If This Is a Man

by Primo Levi

You who live safe
In your warm houses,
You who find, returning in the evening,
Hot food and friendly faces:

Consider if this is a man
Who works in the mud,
Who does not know peace,
Who fights for a scrap of bread,
Who dies because of a yes or a no.
Consider if this is a woman
Without hair and without name,
With no more strength to remember,
Her eyes empty and her womb cold
Like a frog in winter.

Meditate that this came about:
I commend these words to you.
Carve them in your hearts
At home, in the street,
Going to bed, rising;
Repeat them to your children.

Or may your house fall apart,
May illness impede you,
May your children turn their faces from you.

* * *
Continue reading “If This Is a Man”

Advertisements

Satir

Penyair Khairil Anwar menulis bait yang perih ketika neneknya meninggal dunia: duka maha tuan bertahta. Nenek Khairil adalah orang yang memeliharanya sedari kecil. Seorang nenek atau kakek memang sering diceritakan memanjakan para cucunya.

islamo HL1Perih. Tapi, kita mungkin tak sama menafsir atau merasa apa yang tertulis di kalimat itu. Adakalanya suasana ataupun konteks pembaca ketika melihat itu memengaruhi kadar makna yang ada di kepalanya. Coklat rasanya sedap, tapi bagaimana mungkin rasanya bisa sama dengan gula jawa? Jamal Mirdad begitu renyah ketika menyanyikan syair dalam lagu Cinta Anak Kampung: “kalau cinta sudah melekat, gula jawa rasa coklat”. Cinta membuatnya setara, bahkan sama. Begitulah.

Continue reading “Satir”

Berlalu

bumiStephen Hawking, fisikiawan teoritis paling terkemuka saat ini, pernah berujar sederhana. Ketika Anda dapat melihat sebuah bintang, maka sebenarnya Anda sedang memerhatikan masa lalu. Dalam bukunya A Brief History of Time, yang disebut memakai bahasa “mudah” karena itu “bisa” dipahami oleh orang awam (bandingkan dengan bahasa artikel ilmiah dalam jurnal), dia berargumen, suatu benda dapat dilihat, katakanlah oleh mata telanjang, karena diantar oleh cahaya. Karena bintang-bintang letaknya jauh dari bumi maka ada waktu yang dibutuhkan oleh cahaya. Walau hingga kini diketahui kalau cahaya merupakan materi yang paling cepat geraknya daripada benda apapun di alam semesta, namun dibutuhkan waktu yang cukup “lama” hingga cahaya sampai ke mata kita di muka bumi. Karena itu, apa yang kita lihat di langit pada malam hari saat ini, pada dasarnya bukanlah peristiwa yang terjadi “pada saat ini” melainkan sudah terjadi “sebelumnya” atau masa lalu.

Ketika Anda dapat melihat bintang pada dasarnya Anda sedang memandang masa lalu. Begitu kata dia.

* * *

Continue reading “Berlalu”

Kurban, Karib, Akrab, Kerabat

loveeBurung-burung terbang berkeliling di bawah awan pada Sabtu pagi kemarin; Idul Adha. Ada semilir angin, ada jamaah, ada khatib dan pastinya ada podium. Dari podium, terdengar hal yang sederhana; kata Qurban menjelma dalam bentuk kata yang lain karib, akrab dan kerabat. Perubahan bentuk kata itu juga menandaskan bahwa kata “qurban” memang mengamanatkan kedekatan dalam bentuknya yang paling personal dan mendalam, mungkin seperti pada persaudaran dalam ikatan darah. Continue reading “Kurban, Karib, Akrab, Kerabat”

