Sehelai


Apa artinya sehelai kertas bagi manusia? Bagi para pecinta, sepucuk surat dari kekasih laksana kekasihnya itu sendiri. Dia tidak hanya terdiri dari susunan kata dan kalimat, melainkan juga sosok si kekasih. Tidak hanya di dunia imajinasi si penerima surat tapi juga di dalam jiwanya. Maka dia akan sumringah ketika Pak Pos mengetuk pintunya dan mengantar surat itu ke hadapan. Ah, konteks rupanya cukup berperan di sana.

muslimm

Ada juga cerita soal lain. Film PK (2015) yang diperankan Amir Khan, mendeskripsikan dengan begitu cerdas faktor konteks. Dalam satu adegan, si “PK” melihat begitu ampuhnya gambar Mahatma Gandhi di selembar uang di India. Dia berpikir, sosok Gandhi begitu mujarab karena dia selalu diberi seikat wortel saat menukar uang bergambar Gandhi. Dia kemudian mengumpul gambar Gandhi di kertas-kertas lain. Dan karena Gandhi begitu dihormati, gambar itu mudah didapatkannya. Tapi ternyata, hanya gambar Gandhi yang tertera di atas kertas uanglah yang laku sementara yang lain ternyata membuat si penjual wortel tak berkenan. Dia berkesimpulan, bukan Gandhi-nya yang membuat kertas menjadi berharga, namun status “uang” yang ada pada kertas itu. Tak soal itu gambar siapa, yang penting statusnya adalah “uang”. Sutradara Rajkumar Hirani dan penulis skenario Hirani dan Abhijat Joshi, begitu renyahnya melukiskan soal “kemanusiaan kita”.

Saya harus memberi tanda petik pada kata “kemanusiaan kita” itu. Ada yang bilang, ternyata manusia begitu tergantung pada persepsinya terhadap sesuatu. Pikirannya menentukan jati diri sesuatu. Rene Descartes, lalu Immanuel Kant, memosisikan “rasionalisme” adalah hal fundamental dan bukannya pengalaman empiris.

Tapi di ruang sesempit ini, tulisan ini bukan ingin berdiskusi soal Descartes dan Kant, melainkan kertas tadi. Bila kita memandang sehelai kertas dengan pemikiran kita yang luas terhadap kertas tadi, maka maknanya boleh jadi tidak lagi sehelai. Jika asumsi serupa kita pakai, bagaimana pula kita memandang berhelai-helai kertas yang ada pada Al-Quran? Bila kita menghargai dengan begitu tinggi buku Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica karangan Isaac Newton, Al-Qanoon fi al-Tibb (The Canon of Medicine) milik Ibn Sina hingga Mukaddimah-nya Ibn Khaldun, bagaimana lagi ketinggian derajat Al-Quran?

Kita bukan sedang membandingkan, melainkan hanya ingin menerangkan bahwa terkadang kita jarang benar memberikan porsi pemikiran yang serupa. Kita berusaha dengan sungguh-sungguh, begadang bermalam-malam, ketika ingin memecahkan sebuah rumus matematika ataupun ketika ingin menerapkan Interpretation of Culture-nya Clifford Geertz. Sebagian orang malah rela kelihatan “jelek” ketika dahinya berkerut, menambah uban di kepala atau ikhlas mengalami kebotakan ketika berjibaku dengan teori-teori ilmiah.

Ah, dengan segala “kekurangan” kita itu, sehelai kertas rupanya tak ada yang benar-benar bernilai hanya “sehelai”. Di dalamnya terkandung banyak peristiwa, perjuangan, cerita suka-duka, untuk saat ini dulu dan di hadapan nanti, yang bukan hanya dimonopoli cerita si pemilik sehelai kertas tadi. Itu termasuk juga sehelai ijazah yang diterima oleh para mahasiswa. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s