: Tokoh Penting dalam Sejarah Jawa-Sumatra di Universitas Negeri Medan” yang diadakan oleh Pussis-Unimed di gedung Lembaga Penelitian Unimed, pada 9 Maret 2010 kemarin.

* * *

Continue reading “Mitos Raja Adityawarman: Kerajaan Jawa Tak Pernah Taklukkan Sumatra”

Assalamualaikum, Pak Budiman S Hartoyo

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perjumpaan kita secara langsung hanya sejenak saja, pada sebuah bulan di tahun 1999. Badanmu ringkih dan kacamatamu tebal. Dan waktu itu, engkau sedang memberi pelajaran tentang jurnalistik, tidak hanya kepadaku. Kita memang tidak sedang bercakap-cakap dan engkau pun ketika di sepuluh atau sembilan tahun kemudian kita berjumpa kembali di dunia maya, tak kenal dengan aku. Tapi aku mengenalmu, walau tak banyak, walau tak dalam. Aku pun memang tak berusaha untuk menggali ingatanmu pada pertemuan di 1999 itu dan sewaktu aku bergabung dengan PWI Reformasi yang engkau dirikan. Tak usahlah, biar aku saja yang mengenalmu. Pak Bud, semua … Continue reading Assalamualaikum, Pak Budiman S Hartoyo

Dendam SBY dan Partai Demokrat

Hampir-hampir saja dipastikan, Partai Demokrat secara institusi, kader hingga simpatisan bakal terus mendendam dan menyimpan dendam. Dan dendam itu bakal dibalaskan kepada partai, elit partai serta, elit politik serta tokoh masyarakat yang lebih memilih untuk memilih keputusan “Bailout Bank Century adalah salah dan harus diusut oleh penegak hukum”.

Aftermath of a Dictator by Harriet Muller (sumber: http://fineartamerica.com)


Continue reading “Dendam SBY dan Partai Demokrat”

Paris Van Sumatra Itu Mitos …

Konon, Kota Medan sempat dijuluki dengan sebutan super keren “Paris Van Sumatra”. Dirk A Buiskool, sejarahwan Belanda, pun sempat menyitir dengan kalimat “Paris of Sumatra” dalam sebuah paper-nya. Dengan perubahan wajah yang begitu kontras, kini ia dikhawatirkan hanya jadi sekedar mitos. Kota metropolitan atau kota emperan?


kota medan
Kota Medan di daerah Lapangan Merdeka, Kantor Pos, Hotel Dharma Deli (dulu hotel de Boer), gedung BI, Balai Kota dan seterusnya. (foto: Roemono)

Penanggung Jawab: Nirwan
Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Roemono
(Foto-foto lama repro Dr Phil Ichwan Azhari)

* * *


“Kota Medan pernah dijuluki Paris van Sumatra. Itu mungkin karena pada masa itu kota ini begitu mulus, indah, dan tertib. Setiap hari mobil penyapu jalan dengan sapunya yang bundar, berkeliling menyusuri sudut kota untuk membersihkan jalan dari segala macam sampah, termasuk kotoran kuda dan lembu. Di belakangnya menyusul mobil mengangkut sampah dan kotoran tersebut untuk dibawa ke tempat pembuangannya.

Continue reading “Paris Van Sumatra Itu Mitos …”

Kawasan Kesawan; Kacaunya Wajah Sejarah di Inti Kota Medan

Kombinasi sisa-sisa bangunan kuno peninggalan Belanda yang dijumpai di kawasan Kesawan, Kota Medan, dengan bangunan “modern” yang desainnya hanya berkelas “ruko”, memperlihatkan perkawinan yang aneh.  Simbol kekacauan dan ketidakpedulian terhadap sejarah dan perkembangan Kota Medan.

* * *

Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Ariandi
Foto-foto lama repro koleksi Muhammad TWH dan Dr Phil Ichwan Azhari

Kesawan dulu dan sekarang

Kawasan Kesawan Kota Medan. Konon, di sinilah –konon– bermukim sekitar 600 bangunan bersejarah yang ada maupun yang pernah dimiliki Kota Medan.

Mari hitung lagi sedikit demi sedikit apa sejarah apa yang pernah menjejak di Kesawan, yang berdasar peta tahun 1913 (dan direpro pada 1945) –menurut keterangan yang didapat dari sejarahwan Unimed, Dr Phil Ichwan Azhari– berada di sebuah kawasan yang memanjang dari Jalan Nienhuysweg (kini dirubah jadi Jalan Jend Ahmad Yani) hingga ke Jalan Istana (kini simpang jalan Balai Kota).

Continue reading “Kawasan Kesawan; Kacaunya Wajah Sejarah di Inti Kota Medan”

Sjafrie Sjamsoeddin dan Anak Harimau

sjafrie sjamsoeddin
Letjend TNI Sjafrie Sjamsoeddin (sumber foto: inilah.com)

Saya kira, salah satu jenderal terganteng yang dimiliki oleh TNI saat ini adalah Letjend TNI Sjafrie Samsuddin. Nasibnya pernah akan diramalkan akan cemerlang. Dulu, bersama Letjend TNI (Purn) Prabowo Subianto, dia adalah salah satu bintang terang yang dimiliki Angkatan Darat. Bintang yang lain adalah Jenderal (Purn) Wiranto, plus Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono. Dia disebut-sebut sebagai salah seorang lingkaran terdalam dari “pasukan perwira”-nya Prabowo. Mereka dinilai sangat akrab sejak menjadi perwira pertama, perwira menengah, apalagi saat menjadi perwira tinggi. Ketika Prabowo menjadi Pangkostrad, Sjafrie adalah Panglima daerah paling strategis, Pangdam Jaya.

