Romansa Mahasiswa

Saya teringat Soe Hok Gie. Beberapa orang mengatakan dia adalah legenda dalam pergerakan mahasiswa Indonesia. Dia sudah mirip ikon. Kata-katanya sering dikutip dan dia banyak dijadikan semacam role model bagi mahasiswa. Bayangkanlah betapa idealnya dia sebagai mahasiswa: dia belajar, tekun, suka membaca, tapi juga suka naik gunung dan tak lupa pacaran! Bahkan, wafatnya pun ketika dia sedang berada di puncak gunung. Lengkap benar deskripsinya.hhh Continue reading “Romansa Mahasiswa”

Advertisements

Ilmu

deserttRachel Weisz adalah seorang perempuan cantik yang memerankan Hypatia dalam film Hollywood, Agora. Hypatia hidup di Alexandria, Mesir, pada waktu kawasan itu dikuasai oleh imperium Romawi. Dia seorang neoplatonis, menghidupkan dan menjadi pemimpin sekolah neoplatonik di Mesir: sebuah sekolah filsafat dan sains dan bukannya mistis ataupun theologi. Hypatia ahli di bidang filsafat, matematika, dan astronomi. Continue reading “Ilmu”

Berlalu

bumiStephen Hawking, fisikiawan teoritis paling terkemuka saat ini, pernah berujar sederhana. Ketika Anda dapat melihat sebuah bintang, maka sebenarnya Anda sedang memerhatikan masa lalu. Dalam bukunya A Brief History of Time, yang disebut memakai bahasa “mudah” karena itu “bisa” dipahami oleh orang awam (bandingkan dengan bahasa artikel ilmiah dalam jurnal), dia berargumen, suatu benda dapat dilihat, katakanlah oleh mata telanjang, karena diantar oleh cahaya. Karena bintang-bintang letaknya jauh dari bumi maka ada waktu yang dibutuhkan oleh cahaya. Walau hingga kini diketahui kalau cahaya merupakan materi yang paling cepat geraknya daripada benda apapun di alam semesta, namun dibutuhkan waktu yang cukup “lama” hingga cahaya sampai ke mata kita di muka bumi. Karena itu, apa yang kita lihat di langit pada malam hari saat ini, pada dasarnya bukanlah peristiwa yang terjadi “pada saat ini” melainkan sudah terjadi “sebelumnya” atau masa lalu.

Ketika Anda dapat melihat bintang pada dasarnya Anda sedang memandang masa lalu. Begitu kata dia.

* * *

Continue reading “Berlalu”

Kampusiana

Brad Pitt gagah benar ketika tampil dalam film Troy. Berperan sebagai Achilles, Dia ksatria tak terkalahkan. Kuat bertarung, tahu bersiasat, cekatan menggunakan senjata, berani dan wajahnya memikat para wanita. Dia sempurna.

“Apakah kau tak takut mati?” tanya seorang perempuan kepadanya.
“Apa bedanya mati besok, nanti atau sekarang?” sahut dia.

Agaknya, pertanyaan Achilles itu sekaligus menjadi jawaban. Tak ada gunanya menggelisahkan sebuah kepastian. Mungkin kira-kira begitu.

Kita tidak bicara soal pertarungan laksana duel antara dua prajurit ataupun petinju. Mungkin ini agak-agak mirip dengan pertarungan politik yang kini makin kasat mata menuju Pemilu 2014. Tapi tak juga soal itu. Mirip-mirip iya. Continue reading “Kampusiana”

Pesan AR Fachruddin untuk Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah

DCIM102MEDIAAssalamulaikum Wr. Wb.

Mungkin saudara-saudara para mahasiswa-mahasiswi ada yang mengenal nama saya. Nama saya Pak AR Fachruddin. Pada Muktamar di Yogyakarta tahun 190, saya mohon pamit untuk berhenti di keketuaan Muhammadiyah. Alhamdulillah diterima. Karena saya sudah agak lama menjabat ketua PP Muhammadiyah, yaitu sejak tahun 1968. Dan Alhamdulillah, Muktamar di Yogyakarta tersebut menetapkan Bapak KH Ahmad Azhar Basyir, MA menjadi ketua PP Muhamadiyah periode 190-1995.
Continue reading “Pesan AR Fachruddin untuk Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah”

