Ghina


MAHMOUD Darwish (1941–2008), seorang penyair Palestina, menulis dengan air mata yang pedih dalam puisinya, Halat Hissar (Negara yang Terkepung). Darwish bercerita tentang ratapan seorang ibu di pemakaman anaknya.

Seorang wanita meratap pada awan-awan: peluklah buah hatiku itu
Pakaianku telah kuyup oleh darahnya/
Jika kau tidak menjadi hujan, sayangku/ jadilah pepohonan / yang penuh dengan kesuburan
….. Jadilah purnama dalam impian seorang pecinta

Palestina adalah luka yang menganga yang terus dioles dengan obat yang salah. Suatu saat, pemerintah menyetujui konsep berdirinya dua negara di kawasan Palestina dan Israel. Paras Presiden Mahmoud Abbas pun tak tampak sumringah ketika difoto pasca pertemuan bilateral di Jakarta di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Konferensi Islam (OKI) belum lama ini. Pasca Perang Dunia (PD) II, PBB melarang ada invasi suatu negara ke negara lain. Israel tak punya hak.

Apalah daya, negara pemenang PD II yang menjadi Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB dan mempunyai hak veto itu, justru ada di balik wajah bengis Israel. Amerika Serikat (negara dengan penduduk Yahudi terbesar ke dua di dunia setelah Israel), Inggris dan Eropa (negara di mana kaum Yahudi dibunuhi), sungguh pintar. Mereka memback-up berdirinya Israel. Padahal terbunuhnya kaum Yahudi dalam Genosida justru terjadi di Eropa. Mereka telah mengirim Yahudi kembali ke Timur Tengah dan hingga kini Israel menjadi sumbu terbakarnya kawasan itu.

Ketika pengharapan tak berujung, maka perlawanan adalah konsekuensi. Senjata pun jadi pilihan. Jangan lupa, tidak satupun negara Timur Tengah itu yang berperang memakai senjata buatan mereka sendiri. Kalau tidak buatan Amerika, ya, Eropa.

Mereka, anak-anak dan remaja di Palestina dan Timur Tengah lainnya, sudah terbiasa mengangkat senjata dan tidur di bawah desingan peluru dan ledakan bom. Tapi, di penghujung 2015 lalu, seorang gadis kecil berumur 9 tahun bernama Ghina Bou Hamdan, justru melawan dengan tangan, kaki dan terutama dengan bibirnya yang mungil. Ghina, dengan gigi kelinci dan baju bermotif bunga itu, bernyanyi dengan paras yang sedih namun dengan lirik yang kuat dan menggugah.

“Kami mengucapkan selamat hari raya, tapi kami ingin bertanya mengapa kami tidak bisa merayakannya?” begitu lirik awal A’thuna Tufuli yang dibawakannya di acara MBCVoiceKids Arab 2015. Dia tak sanggup menahan tangisannya ketika seorang juri berbalik, membukakan lebar-lebar tangannya dan memeluk Ghina di atas panggung. Ghina bahagia betul. Juri itu, Nancy Ajram, seorang Kristen Libanon memeluk Ghina, seorang muslim dari Suriah. Juri yang lain tampak sekuat tenaga menahan genangan air mata di tengah-tengah penonton yang berdiri dan bertepuk tangan. Semua merasakan penderitaan dalam lagu itu. Video yang diunggah di youtube itu, hingga April 2016 kemarin sudah dilihat 41 juta lebih viewers, di luar video-video lain yang berbahan dasar sama dan ditambahi dengan kreasi lainnya. Karena itu pula, saya harus mengakui tema tulisan ini mungkin sudah sangat terlambat.

Tapi suara Ghina itu terlanjur menghujam jantung. Sebuah kemerduan nan getir yang bergaung keras ke saentero jagad. Seperti nyanyian burung yang ditingkahi burung-burung yang lain dan membentuk koor. Sebuah tayangan televisi asal Vietnam bahkan membuat laporan khusus soal itu dan dilengkapi dengan video serta gambar-gambar yang mengungkap derita anak-anak Suriah, Irak, Libya dan Palestina. Korba-korban perang nan polos. DailyMail, media Inggris ternama, membuat berita khusus soal Ghina dan pertunjukannya. “Kembalikan masa anak-anak kami, A’thuna Tufuli,” dendang Ghina.

Lagu itu, bukan lagu baru. Remi Bandali, seorang anak Libanon yang kini telah dewasa, telah mendendangkannya ketika ia masih kanak-kanak dulu di tahun 1976. Remi kecil dengan pita di rambut dan baju kembang berwarna putih, yang menjelma lagi di sosok mungil Ghina. Kita tidak tahu, kapan lagu lama itu akan usai. (*)

Ditulis April 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s