Presiden Anda

Ini menyangkut kriteria, tentang apa yang saya inginkan dari orang yang memimpin atau bakal menjadi presiden. Karena itu, sifatnya personal.

Comedy and tragedy

Dia harus lebih dari segala apa yang ada pada saya. Satu pengecualian yang bisa saya terima adalah hartanya. Dia boleh lebih miskin dari saya. Tapi soal kemampuan intelektual, martabat, kharisma, gaya bicara, visi, trackrecord, kapabilitas manajerial, tingkat kepercayaan diri, dan agamanya, harusnya tidak boleh lagi ada pertanyaan, tidak bisa ada keraguan. Dengan tingkat akses informasi yang luar biasa seperti saat ini, maka ketidaktahuan seseorang terhadap orang yang bakal memimpin memang agak meragukan. Namun, realitasnya memang, masih juga ditemukan mereka yang berada di pelosok yang jauh dari sumber informasi, mereka yang tidak melek informasi, hingga orang yang memang tidak suka soal informasi karena lebih sibuk dengan urusannya sendiri. Kalau Anda berkenan, tentulah akan menjadi pahala bagi Anda untuk menyebarkan informasi secara jujur dan adil terhadap sosok-sosok orang yang berniat untuk memimpin. Kalau pun tidak, konstitusi kita pun tidak melarang. Continue reading “Presiden Anda”

Advertisements

Listrik

lilinDunia tidak hanya berhutang pada Thomas Alva Edison, ketika dia menyambung penelitian-penelitian sebelumnyamengenai listrik dan mulai menjual lampu listrik. Jauh sebelum itu, dunia telah mencatat Thales, filsuf Yunani, telah memulai serangkaian penelitian pada 600 SM mengenai daya listrik. Pasca penemuan kapal uap oleh James Watt, revolusi industri di Inggris pun menjadi titik balik dari peradaban dan kebudayaan dunia. Dan energi listrik menjadi salah satu dasar utamanya. Continue reading “Listrik”

Komprador, Fundamentalis-Demokrasi, dan Pasar Minggu

Fragmen I Komprador dan Fundamentalis-Demokrasi Pagi. Untuk para komprador, tampaknya kalian semangat kali ya. Sudah brp duit asing kalian telan atas nama demokrasi dan HAM? Para komprador itu ada yg sungguhan, ada yg pengangguran. Menjilat asing utk kepentingan materi dan mengkhianati bangsa sendiri. Kampanye demokrasi-HAM, seolah-olah sudah menjadi agama pula. Para komprador ini adalah fanatis demokrasi, buta karena demokrasi. Fanatisme thd demokrasi menjadikan mereka fundamentalis-demokrasi. Kiblatnya Amerika-Eropa Barat. Padahal, kiblatnya sendiri melenceng. Demokrasi seolah-olah kesimpulan akhir dan menafikan keadilan, yangg dulu menjadi materi demokrasi. Soal komprador, fundamentalisme-demokrasi, ditunda dulu. Mau ke pajak tradisional, sesuatu yg amat dibenci kapitalisme, saudara kandungnya … Continue reading Komprador, Fundamentalis-Demokrasi, dan Pasar Minggu

Delapan Sifat Kaum Sufi

Kaum Sufi memiliki:

Kemurahan hati seperti Ibrahim a.s.;
Penerimaan yang tak bersisa sedikit pun dari Ismail a.s.;
Kesabaran, sebagaimana dimiliki Ya’kub a.s.;
Kemampuan berkomunikasi dengan simbolisme, seperti halnya Zakaria a.s.;
Pemisahan dari para pendukungnya sendiri, sebagaimana halnya Yahya a.s.;
Jubah wool seperti mantel gembala Musa a.s.;
Pengembaraan, seperti perjalanan Isa a.s.;
Kerendah-hatian, seperti jiwa dari kerendahan hati Muhammad saw.

