Akil


Mungkin, kata akil ada sangkut-pautnya dengan akal yang diambil dari akar kata ‘aql. John Esposito, dalam The Oxford Dictionary of Islam, menyebutnya dengan intellect, yang dalam beberapa pendapat dikatakan sebagai kemampuan pikiran manusia untuk dapat membedakan yang benar dan nyata ataupun untuk memecahkan masalah. Filosof Yunani menggunakan kata nous yang ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Latin menjadi intellectus (berasal dari kata intelligere) dan kemudian dialihbahasakan ke Perancis menjadi intelligence. Dia menjadi semacam “alat”. Dan terkadang dia juga bermakna kecerdasan.

Dalam kajian filsafat, khususnya klasik dan pertengahan, intellect atau nous adalah suatu hal yang dihubungkan dengan kemampuan manusia untuk tahu sesuatu. Sementara dalam dunia psikologi, intelek digunakan sebagai istilah yang menggambarkan kemampuan mental untuk dapat memahami. Cukup sampai di situ.

akilKini, kata akil semakin membumi. Gara-garanya, Akil Mochtar, mantan Ketua Mahkamah, menjadi headline. Ada pula yang bercanda, kalau masih kecil kemudian mimpi basah namanya “Akil Baligh”, kalau sudah besar tertangkap basah namanya “Akil Mochtar”.

Tuduhan kepada Akil Mochtar memang sudah melampaui peristiwa hukumnya sendiri. Padahal, si empunya nama, Akil Mochtar, belum tentu bersalah. Tapi siapa yang peduli? Presumption of innocence ‘kan memang bukan milik masyarakat awam, konon lagi menerapkannya.

Kalau dihubungkan dengan ketidakpuasan masyarakat terhadap penyelenggaraan negara, maka ini menjadi titik masuk sebuah kesimpulan, bahwa memang tak ada yang beres dengan pejabat-pejabat negara. Everybody is corrupt. Tapi, konon, ada pula yang menuduh kalau jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Istilahnya jumping conclusion. Belum tentu, sebuah peristiwa dapat menjadi generalisasi terhadap sebuah fenomena.

Tapi apakah itu ada gunanya? Tidak juga. Toh, masyarakat setiap hari telah dipertontonkan kebobrokan penyelenggaraan negara. Karena masyarakat luas hanya diletakkan dalam kerangka yang kecil, maka pejabat yang mereka nikmati layanannya (kalau ada) ya, kecil juga. Kelas-kelas “aparatur”-lah. Nah, di titik itu, masyarakat telah berulang kali, tidak sekali dan tidak hanya hari ini, menikmati suguhan praktek korup penyelenggara negara. Mulai dari pengurusan administrasi di tingkat kepala lingkungan, kelurahan hingga bahkan mengurus surat nikah. Anda bisa bayangkan, pernikahan itu adalah lembaga sosial yang menjadi wadah generasi penerus, nah, bila di tahapan itu saja sudah kacau balau, maka apa jadinya generasi penerus nanti?

Korupsi sudah menjadi tradisi. Bahkan kalau tidak ada “salam tempel” kepada aparatur, itu dianggap ganjil, tidak tahu “adat”, tidak pernah bergaul dan seterusnya. Itulah jangan-jangan yang menjadikan kita berprasangka kalau praktek korupsi telah dihalalkan, permisiveness kata ahli-ahli sosial. Kita tidak tahu manakah yang lebih dominan, apakah masyarakat permisif terhadap praktek korupsi itu gara-gara karena tingkat kejenuhan ataukah malah korupsi itu sudah menjelma menjadi kebutuhan.

Alhasil, ketika seseorang yang dianggap sebagai wakil Tuhan telah menyelewengkan amanah yang diberikan, maka caci-maki yang menjadi niscaya itu, kita anggap tidak terlalu luar biasa. Itu tidak ajeg. Percayalah, caci-maki itu hanya sebentar saja, temporer, musiman. Nanti, kalau ada peristiwa yang lebih hebat lagi, misalnya saja Presiden tertangkap tangan, Akil Mochtar pasti tenggelam dari pemberitaan dan perbincangan di kedai-kedai kopi. Begitu terus.

Dulu, begitu hebohnya skandal Century, lalu habis oleh pemberitaan mengenai skandal Nazaruddin. Disusul gempitanya korupsi impor sapi oleh Presiden PKS. Itu belum lagi dengan korupsi-korupsi kepala daerah dan pejabat-pejabat negara lainnya. Bisa kita analogikan kalau dalam setiap peristiwa korupsi caci-maki meruak, maka belantara Indonesia ini sudah full cacian.

Tapi ‘kan, praktek korupsi itu tidak habis-habis juga. Nah, itulah yang membuat kita berprasangka kalau jangan-jangan korupsi telah menjadi kebutuhan. Skalanya yang masif tidak hanya menjadi fakta sosial tetapi lebih dalam dari itu sudah menjadi tradisi, kultur, adat-istiadat baru di tengah-tengah Indonesia masa kini. Kalau uang sogok tidak diberikan, jangan harap urusan lancar. ‘Kan begitu.

Bila korupsi telah menjadi kebutuhan, maka ada kemungkinan telah terjadi perubahan baru mengenai korupsi. Makanya, ketika kasus Akil Mochtar ditarik ke ranah yang lebih “idealis” kita boleh jadi pesimis. Misalnya diskursus soal putusan-putusan MK, bagi-bagi di kalangan hakim MK, pembubaran MK, dan lebih jauh dari itu, kepercayaan yang rendah terhadap penyelenggara negara dan bahkan negara itu sendiri.

‘Kan kita sering dininabobokkan pada wacana reformatif yang ditelurkan pasca meledaknya suatu kasus. Karena tidak ada action berikutnya dan hasilnya pun sama saja, yang diterima masyarakat justru pseudo-reformatif, reformasi yang seolah-olah, pura-pura. Lha, bobroknya jalan terus, kok.

Jadi, kalau yang mau sederhana saja, sesungguhnya tidak repot-repot. Fakta versi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebutkan, Akil Mochtar tertangkap tangan. Nanti ‘kan KPK mesti membuktikan itu; apakah itu benar praktek suap-menyuap atau malah hasil karang-mengarang saja.

Permasalahan kita bukan itu di sini. Seperti yang ditulis di awal tadi, akal (intelek) menjadi pembeda yang benar dan yang nyata. Pertanyaannya, ketika korupsi sudah “diizinkan”, dan lantas menjadi kebutuhan, adakah dia bermakna kalau korupsi itu sudah lazim? Kalau memang sepakat, maka lebih baik kita letakkan saja hal itu di konstitusi UUD 1945. Dan bila itu terjadi, maka si mantan ketua MK itu jelas tidak bersalah. Dia hanya mengikuti akalnya saja. Seperti namanya, Akil. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s