Namun faktor kedekatan itu pula yang membikin pamor Sjafrie terus meredup. Terbuangnya Prabowo pasca gerakan 1998, membuat Sjafrie juga kena dampak ikutan. Dia disimpan menjadi jenderal berkategori staf yang notobene tak bisa membikin keputusan apalagi punya pasukan. Ya, kecemerlangan, kecerdasan dan tentu saja kegantengannya itu, sirna.

Continue reading “Sjafrie Sjamsoeddin dan Anak Harimau”

Menghitung Warisan di Museum Negeri Sumut

Anak-anak itu tingginya masih sepinggang orang dewasa. Mereka, siswa Madrasah Ibtadaiyah (MI) –setingkat Sekolah Dasar (SD)- Al-Fachran, bergelontoran di lantai keramik Museum Negeri Sumatra Utara (Sumut) di jalan HM Joni Medan. Mereka cekikan melihat manusia purbakala Phitecentropus Erectus yang tinggi dan berdada bidang itu. Wajahnya tak mirip dengan mereka.

museum negeri sumutMereka sibuk mencatat, sesekali menatap wajah purba yang mirip kera itu, setelah itu mereka tergelak lagi bersama-sama. “Manusianya ‘kok mirip monyet ya,” kata mereka. Kawan-kawannya yang lain menimpali sambil terkekeh. Suasana jadi riuh. Tiba-tiba mereka sibuk mencatat kembali; salah seorang guru memalingkan wajahnya ke arah mereka.

Gigi saya tersembul melihat itu. Dengan sedikit jingkat, saya sudah di belakang seorang di antara mereka. Saya intip lembar catatan anak itu. Dia menulis, judulnya; sejarah manusia purba. Dia berbalik dan cengegesan, kemudian berlari ke tempat ibu gurunya berdiri. “Ayo, keterangannya dicatat, jangan cuma ketawa. Nanti ibu tanya di sekolah,” kata guru mereka.

Continue reading “Menghitung Warisan di Museum Negeri Sumut”

Memanah Rembulan

old manLaiknya seorang pujangga, suatu hari si Udin hendak merayu perempuannya, si Butet. Mereka ini dah lama menikah, sekitar dua puluh lima tahun dan setiap hari ubi kayu menjadi menu utama. Si Udin menekukkan lututnya dan tangan kanannya menggapai-gapai hingga hampir kenalah dagu si Butet.

“Bang, apa yang kau lakukan ini?”
“Butet… aku cinta padamu..”
“Taunya aku itu, Bang. Tapi ngapain kali musti begini ..”
“Biar kayak di sinetron-sinetron itu. Kayaknya romantis. Tak senang kau rupanya?”
“Halah, Bang… Bang… Tak perlu aku kayak-kayak gitu. Kau ajak aja aku nonton film Kingkong, dah senang kali aku…”
“Kau ini pun! Selera pun macam preman ajah… nonton Titanic la kan mantap. Sekali-sekali kau tingkatkan dulu mutu hidup kau itu, biar kayak orang Eropa kita… Kalau ada pergelaran musik klasik di kota kita ini, pasti kau kuajak. Kubelikan kau gaun malam … “
“Heh…jangan, Bang. Tak mau aku malu kau buat. Kakiku ini masih belum hilang lagi bekas kudisnya…”
“Ckckckck…. Kurik kau ini pun buat masalah ajah… Cemana lagi mau tinggi martabat kita kalau ada kurik di kaki …?”

Continue reading “Memanah Rembulan”

Iran Woman

Janganlah lihat cantiknya foto ini, tapi analisalah mengapa si fotografer kok jeli betul memperhatikan perempuan itu. Dan tak masuklah ke akal saya kalau Amerika memasukkan Iran sebagai negaranya “Poros Setan”. Goblok betul mereka itu. 😀 Fotografer            : Hasan Sarbakhshian Yang Punya Foto   : AP Photo Caption foto: Perempuan Iran dalam sebuah acara peringatan wafatnya Imam Jaa’far Shadiq di Teheran, Sabtu 25 Oktober 2008 Continue reading Iran Woman

The Godfather in Mind

The Godfather Trilogy adalah film terhebat. Tentu bagiku. Novelnya? Idem ditto. Mario Puzzo harus berterimakasih kepada Francis Ford Coppola yang telah –meminjam istilah iklan rokok- “bikin hidup lebih hidup”. Aku berkali-kali menekankan pada diriku supaya jangan menulis soal film ini. Bukan apa-apa, hasilnya pasti sangat subjektif.

Film ini pertama kali kutonton ketika aku SMP, tepatnya kelas berapa, aku sudah lupa. Tapi, ia sungguh berkesan dan tak ada yang bisa dipikirkan oleh seorang anak SMP selain kagum. Dunia menjadi begitu sempit dan yang sempit itu hanya dipenuhi oleh godfather, godfather, godfather…Marlon Brando, brando, brando…Al Pacino, pacino, pacino…De Niro, Niro, Niro…dan mafia.
Continue reading “The Godfather in Mind”