Polonia

polonia1Kita membanggakan sesuatu yang bukan milik kita sendiri. Bandara Polonia Medan, satu di antaranya. Dia bukan milik kita. Polonia adalah ejaan latin untuk Polandia, sebuah negara lain yang ada di Eropa. Bagi Baron Michalski, orang Polandia yang pada 1872 mendapatkan konsesi lahan dari kolonial Belanda, kawasan itu memang bukan untuk sebuah bandara. Dia menamakan perkebunan tembakau miliknya itu dengan sesuatu yang ada pada dirinya, mengingatkan dirinya pada asalnya. Dia adalah orang Polandia. Continue reading “Polonia”

Sepotong Senyum Sebagai Imbalan

studentSeorang mahasiswi berjalan di sebuah lorong di kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Pakaiannya, kalau menurut orang-orang yang berkecimpung di dunia mode, termasuk casual: jeans dan t-shirt berwarna coklat muda. Namun, lengan bajunya tidak panjang hingga ke pergelangan, tapi sampai ke siku saja. Tampaknya, ia menyelaraskan warna pakaiannya dengan warna kulitnya yang coklat muda keputih-putihan. Continue reading “Sepotong Senyum Sebagai Imbalan”

Jurnal Ilmiah di Negara Galau

Syahdan, sebuah negeri diliputi kegelisahan. Mungkin lebih asyik menyebutnya dengan istilah galau. Negeri itu sebenarnya kaya raya. Di permukaan tanahnya, terpampang keindahan nan elok dan manja. Di bawah tanahnya, terpendam emas, intan hingga batubara dan minyak bumi. Singkatnya, negeri itu laiknya metafora yang sering digambarkan pada surga; “mengalir sungai-sungai di bawahnya”. Continue reading “Jurnal Ilmiah di Negara Galau”

Keadilan Substantif dan Keadilan Prosedural dalam Konteks Negara

Oleh: Yusril Ihza Mahendra
Guru Besar Hukum Tata Negara UI

“Tanggapan atas artikel Andi Saputra di detikcom “Denny Vs Yusril: Perang Keadilan Substantif Vs Keadilan Prosedural’, Kamis, 05/04/2012 08:36 WIB.

Dalam sejarah filsafat hukum, ada banyak pendapat dalam merumuskan apakah keadilan. Saya tidak bermaksud menguraikan hal yang pelik ini pada kesempatan ini. Dalam teori ilmu hukum, memang ada teoritikus yang membedakan keadilan dalam dua kategori, keadilan substantif dan keadilan prosedural. Kalau dikaitkan dengan hukum pidana. Keadilan substantif berkaitan dengan hukum materil, sedang keadilan prosedural berkaitan dengan hukum formil atau hukum acara, yakni bagaimana menegakkan atau menjalankan hukum materil itu. Semua ini adalah abstrak, pada dataran filsafat dan teori. Apa yang adil dalam norma, belum tentu adil dalam pelaksanaannya. Baik keadilan substantif dan keadilan prosedural mengalami masalah yang sama pada dataran pelaksanaan. Continue reading “Keadilan Substantif dan Keadilan Prosedural dalam Konteks Negara”

Hegemoni Media

Robert Macwand, penulis buku The Era of Imam Khomeini (RTA) and the Religious and Spiritual Approach of the Contemporary Human Being, menyebut,  abad 21 sebagai abad petualangan spiritual manusia. Dengan sekumpulan data dan statistik sebagai basis argumentasi, ia memprediksi abad 21 merupakan era baru antusiasme keagamaan dan dalam kondisi tertentu tidak ada kekuatan sosial yang lebih kuat dari agama.

Namun, pendekatan baru terhadap agama di tengah masyarakat industri maju, punya beragam analisa, beraneka paradigma. Yang menjadi benang merah adalah keyakinan bahwa kecenderungan kepada etika dan spiritualitas merupakan buah dari level kesadaran umat manusia yang terus berkembang. Perspektif tulisan ini adalah soal media dan hegemoninya terhadap kehidupan spiritual.

Continue reading “Hegemoni Media”

Quo Vadis Islam Politik

Salah satu aliran politik yang mengemuka dalam polarisasi politik ala Orde Baru adalah aliran politik agama (Islam). Soeharto, sebagai penguasa, telah sangat lihai membeda-bedakan antara aliran nasionalis, kekaryaan dan Islam.

