Kurban, Karib, Akrab, Kerabat


loveeBurung-burung terbang berkeliling di bawah awan pada Sabtu pagi kemarin; Idul Adha. Ada semilir angin, ada jamaah, ada khatib dan pastinya ada podium. Dari podium, terdengar hal yang sederhana; kata Qurban menjelma dalam bentuk kata yang lain karib, akrab dan kerabat. Perubahan bentuk kata itu juga menandaskan bahwa kata “qurban” memang mengamanatkan kedekatan dalam bentuknya yang paling personal dan mendalam, mungkin seperti pada persaudaran dalam ikatan darah.

Namun, tidak hanya solidaritas sosial, empati dan simpati, melainkan lebih jauh dari itu: persatuan dan kesatuan. Orang-orang komunis mungkin berbangga punya konsepsi “common” yang berdenotasi “sama”.Tapi Islam jauh lebih dalam menjangkaunya dalam kata “tauhid”. Antara manusia tidak punya pagar yang membatasi karena dia merupakan satu kesatuan. Tidak hanya dengan manusia, tapi juga dengan alam semesta; hewan, tumbuhan, gunung, samudra dan seluruh rangkaian alam.

* * *

Kampus dan perkuliahan memanglah tidak sekedar bisa diteropong dalam hitung-hitungan input-proses-output (IPO). Dia malah menjadi terlalu sederhana. Hubungan matematis linear seperti itu akan sangat gamang menggambarkan jiwa-jiwa para mahasiswa yang bergolak; katakanlah dari pendidikan sekolah menengah yang serba “berseragam” beralih menjadi pendidikan yang dilingkup kata-kata seperti “maha” dan “tinggi”. Hitung-hitungan itu juga akan gagap ketika meneropong seorang dosen mengeluarkan candaan sehingga para mahasiswa tertawa renyah di sela-sela rumus-rumus teoritis yang memusingkan. Dan, tentulah hitung-hitungan IPO bukanlah diperuntukkan melihat fenomena pertemuan cikal-bakal perjodohan, bukan?

Ada hubungan lain yang lebih kuat; kekeluargaan, suatu jenis hubungan yang bahkan seorang Mao Tse Tung saja gagal membumihanguskannya dalam revolusi kebudayaan di China. Artinya begini. Hubungan seperti itu bukan hanya menggambarkan kedekatan secara personal, tapi juga dilingkupi dengan kemarahan, saling cemburu, kritikan, nasehat, perintah, bujukan, kasih sayang atau malah diam sama sekali. Begitu manusiawi hubungan itu sehingga dia dapat mendeskripsikan hampir seluruh hubungan manusia begitu detailnya.

Kampus juga demikian. Kampus bukanlah sekedar jalinan hubungan antara dosen-mahasiswa yang akan begitu mudah berubah menjadi relasi atasan-bawahan, superordinat-subordinat, instruksi-kepatuhan. Tidak. Kampus adalah keluarga besar intelektual di mana di dalamnya terdapat relasi mutual, saling memiliki, menasehati, mengayomi, melindungi dan seterusnya. Sehingga ketika kampus menyelenggarakan acara penyambutan mahasiswa baru, dia layaknya seperti acara penyambutan seorang anak manusia yang baru lahir dalam suatu keluarga atau malah bisa saja seperti ngunduh´mantu.

Demikian pula ketika melepas seorang mahasiswa dalam wisuda. Karena dia adalah bagian dari keluarga, ada kegembiraan juga keharuan. Kampus tak pula langsung putus hubungan dengan dirinya. Kepadanya disematkan kata “alumni” dan konsep “wawasan almamater”. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s