Menikmati Kebengisan Politik 2014


sketsaBarangkali, tak seorang Niccolo Machiavelli yang melukiskan politik dengan begitu bengis. Kebengisan adalah modal, menjadi tungku kekuasaan di mana rakyat adalah batubara yang pasrah. Rakyat yang diceritakan itu tak memiliki posisi untuk menatap kekuasaan. Tapi dia perlu, minimal sebagai saksi. Si saksi yang tak punya kuasa untuk merubah itu.

Tapi, kekuasaan adalah kesendirian yang absolut. Fir’aun adalah perlambang kekuasaan manusia di mana dia sendirian berada, nun, di titiknya yang tertinggi. Dia eksis menyendiri di puncak piramida tanpa ada sesuatu apapun yang menyamai ketinggiannya. Dia tidak pernah menengadah, tapi suka menatap kaki-kakinya dengan mata yang berkilat-kilat, di mana apa yang ada di luarnya (selain rakyat, termasuk juga para hulubalang, punggawa, hingga para tentara) mengerubungi jari-jarinya seperti semut mengelilingi bongkahan gula. Karena itu, Fir’aun merdeka dari segala norma ataupun kewajiban atas nama moral. Mungkin ini mirip dengan ubermeench a la Friedriech Nietzsche, yang menganggap manusia pada titik tertingginya adalah manusia yang mampu membunuh moralitas yang di antaranya diciptakan oleh Tuhan. Moral Tuhan yang selama ini memenjarakan manusia sehingga tidak mampu menjadi “manusia sejati” yang telah keluar dari sebuah konsep yang bernama “normal”. Budak moral, seru dia. Kemerdekaan adalah lepas dari segala-galanya. Baru setelah itu, si manusia tadi mempunyai kemampuan untuk memproduksi sebuah hal yang baru; mencipta.

Merdeka. Kalaupun Pramoedya Ananta Toer dipenjara di Pulau Buru, alasan kemerdekaan inilah yang membuatnya mampu menelurkan karya sastra terbaiknya; Tetralogi Pulau Buru. Para tetua pernah berujar dalam rangkaian petatah-petitih yang mungkin terdengar menjemukan bagi kaum muda; jasmani merupakan penjara terhadap jiwa. Namun jasad itu sendiri cukup paham bahwa jiwa manusia tidak bisa dikungkung oleh apapun. Pram, dengan segala hormat kepadanya, memang bukanlah satu-satunya orang yang mampu merdeka ketika dipenjara. Hamka, lawan Pram, juga demikian, dipenjara tapi mampu mencipta karya terbaiknya Tafsir Al-Azhar. Dua orang ini berangkat dari dua ideologi yang berbeda, dan tentu, negara ini tidak hanya mengenal kedua nama itu.

* * *
Kebengisan adalah antagonik moral yang penuh berisi tentang kebaikan dan kebajikan. Namun, kecenderungan untuk berpikir dan bertindak “baik” sama kuatnya dengan keinginan untuk masuk dalam bilik kejahatan. Ini merupakan perang yang tak pernah berhenti karena mereka merupakan anak kandung dari manusia itu. Apapun yang didebat Nietszche, dia tidak bisa memungkiri hasrat kebaikan itu, ketika dia bergerak menuju seorang kusir yang dengan buas memukuli kuda pedatinya dan membela kuda itu. Atas dasar apa? Kita tebak saja: hasrat kebaikan di dalam tubuh manusia merupakan lawan tanding dari gerak kejahatan. Begitu seterusnya.

Doktrin agama sudah khatam membahas ini. Jihad terbesar adalah melawan nafsu. Nafsu sudah tentu berasal dari kata “nafs”. Lihat juga kata lain yang muncul dari kata ini, seperti nafas. Dia selalu berada dalam diri manusia dan menjadi bagian terpenting karena atas itulah manusia dapat dikatakan hidup dan mampu hidup. Jihad, sudahlah pasti bermakna perang dan tempur. Sekuat apapun manusia zaman modern untuk memerbaharui makna jihad yang lain yang lebih lembut, manusiawi ataupun lebih “beradab”, maka akan kembali lagi ke makna asalnya: perang, konfrontasi, konflik.

Politik adalah padang ilalang yang menjadi lokasi pertempuran itu. Tidak hanya antara kelompok moralis dan immoral, namun juga kelompok yang berada di tengah-tengah itu. Tapi, yang ditengah ini tak untuk dihitung. Dia tak menguntungkan untuk dijadikan bahan bahasan kekuasaan. Dia hanya setengah-setengah. Dalam kuasa, baik moral dan immoral, dibutuhkan kebulatan kekuatan, totalitas bukan parsial.

