Mitos Raja Adityawarman: Kerajaan Jawa Tak Pernah Taklukkan Sumatra


 

Penulis: Nirwansyah Putra
Bahan, data dan foto: Sri Mahyuni, Nirwan

 

* * *

Sejarahwan, Prof Uli Kozok, mengungkapkan versi baru soal sejarah Indonesia. Raja Adityawarman bukanlah “wakil” dari Majapahit di tanah Sumatra. Ekspedisi Pamalayu yang dilakukan kerajaan Majapahit pun bukan dalam rangka Sumatra, melainkan mencari persekutuan dengan kerajaan di Sumatra untuk menghadapi tekanan Kaisar Mongol, Kubilai Khan.

Adityawarman (sumber: wikipedia)

 

 

Adalah Prof Uli Kozok, seorang sejarahwan yang mengajar di Universitas Hawaii Manoa, Amerika Serikat, yang mengemukakan versi baru soal sejarah hubungan antara kerajaan di tanah Jawa, terutama Majapahit –yang sering disebut-sebut cikal-bakal Indonesia – , dengan kerajaan di tanah Sumatra. Tesisnya berkisar soal hubungan raja-raja Jawa dengan raja-raja di Sumatra terutama Malayu.

Uli juga memfokuskan pembicaraan soal sosok Raja Adityawarman, yang menurutnya punya peranan dan pengaruh untuk melihat kerangka hubungan itu. Tesis Prof Uli Kozok ini diungkapkan dalam ceramah ilmiah yang bertajuk “Meruntuhkan Mitos Adityawarman: Tokoh Penting dalam Sejarah Jawa-Sumatra di Universitas Negeri Medan” yang diadakan oleh Pussis-Unimed di gedung Lembaga Penelitian Unimed, pada 9 Maret 2010 kemarin.

* * *

Dalam pembelajaran sejarah nasional seperti yang kerap masuk dalam benak siswa maupun mahasiswa di Indonesia, diketahui bahwa Adityawarman dikenal sebagai pendiri kerajaan Malayupura (Pagaruyung) yang ada di Sumatra Barat. Dia adalah anak dari Dara Jingga yang dipersunting oleh Raden Wijaya, Raja dari Majapahit, sebagaimana yang tercacat dalam kitab Pararaton.

Adityawarman dinyatakan dilahirkan dan dibesarkan di istana Kerajaan Majapahit dan merupakan saudara sepupu dari Jayanegara, raja kedua dari Majapahit. Sewaktu dewasa, Adityawarman ditugasi oleh Raja Majapahit menjadi utusan duta besar perdamaian ke Cina selama dua kali yakni pada tahun 1325 dan 1332, sebagaimana yang tercatat dalam kronik dinasti Yuan, terutama untuk mendamaikan perselisihan Majapahit dengan bangsa Mongol.

Pada masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi (adik Jayanegara) di Majapahit, sebagaimana yang dicacat pada prasati Blitar (1330) atau juga pada prasasti Manjustri tahun 1343 masehi, Adityawarman diangkat sebagai Wreddamantri atau perdana menteri.

Pada tahun 1347, Adityawarman ditugasi sebagai bawahan raja Majapahit untuk wilayah Swarnnabhumi (Sumatra) untuk menjalankan misi penaklukan Sumatra bagian Utara yakni kerajaan Silo di Simalungun. Kerajaan Silo saat itu dikuasai oleh Indrawarman, desersi tentara Singasari yang menolak kedaulatan Majapahit.

Selanjutnya pada tahun 1347, Adityawarman disebut mendirikan kerajaan Malayupura seperti yang terpahat pada arca Amoghapasa dan prasasti Kuburajo di Pagaruyung yang beraksara Sansekerta.  Dalam prasati itu, Aditywarman dikenal berasal dari keluarga Indra serta menjadi raja di Kanakamedini (Swarnadwipa) atau Sumatra. Sedangkan dalam prasasti Bukit Gombak, Ia dikenal sebagai putra dari Adwayadwaja.

* * *

Prof Uli Kozok punya versi lain soal ini. Dalam ceramahnya, Uli menunjukkan kelemahan sekaligus dilema yang dihadapi oleh sejarahwan nasional seperti Slamet Muljana dalam menafsirkan dan menuliskan sejarah Malayu (Sumatra) dan Majapahit (Jawa) khususnya tentang tokoh Adityawarman.

Prof Uli Kozok (sumber: padangkini.com)

Mula-mula, Prof Uli menyitir buku yang ditulis sejarahwan nasional Slamet Muljana, mengenai hal ini. Seperti diketahui Slamet Muljana menulis beberapa buku soal kerajaan-kerajaan di Indonesia, di antaranya Tafsir Sejarah Nagarakretagama (2006), Sriwijaya (2006), Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara (2005), Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi (1981).

Slamet menuliskan, Adityawarman benar-benar tokoh sejarah, karena namanya tercantum pada pelbagai prasasti di Pulau Jawa dan Sumatra serta  dinasti Yuan.  Kitap Pararaton 24, 27 menyatakan bahwa Adityawarman adalah putra Dara Jingga dari Tanah Malayu. Demikian pula bahwa pada tahun  1325 pada Dinasti Yuan dinyatakan bahwa utusan Jawa bernama Seng-kia-lia-yulan berpangkat menteri, datang di istana kaisar. Ironisnya, nama Seng-kia-lia-yulan diidentifikasi dengan Adityawarman. Seharusnya penamaan tersebut adalah sebutan gelar Sang Arya yang banyak digunakan dalam pengaruh Hindu-Budha.

Selanjutnya pada tahun 1332 Adityawarman diutus ke Cina dan pada tahun 1330 nama Adityawarman disebut pada prasasti Blitar atau pada prasati tidak bertarikh (OJO LXXXIV (D38) serta pada tahun 1343 Adityawarman mengeluarkan prasasti Manjusri di Candi Jago.

Slamet Muljana juga mengemukakan, pada tahun 1347 Adityawarman mengeluarkan prasasti di Dharmasraya di mana arcanya ditemukan di Sungai Langsat. Tidak lama kemudian, Adityawarman memindahkan kerajaan itu ke Pagaruyung dan terakhir pada tahun 1375, Adityawarman mengirimkan utusan ke Cina. Adityawarman meningggal dan dimakamkan di Kubur Raja, Lima Kaum Sumatra Barat.

Namun Prof Uli tidak sependapat dengan Slamet. Uli yang juga penulis buku Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah: Naskah Melayu yang Tertua (2006), mengatakan, Adityawarman adalah seorang Melayu (Sumatra) yang dilahirkan dan dibesarkan di Sumatra dan tidak ada hubungan dengan Raden Wijaya, raja Majapahit. Ibunya bukanlah Dara Jingga seperti yang ditulis dalam sejarah nasional selama ini, karena menurutnya, bila Dara Jingga adalah Ibunya, maka setidaknya Adityawarman menjadi raja pada usia 45-50 tahun. Dengan demikian, adalah kemustahilan apalagi untuk mendirikan dan memimpin sebuah kerajaan di Sumatra yang baru dibentuk.

Demikian pula bahwa Adityawarman bukan pendiri kerajaan Malayu. Tetapi kerajaan itu didirikan oleh Akarendrawarman yang namanya banyak disebut pada berbagai prasasti di Minangkabau seperti prasasti PGR 7 yang menyebutnya sebagai Maharajadhiraja. Sementara pada Prasati PGR 8 yang dikeluarkan tahun 1316 dan pada prasasti Bandar Bapahat disebutkan, Adityawarman meneruskan pembangunan raja sebelumnya yakni Akarendrawarman. Jadi, sebelum Adityawarman, telah ada dan berdiri kerajaan Malayu di Sumatra yang didirikan oleh Akarendrawarman dan Adityawarman bercita-cita meneruskan pembangunan pendahulunya itu.

Uli mengemukakan, berdasarkan sumber-sumber primer dan analisis kritis yang dilakukannya terhadap sumber-sumber tersebut, Uli menegaskan, Adityawarman kemungkinan adalah keponakan Akarendrawarman yang lahir antara  tahun 1310 dan 1320 di Sumatra dan tidak pernah diutus ke China sebagai duta besar Majapahit.

Demikian juga bahwa  Adityawarman tidak pernah mendampingi Majapahit untuk menyerang Bali atau Adityawarman ditugasi untuk menaklukkan Sumatra dalam ekspedisi Pamalayu di era Singhasari. Adityawarman sendiri tidak dimakamkan di Makam Kubu Rajo, karena tidak ditemukannya bukti bahwa Kubu Rajo sebagai makam. Kubu Rajo sendiri adalah kubu atau benteng pertahanan.

Ekspedisi Pamalayu menurut Uli adalah persekutuan dalam rangka menjalin kerjasama antara Jawa dan Sumatra. “Jadi bukan dalam rangka penaklukan sebagaimana yang disebut dalam sejarah nasional seperti selama ini,” kata Uli.

Uli menegaskan, Kertanegara -Raja Singhasari- sedang terancam oleh pasukan Kubilai Khan dari Mongol akibat menolak membayar upeti ke Tiongkok. Akibat penolakan tersebut, posisi Singhasari semakin terancam dan takut bila diserang oleh pasukan Mongol. Menurut dia, hubungan antara Jawa dan Sumatra tersebut tidak menunjukkan bawahan dan atasan di mana raja-raja di Sumatra disebut sebagai vasal dari raja Jawa sehingga memungkinkan untuk menyerang kerajaan Jawa ini. Atas dasar itu, Kertanegara yang menyadari bahwa posisisnya kian terancam, maka ia membentuk persekutuan dengan kerajaan Melayu yang dikenal dengan ekspedisi Pamalayu.

Selanjutnya, prasasti Manjusri yang sekarang berada di kompleks candi Jago meriwayatkan, Adityawarman mendirikan arca di Bhumi Jawa. Itu berarti Adityawarman bukan orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Majapahit (Jawa). “Tetapi ia lahir dan dibesarkan di Sumatra dan sewaktu muda dikirim ke Majapahit untuk persahabatan Jawa dan Sumatra,” ujar Uli.

Argumentasi Uli yang lain adalah penggunaan istilah Maharaja dan Maharajadiraja telah menegaskan bahwa tidak ada hubungan taklukan antara Jawa dan Sumatra. Maharaja adalah sebutan atau gelar untuk raja, sedang maharajadiraja adalah gelar raja diatas segala raja atau king of the king. Adityawarman sendiri telah menggunakan maharajadiraja sama seperti  Akarendrawarman. Itu menandakan kerajaan tersebut adalah berdaulat penuh yang tidak memiliki hubungan dengan Majapahit.

Catatan selanjutnya, pada tahun 1293, 1299, 1301 kerajaan Malayu mengirimkan utusan ke Tiongkok dan pada tahun 1295, Kaisar Cina menyuruh Siam untuk tidak menyerang Malayu. Ibu negeri Kerajaan Malayu sendiri menurut Uli adalah berpindah-pindah seperti dari Saruaso, Dhamasraya dan Muara Jambi.

* * *

Soal ini, Ichwan Azhari PhD, Kepala Pussis-Unimed mengemukakan, uraian Uli Kozok ini sangat penting terutama untuk meluruskan sejarah nasional Indonesia. Setidaknya, penelitian Uli ini telah mengilhami pentingnya analisis kritis terhadap sumber-sumber primer sejarah Indonesia yang kerap kali tidak didukung oleh sumber primer lainnya.

Ichwan Axhari PhD, Kepala Pussis Unimed (foto: Sri Mahyuni)

Menurut Ichwan, Prof Uli yang merupakan peneliti dan pengajar di Universitas Hawaii Manoa, Amerika Serikat, itu telah melakukan penelitian terbaru terhadap sejarah Adityawarman ini sekaligus memberikan informasi baru dari penelitian tersebut.

Dengan paparan Prof Uli ini, menurut Ichwan, sudah semakin terang tentang sosok Adityawarman yang ternyata lahir dan dibesarkan di Malayu (Sumatra), tidak pernah diutus ke China, tidak menyertai Majapahit dalam penyerangan Bali. “Adityawarman juga bukan pendiri kerajaan Malayu serta yang paling penting adalah bahwa ekspedisi Pamalayu bukan dalam rangka penaklukan Sumatra tetapi justru untuk mencari persahabatan (persekutuan) antara raja-raja Jawa (Singhasari) dan Raja Sumatra. Hal ini justru kebalikan dari yang selama ini diketahui dalam sejarah Nasional kita,” terang Ichwan.

Di sisi lain, Ichwan juga menyayangkan mengapa justru yang melakukan koreksi terhadap sejarah Indonesia paling banyak dilakukan oleh orang luar Indonesia. “Kemana sejarahwan Indonesia?” tanyanya.

Menurut Prof Uli, penulisan sejarah Indonesia selama ini sering memunculkan interpretasi terhadap sumber-sumber primer yang tidak didukung oleh sumber primer lainnya. Akibatnya, narasi sejarah yang timbul adalah penciptaan atas realita sejarah yang mengorbankan kebenaran sejarah. Hal tersebut menjadi faktor munculnya sejarah nasional Indonesia yang kontroversial. Keadaan tersebut tidak saja terjadi pada sejarah modern Indonesia tetapi juga pada sejarah awal Indonesia.

Dalam era desentralisasi saat ini, menurut pengajar di Universitas Hawaii itu, sebaiknya adalah dengan melakukan pendekatan historiografi yang berlandaskan bottom up yakni penulisan sejarah di tingkat lokal dan kemudian dari tingkat lokal tersebut dirumuskan sejarah nasional. Hal ini memang berbeda dengan kondisi selama ini, di mana sejarah nasional cenderung disusun ditingkat nasional yang meniadakan peran daerah.

