Tanda


sketsaDalam Al-Quran, tanda disamakan ayat. Bahasa Indonesia sudah lama menyerap kata “ayat” ini dan kadang-kadang dia tak langsung disamakan dengan kata “tanda”. Dalam bahasa Inggris, tanda diterjemahkan dengan “sign”. Dalam kamus Oxford, disebutkan, “sign” sebagai objek yang menunjukkan adanya kemungkinan atau terjadinya sesuatu yang lain. Semacam ada hubungan kausal (sebab-akibat) antara satu fenomena dengan yang lain. Katakanlah dia sebagai jembatan makna. Lazim misalnya gemuruh dan petir dijadikan semacam tanda akan dimulainya peristiwa seperti hujan. Memang, tak jarang “tanda” itupun mungkin bisa saja keliru. Ini seperti yang terjadi pada kalimat: mendung tak berarti hujan.

Dia lain dengan yang dimaksud dengan simbol; sebuah objek (konkrit maupun abstrak) yang digunakan untuk menyampaikan ide-ide ataupun keyakinan tertentu. Dia perlambang. Burung Garuda menjadi simbol negara yang mewakili falsafah negara Indonesia yang diniatkan kuat, bertenaga dan dapat terbang menembus angkasa. Indonesia memang tidak sendirian menempatkan burung sebagai lambang negara. Amerika Serikat meletakkan elang sebagai simbol negara.

* * *

Negara kita dipenuhi tanda dan simbol. Presiden terpilih, Joko Widodo, pun kelihatannya senang memakai simbol untuk menampilkan ide-idenya. Misalnya, pasca putusan MK, pidato kemenangannya dilakukan di kawasan pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Mungkin, dia bermaksud menerangkan tentang visi negara maritim. Kemarin, sewaktu mengumumkan nama-nama kabinetnya di Istana Negara, dia menginstruksikan agar para menteri memakai baju putih (warna baju yang sempat identik dengan pasangan Prabowo-Hatta dan Koalisi Merah Putih-nya), dengan lengan digulung, dan, ah, menterinya pun disuruh berlari ketika nama mereka disebutkan oleh Joko Widodo, tidak peduli apakah tubuh sang menteri atletis ataupun agak buncit. Presiden pun terkekeh dan kemudian menerangkan makna-makna yang dimaksudkannya di balik simbol-simbol yang sengaja diinstruksikannya –tak jadi soal benar apakah itu sudah dirumuskan timnya sendiri ataukah Joko Widodo sendiri yang punya ide demikian— itu.

Dia bilang soal kabinet kerja dan kemeja yang digulung itu perlambang pekerja keras. Demikian juga dengan “lari” yang dimaksudkan agar pekerjaan itu harus cepat dilakukan. Bahkan dia mengulangi kata “kerja” itu hingga tiga kali: kerja, kerja, kerja. Kita pun rasanya tak perlu-perlu amat memersoalkan mengapa harus tiga kali, mengapa tidak dua kali, empat kali, lima kali (seperti sila di Pancasila) atau bahkan 17 kali (seperti tanggal proklamasi). Sama seperti kita yang kadang hanya menerima begitu saja mengapa Montesquieu hanya membuat “tiga” pemisahan politik: Trias Politica. Tapi mohon, Anda jangan sampai langsung menghubungkan soal “tiga” ini dengan kata lain yang juga bermakna tiga: trinitas misalnya. Saya yakin tidak ada hubungannya.

Tentu, mungkin kita sama-sama sepakat kalau bukan hanya simbol yang kita butuhkan saat ini melainkan makna yang dibawa oleh simbol itu. Dan, bila makna itu nantinya sudah tidak lagi dengan maksudnya di awal, barulah kita berbicara soal “tanda”. Kira-kira, itu pertanda apa, ya?

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1436 H. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s