(Junaid al-Baghdadi)

Continue reading “Delapan Sifat Kaum Sufi”

Wellcome Home, Nando

Bola itu melintir ke sudut gawang. Dan dia, Fernando Torres, pria gagah berambut pirang, tersenyum lebar. Dia pungut bola itu dari gawang Leicester, mengapit erat dengan dua tangannya, dan kemudian melemparkannya ke lapangan kembali. Seakan-akan, dia sedang mengambil sebongkah jiwa yang sedang hilang selama ini, mendekapnya, merasupkannya ke seluruh tubuhnya, dan membiarkannya terbang ke tempat yang seharusnya; lapangan, bola, dan gawang.

Beberapa detik kemudian, rekan setimnya menghampiri. Mereka semua tersenyum lebar, tertawa, bersama dengan puluhan ribu penonton yang memadati Stamford Brigde. “Wellcome back, Nando,” teriak seseorang, dan seseorang lagi, dan lantas seorang lagi dan seterusnya, di tengah gemuruh kata-kata “Torres”. Continue reading “Wellcome Home, Nando”

1 Muharram 1433 H

“Kita kemana, Pa?” kata Kalam. “Gak kemana-mana,” jawab saya. Dia merengut. Saya terbahak keras. Anak ini memang lain. Badannya tak mau diam, maunya bergerak terus. Mungkin isi kepalanya juga begitu. Dan dia pasti selalu berhasil memengaruhi kami semua. Kami pun pergi; saya dan dia, mami dan adiknya, Queentitta. Naik sepeda motor butut ke tengah kota, ke sebuah lapangan tepat di tengah-tengah Kota Medan: Lapangan Merdeka. Selamat tahun baru 1 Muharram 1433 H. Continue reading 1 Muharram 1433 H

Abang dan Adiknya

Si Adik tidur dengan pulasnya di pangkuan abangnya yang juga tertidur. Mulutnya setengah menganga. Si Abang bersandar pada dinding tangga. Tangannya menyangga badan adiknya dan kepala mereka berdua berdempet. Baju mereka rombeng, kulitnya dekil. Barangkali, mereka kelelahan “bekerja” seharian. Kedua bersaudara itu pulas betul.

Mereka itu mengemis. Di depan mereka tergeletak sebuah mangkok kecil, mungkin terbuat dari plastik, dan sebuah botol air minum mineral.

Entah siapa orang tua mereka, waktu itu mereka tak di situ. Aku yakin, adiknya yang masih balita itu tak tahu mengapa mereka mengemis dan kemudian tertidur di pinggir tangga itu. Abangnya juga mungkin tak tahu banyak. Tapi yang pasti dia sudah mengerti kelau mereka bisa mendapat uang bila mengemis.

Ah, sayang betul si Abang kepada adiknya. Sayang dan cinta, walau kadang-kadang pasti ada jengkelnya juga. Balita pasti terkadang menjengkelkan, mungkin kala sedang minta buang air atau rewel kala lapar. Namun pada saat mereka sedang tertidur itu, jelas tergambar bagiku kalau mereka berdua diikat oleh kasih sayang yang tak terkatakan.

Aku belum bisa berbuat banyak. Setidaknya untuk saat ini. Tapi yakinlah, aku telah berdoa untuk kalian kepada sang mahacinta. Mudah-mudahanlah kalian mendapatkan berkah, rahmat, anugerah yang tak terhingga dari sang maha cinta, apapun itu bentuknya, apakah kita mengerti atau malah tak paham sama sekali. Yakinlah, kalian berdua akan bahagia. Aku yakin.

Salam untuk kalian.

* * * Continue reading “Abang dan Adiknya”

Senyum adalah Anugerah. Nikmatilah …

Jelang senja, senyum itu datang menghampiri. Bukan tertawa terbahak, namun sekedar senyum sedikit. Namun yang sedikit itu, justru membikin sumringah, laiknya setelah berpuasa seharian kemudian meneguk segelas teh manis. Lega bukan main. Imajinasi pun mengembara. Tapi kali ini, saya tak ingin yang liar, namun yang sederhana, tidak menghentak-hentak, tidak bombastis. Pokoknya, yang sederhana lah. Continue reading Senyum adalah Anugerah. Nikmatilah …