Menurut Ichwan, dalam upaya penulisan sejarah nasional di Indonesia, para sejarahwan menghadapi dilema bahwa sumber-sumber sejarah tentang Majapahit yang telah diangkat pemerintah sebagai cikal bakal Indonesia, terbatas pada sejumlah prasasti dan dua naskah yaitu Negarakretagama dan Pararaton.

Alumni Universitas Hamburg, Jerman ini juga mengemukakan, informasi yang terkandung dalam sumber-sumber itu kerap kali kontradiktif dan ditulis pada waktu yang berbeda dan ditulis untuk tujuan berbeda pula.  Ironisnya lagi, menurut Ichwan, sejarahwan nasional Indonesia berupaya untuk memadukan sumber yang ada sehingga tercipta sebuah sejarah yang konsisten dan berwawasan nasional sementara interpretasi yang kritis dikorbankan demi “kepastian” sejarah yang dihasilkan.

Sementara itu, Erond Damanik, peneliti Pussis-Unimed, mengemukakan, kehadiran Uli Kozok di Unimed adalah untuk yang keempat kalinya. Pertama, dia sebagai pembicara dalam seminar mengenai Stempel dan Surat Sisingamangaraja. Kehadiran kedua Uli membicarakan tentang Aksara Batak. Selanjutnya, Uli juga berceramah dalam topik tentang Utusan Damai di Kemelut Perang, yakni hubungan Nomensen dengan Belanda di tanah Batak. “Yang terakhir ini adalah tentang Adityawarman,” ujar Erond.

Menurut Erond, pada kehadiran yang keempat ini, Uli dengan berani mengemukakan kecenderungan interpretasi sejarah nasional berdasarkan sumber-sumber historiografi yang kurang didukung oleh sumber-sumber primer itu sendiri. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini sangat  perlu dan penting terutama untuk memahami historiografi Indonesia sekaligus pentingya mengedepankan telaah sejarah kritis. “Atas dasar itu, sejarah Indonesia yang kerap berselimut misteri itu dapat dibuka satu per satu,” harap Erond.  (*)

50 thoughts on “Mitos Raja Adityawarman: Kerajaan Jawa Tak Pernah Taklukkan Sumatra

  1. “Kemana sejarahwan Indonesia?” pertanyaan Pak Ichwan yang retoris😉
    .. “Jawa dan Sumatera buka bawahan dan atasan” sebuah penemuan sejarah yang luar biasa .. btw Bang makalahnya Prof Uli bisa di donlot ngak he he he he

    😀 blm bisa. Masih dibawa kawan. Gak janji ya … hehehe

    Like

  2. Sejarah kayaknya tergantung siapa yang menulis dan siapa yang berkuasa, hehehe…makanya banyak yang diputar balik dan dibalik putar..

    😀 dari segi ilmiah, siapa yang paling unggul argumentasinya, itu yang diikuti. bukan begitu?

    Like

  3. Sejarah memang kadang2 juga bisa tergantung pada penguasa, suatu contoh G30S PKI itu juga tergantung siapa yang berkuasa saat itu, siapa yang harus jadi pahlawan, siapa yg harus jadi penjahat, coba kita tengok lagi bagaimana pendapat menurut korban pemusnahan orang2 PKI saat itu ?siapa yang benar siapa yang salah kalau kita mau jujur belum tentu PKI salah, tapi menurut cerita dalam sejarah PKI adalah penjahat politik dan kumpulan orang2 ateis, ya pokoknya tergantung penulisnya, dan penulis dikuasai oleh siapa ?ada lagi yg bilang SUPERSEMAR itu palsu sementara yg asli raib ?
    aah … sudahlah bikin pusing aja !

    hahaha … pusing ya

    Like

  4. perlu kajian yg lebih mendalam tentang siapa ADITYAWARMAN sesungguhnya,saya lebih setuju lgi penelitian ini dilakukan oleh pihak internasional.
    SEJARAH SUDAH DIMANIPULASI DAN DI ADUK ADUK BAK ADONAN KUE OLEH PENGUASA

    terlepas dari siapapun yang meneliti, selayaknya kejujuran dan objektivitas yang dikedepankan.🙂

    Like

  5. saya sebagai orang minang merasa sangat terhina karena disebutkan bahwa adityawarman merupakan raja minang kabau apa lagi kalau di bilang sebagai pendiri kerajaan Pagaruyung..kalau dia pernah berkuasa di minang kabau mungkin..karena tidak selalu keturunan raja selalu memiliki kekuatan atau memiliki masa keemasan..jadi sangatlah bodoh apa bila seorangan sejarawan berpendapat adityawarman merupakan raja minang kabau…..!

    sejarahwan itu punya alasan sendiri.😀

    Like

  6. sejarah minang kabau raib karna,peran padri.
    perang antara kaum adat dg pemuka agama.
    tuanku imam bonjol berasil memenangi perang ini.
    kalau adityawarman masih keturunan majapahit.
    orang minang dulu nya takut dg orang dharmasraya.
    adityawarman di nikahkan dg putri kerajaan pagaruyung.
    baru adityawarman memegang kendali pagaruyung.

    Like

  7. Jika kita berbicara masalah sejarah tidaklah ada yang paling benar. Karena tidak ada satu pun diantara kita yang menjadi salah satu pelaku atau saksi mata. He he he …… Sebaiknya kita mengacu kepada bukti-bukti peninggalannya saja.

    nah, kalau bukti sudah dipaparkan, lalu bagaimana? hehehehe

    Like

  8. orang barat juga punya kepentingan akan sejarah kita…, belum tentu penelitian orang barat benar…, siapa tahu dia punya kepentingan di balik itu…
    seperti utusan belanda yang nyamar dan menyelinap ke aceh…, utk bisa mengakhiri perlawanan rakyat aceh

    tentu saja … semua pasti punya kepentingan. Kalau begitu kita tinggal memilih bukan?😀

    Like

  9. Sejarah kolonialisme (lama, baru) telah memberi pelajaran pd kita, bahwa orang2 barat dan orang2 pribumi yg jadi anteknya, punya segala macam cara utk menciptakan disintegrasi dan ketemtraman Nusantara.Ada banyak kejanggalan ttg pendapat Prof Uli, pertama apa salahnya dg usia 45-50 mjd raja?Paparan asal Adityawarman oleh Uli bahkan terkesan dipaksakan. Pemimpin di bumi nusantara memiliki gelar bahkan nama tdk hanya satu, utk itu jika ada yg tdk sama bukan berarti orang yg berbeda, konteks dibutuhkan selain fakta langsung.Kita perlu lakukan riset, siapa Prof Uli dn dari latar belakang bagaimana.Ada yg tdk suka dg mulai bersatunya Nusantara.Hati2.

    objektif dan kritis saja ..😀

    Like

  10. Adityawarman merupakan Sang Utama Sri Tribuana yg disebut di dalam Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin) yg mana seorang dari kerabatnya Sang Nila Utama Parameswara telah berhijrah ke Bentan dan membuka Singapura Temasik , dan keturunan itulah yg seterusnya membuka Kesultanan Melayu Melaka..

    versi baru😀

    Like

  11. Selanjutnya, prasasti Manjusri yang sekarang berada di kompleks candi Jago meriwayatkan, Adityawarman mendirikan arca di Bhumi Jawa. Itu berarti Adityawarman bukan orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Majapahit (Jawa). “Tetapi ia lahir dan dibesarkan di Sumatra dan sewaktu muda dikirim ke Majapahit untuk persahabatan Jawa dan Sumatra,” ujar Uli.

    Tanggapan: Kok bisa ya Adityawarman sedemikian rupa membangun candi arca di Jawa? Pembangun candi biasanya ada hubungan khusus dengan tempat dan orang yg dikenang dalam candinya. Menurut sy hubungan antara Adityawarman dan Jawa sangat mendalam.

    pertanyaan akan memulai penelitian bukan?😀

    Like

  12. Jika argumen Prof. Uli Kozok lebih ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan, maka sejarah yang telah ada selama ini bisa dimentahkan/ dibatalkan. Ditunggu kelanjutannya hingga semuanya menjadi jelas dan sejarah Indonesia tidak berada dalam perdebatan yang berkepanjangan.

    kebenaran sejarah tergantung sejarahwan, katanya.😀

    Like

  13. pulau jawa cuma kecil jika dibanding pulau sumatra pulau emas,jadi penduduk masyarakat jawa tidak perlu menunjuk nunjuk sebahagian besar pendududk jawa berasal dari pulau emas sumatra sehingga. presiden sukarno bahagian dari raja minang kabau lahirnya di pulau jawa ,semasa rombingan raja minang kabau ,mendarat di puncak gunung kerinci masa itu pulau jawa masih tenggelam yang kelihatan cuma puncak gunung serang,semasa rombongan raja minang kabau melalui pulau jawa tujuan pulau emas atau pulau perca atau pulau sumatra

    Like

  14. sifat asal melayu ialah sifat islam ,yaitu tidak berpuak puak ,sekiranya kita sudah menjadi ber puak puak ,pengertianya kita semakin jauh dari orang melayu ,tuhan sudah menjadikan menghantar para nabi dan rasul juga dihantar sekali raja pemimpin manusia dari belahan dari nabi dan rasuluntuk di ikuti ,baik dari para nabi dan rasul atau raja yang di ikuti semuanya karena allah serta untuk mendapat keredaan allah jua .

    Like

  15. yang ikut sekali bersama raja manusia ,raja harimau ,raja gajah, raja buaya ,raja kambing,dan raja kucing,serta raja ular,raja anjing dari rupa bentuk manusia yang sifatnya sama dengan hewan tersebut,turun dari kapal dipuncak gunung kerinci di pulau perca/pulau emas/pulau sumatra ,raja minang kabau ini,yang jadi raja di asia timur sebagai orang islam dari keluarga junjungan besar nabi muhammad s a w ,imam para nabi penghulu para rasul seluruh alam

    Like

  16. sepatutnya bank membuka peluang perniagaan yang asli ,serta latih dan disiplinkan pekerja bank dengan cara cara yang betul menjalankan per niagaan ,secara reality ,bukanya menjadi tukang riba ,macam tak sayang diri sendiri apatah lagi orang lain

    Like

  17. PADA AWAL PERADABAN UMAT MANUSIA AGAMA MENG ESA KAN TUHAN DIPANGGIL AGAMA TAUHID BERMULA DI DALAM SURGA LAGI DI MANA NABI ADAM ALLAH TAALA NIKAHKAN DENGAN SITI HAWA DI DALAM SURGA DENGAN MAS KAHWIN NYA BERSALAWAT KE ATAS JUNJUNGAN BESAR NABI MUHAMMAD S A W ,SEBAGAI BUKTI SEBELUM SESUATU ALLAH TAALA CIPTAKAN ,MAKA ALLAH MENCIPTAKAN NUR MUHAMMAD S A W ,TERLEBIH DAHULU ,SETERUSNYA ALLAH SUBHANAHUATAALA ,MENCIPTAKAN SEKALIAN RUH ,SURGA DAN NERAKA ,PARA MALAIKAT ,SERTA 4 UNSUR ANGIN,AIR,API,TANAH,ARASY,LANGIT DAN ,BUMI,DARI NUR MUHAMMAD S A W,MAKA AGAMA TAUHID INI DI PIMPIN TIGA NABI DAN RASUL 3 KITAB UTAMA MASA ITU ,SERTA PARA NABI YANG LAINYA,KITAB ZABUR, DI TURUNKAN KEPADA NABI DAUD ALAISSALAM,KITAB TAURAT, DITURUN KAN KEPADA ,NABI MUSA ALAISSALAM,KITAB INJIL, DITURUNKAN ALLAH TAALA KEPADA NABI ISA ALAIHISSALAM,SETERUSNYA KITAB TERAKHIR DI TURUNKAN KEPADA NABI MUHAMMAD S A W,SEBAGAI NABI TERAKHIR YANG MEMBAWA MUKJZAT KITAB SUCI AL QUR AN,DENGAN MEMBAWA AGAMA SUCI AGAMA ISLAM ,SELEPAS KITAB SUCI AL QUR AN DI TURUNKAN MAKA KITAB KITAB YANG SEBELUMNYA DAN AGAMA AGAMA YANG SEBELUMNYA DI BATALKAN SERATA TIDAK DI AKUI LAGI,SEBABNYA ALLAH SUBHANAHUA TAALA TELAH MENYEMPURNAKAN KEBAIKAN ,DAN AJARANNYA KEPADA AGAMA ISLAM,SERTA ALLAH SUBHANAHUATAALA TELAH MEREDHAI AGAMA ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG SAH DI TERIMA DI SISI ALLAH SUBHANAHUA TAALA,

    Like

  18. PADA AWAL KEDATANGAN AGAMA ISLAM SELEPAS NABI MUHAMMAD S A W ,GOLONGAN MANA YANG SUKA MEMERANGI SERTA MEMBUNUH KELUARGA NABI ,APA ALASAN NYA TAK LAIN DAN TAK BUKAN HANYA SEMATA MATA IKUT NAFSU SERTA TIDAK REDHA DENGAN KETENTUAN ALLAH TAALA YANG MENGANGKAT SERTA MENJADIKAN KELUARGA NABI JADI PEMIMPIN DARI KALANGAN MASYARAKAT YANG IKHLAS KARENA ALLAH UNTUK MENDAPAT KEREDAAN ALLAH JUA ATAS TUJUAN INI LAH PARA NABI DAN RASUL SERTA RAJA DARI BELAHAN NABI ,ALLAH TAALA HANTAR UNTUK MEMBIMBING DAN UNTUK MEMIMPIN UMAT MANUSIA ,SEKARANG INI ADA ULAMA PEWARIS NABI YANG BERJUANG DAN BERJIHAD KARENA ALLAH DAN HANYA MENGHARAPKAN KEREDAAN ALLAH JUA SERTA TIDAK MEMINTAK UPAH DI ATAS KERJA DAKWAH YANG DI LAKUKANYA

