Kurban dan Cinta


Sewaktu kecil, guru mengaji kita mengajari hal-hal penting berkaitan dengan hewan qurban. Satu yang terpenting, hewan itu tak boleh sakit. Beliau menekankan soal kesempurnaan hewan qurban. “Masak kau beri orang-orang dengan hewan yang sakit? Kau mau makan daging yang ada ulatnya? Pilihlah yang bagus hewan yang akan kau kurbankan,” begitu kata beliau.

islamo HL1Islam mengajarkan soal kasih sayang dan cinta melebihi agama apapun yang dikarang manusia di dunia ini. Bagaimana memerlakukan orang lain seperti layaknya diri sendiri ingin diperlakukan, sudah menjadi doktrin utama Islam saat dibawa nabi Muhammad dan para pendahulunya sejak dulu. Doktrin itu masih kukuh tertanam hingga kini.

Dia tak hanya sekedar diwariskan namun didirikan dalam rangkaian ibadah, baik yang bersifat pribadi maupun muammalah. Tak heranlah bila dimensi ibadah seorang muslim haruslah punya keterkaitan erat dengan perilaku sosialnya. Rukun Islam, bahkan, secara keseluruhan tak hanya berbicara soal kesunyian pribadi semata, melainkan juga kecintaan sosial.

Manusia selalu ingin sempurna. Seorang ahli hikmah berpendapat, hal itu bisa terjadi karena dia berasal dari Zat yang Maha Sempurna sehingga perjalanan menuju kesempurnaan sudah otomatis hidup di diri setiap manusia. Tak ada satupun manusia yang ingin “biasa-biasa” saja. Tak usahlah dia merasa ingin “rendah hati” karena keinginannya yang “biasa-biasa” itu. Karena pembelaannya yang kuat soal sikap yang “biasa-biasa” itu didirikan atas argumentasi bahwa sikap “biasa-biasa” itulah yang sempurna bagi dirinya dibanding sikap-sikap yang lain. Tak ada yang salah dengan sikap “rendah hati”. Tapi mohon jangan tanggung-tanggung. Tirulah Muhammad al-Musthafa, sesosok orang yang disebutkan kaum sufi mengenakan kerendahhatian sebagai pakaiannya sehari-hari. Bukankah Muhammad adalah insan kamil, manusia sempurna?

Karena itu, Islam merupakan penyokong humanisme paling unggul. Jangan belajar humanisme pada kaum shopis, hedon, atheis atau bahkan orang-orang seperti Nietzshe, Karl Marx, hingga Satre maupun Faucault. Islamlah yang meletakkan dan mengembalikan martabat kemanusiaan itu kepada kesucian, sesuai dengan zat yang menciptakan dirinya. Dia tidak meletakkan rasa kemanusiaan itu pada manusia itu sendiri. Karena manusia, toh, pada substansinya punya juga keinginan untuk bersikap kasar, curang, culas dan jahat. Hitler, Stalin, hingga Fir’aun dan bahkan Qabil, ‘kan, manusia juga. Jadi, bila humanisme bicara manusia, maka manusia yang mana?

Tidak. Kemanusiaan ala Humanisme Islam tidak menjatuhkan manusia kembali pada sifat kebinatangan manusia, melainkan menjulang ke langit, pada sisi lain manusia yang suci, yaitu ruh suci yang ditiupkan kepadanya oleh yang Maha Suci. Sebuah sisi yang selalu diperdebatkan dan ditolak mati-matian oleh mazhab humanisme yang lain. Inna li Allah-i wa inna ilaihi roji’un, semua dari Allah dan sesungguhnya kepada Allah semua akan kembali.

Dan ketika kesempurnaan itu diraihnya, maka si manusia tadi tidak diperkenankan untuk pongah dan memonopolinya sendiri. Kau ambil bagianmu di hewan qurban itu, lantas, bagilah kepada orang lain apa yang kau maksudkan tentang kesempurnaan sesuatu itu. Sebarkanlah. Sebarkanlah. Selamat Idul Adha 1436 H. (*)

One thought on “Kurban dan Cinta

  1. SEMOGA orang-orang yang bersikap kasar, curang, culas dan jahat, setelah membaca tulisan ini dapat merubah tabiatnya yang buruk itu. SEMOGA

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s