Siyono


Kita berbicara tentang orang yang sudah wafat. Seseorang yang membisu, diam tak berbahasa dari dalam kubur. Dia bukan Tan Malaka yang pernah bermaklumat,”Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi!” Dia tak dikenal, sosok yang sebelumnya dianggap tiada. Ya, tiada, tidak eksis. Karena terkadang, eksistensi ditentukan oleh pengakuan. Siapa yang pernah mencatat nama Siyono sebelum dia tewas mengenaskan pasca dibawa oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri?

Eksistensi terkait dengan klaim. Seperti Palestina yang menganggap dirinya merdeka, namun dia terus dikepung doktrin kewajiban adanya pengakuan dari negara-negara lain. Tidak cukup satu negara seperti Indonesia saja. Bahkan banyak negara. Karena dalam moda sistem kekuasaan negara yang dicipta berdasar atas kasta, negara adikuasa-lah yang paling dinanti titahnya. Demokrasi bukanlah suara terbanyak melainkan suara terkuat.

Dalam masa banjir informasi saat ini, agak miris ketika eksistensi berkelindan dengan kewajiban untuk hadir dalam berita di media. Juga, ketika eksistensi harus dikaitkan dengan kekuasaan di mana Anda berdiri. Anda boleh saja terdaftar di sebuah negara, tapi eksistensi itu (jangan-jangan) hanya sekedar prosedur administratif semata, dan lalu setelahnya, Anda hanya ada bagi orang-orang di sekeliling Anda. Hal sebaliknya bagi eksistensi elit penguasa. Rakyat ada karena penguasa ada. Penguasa mendahului rakyat. Rakyat hanya punya makna ketika penguasa eksis. Rakyat adalah kata yang beratribut politik ataupun hukum. Ketika kekuasaan tidak eksis, yang ada hanya manusia atau kumpulan manusia saja.

siyonoBaiklah, saya ingin membayangkan kehidupan Siyono sebelum dia wafat. Sebelum dia kemudian tiba-tiba eksis di jagad wacana Indonesia yang diklaim oleh versi Mabes Polri berada dalam bungkus “terorisme”. Bayangan saya ini nanti sangat boleh jadi keliru.

Semula, fakta yang saya dapatkan hanyalahini: Siyono adalah seorang suami dari Suratmi dan ayah dari tiga orang anak. Dia anak bungsu Marso Diyono. Dia muslim, pergi ke masjid dan mencari nafkah untuk keluarganya. Rumahnya di Dukuh Brengkungan Desa Pogung Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Dia dan Suratmi membuka Raudhatul Athfal Amanah Ummah, sebuah sekolah untuk tingkat anak-anak. Tidak ada yang luar biasa, tidak ada klik yang kuat untuk menghubungkannya dengan “terorisme”. Namun, pada Selasa 8 Maret 2016 lalu, pasca shalat Maghrib di masjid Muniroh, Densus 88 menangkap Siyono.

Alur cerita Siyono melompat cepat. Lima hari kemudian, Suratmi yang diboyong Densus 88 ke Jakarta, mengonfirmasi wafatnya Siyono.

Saya membayangkan, semula, Densus 88 punya catatan hingga harus menangkap Siyono. Catatan ini tidak pernah kita ketahui dari mana asalnya, apalagi kebenarannya. Versi polisi belum bisa dipegang sepenuhnya dan ini sepatutnya diperiksa secara bersama-sama. Nah, berdasarkan catatan itu pulalah, Siyono eksis.

Eksistensi Siyono di mata kekuasaanbukan memantik reaksi polisi-polisi di tingkat sektor. Kelas Siyono begitu tinggi, langsung dari sebuah markas besar kepolisian di Jakarta, pusat kekuasaan. Eksistensi Siyono begitu “menakutkan” hingga kekuasaan harus mengirim pasukannya yang terlatih, bersenjata dan berteknologi mutakhir untuk menghadapinya.

Mengapa Siyono begitu penting di mata Mabes Polri? Kepolisian tentu saja saja punya hak untuk mengeluarkan statemen seperti yang dikehendakinya. Sebaliknya, masyarakat juga punya hak untuk menyelidiki ulang statemen itu. Masing-masing punya standar prosedur operasi. Karena itu, apapun penilaian Anda tentang informasi yang dikeluarkan polisi, anggaplah itu petunjuk awal untuk membuka eksistensi Siyono.

Dus, informasi dari Siyono mesti digali ulang dan lagi-lagi, informasi ini juga mesti diverifikasi. Satu pintu masuk untuk itu adalah mengotopsi jenazahnya, mencari penyebab wafatnya Siyono. Dari fisik Siyono diharapkan didapat informasi kepada kita semua sehingga kita terhindar dari spekulasi dan prasangka, apakah kepada polisi dan terlebih kepada Siyono. Jangan lupa, yang sudah terbujur menjadi mayat adalah Siyono.

Itu satu soal. Lebih dari itu, Suratmi rupanya bukan perempuan yang lemah. Dia mendatangi Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan memberinya kuasa. Kemarin, PP Muhammadiyah dan Komisi Nasional Hak-hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memberi statemen pers kalau mereka akan mengotopsi jenazah Siyono. Kita memang tidak diperbolehkan berandai-andai apakah Siyono wafat karena penyiksaan ataupun langsung menggenggam mentah-mentah versi polisi yang menyatakan Siyono wafat karena luka akibat melawan petugas.

Titik pusat perhatian kita adalah kita sedang memperbincangkan nyawa seorang manusia yang sudah terlanjur tidak ada lagi, seorang manusia yang tidak bisa lagi membela dirinya karena diklaim oleh pihak kepolisian sebagai “terduga teroris”. Seorang manusia yang tiba-tiba eksis di depan mata kita dan dicurigai berbaju “terorisme”.

Saudara, terorisme adalah suatu hal dan menyangka seseorang akan berbuat atau termasuk dalam jaringan teroris adalah hal yang lain. Sedangkan bagaimana perlakuan terhadap teroris ataupun yang dicurigai sebagai teroris, juga berada di ruang yang lain.Lalu, mencegah aksi terorisadalah hal yang tidak sama pula. Hal-hal lain masih ada, misalnya dua gepok uang yang diterima Suratmi dan kemudian diserahkan ke PP Muhammadiyah. Itu hal menarik.

Karena itu pula, kita tidak bisa berbicara terlalu banyak saat ini ataupun menjatuhkan vonis kepada siapapun. Kita mengapresiasi advokasi yang dilakukan PP Muhammadiyah walau pilihan itu juga akan membawa konsekuensi tersendiri bagi Muhammadiyah. Bisa saja Muhammadiyah dianggap sedang berhadap-hadapan dengan institusi negara. Tapi itu kesan yang aneh karena secara faktual bisa dilihat institusi negara yang lain turut mendampingi yaitu Komnas HAM. Jangan lupa, umur Muhammadiyah, toh, lebih tua dari negeri ini.

Namun, apapun hasilnya nanti, nama Siyono telah tercatat dalam cerita perjalanan negeri ini. (*)

One thought on “Siyono

  1. Mencermati kasus almarhum Siyono (semoga Allah subhanahuwata’ala menempatkannya bersama para syuhada) memang menarik.
    Apapun hasilnya nanti, tetapi inilah saatnya untuk saling berlomba-lomba dalam membuktikan kebenaran.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s