    Like

  19. ALLAH TAALA MEMBERI RAHMAT SEPANJANG MASA DALAM MAKLUMAT ILHAM DAN MAKRIFAT BAGI SIAPA YANG DIKEHENDAKINYA ,INILAH CIRI CIRI ALIM ULAMA PEWARIS NABI,SIAPA RAPAT DAN KENAL ALIM ULAMA INI MEREKAPUN DAPAT BAHAGIAN ,YA BAHAGIAN YANG SAYA DAPAT BERJUMPA DAN BERSALAM DENGAN DATUK HANG TUAH INI BUKAN MIMPI DALAM KE ADAAN JAGA,SAYAPUN ADA DI BAWA MELAWAT ISTANA MINANG KABAU DI PLNET PLUTO ,INI SEMUANYA MERUPAKAN RAHASIA ALLAH ,YANG SAYA BOLEH HANYA MEMBERITAU SERBA SEDIKIT IKUT REZEKI ANUGERAH ALLAH

    Like

  20. puti dari sarugo
    Adopun warih nan bajawek pusako nan batarimo umanaik nan bapakai dari rang tuo dahulunyo, nan sabarih bapantang hilang satapak bapantang lupo, kok hilang nan sabarih ka guru cubo tanyokan kok lupo nan satapak cari tunggue panabangan nyo. Adopun warih nan Bajawek, pituah dek guru mangaji sajak dari Alif, pituah dek mamak babilang sajak dari aso, nan aso Allah duo bumi tigo hari nan satu ampek aie sumbayang limo pintu razaki anam budak dikanduang bundonyo tujuah pangkek manusia salapan pangkek sarugo sambilan pangkek Muhammaik kasapuluah Muhammaik jadi, sinan bakato tuhan kito Kun katonyo Allah Fayakun kato Muhammaik Nabikun kato Jibraie yaa Ibrahim kato bumi jo langik Kibrakum kato Adam, jadi sagalo pekerjaan, apo bana nan tajadi, sajak dari Luah dengan Qalam sampai ka Arasy jo Kurisyi bago sarugo jo narako inggo nak bulan jo matohari walau ndak langik dengan bumi samuik sameto sakalipun takanduang dalam wahdaniah tuhan, adolah limo parakaro, maanyo nan limo parkaro,1 tanah baki,2 tanah baku,3 tanah hitam 4 tanah merah jo tanah putiah,5 tanah ditampo dek Jibraie dibaok mangirok kahadiraik tuhan ta-anta ka-ateh meja, disinan bijo mangko kababatang sinannyo kapeh kamanjadi banang disitu langik kamarenjeang naiak disitu bumi kamahantam turun disinan ketek mangko kabanamo disinan gadang mangko kabagala disinan Adam nan batamponyo iyo kapanunggu isi duya.

    Dek lamo bakalamoan dek asa ba-asa juo dek bukik tumbuakan kabuik dek lauik ampang muaro abih taun baganti taun mangko malahiekanlah ibu manusia Siti Hawa sabanyak 39 urang, mako dikawinkan dari surang ka nan surang nan bunsu indak bajodoh mangko banazalah nabi Adam katiko itu Ya Allah ya rabbil alamin perkenankanlah aku dengan anak cucu aku kasadonyo, kandak sadang kabuliah pintak sadang kabalaku mukasuik sadang lai disampaikan tuhan, bafirman tuhan ka Jibraie, hai malaikaik jibraie mangirok engkau kasarugo nan salapan, kaba-kan ka anak puti bidodari nan banamo Puti Dewanghari anak Puti Andarasan bahaso inyo kadiambiak dek Sutan Rajo Alam diateh duya, mako mangiriok lah Jibraie ka-sarugo nan salapan mangaba-kan ka Puti Dewanghari bahaso inyo ka dipasangkan jo Sutan Rajo Alam diateh duya, mako mamandanglah Puti Dewanghari ka-ateh duya nampaklah anak Adam diateh alam Sigumawang antaro huwa dengan hiya dikanduang Abun jo Makbun wallahualam gadangnyo hati, mako dikumpuekanlah alat peragaik kasadonyo, iyolah payuang panji kuniang payuang bahapik timba baliak langkok sarato jo marawa kuniang cando kajajakan bertatah intan dangan podi buatan urang disarugo, mako ba-tamu lah mereka dipuncak bukit Qaf lalu dinikahkan dek kali Rambun Azali dipangka Titian Tujuah dibawah Mejan nan kiramaik, mako dibaka kumayan putiah asok manjulang ka-udaro takajuik sakalian malaikaik tacengang sagalo Bidodari manyemba kilek ateh langik bagaga patuih diateh duya tarang bandarang cahayonyo lapeh ka-langik nan katujuah tahantak kahadirat tuhan sabagai sasi pernikahan

    Like

  21. jyah… Prof gila asal Amerika itu ingin mengecilan Nusantara dengan membuat tata kota dan perfekur analogis. Maaf, saya harus sedikit kasar untuk ini. Diantara lima negara yang mampu menghajar bangsa Mongol, Wilwatikta adalah yang paling taktis dan jenius. Ck! Dan Waktu itu Amerika belum ditemukan. Argumentasi lontong ini dimulai dari caranya merancukan dua kata antara ‘duta’ dan ‘sandra’. Dara Petak dan Dara Jingga itu tawanan dari Sriwijaya! Bukan duta dodol. Di sistem kerajaan monarki ada yang namanya abdikasi dan pasifikasi. Dan tong Lontong Uli, kalau yang dimaksud sumber Primer itu negara sekutu atau Amerika… Cuk matttane! Keluar dulu dari Freeport!

    Like

  22. kenapa dia yang seprofesor itu tidak mau mengkomparasikan kesejarahan Sukarno yang, seperti relasi dinasti Qin dan Cina, menyebut Nusantara sebagai Indonesia. Karena pasti malu menyebut nenek moyang Amerika adalah kriminal Eropa, pelacur dan bandit rakus. Sementara Majapahit sebelum dan sesudah jayanya tetap lahir dari dan sebagai orang-orang terhormat meski bukan Yahudi! Dan sejarah bukan makanan Mc Donal yang harus berasa itu thok. Ada tempe, tahu, gado-gado, kangkung. Apanya yang ilmiah kalau peneliti negarakertagama lokal didiskriminasi. Amerika ,,/,, pembohong! Rakus dan bahkan ingin menghapus sejarah Indonesia dengan alasan ‘metodologi’.

    Setiap cerita punya versinya sendiri-sendiri. Sejarah juga.😀

    Like

  23. siapa ada mendengar kisah tukang angkat sampah / tukang sapu pingsan bila mencium minyak wangi,bila kawan tukang sapu ini bertanya sebab kawan dia pingsan orang yang tau cakap selepas dia mencium minyak wangi dia pingsan ,kawan tukang sapu ini segera mengambil lumpur dari penyapunya dibancuh air serta disapukan pada hidung kawanya yang pingsan ini kawan tukang sapu ini segera sedar dari pingsanya,begitu juga halnya politik sampah dan politik minyak wangi,dua mzhab politikni tetap akan bertelagah sampai bila bila ,jadi orang yang mengong tetap akan jadi mangsa ,jadi siapa yang akan di pertanggung jawabkan di atas perkara ini ,sendiri sendiri lah jawabnya ,jadi yang mana satu politik sampah dan politik minyak wangi fikir fikir kanlah

    Like

  24. Minangkabau atau yang biasa disingkat Minang adalah kelompok etnik Nusantara yang berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau. Wilayah penganut kebudayaannya meliputi Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, bagian selatan Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan juga Negeri Sembilan di Malaysia.[2] Dalam percakapan awam, orang Minang seringkali disamakan sebagai orang Padang, merujuk kepada nama ibukota provinsi Sumatera Barat yaitu kota Padang. Namun, masyarakat ini biasanya akan menyebut kelompoknya dengan sebutan urang awak (bermaksud sama dengan orang Minang itu sendiri).[3]
    Menurut A.A. Navis, Minangkabau lebih kepada kultur etnis dari suatu rumpun Melayu yang tumbuh dan besar karena sistem monarki,[4] serta menganut sistem adat yang khas, yang dicirikan dengan sistem kekeluargaan melalui jalur perempuan atau matrilineal,[5] walaupun budayanya juga sangat kuat diwarnai ajaran agama Islam, sedangkan Thomas Stamford Raffles, setelah melakukan ekspedisi ke pedalaman Minangkabau tempat kedudukan Kerajaan Pagaruyung, menyatakan bahwa Minangkabau adalah sumber kekuatan dan asal bangsa Melayu, yang kemudian penduduknya tersebar luas di Kepulauan Timur.[6]
    Saat ini masyarakat Minang merupakan masyarakat penganut matrilineal terbesar di dunia.[7][8] Selain itu, etnik ini juga telah menerapkan sistem proto-demokrasi sejak masa pra-Hindu dengan adanya kerapatan adat untuk menentukan hal-hal penting dan permasalahan hukum. Prinsip adat Minangkabau tertuang singkat dalam pernyataan Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah (Adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Al-Qur’an) yang berarti adat berlandaskan ajaran Islam.[9]
    /w/index.php?title=Berkas:Sumatra_Ethnic_Groups_Map_en.svg&filetimestamp=20101011094928 /w/index.php?title=Berkas:Sumatra_Ethnic_Groups_Map_en.svg&filetimestamp=20101011094928Peta yang menunjukan wilayah persebaran kelompok etnik Minangkabau di pulau Sumatera.
    Nama Minangkabau berasal dari dua kata, minang dan kabau. Nama itu dikaitkan dengan suatu legenda khas Minang yang dikenal di dalam tambo. Dari tambo tersebut, konon pada suatu masa ada satu kerajaan asing (biasa ditafsirkan sebagai Majapahit) yang datang dari laut akan melakukan penaklukan. Untuk mencegah pertempuran, masyarakat setempat mengusulkan untuk mengadu kerbau. Pasukan asing tersebut menyetujui dan menyediakan seekor kerbau yang besar dan agresif, sedangkan masyarakat setempat menyediakan seekor anak kerbau yang lapar. Dalam pertempuran, anak kerbau yang lapar itu menyangka kerbau besar tersebut adalah induknya. Maka anak kerbau itu langsung berlari mencari susu dan menanduk hingga mencabik-cabik perut kerbau besar tersebut. Kemenangan itu menginspirasikan masyarakat setempat memakai nama Minangkabau,[12] yang berasal dari ucapan “Manang kabau” (artinya menang kerbau). Kisah tambo ini juga dijumpai dalam Hikayat Raja-raja Pasai dan juga menyebutkan bahwa kemenangan itu menjadikan negeri yang sebelumnya bernama Periaman (Pariaman) menggunakan nama tersebut.[13] Selanjutnya penggunaan nama Minangkabau juga digunakan untuk menyebut sebuah nagari, yaitu Nagari Minangkabau, yang terletak di kecamatan Sungayang, kabupaten Tanah Datar, provinsi Sumatera Barat.
    Dari tambo yang diterima secara turun temurun, menceritakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari keturunan Iskandar Zulkarnain. Walau tambo tersebut tidak tersusun secara sistematis dan lebih kepada legenda berbanding fakta serta cendrung kepada sebuah karya sastra yang sudah menjadi milik masyarakat banyak.[4] Namun demikian kisah tambo ini sedikit banyaknya dapat dibandingkan dengan Sulalatus Salatin yang juga menceritakan bagaimana masyarakat Minangkabau mengutus wakilnya untuk meminta Sang Sapurba salah seorang keturunan Iskandar Zulkarnain tersebut untuk menjadi raja mereka.[18]
    Kerajaan Kandis, Kerajaan Tertua di Sumatera
    Salido, Nagari Lumbung Emas dan Mitos Naga Sakti Gunung Kerinci
    Ringkasan Tambo Alam Minangkabau Versi Datoek Toeah
    Tambo Alam Minangkabau : Penghapusan Sejarah dan Kekacauan Logika
    Pagaruyung dan Teori Fusi Tiga Kerajaan (Marapi, Dharmasraya, Sriwijaya)
    • Kerajaan Pertama di Gunung Marapi
    Asal Usul Danau Maninjau, Legenda Bujang Sambilan
    Asal Usul Sawahlunto
    Nagari Pariangan dan Tujuh Suku Pertama
    Pemerintahan Raja Raja di Kesultanan Inderapura
    Benarkah Pagaruyung adalah Pewaris Langsung dari Kerajaan Malayapura
    Sekilas Tragedi Sejarah Bangsa Champa
    Kaitan Dengan Minangkabau
    • Tokoh Harimau Campa dalam Tambo Alam Minangkabau
    • Tempat asal leluhur Suku Jambak
    • Kerajaan Inderapura yang bernama sama dengan Kota Inderapura di Champa
    • Sistem Matrilineal yang diamalkan.
    Dari Awal Sampai Puncak Kejayaan
    Kerajaan Koying, antara Kerinci dan Jalur Perdagangan Selat Sunda
    Pagaruyung dan Teori Fusi Tiga Kerajaan (Marapi, Dharmasraya, Sriwijaya)
    Tambo Sutan Nan Salapan

    Like

  25. Pada tahun 1050 H (1680 M) Kerajaan Pagaruyung telah mengeluarkan satu keputusan berupa Sunnah 1050 yang berisikan penempatan Raja-Raja di Rantau ( Darat dan Laut ) di mana ada terdapat masyarakat yang berasal dari ketiga Luhak di Minangkabau.

    Naskah ini disebut juga Tambo Nan Salapan dengan isi sebagai berikut:

    1) Adapun nan tingga di tanah Aceh ialah nan banamo Sultan Syariat berpangkat Rahim. Anak cucu Daulat yang dipertuan dalam Nagari Pagaruyung, asal mulonyo rajo-rajo di negeri Aceh, malimpah ka Patahan Batu, lalu ka tanah labuah kaliliang, lalu ke Deli. Adapun Deli taklukka Aceh. Itulah kebesaran Rajo Aceh nan turun tamurun, lalu sakarang kini, nan tiada marubah rubah, waris nan manjawek dek Rajo Aceh, nan di tarimo dari Niniak kito. Wallahualam.