Tanda

sketsaDalam Al-Quran, tanda disamakan ayat. Bahasa Indonesia sudah lama menyerap kata “ayat” ini dan kadang-kadang dia tak langsung disamakan dengan kata “tanda”. Dalam bahasa Inggris, tanda diterjemahkan dengan “sign”. Dalam kamus Oxford, disebutkan, “sign” sebagai objek yang menunjukkan adanya kemungkinan atau terjadinya sesuatu yang lain. Semacam ada hubungan kausal (sebab-akibat) antara satu fenomena dengan yang lain. Katakanlah dia sebagai jembatan makna. Lazim misalnya gemuruh dan petir dijadikan semacam tanda akan dimulainya peristiwa seperti hujan. Memang, tak jarang “tanda” itupun mungkin bisa saja keliru. Ini seperti yang terjadi pada kalimat: mendung tak berarti hujan. Continue reading “Tanda”

Halat Hissar (A State of Siege)

mahmoud darwish
Mahmoud Darwish (source: darwishfoundation.org)

 

Halat Hissar/A State of Siege

by Mahmoud Darwish *)

A woman asked the cloud: please enfold my loved one
My clothes are soaked with his blood
If you shall not be rain, my love
Be trees
Saturated with fertility, be trees
And if you shall not be trees, my love
Be a stone
Saturated with humidity, be a stone
And if you shall not be a stone, my love
Be a moon
In the loved one’s dream, be a moon
So said a woman to her son
In his funeral
He goes on to add:
During the siege, time becomes a space
That has hardened in its eternity
During the siege, space becomes a time
That is late for its yesterday and tomorrow
Continue reading “Halat Hissar (A State of Siege)”

Poligami dan Substansi Agama dalam Negara

PrintAlkisah, sebuah pemerintahan dinilai steril dari yang namanya agama. Agama mempunyai ranahnya sendiri dan negara-pemerintahan adalah ruang yang lain. Ini dasar dari sekulerisme, ada negasi antara yang sakral dan profan. Dia dibuktikan secara struktural. Agama tidak mendasari hukum negara, demikian juga hukum negara tidak berhak mengatur kehidupan dan syariat agama. Laiknya himpunan, pada dasarnya dia tidak mempunyai irisan hubungan.

Bila ditarik lebih ke belakang, sekulerisme punya nada filosofis yang “indah”. Ada banyak perspektif, tapi saya lebih tertarik dari perspektif humanisme. Pasca penciptaan manusia oleh Tuhan, manusia dibekali dengan kehendak asasi yang mandiri atau free will. Film drama komedi, Bruce Almighty (dibintangi Jim Carrey sebagai Bruce/manusia dan Morgan Freeman sebagai God/Tuhan) setidaknya menerangkan ini dengan cara yang sederhana. Continue reading “Poligami dan Substansi Agama dalam Negara”

Demokrasi?

lebahSeperti lebah. Sarangnya begitu teratur, sebuah heksagon yang saling berdampingan. Ketika mereka mencari makan di luar, di kumpulan bunga-bunga, tak ada keributan yang terjadi. Mereka tak perlu ajaran soal antri. Tak ada pula kecemburuan ketika seekor lebah mendekati bunga yang sangat cantik dan berhasil memproduksi madu yang begitu banyak. Tidak ada yang merasa tidak adil ketika seekor lebah lainnya hanya mendapatkan bunga-bunga yang tak pernah dilirik manusia karena keburukannya; bunga-bunga yang tak pernah mendapatkan porsi di puisi-puisi manusia.

Mereka hidup dengan seekor ratu, yang memberi mereka jaminan eksistensi dan survivalitas di kemudian hari. Mereka tak perlu memilih ratu seperti layaknya manusia memilih pemimpin-pemimpinnya. Tak ada bantahan. Lebah hidup terus seiring waktu berputar di atas muka bumi. Continue reading “Demokrasi?”

Menikmati Kebengisan Politik 2014

sketsaBarangkali, tak seorang Niccolo Machiavelli yang melukiskan politik dengan begitu bengis. Kebengisan adalah modal, menjadi tungku kekuasaan di mana rakyat adalah batubara yang pasrah. Rakyat yang diceritakan itu tak memiliki posisi untuk menatap kekuasaan. Tapi dia perlu, minimal sebagai saksi. Si saksi yang tak punya kuasa untuk merubah itu.

