Ilmu


deserttRachel Weisz adalah seorang perempuan cantik yang memerankan Hypatia dalam film Hollywood, Agora. Hypatia hidup di Alexandria, Mesir, pada waktu kawasan itu dikuasai oleh imperium Romawi. Dia seorang neoplatonis, menghidupkan dan menjadi pemimpin sekolah neoplatonik di Mesir: sebuah sekolah filsafat dan sains dan bukannya mistis ataupun theologi. Hypatia ahli di bidang filsafat, matematika, dan astronomi.

Dalam sebuah adegan sewaktu film itu hendak habis, Hypatia mencapai ujung pencariannya tentang rotasi antara planet-planet dalam tata surya. Dia mengatakan, bumi mengelilingi matahari dalam bentuk yang elips dan bukannya bulat atau lingkaran mutlak. Dia menolak untuk dipengaruhi mistik, supranatural ataupun hal-hal yang padanya tidak bisa dilakukan observasi. Karena itu pula, dia menolak masuk Kristen ketika Orestes, seorang Prefect (Gubernur) Alexandria yang juga muridnya, mengajaknya. “Aku tidak bisa meyakini sesuatu tanpa mempertanyakannya terlebih dahulu,” katanya.

Cyril, Uskup Alexandria, tak suka Hypatia. Dengan kalap, Cyril menyebut Hypatia seorang penyihir, kafir yang tak mengakui ketuhanan Kristen. Orestes tak menyukai Cyiril, tapi dia adalah politisi dan karena itu mampu berkompromi dengan Kristen. Dia tahu, Cyril mempunyai fatwa yang bisa “menyihir” orang-orang untuk menyingkirkan orang yang tak sepaham dengan dirinya. Termasuk Hypatia. Toh, Hypatia tetap menolak mengimani Kristen. Dia kukuh bertahan dalam sekolah yang didesainnya mirip dengan akademia bikinan Plato. Dalam telanjang, Hypatia dihukum mati oleh Cyiril. Stephen Jay Greenblatt, profesor Harvard, menyatakan, pembunuhan Hypatia pada tahun 415 M, menandakan kejatuhan kehidupan intelektual di Mesir. Akademia telah mati.

* * *

Plato membangun akademia pada 385 SM, di sebuah lahan yang mulanya disebut hekademia, sebuah tempat suci yang diperuntukkan untuk Athena, dewi kebijaksanaan dan keterampilan. Bagi orang-orang Yunani dan kalangan dewa-dewi, tempat itu adalah sakral.

Di situ, kesucian dan penghormatan disematkan pada filsafat dan ilmu pengetahuan termasuk yang bergumul di dalamnya. Dia berasal dari dunia profan, namun naik pangkat menjadi hal sakral, yang bahkan para dewa pun tak boleh tak hormat. Namun, bila melihat sejarah panjang dunia keilmuwan Eropa/Barat (untuk menyebutnya secara terpisah dan berbeda dengan sejarah tradisi dunia keilmuwan Timur), dewa-dewi mungkin terhenyak ketika pasca renaissance, dewa telah “dibunuh” oleh sesuatu yang mereka hormati. Bahwa mereka, tidak hanya dewa melainkan juga seluruh yang masuk dalam kategori sakral dan “ghaib”, tidak punya peranan apa-apa dan bahkan dianggap tidak ada.

Setidaknya, kita di sini, tidak begitu. Tidak hanya ketika meresmikan sekolah dan perguruan tinggi, kita serentak mengucapkan “bi-Ismi Allah ar-Rahman ar-Rahim” dan kemudian diakhiri dengan “al-hamdu li-Allah rabb ‘Alamin”, melainkan keseluruhan gerak dilandaskan pada Ketuhanan. Tuhan menjadikan al-Ilm menjadi salah satu namanya, memuliakan orang-orang yang berilmu dan menuntut ilmu. Maka, alangkah angkuhnya jika orang-orang berilmu merendahkan dan bahkan meniadakan Tuhan. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s