    2) Adapun nan tingga di dalam nagari Banten, malimpah lalu ka Batawi, Sultan Nan Banamo: Marhabat Maruhum Alam, anak cucu yang dipertuan di dalam nagari Pagaruyung, tatkala asa mulonyo Raja di tanah Jawa, lalu ke Johor ka Manggali, kaliliang Banten Batawi, semuanya tanah Banten ialah kebesaran Raja Banten, beroleh khalifah dari yang dipertuan nan sati, memberi ijin mutlak serato sumpah sati, kalalamullah di dalam Koto Pagaruyung, Darussalam

    baginda sinang / raja kapiceh | January 16, 2012 at 7:45 am | Reply

    3) Adapun nan tinggal turun temurun di dalam nagari Jambi Sultan Bagindo Tuan Rabbi, anak cucu Daulat yang di pertuan dalam nagari Pagaruyung, tatkala asa yang dipertuan dalam nagari Pagaruyung, tatkala asa mulonyo jadi rajo dalam nagari Jambi, lalu melimpah ka Batang Hari sampai ka hulu Batang Sangie, tatkala asa mulonyo jadi Rajo di dalam nagari Jambi 12 Koto Sungai Babi, tatkala masa dahulunyo, itulah kabasaran dan mukjizat, Sultan Bagindo Rabbi, nan dijawek turun tamurun, beroleh derajat nan tinggi di bari Allah Subhanahuwataala, amin ya rabbal alamin.

    4) Adapun yang turun tamurun ka Palembang katurunan di tanah Jawa asal mulonyo jadi Raja ialah, nan banamo Sultan Bagindo Ibnu Rahim, anak cucu Daulat yang dipertuan di dalam nagari Pagaruyung, Tinggal di dalam Nagari Palembang, malimpah lalu ka Musi, sampai turun ka Bugis Makasar, di dalam laut kaliliang tanah Bugis, ialah darajat dan mukjizat Sultan Bagindo Ibnu Rahim, Khalifatullah Muhammad Rasulullah. Amin

    5) Adapun nan turun tamurun ka nagari Pariaman tatkala, akan badiri, belum banamo Tiku Pariaman, hanyo banamo Sungai Salak, nan tingga didalam nagari Pariaman, ialah nan banamo Sultan Maharajo Dewa, anak cucu Daulat yang dipertuan Nan Sati di dalam Koto Pagaruyung, tatkala asa mulonyo manjadi Rajo di Pariaman, malimpah lalu ka Natal sakuliliangnyo, kurnia Allah subhanahuwataala, baroleh Khalifah dari pado bapaknyo, karena mukjizat Tuanku Nan Sati, dalam Nagari Pagaruyung, Nan Khalifah datang dari dalam syurga jannatun naim. Rahman Muhammad Rasulullah.

    6) Adapun nan turun tamurun dalam nagari Indrapura, tatkala asa mulonyo jadi Raja Indrapura, nan banamo Sultan Muhammad Syah, anak cucu daulat nan dipertuan nan Sati, didalam nagari Pagaruyung, itulah yang mulo-mulo jadi Rajo di Indrapura, balahan tingga di dalam nagari Muko-Muko, Partamuan Rajo Rajo dahulunyo, balun banamo Muko Muko, sakalian hamba rakyat mangko turun ka tanah Padang, hinggo Lawik Nan Sadidiah, lalu ka pulau kaliliangnyo, kapado Rajo Indrapura Kaliling itu, itulah kabasaran Sultan Muhammad Syah Indrapura, nan oleh Khalifah di bari Allah, katurunan Daulat nan dipertuan Sati, Khalillullah di Pagaruyung.

    7) Adapun nan turun tamurun ka dalam nagari Sungai Pagu, iolah nan banamo Sultan Besar, Barambuik Putieh, Bajangguik Merah, anak cucu daulat dipertuan nan Sati, dalam koto Pagaruyung, asa mulonyo jadi Rajo dalam Alam Sungai Pagu, malimpah lalu kabandar Nan Sapuluah, di situlah Rajo nan Barampek, keliliang Alam Sungai Pagu. Semuanya itu beroleh Khalifah, dari pado Tuhan yang banamo Rahman, tatkala manjunjung mangkuto alam nan mamilih Tanah Nan Sakapa di dalam alam nangko, berwasiat Sungai Pagu yang terjadi di dalamnyo.

    Adapun nan turun tamurun ka nagari Indragiri, Sultan Kadhi Indra Sakti, anak cucu daulat nan dipertuan di dalam nagari Pagaruyung, asa mulonyo manjadi Rajo di nagari Indragiri lalu ka Kuantan sampai ka Riau, kaliling Indragiri Riau, adapun Riau takluk pado Indragiri, Riau baroleh Khalifah dari Indragiri, katurunan daulat nan Sati dari nagari Pagaruyung, itulah daulat na baroleh mukjizat, nan di bari Allah swt Alaihissalam, katurunan Adam di dalam syurga jannatun nain, amin ya rabbalalamin Tuhan Yang Maha Esa.

    Bamulo Sultan Nan Salapan Rajo ialah nan banamo Sultan Rajo Siak anak cucu nan dipertuan dalam nagari Pagaruyung jua adonyo, ialah nan Kerajaannya di nagari Siak Malimpah lalu ka Kualo Kampar.

    Tambo ini ganti baganti, salin basalin, turun tamurun kapado urang tuo kito, datang datang sakarang kini, barubahpun tiak barang sadikit syak dan mungkir akan tambo ini, dimakan kutuk daulat yang dipertuan, dimakan biso kawi dinagari, karena itulah Read the rest of this entry »

    baginda sinang / raja kapiceh | January 16, 2012 at 8:04 am | Reply

    Harimau Campa Dalam Tambo

    Harimau Campa adalah nama seorang tokoh yang disebut-sebut di dalam Tambo Alam Minangkabau. Bersama-sama Kucing Siam, Kambing Hutan dan Anjing Mualim, mereka berempat adalah para pengiring Ninik Sri Maharaja Diraja dan rombongan. Mereka semua adalah para pendekar yang di kemudian hari menjadi orang-orang pertama pendiri cikal bakal Silek Minang. Mereka juga dipercaya sebagai leluhur orang-orang di Luhak Nan Tigo.

    Like

  26. wilayah nusantara/antara nusa/antara bangsa,wilayah ketuanan raja sedaulat dunia, minang kabau asal usul rumpun melayu nan indak dapek diragukan lagi .sumber rujukan alam takambang jadi guru dan filosuf lomuik hanyuik .Filosofi Lumuik Hanyuik dan Sejarah Bangsa dan pengembaraan masyarakat Minangkabau
    October 24, 2009 in Hasil Budaya, Hipotesa, Interpretasi, Tarikh
    Lumuik Hanyuik adalah salah satu motif ukiran Minangkabau yang diturunkan dari motif Gandara Scrolls, sebuah warisan budaya yang telah ikut mencatat perjalanan sejarah masyarakat Minangkabau. Dalam khazanah kebudayaan Minangkabau, sebuah motif ukiran bukan hanya sebuah hasil budaya berkesenian yang tanpa makna. Ada sebuah filosofi di balik hasil karya itu, ada latar belakang sejarah yang disimpan didalamnya.
    Motif ukiran Lumuik Hanyuik
    Syair berikut ini menggambarkan latar filosofi dari motif Lumuik Hanyuik :

    Aka lapuak gagangnyo lapuak
    Hiduik nan indak mamiliah tampek
    Asa lai lambah, inyo lah tumbuah
    Dalam aia bagagang juo

    Aia hilia lumuik pun hilia
    Walau tasalek di ruang batu
    Baguba babondong-bondong
    Aia bapasang lumuik bapiuah
    Namun hiduik bapantang mati

    Baitu untuangnyo lumuik
    Indak mancari tampek diam
    Hanyo manompang jo aia hilia
    Indak mamiliah tampek tumbuah
    Asa kasampai ka muaro
    Usah cameh badan kahanyuik

    Baguru kito kalumuik
    Alam takambang jadi guru
    Lahianyo lumuik nan disabuik
    Bathinnyo Adat Minangkabau

    Dilariak di papan tapi
    Ukiran rumah nan di lua
    Gambaran adat hiasan alam
    Pusako salamonyo
    Demikianlah, sebuah motif ukiran dengan gamblang menceritakan perjalanan sejarah orang-orang yang mendirikan Kebudayaan Minangkabau. Entah darimana mereka datang, entah sudah berapa daerah yang mereka lalui, entah sudah berapa lautan yang mereka seberangi dan entah sudah berapa pegunungan yang mereka daki.
    Daerah kekuasaan Dharmasraya =
    Dalam naskah berjudul Zhufan Zhi (諸蕃志) karya Zhao Rugua tahun 1225[3] disebutkan bahwa negeri San-fo-tsi memiliki 15 daerah bawahan, yaitu Che-lan (Kamboja), Kia-lo-hi (Grahi, Ch’ai-ya atau Chaiya selatan Thailand sekarang), Tan-ma-ling (Tambralingga, selatan Thailand), Ling-ya-si-kia (Langkasuka, selatan Thailand), Ki-lan-tan (Kelantan), Ji-lo-t’ing (Cherating, pantai timur semenanjung malaya), Tong-ya-nong (Terengganu), Fo-lo-an (muara sungai Dungun, daerah Terengganu sekarang), Tsien-mai (Semawe, pantai timur semenanjung malaya), Pa-t’a (Sungai Paka, pantai timur semenanjung malaya), Pong-fong (Pahang), Lan-mu-li (Lamuri, daerah Aceh sekarang), Kien-pi (Jambi), Pa-lin-fong (Palembang), Sin-to (Sunda), dan dengan demikian, wilayah kekuasaan San-fo-tsi membentang dari Kamboja, Semenanjung Malaya, Sumatera sampai Sunda.

    Like

  27. bangsa Nusantara/antaranusa/antarabangsa wilayah ketuanan minang kabau ,bapucuak sabana bulek baurek sabana tunggang,dan bahasa minang kabau /bahasa Melayulah yang merupakan induk bagi bahasa serumpun yang terdapat di Nusantara ini.Taraf ini hanya dapat dicapai setelah mengalami perkembangan budaya beberapa abad lamanya. Beliau sampai pada satu kesimpulan bahawa:) Orang Melayu itu tidak berasal dari mana-mana, tetapi malah merupakan induk
    yang menyebar ke tempat lain.
    ( Bahasa minang kabau/melayu/klon dari bahasa arab,jadi bahasa arab merupakan bahasa tertua di dunia yang bermula dari dalam surga lagi,seterusnya di ikuti dengan bahasa isyarat,1 bahasa arab,2 bahasa minang kabau/bahasa melayu seterusnya bahasa isyarat, ialah bahasa tertua dan bahasa induk daripada bahasa yang lain.

    Sutan Takdir Alisjahbana, ketika menyampaikan Syarahan Umum di Universiti Sains Malaysia (Julai 1987) menggelar bangsa yang berkulit coklat yang hidup di Asia Tenggara, iaitu Thailand Selatan, Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei, dan Filipina Selatan sebagai bangsa Melayu yang berasal daripada rumpun bangsa yang satu. Mereka bukan sahaja mempunyai persamaan kulit bahkan persamaan bentuk dan RUPA anggota badan .Pendapat lain yang tidak mengakui bahawa orang Melayu ini berasal dari daratan Asia mengatakan bahawa pada Zaman Kuarter atau Kala Wurn bermula dengan Zaman Ais Besar sekitar dua juta sehingga lima ratus ribu tahun yang lalu. Zaman ini berakhir dengan mencairnya ais secara perlahan-lahan dan air laut menggenangi dataran rendah. Dataran tinggi menjadi pulau. Ada pulau yang besar dan ada pulau yang kecil. Pemisahan di antara satu daratan dengan daratan yang lain berlaku juga kerana berlakunya letusan gunung berapi atau gempa bumi. Pada masa inilah Semenanjung Tanah Melayu berpisah dengan yang lain sehingga kemudian dikenali sebagai Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, dan pulau lain di Indonesia.Kajian Kern berdasarkan bukti Etnolinguistik memperlihatkan bahawa persamaan perkataan tersebut hanya terdapat di alam Nusantara dengan pengertian yang lebih luas dan perkataan tersebut tidak pula ditemui di daratan Asia Tengah. Ini menunjukkan bahawa penutur bahasa ini tentulah berpusat di tepi pantai yang strategik yang membuat mereka mudah membawa bahasa tersebut ke barat, iaitu Madagaskar dan ke timur hingga ke Pulau Easter di Lautan Pasifik.

    Secara khusus, penyebaran bahasa Melayu itu dapat dilihat di sepanjang pantai timur Pulau Sumatera, di sepanjang pantai barat Semenanjung Tanah Melayu; di Pulau Jawa terdapat dialek Jakarta (Melayu-Betawi), bahasa Melayu Kampung di Bali, bahasa Melayu di Kalimantan Barat, bahasa Melayu Banjar di Kalimantan Barat dan Selatan, Sabah, Sarawak, dan bahasa Melayu di Pulau Seram.
    Pendapat Marsden bahawa bahasa Melayu yang termasuk rumpun bahasa Nusantara serumpun dengan rumpun bahasa Mikronesia, Melanesia, dan Polinesia dengan induknya bahasa Austronesia secara tidak langsung memperlihatkan adanya kekerabatan dua bahasa tersebut yang tidak ditemui di Asia Tengah. Penyebaran bahasa Austronesia juga terlihat hanya bahagian pesisir pantai timur (Lautan Pasifik), pantai barat (Lautan Hindi), dan Selatan Asia (kawasan Nusantara) sahaja dan ia tidak masuk ke wilayah Asia Tengah.Jika ditinjau dari sudut ilmu kaji purba pula, penemuan tengkorak yang terdapat di Nusantara ini memberi petunjuk bahawa manusia telah lama ada di sini. Penemuan tersebut di antara lain ialah:1. Pithecanthropus Mojokerto (Jawa), yang kini berusia kira-kira 670,000 tahun.
    2. Pithecanthropus Trinil (Jawa), kira-kira 600,000 tahun.
    3. Manusia Wajak (Jawa), kira-kira 210,000 tahun.