Posisi Islam sebagai kekuatan politik memang lebih signifikan bila dibandingkan dengan agama lain seperti Kristen, Hindu dan Budha. Faktor kuantitas dan dinamika historis tentulah menjadi acuan utama. Untuk itu, alur utama dalam melihat kiprah politik Islam di Indonesia adalah apakah perannya akan ditingkatkan secara lebih signifikan dan struktural ataukah malah direduksi laiknya bonsai: keindahan dan kemahalan harganya ditentukan oleh seberapa mantap pohon itu bisa tampak indah dalam kekerdilan bentuknya. Soeharto memutuskan pilihan yang kedua, potensi politik Islam tidak boleh dibunuh namun dibonsai. Continue reading “Quo Vadis Islam Politik”

Muhammadiyah (Sumut) dan Wajah Islam Indonesia

Posisi strategis Indonesia di Pasifik sudah dikabarkan bahkan sejak Indonesia belum merdeka. Bila dipersempit dalam kawasan Asia Tenggara saja, maka sahlah sudah posisi Indonesia sebagai negara yang (seharusnya) patut diperhitungkan dalam dinamika sosial politik ekonomi kawasan. Ada yang menyebutkan bahwa Asia Pasifik (dan Asia Tenggara) adalah Indonesia. Indonesia merupakan sumbu kawasan dan karena itu stabilisasi di kawasan ini tergantung pada Indonesia. Bila sumbu ini panas, maka kawasan itu juga akan meradang.

Indonesia dan Islam adalah dua sisi mata uang. Sebagai negara yang berpenduduk Islam terbesar di dunia, maka hal itu makin menambah signifikansi politik Indonesia, selain posisi geografis yang demikian strategisnya. Melihat Islam di kawasan Asia Pasifik adalah sama dengan melihat wajah Indonesia. Islam Asia Pasifik bukanlah Malaysia, ataupun radikalis Islam di Filipina dan Thailand. Tidak. Walau Malaysia dan Brunei Darussalam adalah dua negara di Asia Tenggara yang berbentuk Negara Islam, namun, posisi mereka tidaklah sekuat Indonesia dalam wajah Islam dunia. Ini tidak menjadikan mereka sebagai alas generalisasi terhadap wajah Islam Asia Pasifik (Tenggara). Apalagi, melihat Malaysia, Brunei dan Singapura, termasuk Australia, di luar lingkup negara-negara commonwealth akan terasa aneh. Commonwealth tentu bukan perkumpulan arisan. Continue reading “Muhammadiyah (Sumut) dan Wajah Islam Indonesia”

Setelah Seabad Muhammadiyah

Suatu saat, di tahun 1922, hutang organisasi Muhammadiyah mencapai 400 gulden. KH Ahmad Dahlan merenung-renung dan terdiam cukup lama. Sudah hampir setahun kondisi itu berlangsung. Belanja mantri guru di madrasah Muhammadiyah memang tidak begitu besar hanya sekitar 75 gulden. Namun, permintaan subsidi untuk para guru-guru itu belum berhasil. Muhammadiyah terpaksa berhutang kepada guru-guru itu. KH Ahmad Dahlan kemudian berdiri dan mengumpulkan santri-santrinya. Continue reading “Setelah Seabad Muhammadiyah”

1 Syawal yang Menarik

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ingin perhatian lagi. Pada Selasa (6/9) dia katakan, dia bukanlah ahlinya menentukan 1 Syawal. SBY mengaku kalau dia mendapatkan SMS yang di antaranya pertanyaan dan tuntutan soal perbedaan tanggal penetapan itu. Seminggu sebelumnya, Selasa (30/8), Prof. D. J. Rachbini berkicau di twitternya. Dia bilang, adalah tidak mungkin 1 Syawal itu ada dua hari. Ungkapannya rasional dan pasti. Kicauannya tak bisa dipungkiri. Tanggal 1 Syawal memang tak akan mungkin ada dalam dua hari. SBY cukup pintar memilah waktu. Dia baru bicara soal 1 Syawal, tepat satu minggu setelah Muhammadiyah menentukan bahwa tanggal 1 Syawal 1432 H … Continue reading 1 Syawal yang Menarik

