Eksistensi Negara


Pasca reformasi seperti sekarang ini, sebuah generasi bertanya dengan lirih tiga pertanyaan sekaligus: untuk apa pemilu? Untuk apa berpolitik? Untuk apa negara?

leviathanPertanyaan itu mungkin saja digurat dari kesenduan, kemurungan dan kemarahan. Si penanya dihadapkan pada makna yang seharusnya terjadi dan bukannya apa yang sedang terjadi. Dia membayangkan kalau akibat-akibat dari yang ditanyakannya itu (pemilu, politik dan negara) adalah surga. Karena itu sebelumnya dia telah setuju berpartisipasi, membubuhkan persetujuan untuk dibentuknya negara dan pemerintahan serta proses kekuasaan. Demokrasi dia setujui karena di situ manusia diumbang, dipuja sebagai pemilik kedaulatan.

Negara dalam hal itu dipandang sebagai realisasi keinginan, hasrat dan kehendak dari manusia pemilik kedaulatan. Tapi bukan yang baik-baik saja.

Dia juga diancam dalam kata “bila tidak”. Dia disandera dalam bilik ketakutan yang memertontonkan sirnanya eksistensi manusia sebagai pribadi dan anggota masyarakat. Dia mungkin membaca secarik kertas pemikir nan bijak yang menyebutkan, manusia itu cenderung mengikuti, tunduk pada determinasi alam dan hukum-hukumnya. Karena itu, walau dia kuat secara fisik, hal itu tidak dapat dianggap sebagai sebuah jaminan ataupun generalisasi bahwa dia akan terus eksis sebagai bagian dari alam. Akan selalu ada makhluk yang lebih kuat dan lemah. Kurang lebih serupa seperti cerita Thomas Hobbes dalam Leviathan: para manusia cenderung mengintai dan memakan manusia lain; bellum omnium contra omnes, perang semua melawan semua.

Karena kekhawatiran itu terus ada, maka sebuah kesepakatan mesti dirundingkan. Selain mendapatkan perlindungan, toh, dia juga berposisi sebagai pemilik kedaulatan. Si manusia mulai menghitung untung dan rugi. Dia menemukan, bahwa keuntungan lebih massif dari kerugian. Dia butuh perlindungan. Walau dia makhluk bebas, seperti sejatinya makhluk manusia dalam state of nature, tapi nyatanya dia butuh aturan. Mungkin bukan buat dia saja, tapi juga orang lain agar setiap orang tahu hak-haknya dan juga batas-batasnya. Dia butuh pengaturan.

Selain itu, negara nantinya ‘kan bisa mengkonsolidasikan potensi-potensi alam untuk kesejahteraan rakyat. Resiko akan selalu ada, tapi tidak sebanding dengan keuntungan yang akan dipungut. Sesuatu yang akan dibentuk itu nantinya menciptakan hak dan kewajiban. Negara terbentuk.

Tapi, ada yang luput dari Hobbes: kemutlakan negara. Negara sebagai entitas baru menuntut loyalitas tanpa pamrih. Negara bahkan berhak memungut bagian dari penghasilan si manusia. Negara sebagai ciptaan manusia lantas menjadi begitu digdaya. Si pemegang kekuasaan negara kemudian dicurigai bertindak di luar kesepakatan dan terciptalah jurang antara rakyat dengan negara. Negara menjelma menjadi kekuatan eksklusif, lebih kuat dari rakyatnya. Berkaca kepada wajah negara, si manusia diperlihatkan bayangan rakyat dihisap; sebuah pergelaran ketidakdilan. Di benaknya pun tumbuh sebuah antonim: keadilan.

Keadilan kemudian hanya degup yang hidup pelan-pelan. Kalaupun dia bersuara, volumenya lirih seperti bisikan. Tapi sekecil apapun dia, toh tetap hidup. Yang begini ini menjalar juga diam-diam. Ketidakpuasan terhadap negara seperti ini selalu bisa dibaca dalam sejarah. Orang-orang sosial kadang menyebutnya deprivasi relatif, ketidakpuasan yang membuncah di kalangan rakyat. Negara tahu soal itu sedalam-dalamnya. Tapi dia kuasa dan salah satu kekuasaan yang dimilikinya adalah kemampuan untuk ingkar. Dia ingkar walau dia dilingkari oleh konstitusi yang berisikan pasal-pasal mengenai kesepakatan dan niat-niat rakyat untuk membentuk negara.

Controlling the power, seperti yang diniatkan dengan romantis oleh Montesqiue, kini hanya menjelma menjadi bentuk lembaga bukan substansi. Negara pada dasarnya seperti Leviathan, sosok raksasa yang meminta dan menuntut kekuasaan mutlak pada dirinya. Negara adalah abadi, tidak bisa berubah apalagi diubah.

Pemerintahan tidak akan pernah bisa membubarkan negara karena dia adalah predikat dari negara. Dia terikat pada positive law yang diteken oleh negara. Tapi di sampingnya ada natural law, yang disebut-sebut dengan aktif di antaranya oleh Hobbes dan Thomas Aquinas. Natural law berlaku universal sementara positive law lebih partikular. Dalam satu satu dimensinya, natural law dipandang sebagai aturan umum yang melarang setiap manusia untuk melakukan kerusakan terhadap hidupnya. Juga bisa berarti setiap manusia punya kecenderungan untuk mengusahakan perdamaian untuk mempertahankan hidupnya.

Di bilik itu, ketika ketidakadilan kasat mata, mungkin selalu terselip kata “revolusi”. Paling tidak, kalau kita tidak pernah lagi melihatnya di masa kini (mungkin kita bisa berdebat panjang soal revolusi di Afrika dan Timur Tengah yang akhir-akhir ini diberitakan “sedang” terjadi), dia memang pernah ada, kok. Misal, kalau yang dimaksudkan itu seperti pada kata “Revolusi 1945”, berarti Indonesia pun pernah juga bukan? Dalam ilmu politik, istilah the right of revolution itu juga sudah termaktub. Ini didefinisikan sebagai hak rakyat untuk membubarkan pemerintahan yang dirasakan bertentangan dengan kepentingan rakyat. Bangsa Amerika dan Perancis sering ditulis punya klaim tersendiri soal hak revolusi. Pada dasarnya, dia eksis.

Sayang, hak revolusi itu kini sudah masuk lemari pejoratif. Banyak sematan kepadanya, mulai dari tak relevan, mimpi di siang bolong dan seterusnya. Sesungguhnya memang tidak demikian. Di sisi lain, ejekan kepada kata “revolusi” itu paling tidak menandakan kekhawatiran abadi dari negara, apalagi kalau di belakangnya ditambahi kata baru misalnya “revolusi politik”. Negara bisa runtuh.

Nah, natural law pada awalnya menjadi basis kontrak sosial pembentukan negara. Jangan lupa, dia juga bisa menjadi basis meruntuhkan negara.

Kira-kira, seandainya Anda berkeinginan untuk menjawab pertanyaan di awal tulisan ini, bagaimana jika pertanyaan lanjutannya akan seperti ini: “bagaimana seandainya untuk sesaat saja kita tidak punya negara”? Setelah itu, sambungan pertanyaannya mungkin begini: “pernahkah Anda untuk sesaat saja merasa tidak punya negara?” (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s