    Jika tiga fosil tersebut dibandingkan dengan fosil Manusia Peking atau Sinanthropus Pekinensis (China) yang hanya berusia kira-kira 550,000 tahun terlihat bahawa manusia purba lebih selesa hidup dan beranak-pinak berdekatan dengan Khatulistiwa. Hal ini diperkuat lagi dengan penemuan fosil tengkorak manusia yang terdapat di Afrika yang dinamai Zinjanthropus yang berusia 1,750,000 tahun. Beberapa hujah ini menambah kukuh kesimpulan Gorys Keraf di atas yang menyatakan bahawa nenek moyang bangsa Melayu ini tentulah sudah sedia ada di Kepulauan Melayu yang menggunakan bahasa keluarga Nusantara.
    Masih ada soalan yang belum terjawab, iaitu jika betul bangsa Melayu ini sememangnya berasal dari Alam Melayu ini, sebelum itu dari manakah asal mereka? Pendapat orang Minangkabau di Sumatera Barat bahawa keturunan mereka ada hubungan dengan pengikut Nabi Nuh, iaitu bangsa Ark yang mendarat di muara Sungai Jambi dan Palembang semasa berlakunya banjir besar seperti yang diungkapkan oleh W. Marsden (1812) masih boleh dipertikaikan.
    Yang agak berkemungkinan disusurgaluri ialah dari salasilah Nabi Nuh daripada tiga anaknya, iaitu Ham, Yafit, dan Sam. Dikatakan bahawa Ham berpindah ke Afrika yang keturunannya kemudian disebut Negro berkulit hitam, Yafit berpindah ke Eropah yang kemudian dikenali sebagai bangsa kulit putih, dan Sam tinggal di Asia menurunkan bangsa kulit kuning langsat. Putera kepada Sam ialah Nabi Hud yang tinggal di negeri Ahqaf yang terletak di antara Yaman dan Oman. Mungkinkah keturunan Nabi Hud yang tinggal di tepi laut, yang sudah sedia jadi pelaut, menyebar ke Pulau Madagaskar di Lautan Hindi hingga ke Hawaii di Lautan Pasifik lebih mempunyai kemungkinan menurunkan bangsa Melayu? Dahulu di Minangkabau tidak memiliki hukum positif, yang ada hanya hukum rimba ” Siapo Kuek Siapo malendo, siapo tinggi siapo manimpo” kemudian oleh dua orang bijak iaitu Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang membuat sebuah perangkat Hukum Adat dan Suku agar diperoleh Perdamaian dalam Nagari dimana “nan lamah dilinduangi dan keadilan bagi semua anak negeri. Agar mudah mengawasinya dibuatlah ukuran untuk baik atau buruk suatu tindakan atau perbuatan “Di ukua jo jangko, dibarih jo balabeh, dicupak jo gantang, dibungka jo naraco, disuri jo banang”. Minangkabau adalah nama bagi suatu etnis yang terdapat di Indonesia dengan budaya, bahasa, kawasan dan suku bangsa dengan nama yang sama juga ,Dahulu di Minangkabau tidak memiliki hukum positif, yang ada hanya hukum rimba ” Siapo Kuek Siapo malendo, siapo tinggi siapo manimpo” kemudian oleh dua orang bijak iaitu Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang membuat sebuah perangkat Hukum Adat dan Suku agar diperoleh Perdamaian dalam Nagari dimana “nan lamah dilinduangi dan keadilan bagi semua anak negeri. Agar mudah mengawasinya dibuatlah ukuran untuk baik atau buruk suatu tindakan atau perbuatan “Di ukua jo jangko, dibarih jo balabeh, dicupak jo gantang, dibungka jo naraco, disuri jo banang”. Minangkabau adalah nama bagi suatu etnis yang terdapat di Indonesia dengan budaya, bahasa, kawasan dan suku bangsa dengan nama yang sama juga .Pendahulu2 kita niniak muyang urang Minang dari satu generasi ke generasi berikutnya yang semakin berkembang itu selalu menganjurkan anak kemenakan nya untuk membuka areal baru membentuk taratak selanjutnya jika semakin ramai anak cucu tersebut dibentuk pulalah jorong jo kampung-dusun/desa jo nagari, disusun sesuai ketentuan iaitu minimum sudah ada “nan ba kaampek suku”, walaupun selalu berpindah2 dari satu wilayah ke wilayah lain dan selanjutnya menetap di kantong2 daerah yang lahannya subur dan ikan nya banyak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan sejahtera dalam rangka mancarikan “nasi nan sasuok, pungguang nan tak basaok dan ameh nan sakauik” namun muyang2 kita itu tetap menjalin hubungan dengan daerah asal yang disebut dalam ketentuan adat:
    – Jauah cinto mancinto
    – Dakek jalang manjalang
    – Jauah mancari suku
    – Dakek mancari indu (induak)
    Namun demikian ketentuan adat yang pokok iaitu ” Basuku bakeh ibu, babangso bakeh bapak” tidak akan hilang begitu saja “indak lakang dek paneh, indak ka lapuak dek hujan” itulah warisan yang diterima dari nenek moyang setiap Generasi Anak Suku Bangsa Minangkabau dimanapun dia beradaL.keturunan Melayu berasal dari Minangkabau? kajian DNA.Keturunan Melayu berasal dari Minangkabau, manakala keturunan minangkabau, cina dan jepun asalnya adalah adik-beradik. (asalnya dahulu sudah ada tulis dalam buku Tambo Minangkabau dan juga Sejarah Melayu karangan asal Tun Sri Lanang, sekarang diperkuatkan lagi dengan penemuan artifak purba dan kajian DNA)

    <– keris purba dijumpai di wilayah Okinawa, Jepun.
    sumber rujukan rasmi kajian DNA itu : https://yentown.us/wp-content/uploads/137/1.pdf
    penerangan lengkap kajian DNA itu : http://humpopgenfudan.cn/p/A/A1.pdf
    • Data di atas membuktikan, raja minang kabau /kerajaan pagaruyung/,raja sedaulat dunia,tuan raja di asia timur ,sudah selayaknya masyrakat dunia seluruhnya beraja kepada raja minang kabau.sebagai pewaris raja islam ,dari keluarga junjungan besar nabi Muhammad S A W ,nabi dan rasul,penghulu seluruh alam .
    • Post Last Edit by hack3line at 5-2-2011 17:01

    Keturunan Melayu berasal dari Minangkabau, manakala keturunan minangkabau, cina dan jepun asalnya adalah adik-beradik. (asalnya dahulu sudah ada tulis dalam buku Tambo Minangkabau dan juga Sejarah Melayu karangan asal Tun Sri Lanang, sekarang diperkuatkan lagi dengan penemuan artifak purba dan kajian DNA)

    <– keris purba dijumpai di wilayah Okinawa, Jepun.

    This recent study is massive and involved a 40-institution, multi-national (though largely Asian) research team that sampled DNA from over 70 populations throughout Asia. The paper used genetic markers called single-nucleotide polymorphisms (SNPs) which are differences in the chemical ‘lettering’ of DNA, in order to infer patterns of ancestry. And whilst the techniques used were esoteric, this collective pan-Asian effort had an aim close to everyone’s hearts: to recover the lost memory of where we came from.

    "Thus, it is relevant that in a study published just this week in the influential journal Science, the Han Chinese (and other East Asians) have been shown to have originally come from Southeast Asia. Instead of being natives of China, the Han Chinese were in fact immigrants who descended from mainland and island Southeast Asia, the latter historically known as the Malay Archipelago."
    sumber rujukan rasmi kajian DNA itu : https://yentown.us/wp-content/uploads/137/1.pdf
    penerangan lengkap kajian DNA itu : http://humpopgenfudan.cn/p/A/A1.pdf
    • Data di atas membuktikan, raja minang kabau /kerajaan pagaruyung/,raja sedaulat dunia,tuan raja di asia timur ,sudah selayaknya masyrakat dunia seluruhnya beraja kepada raja minang kabau.sebagai pewaris raja islam ,dari keluarga junjungan besar nabi Muhammad S A W ,nabi dan rasul,penghulu seluruh alam .

    universiti yang terlibat dalam kajian DNA yang membuktikan bahawa bangsa di timur Asia itu berasal dari DNA Melayu
    1) Chinese National Human Genome Center, Shanghai, CHINA
    2) Institute of Genomics and Integrative Biology, New Delhi,
    3) University of Tokyo, JAPAN
    4) Center for Genome Science, Korea National Institute of Health, Seoul, KOREA
    5) Universiti Sains Malaysia, Kubang Kerian, Kelantan, MALAYSIA
    6) Genome Institute of SINGAPORE
    7) Institute of Biomedical Sciences, Academia Sinica, Taipei, TAIWAN
    8) Affymetrix, Inc. USA

    antara lambang utama kebesaran keturunan diraja Melaka ialah pemakaian potoh naga, sekarang naga menjadi lambang rasmi kerajaan negara cina.

    Sepasang gelang emas berkepala naga,
    POTOH BERNAGA hiasan Paduka Seri,
    Bertambah gagahlah Duli Yang Maha Mulia
    Disarungkan ke lengan kanan dan kiri,
    Di istiadat rasmi kebesaran negara,
    Potoh sebagai lambang kebesaran duli.

    ayat di dalam buku Sulalatus Salatin karangan asal Tun Sri Lanang, pengakuan maharaja cina bahawa keturunan diraja Melayu Melaka dan keturunan diraja cina adalah dari keturunan yang sama.
    “Surat di bawah cerpu raja langit, datang ke atas mahkota raja Melaka. Kita dengar raja Melaka raja besar, sebab itulah maka kita hendak bersahabat, berkasih-kasihan dengan raja Melaka, kerana kita pun daripada anak cucu Raja Iskandar Zul-karnain, sebangsa juga dengan raja Melaka, kerana tiadalah ada dalam alam dunia ini raja-raja yang besar daripada kita. Tiada siapa pun tahu akan bilangan rakyat kita; maka daripada sebuah rumah sebilah jarum kita pintak. Itulah jarumnya sarat sebuah pilau kita kirimkan ke Melaka.’’

    ayat Sultan Mansur Shah kepad raja di Jepun..

    DAFTAR PUSTAKA
    Datoek Toeah. 1976. Tambo Alam Minangkabau. Pustaka Indonesia. Bukit Tinggi.

    Graves, E. E. 2007. Asal-usul Elite Minangkabau Modern. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

    Hall, D. G. E. tanpa tahun. Sejarah Asia Tenggara. Usaha Nasional. Surabaya.

    Kristy, R (Ed). 2007. Alexander the Great. Gramedia. Jakarta.

    Kristy, R (Ed). 2006. Plato Pemikir Etika dan Metafisika. Gramedia. Jakarta.

    Marsden, W. 2008. Sejarah Sumatra. Komunitas Bambu. Depok.

    Olthof, W.L. 2008. Babad Tanah Jawi. Penerbit Narasi. Yogyakarta.

    Samantho, A. Y. 2009. Misteri Negara Atlantis mulai tersingkap?. Majalah Madina Jakarta. Terbit Mei 2009.

    Suwardi MS. 2008. Dari Melayu ke Indonesia. Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta.

    Wikipedia. Ensiklopedi Bebas. http://wikipedia.org.

