Politisasi (Pemeluk) Agama


ADALAH hal yang muskil untuk soekarno 1menghilangkan ideologi agama dalam partai politik di Indonesa. Dorongan agama merupakan salah satu yang utama ketika orang melihat politik. Bila seseorang melandaskan hidupnya, katakanlah, pada ayat yang berbunyi: amar ma’ruf nahi mungkar, maka adalah sebuah kepastian kalau itu hanya bisa dilakukan secara politik. Cara sosial maupun budaya, tidaklah mencukupi menanggung beratnya perjuangan untuk menegakkan ayat tersebut.

Untuk menyeru kebaikan, mungkin bisa dilakukan oleh siapapun. Namun untuk menentang kemungkaran maka kekuasaan adalah hal yang mutlak. Organisasi pelaku kemungkaran hanya bisa ditaklukkan dengan kekuatan. Ini karena kejahatan selalu dimulai oleh kekuatan dari kelompok jahat. Tidak ada pernah ada mereka yang jahat itu lemah. Mereka adalah orang-orang yang kuat, baik secara fisik, mental maupun organisasional.

Kalaupun dalam lembar-lembar sejarah diceritakan bahwa banyak para penjahat mempunyai cerita-cerita masa kecil yang lemah, maka kisah itu akan disambung dengan perjuangan melawan kelemahan mereka sendiri yang kemudian mengkristal menjadi kekuatan. Tanpa kekuatan dia tak akan mampu memaksa orang lain untuk menuruti kehendaknya. Kejahatan selakukan dilakukan dengan cara refresif. Paksaan terhadap orang atau sesuatu yang di luar dirinya yang dirasakannya lebih lemah darinya.

Doktrin Thomas Hobbes dalam karyanya Leviathan (1651): bellum omnium contra omnes, perang semua melawan semua, dapat dijadikan rujukan bahwa kehidupan manusia dideterminasi hukum alam. Manusia ditundukkan hukum alam yang menyatakan bahwa hanya mereka-mereka yang duduk di urutan rantai makanan paling atas-lah yang mempunyai kesempatan terbesar untuk survive, memertahankan eksistensinya di kehidupan alam yang liar dan kejam. Karena itu, tidak ada jalan bagi manusia selain bersepakat dengan sesamanya untuk mengendalikan penghancuran eksistensi diri ataupun kelompoknya masing-masing. Negara adalah hasil kesepakatan itu. Begitu kata Hobbes.

Adalah benar bila disebutkan politik tidaklah seharusnya direduksi hanya menjadi kegiatan politik praktis, seperti eksistensi dan aktivitas partai politik, kegiatan supra-infra struktur politik dan seterusnya. Itu artinya, segenap kelompok masyarakat yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan politik praktis pada dasarnya melakukan aktivisme politik ketika mereka sedang melakukan perubahan sosial atau bahkan untuk tidak melakukan perubahan sama sekali. Mendukung status quo juga adalah satu aktivisme politik kekuasaan.

Dengan demikian, politik dalam pandangan yang paling ekstrim adalah sebuah pertarungan. Politik dalam artian yang lebih radikal adalah sebuah ring di mana kemenangan dan kekalahan adalah sebuah tontonan yang wajib diperlihatkan. Dalam salah satu sudut pandang, bagi pengagum teori politik Machiavellinisme, maka Niccolo Machiavelli mendapatkan pembelaan. Machiavelli tidaklah salah karena dalam bukunya Il Principe (Sang Pangeran) itu dia hanya memampangkan apa yang terjadi di dunia politik dan bukannya apa yang diharapkan di dunia politik.

Mobilisasi Umat

Hal di atas memang membuat pertarungan politik kadang-kadang dilihat menjadi hal yang penuh dengan praktek-praktek kotor. Alasan bahwa agama merupakan hal yang murni, moralis dan etis, sering dikedepankan untuk memisahkan agama dan pemeluknya, dari politik.

Tapi ini sungguh menggelikan. Memisahkannya dari aktivisme politik, hanya menjadikan agama dan pemeluknya masuk dalam ruang hampa yang membuat agama kehilangan relevansinya sama sekali dalam kehidupan dunia. Posisi seperti ini memang sudah sering diungkapkan orang secara ilmiah.

Namun yang kita soroti adalah argumentasi politik di balik itu. Justru, sekularisasi agama dan pemeluk agama, merupakan kesengajaan pemanjat kekuasaan. Kampanye sekulerisme agama dari politik, menjadi kampanye yang paling penting bagi mereka-mereka yang khawatir terhadap mobilisasi pemeluk agama, terutama dengan kelompok agama mayoritas seperti Islam.