Bingkai Indonesia itu Saat Ini, ya, Pancasila

Masih tetap dari komen di nbasis, selamat mengikuti 😀

– – –

Kalau begitu, tidak ada jalan lain, Anda memang wajib datang sendiri ke Aceh untuk menyaksikan sendiri sehingga tidak mendasarkan sesuatu atas komentar teman-teman Anda. Saya sarankan, datang di hari Jumat. Anda boleh mulai dari daerah mana saja, atau boleh juga langsung ke Mesjid Raya. Soal polisi Syariah, yang mabuk-mabukan, akan tak adil juga melihatnya dengan polisi Indonesia yang didoktrin langsung oleh Pancasila itu, yang kelakuannya aneh bin ajaib itu. Contohnya? Baca koran dan nonton tivi la sekali-sekali. Continue reading “Bingkai Indonesia itu Saat Ini, ya, Pancasila”

Reformasi Jilid Dua: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Bagian Kedua: Dicurinya Makna Reformasi

Apakah yang terjadi dengan reformasi? Saya ingin meminjam pemikiran sastrawan Sutardji Calzoum Bachri. Dia adalah penyelamat ”kata”. Dan dari pemikiran dia soal “mantra kata”, mungkin kita bisa melongok sejenak apa yang telah, sedang dan akan terjadi di Indonesia ini dan terutama pada kata “reformasi”. Continue reading “Reformasi Jilid Dua: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”

Reformasi Jilid Dua: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Bagian Pertama: Memori Buruk dari Soeharto


Momentum yang diambil oleh lembaga survey IndoBarometer, telah menohok reformasi. Kejatuhan Soeharto yang nyatanya menjadi simbol tegaknya reformasi justru setelah 13 tahun kemudian dianggap sebagai pemimpin yang paling populer. Metode yang digunakan IndoBarometer boleh jadi akan mengundang perdebatan yang melelahkan. Namun paling tidak, survey itu telah menjadi potret betapa reformasi belum juga secara utuh mereformasi negara ini. Continue reading “Reformasi Jilid Dua: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”

Mengunyah Negara Islam dalam Jurnalisme Profetik

 


Nun, Demi Pena dan apa  yang mereka tuliskan (QS. Al-Qalam: 1)

* * *

Jurnalisme profetik (prophetic journalism) merupakan suatu bentuk jurnalisme yang tidak hanya menulis atau melaporkan berita dan peristiwa secara lengkap, akurat, jujur, dan bertanggung jawab atau sekedar memenuhi kaidah dan teknis jurnalistik semata. Tapi juga memberikan petunjuk ke arah transformasi atau perubahan berdasarkan cita-cita etik dan profetik Islam. Ini berarti, suatu jurnalisme yang secara sadar dan bertanggung jawab memuat kandungan nilai dari cita-cita ideologi, etik dan sosial Islam.

Masalah di sana terbuka lebar. Dalam tulisan Mohammad A. Siddiqi berjudul Ethics and Responsibility in Journalism: An Islamic Perspective, mengungkapkan hingga saat ini belum ada kode jurnalistik yang secara tegas didasarkan atas prinsip-prinsip Islam. Itu sebabnya, lebih dari 1 miliar muslim di seluruh dunia, tidak mempunyai kontrol terhadap informasi yang disajikan oleh pers di seluruh dunia terutama negara-negara adikuasa informasi.  Ia menyebut, negara-negara yang berpenduduk muslim seperti Indonesia, Pakistan, Turki, Mesir dan Iran serta negara-negara lainnya, masih mendasarkan jurnalisme pada bias sekuler. Meski demikian memang ada usaha untuk menuju ke sana. Di antaranya, Asian Islamic Conference yang dikelola oleh Liga Muslim Dunia di Karachi, Pakistan, pada 1978. Diputuskan di pertemuan itu kalau jurnalisme muslim mesti didorong untuk melawan monopoli barat di media massa dan propaganda anti Islam. Continue reading “Mengunyah Negara Islam dalam Jurnalisme Profetik”

Islam Phobia dan Gerakan Tanpa Nama

Bahwa rumus ketakutan terhadap potensi Islam sebagai rahmatan lil alamin merupakan rumus paling kuno yang diajarkan oleh sejarah sejak zaman diazankannya kalimat “la ilaha illa allah” mulai Nuh hingga Muhammad. Ini seperti kebijakan Namrudz kepada Ibrahim, ini bak putusan Fir’aun kepada Musa, seperti vonis Yahudi dan Roma kepada Isa, dan tentu saja dari pedang Quraish kepada Muhammad.

* * *

  Continue reading “Islam Phobia dan Gerakan Tanpa Nama”