    Disadur dari buku "Kato Pusako"
    Elok ranahnyo Minangkabau
    Rupo karambia tinggi tinggi
    Cando rumpuik gantie gantielan
    Rupo pinangnyo linggayuran
    Bukik baririk kiri kanan
    Gunuang Marapi jo Singgalang
    Tandikek jo gunuang Sago
    Pasaman jo gunuang Talang
    Aianyo janiah ikannyo jinak
    Laweh alamnyo bakeh tagak
    Sawah batumpuak di nan data
    Ladang babidang di nan lereang
    Sawah bajanjang banda buatan
    Sawah ladang labuah nan pasa
    Taranak kambang padi manjadi
    Buah jaguang maampai suto
    Padi masak jaguang maupiah
    Lah masak padi disawah
    Padi diladang manguniang pulo
    Ladang tabu amnyintak rueh
    Pisang badukuang ditandannyo
    Antimun mangarang bungo
    Batang labu marangtang tali
    Buah taruang ayun ayunan
    Buah lado manbintang timue
    Buah kacang taji tajian
    Anak rancak minantu malin
    Sajak durian ditakuak rajo
    Sialang balantak basi
    Buayo nan putiah daguak
    Sirangkak nan badangkang
    Sampai taratak aia hitam
    Sampai riak nan badabua
    Sampai kabateh indrapuro
    Sampai ka siak indragiri
    Hinggo sipisak pisau hanyuik
    Sampai sikilang aia bangih.
    dima asa titiak palito
    Dibaliak telong nan batali
    Dimano asa niniak kito
    Dari lereang gunuang marapi
    Di galundi nan baselo
    Dakek bukik siguntang guntang
    Di sinan lurah satungka banang
    Sinan lurah ndak baraia
    disinan bukik ndak barangin
    Sinanlah banta barayun
    Disinan batu hamparan putiah
    Panakiak pisau sirauik
    Ambiak galah batang lintabuang
    Salodang ambiak ka nyiru
    Nan satitiak jadikan lauik
    Nan sakapa jadikan gunuang
    Alam takambang jadikan guru
    Bungka ganok manahan cubo
    Ameh batu manahan uji
    Naraco pantang bapaliang
    Anak nagari sakato hati
    Satapak bapantang suruik
    Salangkah pantang kumbali
    ado pun kasadonyo kito di Minangkabau
    Nan disungkuik langik nan ditanai bumi
    Nan saedaran kuliliang gunuang marapi
    Nan mahuni daerah bagian baraik
    Samato lah banamo pulau andaleh
    Bapandirian bak kato nan tuo tuo
    Pulai juo nan batingkek naiak
    Maninggakan rueh jo buku
    Manusia nan bapangkek turun
    Maninggakan adaik jo limbago
    Gajah mati maninggakan gadiang
    Harimau mati maninggakan balang
    Manusia mati maninggakan jaso
    Lah jadi kabiasaan bagi kito
    Rantau nan barajo
    Luhak nan bapanghulu
    Lah dibiasokan pulo dek adaik kito
    Adaik nagari nagari nan batuo
    Mambuang sagalo nan Buruak
    Mamakai sagalo nan baiak
    Nan sasuai pulo jo kato nabi
    Malarang urang babuek jahek
    Manyuruah urang babuek baiak
    Mulai sajak maso dahulu
    Sampai pulo pado maso kini
    Sajak samulo sumua di gali
    Sajak mulo nagari dihuni
    Adaik dipakai, syarak nan lazim
    Duo hukum nan lah digunokan
    Hukum adaik jo hukum Syarak.
    (KP
    Pidato Pasambahan Adat
    BATAGAK GALA PANGHULU
    Bismillahirrahmaanir Rahim. Assalamua’alaikum Wr, Wb.
    Mintak ampun hambo kapado Allah, maaf dimintak ka nan banyak, niniak mamak jo panghulu, nan gadang basa batuah, nan ba pucuak sabana bulek, nan ba urek sabana tunggang, alim ulamo jo tuanku, cadiak pandai pagaran kokoh, dubalang jo ampang limo, jo manti pagawai adat, nan mudo arih budiman, bundo kanduang samo di dalam.
    Manyurek di ateh pintu, mangarang di tapak tangan, malompek nak basitumpu, mancancang nak balandasan, di Datuak ___(anu)___ tibonyo sambah. Sakali hambo manyambah, sapatah rundiang nan lalu, walau datuak surang nan disambah, batin bakeh sagalo panghulu, ujuiknyo sambah ka nan banyak, sa ujuik sambah jo simpuah.
    Apolah nan ka ambo pasambahkan. Sijoroang manggali lambah, mamakai baju biludu gandum, kok tadorong ambo manyambah, sakali gawa baribu ampun.
    Gulamo mudiak ka hulu, mati disemba ikan tilan, kanailah anak bada balang, pusako niniak dahulu, lai babuhue bakanakan, kini manjadi undang-undang, nan satitiak bapantang hilang, nan sabarih bapantang lupo, sampai kini bapakai juo.
    Takalo maso daulu, dimusim maso saisuak, katiko langik basintak ka ateh, katiko bumi basintak turun, sajak kudo mangunyah loyang, sarasah sa pulau paco, salembang sa lubuak agam, asa solok duo salayo, tigo padang ampek kumpani, limo jo adat Minangkabau, asa mulo kalau dikaji.
    Dek warih jawek ba jawek, pusako tolong batolong, sampai sakarang iko kini, nan soko turun tamurun, pusako jawek bajawek, iyo di alam Minangkabau.
    Sajak dari sirangkak nan badangkang, buayo putiah daguak, sampai kapintu rajo hilie, durian ditakuak rajo. Sapisak pisau hanyuik, sialang balantak buai, dakek aie babaliak mudiak. Sailiran batang bangkaweh, sampai sikilang aie bangih, hinggo ombak nan badabua, pasisia banda sapuluah, hinggo taratak batu hitam, sampai ka tanjuang batu simalidu.
    Di dalam luak nan tigo, sarato rantau jo pasisie. Nan tuo tanah data, nan bungsu luak 50, nan tangah luak agam.
    Nan manuruik bari jo balabehnyo, nan banamo luak tanah data, iyo nan babatu bungo satangkai, nan basungai bakayu tarok, nan bakampuang di baliak labuah, nan banamo dusun tuo, balimo kaum disinan, sambilan koto didalam, duo baleh koto dilua.
    Nan banamo luak Agam, iyo nan saliliek gunuang marapi, nan saedaran gunuang pasaman, sajajaran gunuang singgalang, jo sarato gunuang tandikek, sahinggo lado salah mudiak, sahinggo dusun tongga hilie.
    Baitupun luak 50, dari sikokoh pinang tuo, sahinggo sapisak pisau hanyuik, sialang balantak basi, sahinggo sasauak sungai rimbang.
    Dek niniak moyang maso itu, dibuek dusun jo taratak, sabalun ba koto ba nagari, sawah gadang satampang banieh, makanan urang tigo luak, sarato rumah dengan tanggo.
    Dek lamo musim bajalan, alam batambah leba juo, urang batambah kambang pulo, dibuek adat dikarang undang, disusun tangkai ciek-ciek, dibuhua dikabek arek, dipakukan katiang panjang.
    Dibuek adat ampek rupo, partamo suri tuladan, kaduo ukua dengan jangko, katigo barih jo balabeh, ka ampek cupak dengan gantang. Dikarang undang nan ampek, undang luak dengan rantau. Luak dibari ba panghulu, kok rantau diagieh barajo. Nan sokonyo turun tamurun, pusakonya jawek-bajawek, sampai sakarang iko kini.
    Urang padang mahanyuah banang, dikumpa mako dilipek, dilipek lalu dipatigo. Kok dirantang namuahnyo panjang, elok dikumpa nak nyo singkek, singkek sakiro sapaguno. Ujuik sambah buah rundiangan, nyato tawalak ka ukuran, tabayang barih balabeh, bana bak andai kato bida, dek curiang barih dahulu, dek andai pusako lamo, kok basiang di nan tumbuah, jikok manimbang din an ado, tumbuah sarupo iko kini.
    Ramo-ramo si kumbang jati, ketik endah pulang ba kudo, patah tumbuah hilang baganti, pusako lamo baitu juo.
    Biriek-biriek tabang ka samak, dari samak ka halaman, patahsayok tabang baranti, tasuo di tanah bato. Dari niniek turun ka mamak, dari mamak ka kamanakan, patah tumbuah hilang bag anti, pusako dibao dek nan mudo.
    Adat pulai bapangkek naiek, maninggakan rueh dengan buku, manusia bapangkek turun, maninggakana adat jo pusako. Mati datuak baganti datuak, nan gala tatap bak samulo.
    Tantangan wajah sarupo iko, lah bulek aie ka pambuluah, lah bulek kato ka mufakat, bulek lah bulieh digolekkan, pipieh lah buliah dilayangkan. Tibo di adat lah ba isi, kok limbago lah batuang, kok tanduak samo ditanam kok darah samo dikacau, kok dagiang samo dilapah. Manuruik adat nan bapakai, kok ketek babari namo, lah gadang babari gala. Dek ketek banamo ____ si anu ____, kini bagala Datuak ______________ si anu_____.
    Tantangan limbago na baitu, dek ketek banamo ____si anu_________, kini bagala Datuak ____si anu______, iyo nak samo kito sahamparan, samo sahilie jo samudiak. Kok utang nan ka mambayie, kok piutang nan ka manarimokan, kok kusuik nan ka manyalasai, jikok karuah nan ka manjaniahi.
    Nak bahimbaukan di pakan na rami, dilewakan di labuah nan goleang, kapado urang di nagari.
    Marabah sadundun dengan balam, sikok barulang pamandi, sambah sadundun dengan salam, kato harap dibunisi, sakian sajo sambah pado datuak.
    Filosofi Lumuik Hanyuik dan Sejarah Bangsa dan pengembaraan masyarakat Minangkabau
    October 24, 2009 in Hasil Budaya, Hipotesa, Interpretasi, Tarikh
    Lumuik Hanyuik adalah salah satu motif ukiran Minangkabau yang diturunkan dari motif Gandara Scrolls, sebuah warisan budaya yang telah ikut mencatat perjalanan sejarah masyarakat Minangkabau. Dalam khazanah kebudayaan Minangkabau, sebuah motif ukiran bukan hanya sebuah hasil budaya berkesenian yang tanpa makna. Ada sebuah filosofi di balik hasil karya itu, ada latar belakang sejarah yang disimpan didalamnya.
    Motif ukiran Lumuik Hanyuik
    Syair berikut ini menggambarkan latar filosofi dari motif Lumuik Hanyuik :

    Aka lapuak gagangnyo lapuak
    Hiduik nan indak mamiliah tampek
    Asa lai lambah, inyo lah tumbuah
    Dalam aia bagagang juo

    Aia hilia lumuik pun hilia
    Walau tasalek di ruang batu
    Baguba babondong-bondong
    Aia bapasang lumuik bapiuah
    Namun hiduik bapantang mati

    Baitu untuangnyo lumuik
    Indak mancari tampek diam
    Hanyo manompang jo aia hilia
    Indak mamiliah tampek tumbuah
    Asa kasampai ka muaro
    Usah cameh badan kahanyuik

    Baguru kito kalumuik
    Alam takambang jadi guru
    Lahianyo lumuik nan disabuik
    Bathinnyo Adat Minangkabau

