Menyucikan


suciMenyucikan, bila meminjam kata lain, adalah purifikasi. KH Ahmad Dahlan bergerak tegas soal ini dan itu untuk kalangan Muhammadiyah tidaklah perlu untuk diulang-ulang lagi. Dia sudah tergambar dalam seluruh gerak organisasi. Kalaupun ada kritik soal itu, bisa kita maklumi sebagai usaha baru untuk mencari cara-cara untuk purifikasi di tengah-tengah ruang dan waktu yang sudah berbeda pula.

Purifikasi adalah salah satu tema sentral dalam Islam. Sewaktu kecil, guru-guru kita sudah mengajarkan, tidaklah sah shalat bila tidak bersuci terlebih dahulu. Juga ada hal-hal seperti istinjak, bersuci dari hal-hal yang kotor seperti najis. Alhasil, sebagai aktivitas pendahuluan, dia memulakan segala sesuatu.

Agaknya demikian pulalah dengan Ramadhan yang sudah kita tinggalkan baru saja itu. Benarlah bila ada kesedihan menyertai berlalunya Ramadhan. Bulan itu sungguh penuh rahmah, tidak hanya ampunan. Namun, seperti yang juga sering disebut, Ramadhan juga adalah bulan suci. Dia juga bisa dipahami sebagai bulan di mana makhluk bernama manusia menyucikan dirinya. Tidak hanya dari dosa, tapi juga nafsu. Karena itu, Ramadhan tidak hanya mengantarkan kesedihan ketika meninggalkannya, tapi juga optimisme untuk menatap sebelas bulan pasca Ramadhan. Optimisme karena si manusia tadi telah bersuci di bulan Ramadhan sehingga dia bersih dan tak ragu untuk melangkah ke urusan yang berikutnya. Optimisme agaknya menyuratkan sebuah gerak yang terus memacu, penuh akselerasi dan karena berasal dari Ramadhan, toh, dia juga mewariskan kehati-hatian. Bukankah justru itu yang disuratkan oleh Ramadhan sebagai pengantar bulan Syawal yang juga sering disebut “bulan kemenangan”?

Gerakan purifikasi yang dilontarkan KH Ahmad Dahlan lebih seratus tahun lampau itu, mungkin bisa dipahami salah satunya dari sudut itu. Alhasil, Muhammadiyah yang hidup di Indonesia, tercatat hingga kini sebagai satu-satunya organisasi keislaman terbesar di dunia yang memiliki jaringan, kader dan gerakan yang meliputi seluruh dimensi kehidupan. Alhamdulillah.

Tak pelak, ada tugas-tugas yang menyergap pasca Ramadhan. Kita pinjam saja kalimat mantan Ketua PP Muhammadyah, Prof H M Amien Rais, Tugas-tugas Cendekiawan Muslim. Sebagai kawah candradimuka kaum cendekia, kampus memegang posisi yang sangat urgen. Tidak hanya mencetak kaum intelektual tapi juga menentukan arah perkembangan dan kemajuan dunia sehingga kaum intelektual yang dihasilkan tidak terombang-ambing dalam perkembangan dunia masa kini yang cenderung sekuleristis: mengetepikan sisi religiusitas, menyingkirkan posisi Tuhan di atas muka bumi.

Kalimat yang terlalu optimis? Memang. Biarkan saja begitu. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s