Kita patut curiga, bahwa potensi politik umat Islam yang sedemikian besar ini dikerdilkan karena dapat merubah tatanan politik yang radikal. Muaranya bukan sekedar kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh institusi kekuasaan menurut alam demokrasi, tapi juga mengancam eksistensi dari demokrasi itu sendiri. Padahal, bukan itu yang sedang terjadi.

Mereka-mereka yang berkampanye untuk memisahkan politik dengan agama, tidak sedang berada dalam ruang moral tertentu, tidak sedang memerjuangkan sesuatu yang murni dan baik untuk kita sebagai warga negara. Justru kita saat ini dipertontonkan oleh praktek tak bermoral dari kekuasaan yang dijalankan dalam rel demokrasi. Mereka yang berasal dari aliran politik yang konon “nasionalis” maupun pragmatis, justru memertontonkan kehidupan politik yang absolutely immoral. Bukan sekedar praktek perampokan negara seperti korupsi, bahkan mereka melemahkan negara sebagai sebuah kesepakatan sosial. Negara sudah lumpuh ketika institusinya tak berdaya menegakkan hukum, memerjuangkan keadilan dan kesejahteraan umum. Adanya kekayaan yang tak berimbang antara kelompok kaya dengan kelompok menengah dan bawah, merupakan bukti bahwa negara seperti Indonesia pada dasarnya sudah lumpuh, sudah jauh dari cita-cita kemerdekaan.

Kesengajaan politik untuk menjauhkan pemeluk agama ini, secara singkat, adalah manuver politik yang harus dilawan mereka-mereka yang masih perhatian terhadap kemurnian agama. Menjaga kemurnian agama ini menjadi pekerjaan yang pertama.

Pertanyaannya, mengapa agama perlu dijauhkan? Pertanyaan sekuler seperti ini mendapatkan jawaban ketika agama merupakan perangsang kehendak orang dalam berperilaku. Dia merupakan pandangan hidup yang tidak hanya sekedar mengatur soal etik dan moral semata yang hanya manis dalam pelajaran di bangku-bangku sekolah. Agama punya dogma, doktrin sekaligus perintah untuk melakukan sesuatu.

Kajian politik sudah lama meletakkan salah satu dimensi agama sebagai ideologi. Dan seperti yang sama-sama dapat dipahami, ideologi merupakan modal paling penting dalam menggerakkan tak hanya individu melainkan kelompok sosial dan masyarakat umum. Karena itu, atas nama agama, maka potensi politik dapat dihimpun menjadi sebuah kekuatan yang maha dahsyat. Itulah alasan mengapa dalam sejarah dunia, terutama sejarah Islam, disebutkan bahwa gerakan dan ekspansi politik di masa-masa awal Islam yang dilakoni oleh Muhammad dan Khulafaur Rasyidin, digerakkan oleh iman Islam. Dan sejarah juga menceritakan, bahwa gerakan agama itu tidak hanya dimonopoli oleh Islam. Adagium gold, gospel and glory, yang dilakoni oleh pemeluk Kristen telah membuat orang Eropa menjelajahi sekaligus memperluas kekuasaannya di dunia.

Memang, pekerjaan yang harus dilakukan pertama kali justru kepada kelompok dan orang yang mengaku agamis tapi mempraktekkan hal yang bertolak belakang dengan moral agama. Itu merupakan pekerjaan pertama yang harus dilakukan dengan masif. Pekerjaan lain adalah mendekatkan politik kepada simbol-simbol agama seperti masjid, pendidikan dan pemuka-pemuka agama.

Mereka yang berkedok agamis, sangat tahu persis agama merupakan jualan politik paling menjanjikan. Namun, masyarakat, toh, sudah rasional untuk melihat mana-mana individu dan kelompok yang hanya mengatasnamakan agama tapi perilakunya jauh dari moral agama. Karena itu, penting untuk disosialisasikan kepada masyarakat adalah pembeberan track record yang terang-benderang dari mereka-mereka yang sesungguhnya hipokrit ini, secara terus-menerus. Tentu, tidak sekedar hukuman sosial, atau mungkin sematan kata “dosa”, yang patut diganjarkan kepada individu dan kelompok yang memanipulasi agama ini dalam bingkai hukum positif Indonesia.

Itu artinya, dalam riil politik maupun dari segi kajian, mobilisasi pemeluk agama sesungguhnya tidak memiliki arti negatif. Pemeluk agama mempunyai hak yang sama untuk memerjuangkan agamanya masing-masing. Karena bila pemisahan antara agama dan politik dilakukan atas nama nilai-nilai demokrasi, bukankah sesungguhnya demokrasi juga telah secara sadar membunuh dirinya sendiri? (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s