Tapi, kekuasaan adalah kesendirian yang absolut. Fir’aun adalah perlambang kekuasaan manusia di mana dia sendirian berada, nun, di titiknya yang tertinggi. Dia eksis menyendiri di puncak piramida tanpa ada sesuatu apapun yang menyamai ketinggiannya. Dia tidak pernah menengadah, tapi suka menatap kaki-kakinya dengan mata yang berkilat-kilat, di mana apa yang ada di luarnya (selain rakyat, termasuk juga para hulubalang, punggawa, hingga para tentara) mengerubungi jari-jarinya seperti semut mengelilingi bongkahan gula. Karena itu, Fir’aun merdeka dari segala norma ataupun kewajiban atas nama moral. Mungkin ini mirip dengan ubermeench a la Friedriech Nietzsche, yang menganggap manusia pada titik tertingginya adalah manusia yang mampu membunuh moralitas yang di antaranya diciptakan oleh Tuhan. Moral Tuhan yang selama ini memenjarakan manusia sehingga tidak mampu menjadi “manusia sejati” yang telah keluar dari sebuah konsep yang bernama “normal”. Budak moral, seru dia. Kemerdekaan adalah lepas dari segala-galanya. Baru setelah itu, si manusia tadi mempunyai kemampuan untuk memproduksi sebuah hal yang baru; mencipta. Continue reading “Menikmati Kebengisan Politik 2014”

Mimpi Rakyat Sejahtera

sketsa miskinOrang Indonesia punya mimpi; sejahtera. Tidak muluk-muluk sebenarnya. Sudahkah itu terealisasi? Sebagian. Sebagian ini pun mesti diperpanjang lagi debatnya; masih sebagian kecil dan bukannya sebagian besar. Kalau ceritanya adalah masih sebagian kecil saja yang sejahtera, maka sudah terjadi kesenjangan ekonomi dalam skala yang cukup masif. Dan itu berarti mimpi belum terealisasi. Continue reading “Mimpi Rakyat Sejahtera”

Jelang Pemilu 9 April 2014, SBY Keluarkan Keppres 12/2014 Pro Cina

koruptor BLBIDengan pertimbangan istilah “Tjina” sebagaimana disebutkan dalam Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor SE-06/Pred.Kab/6/1967 tanggal 28 Juni 1967, yang pada pokoknya merupakan pengganti istilah “Tionghoa/Tiongkok” telah menimbulkan dampak psikososial-diskriminatif dalam hubungan sosial warga bangsa Indonesia dari keturunan Tionghoa, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2014 tentang pencabutan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera itu. Continue reading “Jelang Pemilu 9 April 2014, SBY Keluarkan Keppres 12/2014 Pro Cina”

Politisasi (Pemeluk) Agama

ADALAH hal yang muskil untuk soekarno 1menghilangkan ideologi agama dalam partai politik di Indonesa. Dorongan agama merupakan salah satu yang utama ketika orang melihat politik. Bila seseorang melandaskan hidupnya, katakanlah, pada ayat yang berbunyi: amar ma’ruf nahi mungkar, maka adalah sebuah kepastian kalau itu hanya bisa dilakukan secara politik. Cara sosial maupun budaya, tidaklah mencukupi menanggung beratnya perjuangan untuk menegakkan ayat tersebut.

Untuk menyeru kebaikan, mungkin bisa dilakukan oleh siapapun. Namun untuk menentang kemungkaran maka kekuasaan adalah hal yang mutlak. Organisasi pelaku kemungkaran hanya bisa ditaklukkan dengan kekuatan. Ini karena kejahatan selalu dimulai oleh kekuatan dari kelompok jahat. Tidak ada pernah ada mereka yang jahat itu lemah. Mereka adalah orang-orang yang kuat, baik secara fisik, mental maupun organisasional.

