Ada Apa dengan China?


Donnie Yen bertemu Mike Tyson dalam sebuah pertarungan berdurasi 3 menit di film Ip Man 3. Itu adalah sebuah laga yang jantan, penuh tenaga dan tentu saja harus memenuhi salah unsur menjual dari sebuah film: mendebarkan. Tidak ada wasit dan tidak ada penonton seperti di IpMan1 dan IpMan2. Hasil pertandingan diputuskan oleh trio Wilson Yip (sutradara), Raymond Wong (produser) dan Edmond Wong (penulis skenario), yang berada di belakang layar film ini: draw. Bijak juga.

chinaaIni tidak seperti film IpMan sebelumnya, di mana kung fu China begitu perkasa dan membuat karateka Jepang dan petinju Inggris, Taylor “the Twister” Miller, babak belur dan mengucurkan darah. Kedua negara itu punya sejarah yang muram dengan China: dua babak perang dengan Jepang di akhir abad ke-19 dan 20, lalu Perang Candu dengan Inggris. Mungkin saja ada aroma kesumat yang berketerusan di sana. Perang yang tidak memedulikan apakah China masih dalam bentuk kerajaan ataupun republik. Juga bukan soal Shangdi, Konfusionisme, Taoisme, doktrin Buddha, nasionalisme Chiang Kai Sek hingga komunisme yang lahir di Eropa dan dianut Mao Tse Tung. Perang selalu hadir dengan berbagai alasan. Tapi orang-orang telah mati akibat itu. Mayat yang dicatat namanya jauh lebih mikro dari yang tak terekam sejarah. Tapi bukankah catatan rakyat lebih abadi, terus mengalir dan diwariskan? Bukan tanpa kesengajaan bila itu terpampang di film-film produksi China.

Lalu, Deng Xiouping melangkah lebih jauh dari Mao yang sebelumnya telah memerintahkan revolusi kebudayaan. Dia menginjak area terlarang dari komunisme: pasar yang terbuka. China menggeliat tajam. Jiang Zemin, Li Peng, Zhu Rongji, Hu Jintao, Wen Jiabao, dan kini, Xi Jinping, hanyalah penerus Deng. Dan setelah Deng wafat di 1997, saat ini, China sudah gagah berdiri di depan negara pemenang Perang Dunia II: Amerika Serikat.

Pertarungan Donnie Yen dan Mike Tyson menunjukkan itu. Berbaju tradisional China berwarna hitam, Donnie Yen yang tak setinggi dan setegap Tyson, berhasil mengimbangi juara dunia tinju yang begitu menakutkan di era sebelum abad millenium berakhir.

* * *

Di laut yang luas itu, Laut  China Selatan, China menancapkan kuku-kuku naganya di kawasan strategis yang di bawah airnya tersimpan kekayaan bumi nan menakjubkan. Filipina sudah lama gerah. Indonesia punya titik teritorial di sana, di sebuah kawasan luas yang kata “China” telah menjadi judul di situ. Baru-baru ini, China diinformasikan sudah melangkah ke wilayah Indonesia dan isu yang berkembang menyebutkan, sudah pula menembakkan pelurunya ke kapal berbendera Indonesia. Kabar ini memang begitu sayup di media-media di Indonesia. Namun tidak di sosial media. Kalau Anda heran mengapa informasi yang berkaitan langsung dengan kedaulatan negeri ini tidak begitu penting untuk diperdalam dan diverifikasi kebenarannya, itu berarti Anda masih sehat sebagai warga negara.

Nah, di tengah kesimpangsiuran informasi, entah kebetulan atau tidak, sepuluh orang Warga Negara Indonesia (WNI) diculik dan disandera pula oleh kelompok bersenjata di Filipina dari sebuah kapal yang membawa ribuan ton batubara. Filipina memberikan statemen yang belum terverifikasi: kelompok Abu Sayyaf yang berkaitan dengan ISIS, terlibat. Kabar itu dimakan oleh media. Dan seperti sudah diduga, frame “terorisme” mengemuka. Isu ini tampaknya lebih mengundang selera pemerintah dan media di Jakarta. Silih berganti pejabat pemerintahan, legislatif, militer hingga polisi, muncul di media-media memberikan statemen soal ini. Pasukan elit bersiaga penuh, siap ditugaskan.

Isu Laut China Selatan berada di sebalik ruang. Tentu saja, adalah hak setiap media untuk memilih agenda mana yang penting bagi dia untuk ditampilkan. Tapi, pemerintah jadi punya alasan untuk diam; mengapa pula media tak bertanya?

Sayangnya, prioritas kebijakan pemerintahan Joko Widodo dalam soal kelautan dan jati diri bangsa, hingga harus capai-capai merapal kata “revolusi mental”, jadi terbuka lebar untuk diberi senyum. Masyarakat tak bisa dicegah ketika memakai pola “jumping conclusion” terhadap indikator-indikator lain yang juga terkait dengan China. Utang Indonesia terhadap China jadi asyik untuk diungkit-ungkit. Soal kereta api cepat Jakarta-Bandung, bus TransJakarta yang diimport dari China, dan seterus-seterusnya, hingga investor China di titik Danau Toba di Sumatera Utara yang dikabarkan akan membangun Monaco of Asia. Nah, Menteri Kelautan, Susi Pudjiastuti yang selama ini begitu “galak”, toh, juga tenggelam di laut persoalan ini. Ketika pemerintah tidak memberikan statemen resmi soal ini, maka itu sama dengan membiarkan masyarakat berspekulasi. Masyarakat jadi punya bahan untuk membuat status di akun media sosialnya masing-masing.

Pemerintahan Joko Widodo sebenarnya tak perlu ragu mengungkapkan kemesraannya dengan China. Bila itu benar. Toh, Sukarno – ayah Megawati Sukarnoputri sang Ketua Umum PDI Perjuangan sejak partai ini berdiri— dulu juga dekat sangat, kok, dengan China. Bahkan, dokter dari China didatangkan untuk mengobati sang proklamator.

Malu bisa jadi. Tapi untuk apa malu? Ada apa dengan China, rupanya? Ah, saya jadi teringat kisah Rangga dan Cinta… (*)

One thought on “Ada Apa dengan China?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s