Ghirah


emosiEmosi keberagamaan. Itu menjadi begitu penting mengingat derasnya orang-orang berkata soal dimensi rasionalisasi dalam kehidupan beragama. Di satu sisi, rasionalisasi dan intelektualisme, memang menjanjikan kemajuan Islam dalam segala bidang. Namun, tanpa emosi, tanpa rasa atau dalam bahasa lain “ghirah”, kehidupan menjadi begitu kering, terlalu kaku, rigid. Dalam bahasa yang lain, almarhum Umar Kayam, Guru Besar Sastra Universitas Gadjah Mada pernah berujar dalam sebuah dialog yang ditulisnya dalam novelnya Para Priyayi, “Tanpa basa-basi, alangkah keringnya kehidupan.”

Sesungguhnya, antara keduanya tak ada yang patut untuk dipertentangkan; rasionalisme dan emosi keberagamaan semestinya memang mempunyai fungsi komplemen, melengkapi satu sama lain. Emosi keberagamaan di satu dimensi dapat membawa fanatisme dalam kehidupan beragama. Tidak ada yang salah karena keyakinan memang membawa perasaan keterikatan yang begitu kukuh. Keyakinan itu kemudian menjadi identitas yang menjadi pembeda dengan yang lain. Timbulnya kebudayaan dalam Islam salah satunya ditunjang oleh emosi keberagamaan yang begitu kuat dari umat Islam.

Namun, fanatisme tanpa pengendalian tidak ada bedanya dengan taqlid buta, mengikut sesuatu tanpa reserve, tanpa pertimbangan yang sehat, logis dan argumentatif. Jadinya justru kontraproduktif dengan isyarat kemajuan yang diinginkan Islam. Islam menjadi kelihatan begitu kumuh dan jumud, serta orang-orang luar memandang bahwa Islam justru dipenuhi kemarahan, kecurigaan, prasangka jelek (suudzon) yang berlebihan terhadap kaum dan kelompok lain yang berbeda pemahaman. Muhammadiyah sudah lama melawan kondisi ini.

Sementara di sisi lain, begitu juga. Bila hanya kognisi intelektual yang diperturutkan justru membuat ibadah menjadi kurang bermakna. Benar tapi tak punya rasa. Dia menjadi hambar.

Tanpa iman dan ketaqwaan, maka ilmu menjadi bebas nilai sehingga membuatnya liar tak terkendali. Albert Einstein, dulu juga pernah menyadari kekeliruannya ketika dia menyarankan kepada Presiden Amerika Serikat agar dapat mengembangkan teknologi nuklir untuk dapat mengimbangi apa yang sedang dikerjakan dengan sangat serius oleh Jerman sebelum Perang Dunia II. Apa mau dikata, bom atom sudah terlanjur meluluhlantakkan Nagasaki-Hiroshima.

Kita butuh pengendalian diri, butuh keseimbangan. Tuhan menjadikan Ramadhan menjadi satu bulan kendali dari 11 bulan sebelumnya. Adakah sama nilainya antara satu bulan dengan 11 bulan? Tuhan sudah menjawabnya, bukankah Ramadhan lebih baik dari seribu bulan?

Mudah-mudahan amal ibadah kita diterima Allah yang Maha Kuasa. Amin. (*)

2 thoughts on “Ghirah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s