    Dilariak di papan tapi
    Ukiran rumah nan di lua
    Gambaran adat hiasan alam
    Pusako salamonyo
    Demikianlah, sebuah motif ukiran dengan gamblang menceritakan perjalanan sejarah orang-orang yang mendirikan Kebudayaan Minangkabau. Entah darimana mereka datang, entah sudah berapa daerah yang mereka lalui, entah sudah berapa lautan yang mereka seberangi dan entah sudah berapa pegunungan yang mereka daki.
    Pengaruh Kerajaan Inderapura
    Pengaruh Kerajaan Inderapura amat luas. Bandaro Harun (Harunsyah Sultan Bengawan), ke Brunei (1625) disebut ayah Dato Godan salah seorang leluhur Dipetuan Sultan Haji Hasanal Bolkiah Mu’izzadin Waddaulah. Rajo Putih Inderapura ke Natal dan mendirikan Kerajaan Lingga Pura di sana kemudian dikenal leluhur dari Sutan Syahrir dan Sutan Takdir Alisjahbana (Putri Bulkis Alisjahbana, 1996:43-44). Dari asal Puti Inderapura pindah ke Mukomuko dan Bintuhan, terbuka pula tabir rahasia adanya hubungan Megawati Sukarno Putri dengan Kesultanan Inderapura, ketika event pemberian gelar Puti (dari Mukomuko dan Bintuhan dulu bagian dari Kesultanan Inderapura) kepadanya di Bengkulu tahun 2001. Taufik Kemas dalam acara itu memakai tutup kepala dari Bintuhan kemudian memakai yang dari Mukomuko (Agus Yusuf dari Sutan Aminullah, 2003).
    1984 Alam Takambang Jadi Guru: Jakarta
    (Sumber : Minangkabau Tanah Pusaka – Tambo Minangkabau)CERITA NAGA SIKATI MUNO.Kerajaan Pertama di Gunung Marapi
    October 25, 2009 in Mitos, Tambo
    1. Maharaja yang Bermahkota
    Dikatakan pula oleh Tambo, bahwa dalam pelayaran putera-putera Raja Iskandar Zulkarnain tiga bersaudara, dekat pulau Sailan mahkota emas mereka jatuh ke dalam laut. Sekalian orang pandai selam telah diperintahkan untuk mengambilnya. Tetapi tidak berhasil, karena mahkota itu dipalut oleh ular bidai di dasar laut. Cati Bilang Pandai memanggil seorang pandai mas. Tukang mas itu diperintahkannya untuk membuat sebuah mahkota yang serupa. Setelah mahkota itu selesai dengan pertolongan sebuah alat yang mereka namakan “void(0) camin taruih” untuk dapat menirunya dengan sempurna. Setelah selesai tukang yang membuatnya pun dibunuh, agar rahasia tidak terbongkar dan jangan dapat ditiru lagi.
    Waktu Sri Maharaja Diraja terbangun, mahkota itu diambilnya dan dikenakannya diatas kepalanya. Ketika pangeran yang berdua lagi terbangun bukan main sakit hati mereka melihat mahkota itu sudah dikuasai oleh si bungsu. Maka terjadilah pertengkaran, sehingga akhirnya mereka terpisah.
    Sri Maharaja Alif meneruskan pelayarannya ke Barat. Ia mendarat di Tanah Rum. Sri Maharaja Dipang membelok ke Timur, memerintah negeri Cina dan menaklukkan negeri Jepang.
    2. Galundi Nan Baselo
    Sri Maharaja Diraja turun sedikit ke bawah dari puncak Gunung Merapi membuat tempat di Galundi Nan Baselo. Lebih ke baruh lagi belum dapat ditempuh karena lembah-lembah masih digenangi air, dan kaki bukit ditutupi oleh hutan rimba raya yang lebat. Mula-mula dibuatlah beberapa buah taratak. Kemudian diangsur-angsur membuka tanah untuk dijadikan huma dan ladang. Teratak-teratak itu makin lama makin ramai, lalu tumbuh menjadi dusun, dan Galundi Nan Baselo menjadi ramai.
    Sri Maharaja Diraja menyuruh membuat sumur untuk masing-masing isterinya mengambil air. Ada sumur yang dibuat ditempat yang banyak agam tumbuh dan pada tempat yang ditumbuhi kumbuh, sejenis tumbuh-tumbuhan untuk membuat tikar, karung, kembut dsb. Ada pula ditempat yang agak datar. Ditengah-tengah daerah itu mengalir sebuah sungai bernama Batang Bengkawas. Karena sungai itulah lembah Batang Bengkawas menjadi subur sekali.
    Beratus-ratus tahun kemudian setelah Sri Maharaja Diraja wafat, bertebaranlah anak cucunya kemana-mana, berombongan mencari tanah-tanah baru untuk dibuka, karena air telah menyusut pula. Dalam tambo dikatakan “Tatkalo bumi barambuang naiak, aia basintak turun”.
    Keturunan Sri Maharaja Diraja dengan “si Harimau Campa” yang bersumur ditumbuhi agam berangkat ke dataran tinggi yang kemudian bernama “Luhak Agam” (luhak = sumur). Disana mereka membuka tanah-tanah baru. Huma dan teruka-teruka baru dikerjakan dengan sekuat tenaga. Bandar-bandar untuk mengairi sawah-sawah dikerjakan dengan sebaik-baiknya.
    Keturunan “Kambing Hutan” membuka tanah-tanah baru pula di daerah-daerah Gunung Sago, yang kemudian diberi nama “Luhak 50 Koto” (Payakumbuh) dari luhak yang banyak ditumbuhi kumbuh.
    Keturunan “Anjing yang Mualim” ke Kubang Tigo Baleh (Solok), keturunan “Kucing Siam” ke Candung-Lasi dan anak-anak raja beserta keturunannya dari si Anak Raja bermukim tetap di Luhak Tanah Datar. Lalu mulailah pembangunan semesta membabat hutan belukar, membuka tanah, mencencang melateh, meneruka, membuat ladang, mendirikan teratak, membangun dusun, koto dan kampung.
    3. Kedatangan Sang Sapurba
    Tersebutlah kisah seorang raja bernama Sang Sapurba. Di dalam tambo dikatakan “datanglah ruso dari lauik”. Kabarnya dia sangat kaya bergelar Raja Natan Sang Sita Sangkala dari tanah Hindu. Dia mempunyai mahkota emas yang berumbai-umbai dihiasai dengan mutiara, bertatahkan permata berkilauan dan ratna mutu manikam.
    Mula-mula ia datang dari tanah Hindu. Ia mendarat di Bukit Siguntang Maha Meru dekat Palembang. Disana dia jadi menantu raja Lebar Daun. Dari perkawinannya di Palembang itu dia memperoleh empat orang anak, dua laki-laki yaitu Sang Nila Utama, Sang Maniaka; dua perempuan yaitu Cendera Dewi dan Bilal Daun.
    Pada satu hari Sang Sapurba ingin hendak berlayar menduduki Sungai Indragiri. Setelah lama berlayar, naiklah dia ke darat, akhirnya sampai di Galundi Nan Baselo. Waktu itu yang berkuasa di Galundi Nan Baselo ialah Suri Dirajo, seorang dari keturunan Sri Maharaja Diraja. Suri Diraja tekenal dengan ilmunya yang tinggi, ia bertarak di gua Gunung Merapi. Karena ilmunya yang tinggi dan pengetahuannya yang dalam, ia jadi raja yang sangat dihormati dan disenangi oleh penduduk Galundi Nan Baselo dan di segenap daerah. Ia juga bergelar Sri Maharaja Diraja, gelar yang dijadikan gelar keturunan raja-raja Gunung Merapi.
    Anak negeri terheran-heran melihat kedatangan Sang Sapurba yang serba mewah dan gagah. Orang banyak menggelarinya “Rusa Emas”, karena mahkotanya yang bercabang-cabang. Oleh karena kecerdikan Suri Dirajo, Sang Sapurba dijadikan semenda, dikawinkan dengan adiknya bernama Indo Julito. Sang Sapurba adalah seorang Hindu yang beragama Hindu. Dia menyembah berhala. Lalu diadakan tempat beribadat di suatu tempat. Tempat ini sampai sekarang masih bernama Pariangan (per-Hiyang-an = tempat menyembah Hiyang / Dewa). Dan disitu juga terdapat sebuah candi buatan dari tanah tempat orang-orang Hindu beribadat. Ada juga yang mengatakan tempat itu adalah tempat beriang-riang.
    4. Raja yang Hanya Sebagai Lambang
    Sang Sapurba lalu dirajakan dengan memangku gelar Sri Maharaja Diraja juga. Tetapi yang memegang kendali kuasa pemerintahan tetap Suri Dirajo sebagai orang tua, sedangkan sang sapurba hanya sebagai lambang.
    Untuk raja dengan permaisurinya dibuatkan istana “Balairung Panjang” tempatnya juga memerintah. Istana ini konon kabarnya terbuat dari : tonggaknya teras jelatang, perannya akar lundang, disana terdapat tabuh dari batang pulut-pulut dan gendangnya dari batang seleguri, getangnya jangat tuma, mempunyai cenang dan gung, tikar daun hilalang dsb.
    Karena Pariangan makin lama makin ramai juga Sang Sapurba pindah ke tempat yang baru di Batu Gedang. Seorang hulubalang yang diperintahkan melihat-lihat tanah-tanah baru membawa pedang yang panjang. Banyak orang kampung yang mengikutinya. Mereka menuju ke arah sebelah kanan Pariangan. Terdapatlah tanah yang baik, lalu dimulai menebang kayu-kayuan dan membuka tanah-tanah baru. Selama bekerja hulubalang itu menyandarkan pedang yang panjang itu pada sebuah batu yang besar. Banyak sekali orang yang pindah ke tempat yang baru itu. Mereka berkampung disitu, dan kampung baru tempat menyandarkan pedang yang panjang itu, sampai sekarang masih bernama Padang Panjang.
    Lama kelamaan Padang Panjang itu jadi ramai sekali. Dengan demikian Pariangan dengan Padang Panjang menjadi sebuah negeri, negeri pertama di seedaran Gunung Merapi di seluruh Batang Bengkawas, yaitu negeri Pariangan Padang Panjang. Untuk kelancaran pemerintahan perlu diangkat orang-orang yang akan memerintah dibawah raja. Lalu bermufakatlah raja dengan orang-orang cerdik pandai. Ditanam dua orang untuk Pariangan dan dua orang pula untuk Padang Panjang. Masing-masing diberi pangkat “penghulu” dan bergelar “Datuk”. • Dt. Bandaro Kayo dan Dt. Seri Maharajo untuk Pariangan • Dt. Maharajo Basa dan Dt. Sutan Maharajo Basa untuk Padang Panjang. Orang-orang yang berempat itulah yang mula-mula sekali dijadikan penghulu di daerah itu. Untuk rapat dibuat Balai Adat. Itulah balai pertama yang asal sebelum bernama Minangkabau di Pariangan.
    5. Sikati Muno
    Seorang orang jahat yang datang dari negeri seberang tiba pula di daerah itu. Karena tubuhnya yang besar dan tinggi bagai raksasa ia digelari orang naga “Sikati Muno” yang keluar dari kawah Gunung Merapi.
    Rakyat sangat kepadanya dan didongengkan mereka, bahwa naga itu tubuhnya besar dan panjangnya ada 60 depa dan kulitnya keras. Ia membawa bencana besar yang tidak terperikan lagi oleh penduduk. Kerjanya merampok dan telah merusak kampung-kampung dan dusun-dusun. Padi dan sawah diladang habis dibinasakannya. Orang telah banyak yang dibunuhnya, laki-laki, perempuan dan gadis-gadis dikorbankannya. Keempat penghulu dari Pariangan-padang Panjang diutus Suri Drajo menghadap Sang Sapurba di Batu Gedang tentang kekacauan yang ditimbuklan oleh Sikati Muno. Untuk menjaga prestisenya sebagai seorang semenda, Sang Sapurba lalu pergi memerangi Sikati Muno. Pertarungan hebat pun terjadi berhari-hari lamanya. Pedang Sang Sapurba sumbing-sumbing sebanyak seratus sembilan puluh. Akhirnya naga Sikati Muno itu mati dibunuh oleh Sang Sapurba dengan sebilah keris. Keris tersebut dinamakan “Keris Sikati Muno”, keris bertuah, tak diujung pangkal mengena, jejak ditikam mati juga.
    Sejak itu amanlah negeri Pariangan-Padang Panjang, dan semakin lama semakin bertambah ramai. Oleh sebab itu Sang Sapurba memerintahkan lagi mencari tanah-tanah baru. Pada suatu hari raja sendiri pergi keluar, melihat-lihat daerah yang baik dijadikan negeri. Dia berangkat bersama-sama dengan pengiring-pengiringnya. Ia sampai pada suatu tempat mata air yang jernih keluar dari bawah pohon tarab. Sang Sapurba berpikir, tanah itu tentu akan subur sekali dan baik dijadikan negeri. Lalu diperintahkannyalah membuka tanah-tanah baru ditempat itu. Sampai sekarang tanah itu dinamakan Sungai Tarab. Kemudian hari jadi termasyhur, tempat kedudukan “Pamuncak Koto Piliang” Dt. Bandaharo di Sungai Tarab. Selain itu raja menemui pula setangkai kembang teratai di daerah itu, kembang yang jadi pujaan bagi orang-orang Hindu. Raja menyuruh mendirikan sebuah istana di tempat itu. Setelah istana itu siap raja lalu pindah bertahta dari Pariangan-Padang Panjang ke tempat yang baru itu, yang kemudian dinamakan negeri Bungo Satangkai, negeri yang kedua sesudah Pariangan-Padang Panjang.

    Like

  28. iya jika dari manusia yang mengetahui dari hal hukum yang asal/islam di ikuti mengetahui ilmu semasa yang hak dan yang batal marangkumi bab syariat ,tariqat ,haqiqat dan makrifat ,lagi mengetahui siapa yang ada di surga dan siapa yang ada di neraka ,bukankah surga dan neraka itu dah sedia dari lama dulu lagi yang telah berpenghuni sejak ianya di ciptakan lagi,kelulusan serta pengetahuan ini mau di letakkan sarjana apa ya

    Like

  29. ALLAHU TILKA AYATUL KITABIL HAKIM ,ARTINYA ,INILAH AYAT AYAT KITAB YANG MENGANDUNGI HIKMAH.
    KATILUHUM WAMA RAMAITA IZRAMAITA WALAKINNALLAHA RAMA ,ARTINYA ,KETIKA KAMU MENGGADO MEREKA ,MAKA ALLAH LAH YANG MELEMPAR MEREKA
    YU AZZIB HUMULLAHU BI AIDIKUM ,ARTINYA ,ALLAH MENYIKSA MEREKA DENGAN SEBAB TANGAN KAMU.
    KEPADA UMAT ISLAM YANG BER IMAN PADA ALLAH TAALA TUHAN YANG SATU ,SERTA MENYAKSIKAN DENGAN KEYAKINAN PENUH BAHWA NABI MUHAMMAD S A W ,UTUSAN ALLAH/PESURUH TUHAN .YA DUNIA INI TEMPAT LALUAN SERTA TEMPAT UJIAN.MAKA BERUNTUNGLAH MEREKA MEREKA YANG MENGAMBIL MAMFAAT PADA SETIAP TEMPAT YANG MEREKA LALUI ,YAKNI DENGAN SYARAT SETIAP NIAT/ KERJA / UCAPAN .KARENA ALLAH DAN UNTUK MENDAPAT KEREDAAN ALLAH JUA .

    Like

  30. minang kabau tempat asalnya undang undang serta hukum alam, yang di ciptakan yang tertuang dari pada surga,sebelum di sempurnakan dengan kedatangan undang undang serta hukum yang terkandung dalam agama islam ,yang dibawakan oleh junjungan besar nabi muhammad s a w,imam, para nabi serta penghulu segala rasul,utusan tuhan/allah taala, berupa kitab suci al qur an dan kitab hadis rasulullah s a w ,sebagai rahmat untuk seluruh alam,dalam bentuk filosof alam takambang jadi guru,suatu fisafat yang dikenal pasti pada awal tamadun umat manusia ,yang akan di pakai dari awal zaman sampai akhir zaman,tertuang dalam bentuk ,kata dan peribahasa,tak lapuk karena hujan dan rusak sebab panas,zaman bertukar,masa berganti,inilah 2 kitab sumber hukum serta undang undang yang tidak akan habis rahasianya ,selama lamanya sampai bila bila dan,sepanjang masa.Lumuik Hanyuik adalah salah satu motif ukiran Minangkabau yang diturunkan dari motif Gandara Scrolls, sebuah warisan budaya yang telah ikut mencatat perjalanan sejarah masyarakat Minangkabau. Dalam khazanah kebudayaan Minangkabau, sebuah motif ukiran bukan hanya sebuah hasil budaya berkesenian yang tanpa makna. Ada sebuah filosofi di balik hasil karya itu, ada latar belakang sejarah yang disimpan didalamnya.
    Motif ukiran Lumuik Hanyuik
    Syair berikut ini menggambarkan latar filosofi dari motif Lumuik Hanyuik :

    Aka lapuak gagangnyo lapuak
    Hiduik nan indak mamiliah tampek
    Asa lai lambah, inyo lah tumbuah
    Dalam aia bagagang juo

    Aia hilia lumuik pun hilia
    Walau tasalek di ruang batu
    Baguba babondong-bondong
    Aia bapasang lumuik bapiuah
    Namun hiduik bapantang mati

    Baitu untuangnyo lumuik
    Indak mancari tampek diam
    Hanyo manompang jo aia hilia
    Indak mamiliah tampek tumbuah
    Asa kasampai ka muaro
    Usah cameh badan kahanyuik

    Baguru kito kalumuik
    Alam takambang jadi guru
    Lahianyo lumuik nan disabuik
    Bathinnyo pusako, Adat Minangkabau

    Dilariak di papan tapi
    Ukiran rumah nan di lua
    Gambaran adat hiasan alam
    Pusako salamonyo

    Like

  31. ADA SIAPA DARI KALANGAN ORANG ISLAM YANG MENGETAHUI BAHWA KESELURUHAN HIDUP INI ADALAH IBADAH ,BAHWA JALAN MENUJU KEPADA ALLAH ITU SEBANYAK NAFAS YANG KELUAR MASUK TUBUH BADAN MAKHLUQ ITU SENDIRI,APA BETUL NI PAK USTAZ TUNGGU JAWAPANYA YA….