Continue reading “Politisasi (Pemeluk) Agama”

Jika Rakyat Membangkang

ali4MUHAMMAD Ali. Pada 28 April 1967, di Houston, angkatan bersenjata Amerika Serikat (AS) memanggil nama juara dunia tinju itu. Disebut hingga tiga kali, nama itu tak kunjung berdiri. Seorang perwira memeringatkan, sikapnya itu bisa membuatnya meringkuk lima tahun di penjara dan denda US$ 10.000. Ali bergeming ketika ancaman itu diakhiri dengan panggilan keempat. Ali ditangkap. Di hari yang sama, Komisi Atletik New York mencabut izin bertanding termasuk gelar juaranya. Dia dihukum tak bisa bertanding di seluruh negara bagian Amerika Serikat hingga tiga tahun. Tiga bulan kemudian, pada 20 Juni 1967, juri pengadilan memutuskan Ali bersalah. Ali banding ke Mahkamah Agung AS. Pada 28 Juni 1971, Ali tetap diputus bersalah. Ali dinyatakan bersalah karena tidak mau masuk ke Angkatan Bersenjata Amerika dan dikirim dalam perang Vietnam. “Man, I ain’t got no quarrel with them Vietcong,” tegas dia. Continue reading “Jika Rakyat Membangkang”

Resistance to Civil Government (Civil Disobedience)

Henry David Thoreau (12 Juli 1817 – 6 Mei 1862)
Henry David Thoreau
(12 Juli 1817 – 6 Mei 1862)

Resistance to Civil Government (Civil Disobedience)
by Henry David Thoreau
first published 1849 at anthology called Æsthetic Papers

* * *

I heartily accept the motto, “That government is best which governs least”; and I should like to see it acted up to more rapidly and systematically. Carried out, it finally amounts to this, which also I believe- “That government is best which governs not at all”; and when men are prepared for it, that will be the kind of government which they will have. Government is at best but an expedient; but most governments are usually, and all governments are sometimes, inexpedient. The objections which have been brought against a standing army, and they are many and weighty, and deserve to prevail, may also at last be brought against a standing government. The standing army is only an arm of the standing government. The government itself, which is only the mode which the people have chosen to execute their will, is equally liable to be abused and perverted before the people can act through it. Witness the present Mexican war, the work of comparatively a few individuals using the standing government as their tool; for, in the outset, the people would not have consented to this measure. Continue reading “Resistance to Civil Government (Civil Disobedience)”

Kampusiana

Brad Pitt gagah benar ketika tampil dalam film Troy. Berperan sebagai Achilles, Dia ksatria tak terkalahkan. Kuat bertarung, tahu bersiasat, cekatan menggunakan senjata, berani dan wajahnya memikat para wanita. Dia sempurna.

“Apakah kau tak takut mati?” tanya seorang perempuan kepadanya.
“Apa bedanya mati besok, nanti atau sekarang?” sahut dia.

Agaknya, pertanyaan Achilles itu sekaligus menjadi jawaban. Tak ada gunanya menggelisahkan sebuah kepastian. Mungkin kira-kira begitu.

Kita tidak bicara soal pertarungan laksana duel antara dua prajurit ataupun petinju. Mungkin ini agak-agak mirip dengan pertarungan politik yang kini makin kasat mata menuju Pemilu 2014. Tapi tak juga soal itu. Mirip-mirip iya. Continue reading “Kampusiana”

Eksistensi Negara

Pasca reformasi seperti sekarang ini, sebuah generasi bertanya dengan lirih tiga pertanyaan sekaligus: untuk apa pemilu? Untuk apa berpolitik? Untuk apa negara?

leviathanPertanyaan itu mungkin saja digurat dari kesenduan, kemurungan dan kemarahan. Si penanya dihadapkan pada makna yang seharusnya terjadi dan bukannya apa yang sedang terjadi. Dia membayangkan kalau akibat-akibat dari yang ditanyakannya itu (pemilu, politik dan negara) adalah surga. Karena itu sebelumnya dia telah setuju berpartisipasi, membubuhkan persetujuan untuk dibentuknya negara dan pemerintahan serta proses kekuasaan. Demokrasi dia setujui karena di situ manusia diumbang, dipuja sebagai pemilik kedaulatan.

