Satir


Penyair Khairil Anwar menulis bait yang perih ketika neneknya meninggal dunia: duka maha tuan bertahta. Nenek Khairil adalah orang yang memeliharanya sedari kecil. Seorang nenek atau kakek memang sering diceritakan memanjakan para cucunya.

islamo HL1Perih. Tapi, kita mungkin tak sama menafsir atau merasa apa yang tertulis di kalimat itu. Adakalanya suasana ataupun konteks pembaca ketika melihat itu memengaruhi kadar makna yang ada di kepalanya. Coklat rasanya sedap, tapi bagaimana mungkin rasanya bisa sama dengan gula jawa? Jamal Mirdad begitu renyah ketika menyanyikan syair dalam lagu Cinta Anak Kampung: “kalau cinta sudah melekat, gula jawa rasa coklat”. Cinta membuatnya setara, bahkan sama. Begitulah.

Jadi, ada kadar kepastian dan ada juga sesuatu yang benar-benar relatif kontekstual. Mungkin, ini pula yang (sengaja) ditepiskan oleh para kartunis majalah Charlie Hebdo ketika mempublikasikan kartun-kartun Nabi Muhammad. Dalam Islam, kondisi ma’shum Muhammad tidak dalam ruang perdebatan. Tapi alangkah angkuhnya Pemimpin Redaksi Charlie Hebdo, Stephane Charbonnier, ketika sewaktu hidup sempat menyatakan kalau Muhammad tidaklah suci bagi dia. Dengan alasan relativisme itu, dia kemudian tidak merasa ada apa-apa ketika melukis Muhammad sesuka hatinya. Mereka menyebut itu sebagai kebebasan berekspresi, sesuatu yang lahir dari free will, kehendak bebas yang ada pada setiap manusia. Mereka berkata kalau kartun-kartun itu adalah sebuah satir saja.

Tapi ada yang aneh. Bagaimana bila alasan kebebasan berekspresi ini kita sematkan kepada pelaku penembakan ke majalah itu? Mengapa pula mereka harus dihujat karena bebas dalam mengekspresikan ketidaksukaannya atas penghinaan terhadap sosok nabi yang dicintainya? Bukankah para kartunis itu setuju kalau kebebasan berekspresi itu tidak harus dibatasi, seperti juga yang dilakukan oleh kebijakan pemerintahan mereka sendiri, Perancis? Mereka berujar lantang, kebebasan berekspresi merupakan implementasi dari fundamen dasar kebudayaan, peradaban, serta demokrasi mereka. Pasca penembakan, mereka pun kembali lagi: menggambar Muhammad –sambil menangis— lagi, seolah-seolah mengajari umat Islam kalau merekalah yang paling paham mengenai Muhammad dan tahu kapan Muhammad menangis, tersenyum ataupun tertawa. Duhai…

Di belahan dunia lain, negara-negara muslim, konteksnya tidak seperti yang disebut Carbhonnier. Bisakah Anda bayangkan banyak muslim yang seringkali digambarkan oleh Eropa-Amerika dalam kategori miskin, bodoh, barbar, dan terbelakang, tiba-tiba Anda ejek pula harta nan suci yang dipegang erat-erat oleh mereka?

Karena itu, ketika Eropa dan Amerika Serikat dilanda demonstrasi besar untuk mendukung Charlie Hebdo sembari mengutuk pelaku penembakan, dan ah, mereka pun berkampanye dan membuat hastag #JeSuisCharlie. Perhatikanlah benar-benar kalimat itu, dan ucapkanlah cepat-cepat seperti laiknya berzikir, mungkin Anda bisa mendengar bunyi lain di telinga Anda yang jangan-jangan mengarah pada suatu sosok. JeSuis, JeSuis, JeSuis, JeSuis…

Multitafsir dan kita bisa tersenyum geli gara-gara itu. Itu juga sebuah satir. (*)

One thought on “Satir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s