Par Excellence


Par Excelence. Istilah ini sebenarnya tak empuk benar menyentuh kuping kita yang rumpun Melayu ini. Sayangnya, kita ini sempat pula dijajah ratusan tahun oleh Eropa. Akibatnya, sebagian suka pula membungkuk-bungkuk dengan yang berbau-bau Eropa.

kiuk1Itu tak mengherankan. Dulu di masa penjajahan Eropa, ‘kan bangsa Eropa ini berada di kasta tertinggi dan menyusul sesudahnya bangsa China. Jadi, karena berada di kasta terbawah, ya, harus siap-siap tersiksa dan disiksa. Ini rumus biasa dari para kolonial Eropa. Di wilayah Afrika dan bangsa Asia lainnya, Eropa juga begitu; mengangkat dirinya sebagai raja kasta sosial. Ini memengaruhi indikator penilaian, lalu gengsi dan martabat.

Misalnya dari segi fisik. Fisik yang unggul itu adalah tinggi besar, kulit berwarna putih terang, hidung mancung. Eropa banget, bukan? Nah, kita yang dijajah ini jadi ketularan. Kalau anak baru lahir, di antara yang diharap-harap adalah anaknya panjang karena nantinya diharap akan tinggi, hidungnya mancung dan kulitnya putih. Sebaliknya, kalau yang pendek, pesek, hitam, dan bibirnya tebal pula, tak pernah dipanjatkan. Ini akan membuat minder, tak prestius untuk dipajang.

Secara tak sadar, kita sudah cuek dengan “nasib” fisik bangsa-bangsa kita yang berada dalam lingkup ras Mongoloid, dan bukannya Kaukasoid dan Negroid. Bahkan, dulu ada istilah yang ketika didengar sekarang ini agak-agak menggelikan. Entah bagaimana, kita dulu menyebut bangsa Jepang sebagai “bangsa kate”, bangsa yang tubuhnya pendek. Orang pendek menyebut orang lain pendek, bagaimana ceritanya? Padahal, Jepang sendiri waktu itu sedang merayu orang Hindia Belanda dengan sebutan “saudara tua dari timur”.

Nah, tentu ada alasan. Ada kemungkinan, nada pejoratif itu mula-mula disebar orang-orang yang kita anggap “tinggi”. Waktu Perang Dunia II, bangsa Eropa (minus Jerman) dan Amerika Serikat ‘kan memang sedang berperang dengan Jepang. Itu perang budaya, propaganda yang akibatnya lebih membekas lama daripada sekedar luka bekas peluru.

Anda lihatlah artis-artis dan dunia hiburan kita. Salah satu kriteria untuk laris manis itu, ya, yang berwajah “indo”, keturunan Eropa. Ditambah lagi kalau lahirnya di luar negeri, wuih, bertambah sedap meraciknya. Kalau ngomong pun, agak cas-cis-cus pakai english. Semakin tahu bahasa Eropa yang lebih rumit dan tak awam, seperti bahasa Perancis, Jerman, Poland dan lainnya, semakin enak untuk dijual.

Banyak yang terperangkap dalam kabut rendah diri. Dulu pernah ada pepatah: “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”. Tapi ‘kan tak mungkin itu terjadi kalau di sebelah kita ada orang Eropa, bukan?

Padahal, maksud tetua-tetua kita itu dulu, di antaranya, adalah soal martabat. Orang tinggi jangan merasa tinggi, orang rendah jangan pula merasa rendah. Jangan sombong, jangan pula rendah diri. Maruah dan kehormatan diminta di situ. Kalaupun ada yang bilang maksudnya soal “tahu diri”, maksudnya bukan pula minder. Jangan minder berhadapan dengan “orang tinggi”, dan jangan pula merasa “orang pendek”. Masak sih Anda mau yang menentukan soal “tinggi” dan “pendek” itu dari bangsa yang di luar kita?

Setelah itu, barulah kita bicara soal Par Excellence: terbaik di antara yang lain. Itu kalau Anda sudah tak rendah diri lagi. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s