Purgatorio


purgatorioTujuan mencuci sebenarnya sudah jelas, membersihkan. Dari yang semula berselemak kotoran menjadi bersih. Bila semakin bersih, boleh jadi dia akan suci. Tidak ada lagi titik-titik noda, walau hanya sekedar noktah.

Karena itu mencuci adalah sebuah proses di antara kotor dan bersih. Kalau kotor dapat juga dikonotasikan dengan hal-hal yang buruk, maka “mencuci” adalah sebuah kata kerja agar yang buruk tadi menjadi baik. Mencuci menjadi sebuah proses negasi terhadap kekotoran sehingga kotor itu menjadi tidak eksis lagi. Jadi, sifat kata “cuci” tidak seperti memberi hijab atau pembatas. Atau katakanlah dia tidak seperti memberi topeng yang menutupi agar yang kotor tadi tampak bersih. Tidak, tidak begitu. Maksud dia mungkin lebih mirip seperti purgatorio, tempat perantara untuk penyucian segala dosa, seperti yang disebut Dante Alighieri dalam Divina Commedia.

* * *

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini aktif memakai Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, dalam membidik para koruptor. Paling gres ketika mobil di kantor PKS hendak di sita oleh KPK. Kabar soal ini agak menggemparkan. Si mantan Presiden Presiden, Luthfi Hasan Ishaq, dan juga komplotannya diduga melakukan praktek cuci uang dengan membeli barang berharga (dan mahal tentu saja) dan memberi hadiah kepada perempuan. Mungkin, berita itu kian menggemaskan karena dia melibatkan perempuan dalam praktek itu.

Bila kita cermati dari UU No.8/2010 itu, paling tidak ada tiga bentuk pencucian uang. Pertama, aktif, yaitu setiap orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, menbayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan uang uang atau surat berharga atau perbuatan lain.

Kedua, pasif, yang dikenakan kepada setiap orang yang menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana.

Ketiga, dikenakan pula bagi mereka yang menikmati hasil pencucian uang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya.

Tidak pidana yang dimaksud bisa berasal dari kejahatan korupsi, penyuapan, narkotika, psikotropika, penyelundupan tenaga kerja, penyelundupan migran, dan lain-lain hingga 26 item, sampai ke soal-soal seperti terorisme.

Persoalan ini memang begitu seriusnya. Kita tentu menyadari bahwa di dalam pasar yang luas seperti Indonesia ini, ada uang yang memang benar-benar legal dan ada pula yang hasil dari praktek illegal, serta ada pula yang dari illegal kemudian dirubah menjadi legal. Si Presiden Parpol tadi mungkin merasa jalan yang terbaik agar uang yang dinikmati dirinya dan kelompoknya tetap “halal”, perlu dicuci terlebih dahulu.

Persis seperti proses inferno-purgatorio-paradiso. Sayangnya, KPK tak punya tafsir yang sama dengan si Presiden dan kelompoknya soal purgatorio ini.  (*)

 

ilustrasi:
purgatorio canto – gustave-dore

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s