Mimpi Rakyat Sejahtera


sketsa miskinOrang Indonesia punya mimpi; sejahtera. Tidak muluk-muluk sebenarnya. Sudahkah itu terealisasi? Sebagian. Sebagian ini pun mesti diperpanjang lagi debatnya; masih sebagian kecil dan bukannya sebagian besar. Kalau ceritanya adalah masih sebagian kecil saja yang sejahtera, maka sudah terjadi kesenjangan ekonomi dalam skala yang cukup masif. Dan itu berarti mimpi belum terealisasi.

Saya tak ingin mengajukan data-data statistik soal ini. Bukan tak perlu, tapi kadang-kadang statistik membuat orang cenderung berpola pikir kuantitatif dan kemudian melihat manusia hanya dalam hitung-hitungan angka di atas kertas. Dia penting, tapi tidak untuk tulisan ini. Beberapa orang malah terpaksa menghitung ulang hitungan statistik angka kemiskinan di Indonesia karena ditengarai tidak tepat. Itu kalau masih berprasangka positif bahwa tidak ada manipulasi angka statistik di sana. Pernah, masyarakat dihebohkan oleh perbedaan angka kemiskinan versi pidato kenegaraan Presiden RI di depan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan versi bawahannya, Badan Pusat Statistik. Angka itu kemudian dikoreksi. Peristiwa itu memang sudah lewat tapi, ya, membekas.

Gambaran saya soal kesenjangan ini sederhana saja; soal jualan politik. Kalau jualan elit politik pada pentas pemilihan umum ataupun pemilihan kepala daerah masih seputar “penyediaan tenaga kerja”, “mengurangi pengangguran”, “mengentaskan kemiskinan”, dan lain-lain yang senada dengan itu, adalah itu di antara indikasi bahwa elit merasa hal tersebut merupakan jualan paling laku di tengah-tengah masyarakat yang kondisinya memang begitu.

Kalau masyarakatnya sudah sejahtera, tentulah jualannya tidak itu lagi. Bisa saja begini: “Pilih saya dan saya berjanji akan membuat Anda berlibur ke Bangkok Thailand sebulan suntuk”. Atau mungkin begini; “Kalau Anda pilih saya, maka saya akan sekolahkan anak-anak Anda ke Amerika Serikat, Inggris dan Republik Rakyat China”. Jadi, bila sudah sejahtera, tentu jualannya pun tidak lagi pada kebutuhan pokok rakyat, melainkan akan sudah naik tingkat ke kebutuhan tertier, kebutuhan lapis ketiga yang pada dasarnya diarahkan pada bagaimana masyarakat memola gaya hidupnya alias lifestyle.

Jadi, bagaimanapun canggihnya suatu pemerintahan ingin membungkus soal ketidaksejahteraan ini, mudah-mudahan akan terbongkar dengan sendirinya.

Tapi, tulisan ini belum lagi selesai. Klausul penting dari Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 yang bercerita soal kesejahteraan itu agaknya yang krusial. Di sana ada kata “umum”. Dalam kata “kesejahteraan umum”, kita bisa berbeda pendapat; apakah “umum” itu merupakan keterangan tambahan (pelengkap) dari kesejahteraan ataukah dia merupakan objek. Kita bisa mengajukan pertanyaan, mengapa para penyusun Pembukaan UUD 1945 itu tidak memakai kata “rakyat” saja sehingga menjadi “untuk memajukan kesejahteraan rakyat”? Apalagi, kata “rakyat” dalam pembukaan UUD 1945 telah diulangi hingga beberapa kali.

Kita bisa berasumsi, ada posisi instransitif  bahwa kata “rakyat” memang tak perlu dimunculkan atau disebutkan lagi karena kepastian objek kesejahteraan yaitu rakyat. Karena itu, kecenderungan kata itu lebih pada menerangkan mengenai kondisi kesejahteraan tersebut. Seandainya kita memakai kacamata metodologis, maka kesejahteraan bukanlah sampel-sampel yang mampu mewakili satuan universum populasi. Dia bercerita soal totalitas yang mengharamkan eksisnya seorang yang tak sejahtera. Di sana ada kisah pedih penderitaan rakyat yang pernah dijajah oleh bangsa-bangsa yang berbeda; Eropa (Inggris, Portugal, Belanda) dan Jepang. Ah, memang, memori kita cukup pendek. Kini kita suka benar memuja bangsa-bangsa penjajah ini.

Kesejahteraan, dengan demikian, tidak bisa digeneralisasikan, apalagi dalam kata-kata yang begitu eufimistik, manipulatif maupun bermakna totalitas. Ketika kita membaca kalimat seperti ini “pertumbuhan ekonomi cukup tinggi”, kita seakan-akan digiring pada tafsir bahwa tingkat kesejahteraan kita sudah oke-oke saja. Kalaupun belum oke seratus persen, tapi trennya cukup okelah, mungkin begitu. Lagi, misalnya kita membaca kalimat “rupiah dan IHSG menguat” kita pun langsung terpesona bahwa kita sedang berada dalam trek kesejahteraan. Saya agak kaget ketika suatu media menuliskan dengan sangat optimis, bahwa akibat pencalonan seseorang gubernur menjadi calon presiden baru-baru ini mengakibatkan rupiah dan IHSG menguat. Saya pun jadinya mencari-cari, jangan-jangan nantinya ada pula media yang memberitakan kalau ada faktor penghubung antara majunya seorang kandidat dengan tren turunnya angka kemiskinan. Contoh judul beritanya mungkin begini: “Si Anu dicalonkan, angka kemiskinan cenderung turun.”

Nampaknya ada kelatahan. Kalaupun momen politik dapat menjadi salah satu pemicu peristiwa ekonomi seperti pasar modal, namun reaksi pasar mungkin terjadi pada peristiwa yang pasti dan berpengaruh pada kebijakan. Namun, bukankah peristiwa perintah pencalonan kandidat tidak memberi kepastian apapun? Bahkan, si calon ini pun belum bisa disebut calon karena legalitas pencalonan oleh penyelenggara pemilu belum ditentukan. Jadi reaksi pasar itu terjadi karena apa? Untunglah, masih ada media yang sehat dan memberitakan secara objektif bahwa penguatan rupiah dan IHSG itu lebih karena faktor ekonomi, bukan politis peristiwa pencalonan seseorang menjadi capres.

Elit dan para hulubalangnya (dari kelompok manapun itu), sudah terlalu sering memertontonkan kesenjangan antara fakta dan realita. Ketika hanya ada sebagian kecil orang yang sejahtera dan bahkan tingkat kesejahteraannya itu sangat jauh jomplang dengan kelas menengah dan bawah, maka itu bukanlah karena hukum alam semata, tapi lebih karena ketidakmampuan suatu pemerintahan untuk melaksanakan perintah konstitusi. Pemerintahan yang melestarikan kondisi itu dan kemudian memanipulasi informasi adalah pengkhianat negara dan bangsa.

Pembukaan UUD 1945 sudah menegaskan tentang “kesejahteraan umum”, itu artinya semuanya, totalitas. Kesejahteraan umum tidak bisa digeneralisasikan, walaupun di negara ini nantinya hanya tinggal satu saja orang miskin. Dia cita-cita yang tak pernah berhenti. Atau katakan saja sebuah mimpi. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s