Bila Pengusaha Bicara Orang Miskin


poor2SAYA membayangkan sekelompok orang dengan perut-perut yang kenyang sedang membahas orang-orang miskin. Apakah orang miskin itu lapar, kira-kira tak perlu dipertanyakan lagi bukan?

Pada event Indonesia Investor Forum 3 di Jakarta Convention Center pada penghujung Januari 2014, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, bicara “keras” soal kemiskinan yang melanda negeri ini dan ini dapat menjadi catatan yang menarik.

Disebutkan, (konon) saat ini sekitar delapan juta penduduk Indonesia yang menganggur dan 40 juta orang Indonesia yang disebut “setengah menganggur”. Pekerja di Indonesia kebanyakan di sektor informal 65%, 35% formal. Di kancah internasional, justru terjadi kebalikannya, 70%-80% berada di sektor formal, sisanya di sektor informal.

Apindo menyebutkan, tiap tahun 2,5 juta orang Indonesia membutuhkan pekerjaan. Bila pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya dalam kisaran 6%, pemerintah hanya bisa menyerap 1,5 juta tenaga kerja. Jadi, sisanya sekitar satu jutaan orang tidak kebagian. Bila memakai logika Sofjan Wanandi, sisa satu juta orang itu tadi, seperti yang dilansir pemberitaan, “akhirnya demo-demo”.

Solusi Apindo adalah pemerintah perlu mendorong peningkatan investasi agar mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang luas. Investasi dari luar dibutuhkan karena dana pemerintah tidak cukup sebab banyak dipakai untuk subsidi. Mereka menyebutkan, pada 2014 saja sekitar Rp 50 triliun akan digelontorkan untuk subsidi Sistem Jaringan Sosial Negara (SJSN). Subsidi desa yang Rp 1,4 miliar per desa juga dipersoalkan. Jadi, karena pemerintah tak bisa diandalkan untuk memperluas lapangan kerja, modal dari luar negeri sangat dibutuhkan. Kira-kira begitulah.

Bandingkan dengan fakta berikut ini: dana yang dipunyai pemerintah itu juga berhadapan persoalan kronis yaitu kebocoran anggaran. Dalam pertemuan antara presiden dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada acara penandatanganan komitmen bersama peningkatan akuntabilitas keuangan di Kantor BPK pada 22 Januari, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mewanti-wanti agar jangan ada anggaran yang bocor. Pasalnya, kebocoran 1% saja dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencapai Rp 1.842 triliun itu tentu nilainya sudah triliunan rupiah.

Jadi, sebenarnya sudah klop dengan logika Apindo: pemerintah sedang tidak bisa diandalkan dan mau tak mau kita harus bergantung dari investasi pihak luar. Namun jangan lupa, selain korupsi, Indonesia juga dihadapkan dengan kondisi utang luar negeri yang begitu digdaya, Rp 3.148 triliun! Itu hampir dua kali lipat dari nilai APBN Indonesia.

Mungkin persoalan ini hampir mirip dengan kondisi kita di periode awal Orde Baru. Latar peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) 1974 mungkin bisa jadi rujukan. Waktu itu bantuan dari Jepang dipersoalkan, padahal Indonesia sangat butuh modal investasi. Kerusuhan melanda. Demo akhirnya berdampak pada dinamika sosial politik semata. Bagaimana soal kebijakan ekonomi? Saya bukan ahli ekonomi, tapi mungkin bisa diukur dengan fakta bahwa hingga kini orang Indonesia sungguh-sungguh akrab dengan produk-produk dari Jepang. Entah mana yang benar memang, apakah kita diuntungkan dengan investasi dari luar ataukah malah kita menjadi pasar yang cukup luas dan menguntungkan bagi pihak asing, sementara kita cukup puas hanya jadi buruh.

Persoalan ini cukup ironis, karena hingga kini, toh, jargon “mencintai produk dalam negeri” masih terus dikumandangkan oleh pemerintah. Ini saja sebenarnya sudah mengindikasikan bahwa kita tidak cukup berkuasa untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jelas, kebijakan trickle down effect menjadi pemenang waktu itu. Konglomerasi tercipta dan itu menjadi penyangga sebuah orde yang kemudian dikoreksi sewaktu reformasi 1998.

Kini, pada 2014 persoalan politik akan lebih mendominasi daripada soal-soal ekonomi. Di masa Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif 2014 itu pula persoalan kemiskinan dan pengangguran akan menjadi jualan paling laku untuk memikat hati rakyat. Karena itu, apa yang dilontarkan Apindo seperti disebut di atas perlu disimak bersama-sama.

Dengan berprasangka apa yang diungkapkan Apindo adalah untuk bangsa dan negara, saya kira, dari statemen Apindo soal pengangguran dan kemiskinan terselip sebuah kekhawatiran pada 2014 dua hal ini menjadi semacam rumput-rumput kering yang sangat mudah dibakar. Apakah itu untuk kepentingan politik ataukah memang terbakar dengan sendirinya. Stabilitas politik dan ekonomi menjadi perhatian kita bersama. Tentu kita tidak menyuruh para pengusaha untuk miskin dulu sehingga bisa merasakan kegetiran rakyat yang memang benar-benar miskin. Siapa pula yang mau miskin? Karena itu, walau menurut Apindo pemerintah sudah tidak lagi bisa diandalkan, mau tak mau memang, sebagai pemegang amanah dari rakyat, pemerintah harusnya bisa mengendalikan negara ini dalam kondisi yang mungkin saja sangat-sangat rawan.

Namun, justru dari sisi itu pula, seperti yang sudah dilontarkan Apindo, kita berhadapan dengan kondisi yang berpotensi cukup mengkhawatirkan. Bila Apindo mengatakan dari sisi ekonomi pemerintah sudah tidak bisa lagi diandalkan, maka di ranah sosial politik kita juga dihadapkan pada sebuah pemerintahan yang sedang banyak dipertanyakan orang. Bukan hanya pada pemerintahan nasional tapi juga pada pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota.

Kita berharap, SBY tidak hanya harus lengser secara konstitusional, namun juga mesti menyiapkan dirinya untuk menjadi negarawan yang mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan kelompoknya. Mudah-mudahan, SBY yang juga sedang merangkap sebagai ketua umum partai politik dapat bersikap seperti kita harapkan. Mari kita berdoa untuk itu.

Sementara di tingkat pemerintahan lokal, kita juga wajib memberi catatan. Bila di Sumut kita mendengar soal gosip-gosip bahwa “pecah kongsi” antara pasangan gubernur dan wakil gubernur semakin niscaya, kita berharap itu sekadar gosip. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s