Negara dalam hal itu dipandang sebagai realisasi keinginan, hasrat dan kehendak dari manusia pemilik kedaulatan. Tapi bukan yang baik-baik saja. Continue reading “Eksistensi Negara”

Bento, Benih Koruptor

iwan falsIwan Fals baru bernyanyi di Medan di penghujung Januari kemarin. Tajuk Konser Suara untuk Anak Negeri yang digagas itu, seakan-akan hendak mengantarkan pada momentum pemungutan suara pada April 2014 mendatang. Lagu Bento didendangkan. Lagu yang cukup dahsyat. Diciptakan di masa Orde Baru (Orba), lagu itu tak kehilangan momentumnya hingga kini. Walau dinyanyikan di ujung pergelaran, tapi saya merasa itu bukan menjadi titik akhir atau katakanlah sebuah kesimpulan yang murung mengenai kondisi yang terjadi di negeri ini dan setelah itu kita harus menyerah terhadap situasi seperti itu.

Tapi mari berasumsi positif kalau hal itu telah disengaja Iwan Fals agar setiap anak negeri memarahi kondisi itu dan kemudian merubahnya menjadi keadaan yang sebaliknya. Dan saya ingin mengambil satu noktah dari lagu itu bahwa keculasan, kelicikan, kemunafikan dan deretan sumpah serapah yang saya kira bisa kita pahami bersama dari lirik lagu Bento tersebut. Bahwa adalah lagu yang penuh amarah itu ditujukan kepada mereka-mereka yang elit, kelompok eksklusif apakah itu dari bilik politik, sosial, ekonomi maupun budaya. Mereka-mereka yang dengan sadar menipu dan memanipulasi kejahatan dalam wajah-wajah yang bermoral dan “adil”.

Untuk itu, kita harus berterima kasih kepada Iwan Fals. Continue reading “Bento, Benih Koruptor”

Si Seksi Pembunuh Negara (2)

corrupPedih. Korupsi di ibukota provinsi Sumatera Utara ini, memang cukup memedihkan. Orang Medan pernah tidak punya pemimpin karena dua-duanya masuk penjara. Walikota Medan dan Wakil Walikota Medan, Abdillah dan Ramli Lubis, tersangkut perkara korupsi mobil pemadam kebakaran. Bukan hanya mereka, Gubernur Sumut, Syamsul Arifin juga begitu. Beberapa walikota dan bupati di beberapa kota dan kabupaten di Sumut juga menjadi terpidana dan tersangka korupsi. Paling gres, kasus Bupati Mandailing Natal yang kini telah menjadi tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Continue reading “Si Seksi Pembunuh Negara (2)”

Si Seksi Pembunuh Negara (1)

corrupKorupsi. Seksi benar kata itu, saat ini. Hampir setiap hari, masyarakat melihat kata itu di koran-koran. Juga mendengar kata itu diucap di radio dan televisi. Pokoknya, dia seksi benar, seluruh mata melotot ketika dia muncul di hadapan. Saking seksinya, dia menjadi santapan sehari-hari, pagi kala sarapan, siang saat makan siang dan malam hingga menjelang tidur pun kata itu tetap muncul. Anak kecil pun tahu soal kata. Soal maknanya apa, nanti dulu. Soal sebabnya itu urusan belakang dan akibat yang ditimbulkannya jelas bukan porsi mereka untuk menelaah. Continue reading “Si Seksi Pembunuh Negara (1)”

Kelemahan Bahasa Kita

kami_cinta_indonesia_by_putrithewickedSaya terbayang Indonesia ketika menonton sebuah film Malaysia, Anakku Sazali. Film yang dibintangi oleh Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh –orang lebih mengenalnya P. Ramlee—bercerita soal kisah Hassan, seorang miskin yang berubah nasibnya menjadi penyanyi terkenal dan kaya raya. Karena derita itu pula, dia memanjakan anaknya, Sazali, yang kemudian durhaka kepada dirinya.  Dalam film itu, ada lagu yang menarik, yaitu Tiada Kata Secantik Bahasa. Tentu bukan lagu itu yang dibicarakan, tapi soal kelemahan mendasar bahasa kita selama ini. Continue reading “Kelemahan Bahasa Kita”