Bosan dengan Data

Lama-lama saya bosan dengan data. Bosan sekali, muak, mau muntah, wekkkkkk. Pertanyaannya, mau apa Anda dengan data tersebut? Bukan sebaliknya, semakin banyak data Anda, semakin valid, reliable, and argumentatif omongan Anda. Memangnya kalau Anda bicara tanpa data, Anda tak bisa bicara? Bodoh! Dari data-data yang Anda ajukan, saya sama sekali tak menemukan secuil pun pendapat Anda soal itu. Dasar bengak! Jadi kerjamu apa? Ngumpulin data? Lha apa bedanya Anda dengan mesin, dengan komputer, dengan robot? Anda robot ya? Bawa pulang datamu ini! Sampai di rumah, hancurkan data-data itu dan mulailah berpikir! Berpikir! Berpikir!     Continue reading Bosan dengan Data

Bukan Makna Kata

Pertama, bila kita masih sepakat dengan demokrasi, maka mari anggap dia sebagai sebuah ladang yang masih kosong. Kitalah yang harus mengisinya. Taatilah prosedurnya. Namun, substansi demokrasi merupakan hal lain yang harus tercipta di luar ladang itu. Dialah yang harus ditanam di ladang itu. Seribu sayang, ladang demokrasi Indonesia masihlah berisi rumput dan semak-belukar. Kedua, bahwa bukanlah kebenaran dan kebaikan itu ditunjukkan oleh luasnya samudera, oleh mayoritas ulama yang berkata mengenai kebenaran sesuatu. Saya merasa, kebenaran itu akan dirahasiakan secara diam-diam dan misterius namun nyata dalam kesunyian, dalam suasana minor, dalam sesuatu yang membuat kita buta dan merasa kebenaran tak akan … Continue reading Bukan Makna Kata

Warm Wellcome Ramadhan

Puasa Ramadhan tahun ini kita yakini belum akan menjadi bulan yang berkah bagi negara ini. Puasa, ya, puasa, korupsi tetap jalan terus. Jangan bayangkan bulan ini akan dihormati oleh para bandit koruptor itu. Justru, karakteristik para bandit adalah mampu menyiasati setiap peluang sekecil apapun untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Bukankah tender proyek Ramadhan Fair di Medan sudah pernah sampai ke meja hijau? Puasa bakal membuat kita sibuk dengan diri sendiri, bersendirian mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya, sehingga mata kita pun menjadi rabun dari praktek-praktek korupsi itu. Kalaupun kita melihat praktek itu di depan mata kita, kita hanya bisa berucap istighfar sembari berharap semoga … Continue reading Warm Wellcome Ramadhan

Bingkai Indonesia itu Pancasila?

Tetep dari komen di nbasis … selamat menikmati :

Hahaha … Saya pikir Anda ingin menyudahi diskusi ini. Tapi kemudian Anda tampaknya mesti bersusah susah mencari tahu soal saya, mulai dari panjaitan, tuan dibangarna, siagian silitonga, dan seterusnya. Informasi soal itu memang mudah didapatkan sama mbah google, termasuk yang dalihan na tolu itu. Mungkin Anda merasa sudah mengetahui soal mendalam dengan membaca itu. Tak apa-apa, itu cukup bagus untuk memperluas wawasan Anda. Lebih banyak lagi membaca, pahami dan dalami substansi dalhan na tolu itu. Tak cukup dengan diskusi semata. Bila di lingkungan Anda ada orang Batak, datangi saja, rasakan sendiri soal Dalihan na Tolu itu. Karena dengan begitu, Anda tidak sulit untuk memahami bagaimana rakyat Sumatera Utara menyelesaikan pembunuhan Azis Angkat itu secara adat tanpa pertumparan darah sama sekali. Karena itu, Anda pun mulai bisa menyadari bahwa kekeluargaan masih cukup kental walau agama berbeda-beda di suku Batak. Orang Batak sudah memahami dan menjalani itu, sebelum Soekarno bisa mengeja huruf-huruf Pancasila. Karena itu, pertanyaan Anda soal maukah kabupaten Toba Samosir, Taput dan seterusnya bergabung dengan Indonesia yang berdasar Islam? Ah, itulah sebabnya saya menyarankan Anda memperdalam soal suku bangsa Batak lagi. Continue reading “Bingkai Indonesia itu Pancasila?”