Sumur


Gambar lama sumur Zam-sam. (foto: pinterest)
Gambar lama sumur Zam-sam. (foto: pinterest)

IBRAHIM membalikkan punggungnya dari tatapan seorang anak kecil dan ibunya di tengah-tengah gurun Hijaz. Mereka adalah Ismail dan Hajar. Yang bersama Hajar itu, nantinya, adalah seorang nabi yang memersembahkan hidupnya untuk disembelih ayahnya dan darinya pula suatu saat nanti diturunkan orang paling mulia dalam sejarah alam semesta, Muhammad. Ismail, toh, hanya seorang manusia biasa. Dia merasa haus. Kerongkongannya dicekik panas. Adakah manusia yang tak merasa haus di tengah gurun?

Lagi-lagi Hajar. Perempuan yang menjadi istri kedua Ibrahim ini adalah pemeran utama dalam salah satu babakan sejarah terpenting umat manusia. Sepasang kakinya pun telah penuh debu, bolak-balik antara Shafa dan Marwa demi mencari sumber air. Keringatnya kian kering akibat dehidrasi. Tuhan memang tidak menulis skenario “a la surgawi” untuk Hajar, seperti yang dialami Maryam, ibu Isa. Maryam memeroleh makanan dari surga yang diantar langsung oleh para malaikat. Dia juga mengandung Isa tanpa melewati proses pernikahan, tanpa laki-laki. Cerita Maryam adalah sebuah mukjizat, keajaiban. Namun tidak bagi Hajar.

Kisah Hajar digurat dengan penuh perjuangan, keringat dan lelah tak berdaya. Manusiawi, hikayat nan perih dari seorang manusia. Tentu, Anda sudahlah tahu kalau pencarian Hajar itu ternyata bukan berakhir di ujung daratan Arabia, melainkan di dekat sepasang kaki mungil Ismail, anak yang ditinggalkannya tadi. “Zomë zomë,” seru Hajar yang berarti “berhentilah mengalir, berhentilah”. Agaknya, dia tak menyangka kalau air yang diharap-harapkannya itu terpancar begitu derasnya.

Mata air itu kemudian lambat-laun bermetamorfosa menjadi sumur. Tak hanya mengaliri Ismail, Hajar dan kemudian Ibrahim, namun juga rombongan kafilah tradisional antara Arab hingga Afrika, dan kini, diminum oleh seluruh umat manusia.

Tak pernah ada cerita tentang kekuasaan di situ. Semua boleh menikmatinya, secara bersama-sama. Hajar tak pernah mengangkat dirinya Ratu Zam-zam walau dia hidup di sekitar sumur itu. Dia bisa saja memagari sumur itu. Dan, tentu Anda mafhum apa makna air di tengah-tengah gurun, bukan? Tapi tidak, kisah tentangnya bukanlah seperti Ratu Balqis atau pula Asiah, permaisuri Fir’aun, ibu angkat Musa. Ismail pun tak pula menahbiskan dirinya sang pangeran, walau di dirinya mengalir kearifan Ibrahim dan dialah buyut Muhammad al-Mustafa. Dia tidak diceritakan seperti Sulaiman putra Daud.

Hajar dan Ismail adalah kisah sunyi cinta ilahiah dan kemanusiaan yang terhormat. Dia seperti cerita pahlawan rakyat, yang tidak ditulis dengan tinta emas kekuasaan melainkan lantunan bibir-bibir rakyat yang polos, lurus yang kemudian menjadi tembang pengantar tidur anak-anak. Kisah yang apa adanya. Ini adalah sebuah hikayat yang bercerita tentang hubungan manusia dan yang menciptakan manusia yang membuat Hajar dan Ismail tak merasa tak perlu memagari dirinya dengan makhluk lain di alam semesta.

Ah, hingga kini, saya sendiri tidak tahu kisah atau tembang apa yang diceritakan atau didendangkan Hajar untuk mengantar tidur Ismail kecil pasca penemuan sumber mata air itu. Mereka hidup berdua di sana, dalam sebuah hidup yang mungkin kita bayangkan dalam kesunyian, kecipak air dan sebuah sumur. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s