    Like

  32. datuak bolang /datuk hang tuah
    kata kunci asal usul datuk hang tuah
    web site
    ASAL MUASAL PENDEKAR KUANTAN
    Pada jaman ± 1500 M Kerajaan Pagar Ruyung masih memeluk agama Hindu pada masa Raja Paku Alam II. Kerajaan Pagar Ruyung adalah kerajaan Minang Kabau yang terbesar dan termansyur pada saat itu. Pada masa itu datanglah penyiar agama Islam ketanah Pagar Ruyung dari Persia yang bernama Syech Burhanudin. Agama islam yang diajarkan oleh Syech Burhanudin awalnya ditolak oleh pihak kerajaan dan masyarakat tetapi Syech Burhanudin selalu melakukan pendekatan-pendekatan dengan penduduk Minang Kabau baik penetrasi melalui budaya tempatan maupun dari rumah kerumah. Syech Burhanudin menyebarkan agama Islam tidak sendirian tetapi dia dibantu oleh murid-muridnya, Malin nan Putiah adalah murid Syech Burhanudin yang terkenal pada saat itu.
    Dalam adat Minang Kabau istri Raja atau permaisuri disebut dengan Bundo Kanduang. Adik kandung perempuan dari Bundo Kanduang bernama Bundo Panjago Adat dan suami dari Bundo Panjago Adat bernama Datuak Panjago Nagori. Akibat Bundo Kanduang tidak memiliki keturunan dengan Raja Paku Alam II maka dia mengangkat anak dari anak Bundo Panjago Adat anak tersebut bernama Siti Hasimah. Siti Hasimah dibesarkan dalam lingkungan relegius dan adat-istiadat Minang Kabau, dia anak kesayangan dari Bundo Kanduang. Siti Hasimah mempunyai guru ngaji bernama Malin nan Putiah, murid dari Syech Burhanudin yang akhirnya Malin nan Putiah tersebut mempersunting Siti Hasimah menjadi istrinya. Perkawinan Siti Hasimah dengan Malin nan Putiah menghasilkan tiga orang keturunan atau pangeran. Anak pertamanya diberi nama Ahmad, anak kedua dengan nama Syarif dan anak ketiga dengan nama Ali. Siti Hasimah belajar silat melalui mimpi, ini didapatkannya karena Penerapan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dan nilai-nilai relegius yang diamalkan Siti Hasimah disertai rajin membaca kitab suci Al-Qur’an dan melaksanakan ibadah Sholat wajib dan sholat malam. Siti Hasimah yang dalam sapaan kependekarannya bernama “Inyiak Simah atau Olang Bagegah” mempunyai dua orang saudara kandung yaitu Siti Fatimah dan Siti Halimah serta satu orang saudara angkat yaitu Ismail yang bergelar dengan nama Datuak Bolang.
    Akibat kekacauan yang terjadi didalam kerajaan Pagar Ruyuang maka Inyiak Simah pergi merantau ke hilir daerah Minang Kabau untuk menyebarkan agama Islam, tiga orang putranya dititipkannya dengan pamannya yaitu Datuak Bolang sekaligus belajar ilmu beladiri/silat dengan Datuak Bolang tersebut. Akhir petualangan Inyiak Simah singgah disebuah negeri disalah satu didaerah aliran sungai Kuantan yang pada saat itu negeri tersebut belum ada nama, karena belum ada nama maka Inyiak Simah memberi nama tersebut dengan nama Pangean, nama tersebut terinspirasi dari nama daerah kampung halaman orang tua Inyiak Simah yaitu Pangian diLintau. Dari sinilah dikenal asal muasal nama Pangean dan silat Pangean yang dikenal ke penjuru negeri. Negeri tersebut berada diwilayah Kabupaten Kuantan Singingi, Propinsi Riau.
    Dinegeri baru tersebut Inyiak Simah menetap. Selang beberapa tahun Inyiak Simah merantau hal tersebut menimbulkan kegelisahan dari suaminya Malin nan Putiah, oleh sebab itu Malin nan Putiah mengutus Datuak Bolang dan ketiga anaknya untuk mencari Inyiak Simah. Akhirnya Inyiak Simah bertemu dengan Datuak Bolang, Ahmad, Syarif dan Ali dinegeri Pangean. Di Pangean inilah Inyiak Simah dan anak-anaknya menyusun kekuatan dan mengajarkan Silat kepada anak-anaknya.
    Datuak Malin nan Putiah akhirnya menyusul mencari Inyiak Simah dan anak-anaknya dengan hilir kemelalui sungai Batang Kuantan, pencarian Datuak Malin nan Putiah tidak sia-sia, dia menemukan anak dan istrinya di Pangean. Datuak Malin nan Putiah membujuk istrinya untuk pulang ke Pagar Ruyung tetapi ditolak oleh istrinya karena udah merasa nyaman dan tentram hidup didaerah baru tersebut (red:Pangean), dan pada akhirnya terjadi pertengkaran dan perkelahian antara Inyiak Simah dan Datuak Malin nan Putiah, sebelum berkelahi mereka mengadakan perjanjian yaitu jika Inyiak simah Kalah maka dia bersedia untuk pulang ke Pagar Ruyung dan sebaliknya. Didalam perkelahian itu terucaplah beberapa petuah oleh Inyiak Simah yaitu “ somuik bah iriang tah pijak indak mati alu tah aruang patah tigo, makan abih-abih manyuruak hilang-hilang, ompek ganjial limo gonok” makna petuah tersebut sangat dalam maknanya dan memiliki nilai spritual dalam silat Pangean. Akhirnya pertempuran itu dimenangkan oleh Inyiak Simah dan Malin nan Putiah akhirnya mengikuti keinginan Inyiak Simah dan menetap di Pangean.
    Didalam gelar kepandekaran Ahmad dikenal dengan nama Pendekar Baromban Bosi, dia sebagai seorang yang mengerti dan memahami agama dan hukum adat-istiadat. Syarif dikenal dengan nama pendekar dari Utara yang menyebarkan Silat dan agama islam kearah Utara Pangean dan Ali bergelar Pendekar dari Selatan yang menyebarkan silat dan agama islam kearah selatan Pangean. Sedangkan Datuak Bolang melakukan ekspansi agama islam dan menyebarkan agama Islam kearah Melayu Kepulauan atau Terempak Natuna dan Malaka. Datuak Bolang ini lah yang nantinya bergelar Hang Tuah didaerah perantauan.
    Tanah Pangean terkenal pula dengan persilatannya, nama yang tak asing bagi pesilat di Kuantan. Silat ini diwariskan secara turun temurun. Silat Pangean diajarkan kepada anak dan kemenakan. Dalam gerakan, silat Pangean dikenal dengan gerak lembut dan gemulai. Meski begitu setiap gerakan menyimpan efek yang mematikan. Aliran silat Pangean ada dua jenis yaitu Pangean Bathino yang langsung dwariskan oleh Inyiak Simah dan Pangean jantan yang diwariskan oleh Datuak Bolang. Pangean jantan gerakannya sedikit kasar dan dipergunakan untuk perang atau pasukan terdepan dalam siasat perang adat Pangean, terkadang Pangean Jantan ini banyak disalah gunakan oleh pesilat Pangean kearah kiri atau ketabiat negatif. Sedangkan Pangean bathino gerakannya yang lemah gemulai dan lunak diperuntukan bagi pangeran-pangeran kerajaan atau keturunan raja, aliran Pangean Bathino ini dikenal dengan nama khas sebagai ilmu pangean kebathinan. Jadi Silat Pangean Jantan berasal dari Lintau yang diwariskan oleh Datuak Bolang dan Pangean Bathino berasal dari Pangean saluh satu daerah diKabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau.
    Kini, dalam mencapai tujuan pengembangan silat dan dalam rangka melestarikan kebudayaan masyarakat Pangean, penghulu adat membuka laman silat di samping Mesjid Koto Tinggi Pangean. Sebuah bukit di Pangean yang bernama Bukit Sangkar Puyuh sekarang Koto Tinggi Pangean. Nama bukit ini diambil dari bentuknya yang memang seperti Sangkar Burung Puyuh. Di sini sebuah balai adat didirikan. Selain itu, dalam rangka pemerataan keterampilan silat, para guru silat Pangean memberi izin untuk dibukanya laman silat di masing-masing banjar. Dalam penerapannya, silat Pangean terdiri dari permainan dan pergelutan. Tarian silat sambut menyambut serangan ini sering dimainkan di halaman. Hal ini berbeda dalam pengajaran silat kepada murid tingkat atas yang dilakukan di rumah. Silat didalam rumah ini yang disebut dengan Silat Pangean Kebathinan. Seiring berjalannya waktu silat Pangean mendapat perhatian yang luas. Tidak hanya di rantau Kuantan, tapi mulai dikenal di Indragiri dan daerah Riau lainnya. Bahkan pengaruh silat Pangean juga tumbuh diluar negeri seperti di Negara Malaysia, Singapura dan Pathani Thailand.

    Kerabat diraja Pagaruyung
    Kerajaan Inderapura

    Kerajaan Negeri Sembilan

    Kesultanan Siak Sri Inderapura

    edit

    [sunting] Aparat pemerintahan
    Setelah masuknya Islam, Raja Alam yang berkedudukan di Pagaruyung melaksanakan tugas pemerintahannya dengan bantuan dua orang pembantu utamanya (wakil raja), yaitu Raja Adat yang berkedudukan di Buo, dan Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus. Bersama-sama mereka bertiga disebut Rajo Tigo Selo, artinya tiga orang raja yang “bersila” atau bertahta. Raja Adat memutuskan masalah-masalah adat, sedangkan Raja Ibadat mengurus masalah-masalah agama. Bila ada masalah yang tidak selesai barulah dibawa ke Raja Pagaruyung. Istilah lainnya yang digunakan untuk mereka dalam bahasa Minang ialah tigo tungku sajarangan. Untuk sistem pergantian raja di Minangkabau menggunakan sistem patrilineal[38] berbeda dengan sistem waris dan kekerabatan suku yang masih tetap pada sistem matrilineal.[15]
    Selain kedua raja tadi, Raja Alam juga dibantu oleh para pembesar yang disebut Basa Ampek Balai, artinya “empat menteri utama”. Mereka adalah:
    Bandaro yang berkedudukan di Sungai Tarab.
    Makhudum yang berkedudukan di Sumanik.
    Indomo yang berkedudukan di Suruaso.
    Tuan Gadang yang berkedudukan di Batipuh.
    Selain itu dalam menjalankan roda pemerintahan, kerajaan juga mengenal aparat pemerintah yang menjalankan kebijakan dari kerajaan sesuai dengan fungsi masing-masing, yang sebut Langgam nan Tujuah. Mereka terdiri dari:
    Pamuncak Koto Piliang
    Perdamaian Koto Piliang
    Pasak Kungkuang Koto Piliang
    Harimau Campo Koto Piliang
    Camin Taruih Koto Piliang
    Cumati Koto Piliang
    Gajah Tongga Koto Piliang
    Daftar Raja-raja Pagaruyung

    Like

  33. Mantab komen dari Baginda Sinang / raja kapiceh… saya bangga sebagai Orang Asli Minangkabau dari suku Chaniago Sumagek. Ba gala Rajo Bonsu…. Semoga sejarah keturunan Minangkabau bisa di mengerti oleh semua rakyat Indonesia…

    Like

  34. Sudah seharus nya kita orang melayu sumatera bersatu melepaskan diri dari kekuasaan jawa dan menolak transmigrasi, karena kita banyaklah ruginya dibandingkan untung
    Adat kita dan jawa berbeda, adat kita adat besendi syarak, syarak besendi kitabullah
    Bangkitlah anak² sumatera, jangan lagi terpengaruh dengan nasionalisme, anak2 kita dari kecil sudah di cuci otak dengan berhala pancasial dan cerita² sejarah jawa yg seolah olah mereka lah pemberi kemerdekaan, padahal sultan² yg berdaulat terdahulu dan panglima² nya lah yg berperang mengusir jepang belanda
    Bangkitlah anak² melayu aceh, deli, riau, orang minang, jambi, palembang, bengkulu dan lampung

    Like

  35. Satu komen yang baik. Alat kebesaran tersebut sekarang digunakan oleh Sultan Perak( semenanjung Tanah Melayu). Pedang cura simanjakani dan lain lagi seperti yang dinyatakan di atas. Sessungguh Melayu juga mempunyai sejarahnya.

    Like

  36. sudah saatnya, kita orang minang duduk. bersatu membagi ilmu kembali ke generasi selanjutnya, bahwasanya minang adalah suku tertua,, biar pembunuhan karakter budaya kita tidak dicampuraduk lagi oleh manusia2 serakah dunia, kami tunggu kabar baik dan silaturahimnya….

    Like

  37. yang jelas sejarahwan jawa(orang majapahit) yang suka mengutak ngutik kebenaran di indonesia,mulai majapahit lah menjajah sumatra padahal ke sumatra guna menjalin sekutu karena takut serangan mongol ,, mengaku ngaku pribumi pulau nusa kendang lah( padahal orang jawa adalah aslinya pendatang dari yunan ) sampai dengan seenaknya mengganti pulau nusa kendang menjadi pulau jawa,,, zaman sekarang pun demikian, di indramayu,cirebon,serang,dan beberapa daerah karawang, orang jawa sering kali mengaku pribumi padahal jelas2 pendatang,,, dasar jawa jawa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s