Berlalu


bumiStephen Hawking, fisikiawan teoritis paling terkemuka saat ini, pernah berujar sederhana. Ketika Anda dapat melihat sebuah bintang, maka sebenarnya Anda sedang memerhatikan masa lalu. Dalam bukunya A Brief History of Time, yang disebut memakai bahasa “mudah” karena itu “bisa” dipahami oleh orang awam (bandingkan dengan bahasa artikel ilmiah dalam jurnal), dia berargumen, suatu benda dapat dilihat, katakanlah oleh mata telanjang, karena diantar oleh cahaya. Karena bintang-bintang letaknya jauh dari bumi maka ada waktu yang dibutuhkan oleh cahaya. Walau hingga kini diketahui kalau cahaya merupakan materi yang paling cepat geraknya daripada benda apapun di alam semesta, namun dibutuhkan waktu yang cukup “lama” hingga cahaya sampai ke mata kita di muka bumi. Karena itu, apa yang kita lihat di langit pada malam hari saat ini, pada dasarnya bukanlah peristiwa yang terjadi “pada saat ini” melainkan sudah terjadi “sebelumnya” atau masa lalu.

Ketika Anda dapat melihat bintang pada dasarnya Anda sedang memandang masa lalu. Begitu kata dia.

* * *

Waktu memang kadang-kadang digambarkan begitu “mengerikan”. Saya terpaksa memakai tanda petik di situ karena selalu ada kemungkinan kalau orang lain mempunyai makna yang berbeda dengan kata ngeri. Kengeriannya terletak pada diktumnya yang “mustahil” untuk diputar kembali. Sekali Anda bertindak, maka dia sudah langsung menjadi “masa lalu” dan karena itu tidak bisa diulangi. Kata-kata yang sering menyergap biasanya adalah penyesalan bila Anda merasa kalau yang dilakukan itu adalah sebuah kesalahan yang seharusnya tidak terjadi. Alhasil, karena begitu kuatnya determinasi dari sang waktu, manusia terkadang setengah mati untuk tidak berbuat kesalahan. Tapi, terkecuali Muhammad, manusia mana pula yang pernah bebas dari kesalahan?

Mungkin permasalahannya sebenarnya justru terletak pada doktrin moralitas yang memberi penilaian atas benar dan salah-nya suatu tindakan. Bila moral tidak pernah ada, lalu apa pula yang menjadi hakim atas perbuatan Anda? Relativisme tiba-tiba memenuhi jagat. Di satu ruang mungkin Anda punya posisi yang salah, tapi di ruang yang lain, jangan-jangan Anda bisa dibenarkan. Siapa pula yang menyalahkan pemakaian bikini di pantai? Tapi atas dasar apa seseorang menertawakan atau menghardik seseorang yang memakai bikini di mall?

Tapi baiklah. Kita tak punya “waktu” untuk membahas hal-hal seperti itu dalam ruang yang sekecil ini. Namun, pergantian tahun memang sudah di depan mata. Ada sebuah kepastian, misalnya peralihan angka dari 2014 ke 2015. Apakah kita harus gegap-gempita menyambutnya, bahkan dengan kembang api, pesta dan seterusnya? Setelah itu lalu apa? Mungkin ada prediksi, ada optimisme, dan itu memang hal-hal yang baik. Tapi di sisi lain, agaknya, peralihan waktu seperti itu hanya bak kembang api yang begitu indah ketika meledak di langit-langit “tahun baru” tapi kemudian setelah itu padam, tak berbekas. Cahayanya sudah hilang, gelap kembali.

Kemudian, kadang, kita bergumam singkat: “Satu tahun sudah berlalu.” Ternyata kita hanya sedang memperingati masa lalu. Ada nada penyesalan? Saya tidak tahu. Selamat tahun baru. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s