Manusia, walau mengejar dan memertahankan kuasa itu, mungkin akan mendebat sepaham apa mereka tentang kekuasaan yang sesungguhnya itu. Adakah ini hanya soal ketundukan semata? Dalam film 300 yang begitu kontroversial, Leonidas si Raja Sparta hanya diminta untuk menunduk di hadapan Raja Persia, Xerxes, sebagai tanda bahwa Sparta berada dalam kuasa Persia. Pasca penundukan, maka pihak superior dapat melakukan apa saja kepada subordinatnya. Kata “apa saja” seakan menjadi penunjuk awal, bahwa totalitas yang ada pada kekuasaan itu menyuratkan kebenaran pada perilaku Fir’aun: dia bisa bertindak apa saja.

Lihatlah pergelaran Pemilu 2014. Kita seolah berada dalam pasar politik ketika semua orang menjajakan dirinya untuk maju demi berkuasa. Dalam pentas Pemilu 2014, sama seperti pemilu di belahan dunia manapun, setiap kandidat, calon legislatif dan senator, serta elit eksekutif, berkerumun di kaki institusi kekuasaan. Mereka tidak mengantri, melainkan sedang berebut. Bila yang kita maksudkan kuasa adalah kemampuan untuk berbuat apa saja, maka tentulah kuasa itu memang layak untuk diperebutkan. Dan karena hanya orang merdeka saja yang mampu berbuat “apa saja”, maka kuasa, dalam perspektif ini, layak menjadi tujuan. Dia begitu mulia.

Tapi di sini, di Indonesia, politisi telah merendahkan martabatnya begitu rendah. Kabar yang menyatakan kalau mereka berpolitik cuma untuk mengharapkan gaji seorang anggota dewan yang belasan juta, fasilitas negara nan gratis, sebutan “Yang Terhormat”, seakan-akan tak terbantahkan lagi. Atau mungkin untuk memasukkan kepentingan pragmatisnya kepada si kepala daerah ketika menyusun kabinet pemerintahannya dalam bentuk jabatan-jabatan kedinasan. Atau bisa saja sekedar ingin memasukkan namanya dalam catatan lembaran negara sehingga sejarah negeri tetap mengingat nama itu.

Serta-merta, kaum moralis menyerukan agar pertarungan politik mestinya diperuntukkan untuk kebajikan dan kebaikan banyak orang. Tapi bukankah seruan seperti ini sudah sering sekali dianggap lelucon? Bukankah di pentas itu, masyarakat memersaksikan pilihan-pilihan politik ditransaksikan dengan lembaran-lembaran bergambar Soekarno-Hatta. Bagaimana mungkin kebajikan bisa bercampur dengan transaksi politik uang? Bagaimana bisa politisi membantah tidak melakukan politik uang padahal yang menyatakan itu justru masyarakat yang disodorkan uang politisi tersebut?

Politik uang ibarat rayap yang menghancurkan sendi-sendi kayu sehingga keropos dan rapuh. Bahwa ini menandakan kalau politik immoral telah memenangkan pertarungan sejak awal. Bahwa politik kebajikan seperti yang dengan semangat diserukan oleh kaum moralis, telah kalah bahkan sebelum bertanding.

Tragisnya, kita malah dipertontonkan impotensi dari penyelenggara dan pengawas yang seakan-akan tak ada obatnya. Bahwa mereka juga telah membangun satu lagi rezim yang memisahkan dirinya dengan masyarakat luas karena telah terseret arus politik immoral Indonesia. Bagaimana kita menyandarkan harapan kepada mereka-mereka yang sebelum duduk sebagai penyelenggara harus meminta dukungan terlebih dahulu kepada elit politik yang akan bertanding? Bagaimana kita harus menaruh harapan pada mereka yang mengawasi pemilu ketika billboard pengawasan pemilu, toh, didirikan oleh calon legislatif yang ikut dalam Pemilu 2014?

Tapi barangkali kita tidak cuma dihadapkan pada politik uang yang mengerikan itu. Kita juga disodorkan tafsir ganda soal hak-hak politik dan penguasa ekonomi yang berekspansi di dunia politik. Memang, adalah hak setiap orang untuk masuk berpolitik. Tapi adakah adil bila mereka yang masuk dalam politik ini ternyata telah memiliki kekuatan ekonomi yang tak mungkin ditandingi? Jelas, mereka yang mempunyai duit berlebih, dalam situasi politik uang yang merajalela, telah berada dalam pole position untuk memenangkan kekuasaan. Adakah ini adil bagi kelompok politik pribumi yang bokek? Bila demikian, ke pihak mana mereka akan menyalurkan aspirasi dan hajat politiknya?

Di depan mata kita, akibat yang diterima pribumi tak bermodal saat ini makin memerihatinkan. Tersingkir dari politik, mengalami pemiskinan, terusir dan terasing dari tanah kelahirannya sendiri.

* * *

Jalan menuju kuasa adalah satu hal dan substansi dari kuasa itu adalah hal lain. Namun, pasca 9 April mendatang, kekalahan politik kaum moralis makin niscaya. Toh, mereka sudah kalah sebelum bertanding. Lagipula, apakah saat ini masih ada kaum moralis? Bila jawabannnya nihil, mari nikmati saja kebengisan para fir’aun-fir’aun kecil ini, sekarang dan nanti. Tak usah ditangisi, nikmati saja. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s