Ramalan


Teori menjelaskan dua hal: menerangkan fakta yang telah-sedang terjadi dan meramalkan peristiwa yang akan terjadi. Para teoretikus adalah peramal. Jangan terlalu risih dengan kata “ramal” dan di sisi lain terlalu pula mengagungkan kata “prediksi”. Jangan pula beranggapan seolah-olah kata ramal itu identik dengan ortodoksi, kuno, tradisionalis atau malah “ilmiah dan non-ilmiah”. Itu kata yang kita punya, yang usianya di tanah Indonesia ini jauh lebih lama dari kata “prediksi” yang dibawa oleh orang-orang Eropa yang menjajah kemari.

Memang, kata itu sudah terlanjur pula berpasangan dengan suatu eksistensi yang lain, misalnya dukun, tukang tenung, ahli sihir dan macam-macam profesi yang berhubungan dengan hal-hal supranatural, mistis, mitos-mitos, hayalan ataupun lamunan. Karena itu pula dia dianggap berkorelasi positif  dengan sesuatu yang tak bisa diukur dengan jelas dan universal. Dia hanya berlaku bagi dirinya sendiri, egoistic measurement: orang lain tak bisa ikut mengukur.

Sesuatu yang “akan terjadi” berada dalam dua ruang: belum dan tidak. Kata belum terjadi mengindikasikan suatu hal yang optimistik, mungkin akan. Sementara tidak lebih bermakna pesimistik, ketidakmungkinan, mustahil. Namun, ketika melihat masa yang akan datang, maka kata “tidak” memang bisa dikaji ulang juga: bagaimana Anda bisa memastikan sesuatu itu tidak akan terjadi?

Karenanya, agama jauh lebih laku daripada ilmu. Agama memberi manusia kepastian, sementara ilmu justru lebih memberikannya keraguan. Semakin banyak ilmu Anda, semakin pula Anda harus meragukan segala sesuatu. Semakin meyakini agama, kian jauh pula keraguan itu ada. Begitulah kira-kira awalnya. Sampai di sini, tulisan ini jangan dituduh sekular dulu, memisahkan ilmu dengan agama. Tidak begitu. Memisahkan agama dengan ilmu adalah sebuah hal yang amat sangat menggelikan.

Mari kita lanjutkan. Misal, Islam membicarakan tentang hal-hal eskatologis, hari-hari akhir, surga neraka, pembalasan dan lain sebagainya. Islam menjadikan itu sebagai rukun iman, wajib diyakini. Iman, sebagian pendapat mengatakan, tak mempunyai ruang untuk dipertanyakan karena nilai kepastiannya yang mutlak, absolut. Memang, kalau memang sudah pasti, untuk apa pula dipertanyakan lagi? Itu nyinyir namanya. Nah, eksistensi apa yang diimani itu, tandanya bersifat faktual atau nyata, bukan lagi bersifat ramalan, prediksi. Karena itu, bila sebelumnya kita katakan dalam membicarakan masa depan hanya ada kata “belum” dan “tidak”, maka Islam menambahkan ada kata “pasti”. Tapi, apakah Anda berada di mazhab kaum materialis, rasionalis atau mistik-astetik gaya sufisme?

Kalau Anda materialis, maka kemungkinan besar akan berhadapan dengan pertanyaan: apakah benar hal-hal eskatologis itu eksis? Tapi, sudah lama petunjuk untuk menjawab pertanyaan itu ada: sesuatu yang tidak Anda lihat bukan berarti dia tidak eksis. Anda tidak pernah ke Makkah, tidak pernah merasakan panasnya gurun, tidak pernah melihat Ka’bah, lalu apakah Anda mengatakan bahwa Makkah, Ka’bah hingga panas gurun itu tidak eksis? Isaac Newton ketika merumuskan gravitasi, gerak planet dan bulan di tata surya, bukankah dia tak pernah sekalipun pergi ke bulan? Sesuatu yang pasti, tidak mungkin berasal dari sesuatu yang tidak pasti. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s