Polonia


polonia1Kita membanggakan sesuatu yang bukan milik kita sendiri. Bandara Polonia Medan, satu di antaranya. Dia bukan milik kita. Polonia adalah ejaan latin untuk Polandia, sebuah negara lain yang ada di Eropa. Bagi Baron Michalski, orang Polandia yang pada 1872 mendapatkan konsesi lahan dari kolonial Belanda, kawasan itu memang bukan untuk sebuah bandara. Dia menamakan perkebunan tembakau miliknya itu dengan sesuatu yang ada pada dirinya, mengingatkan dirinya pada asalnya. Dia adalah orang Polandia.

Seorang baron, salah satu yang bisa kita pahami adalah juga seorang tuan tanah, feodal, yang akan memberi identitas pada apa yang dimilikinya dan mengharamkan orang lain untuk bahkan menyentuhnya. Walau dia berhubungan dengan Belanda, namun si Belanda ini pun ternyata memang tak ingin merubah imej ataupun nama untuk kawasan itu. “Kawasan itu adalah Polonia,” mungkin dulu begitu kata orang Belanda setelah mereka mengambil alih lagi kawasan itu.

Dan hingga kini, ketika orang asing masuk ke Medan, Sumatera Utara, mereka sampai di sebuah kawasan yang para anak negeri ini masih suka memakai identitas yang diberikan oleh Michalski tadi: Polonia, bukan Medan. Benarlah Belanda memang menjajah kita.

* * *

Sepotong informasi mengenai pemberhentian operasionalisasi Bandara Polonia Medan, begitu menyentak. Konon, 25 Juli 2013. Kalau Polonia berhenti, tentu Bandara Kualanmu sudah harus beroperasional terlebih dahulu. Kabar ini pun, anehnya, diketahui dari informasi yang disebarkan oleh media di mana Menteri BUMN, Dahlan Iskan, menjadi pemiliknya. Tapi soal media ini tak penting benar.

Ini menerbitkan banyak pertanyaan-pertanyaan lanjutan, walau sedikit-sedikit ini akan membawa ke masa lalu juga. Bukankah sejarah Polonia dulu begitu sederhana? Dia hanya sebuah kawasan nan luas dan kemudian oleh Deli Maatschappij (Deli MIJ) milik kolonial Belanda ditunjuk sebagai areal landasan bagi sebuah Fokker kecil yang dipiloti seorang Belanda, van der Hoop. Itu memang tak jadi. Karena baru pada 1928, Polonia dibuka secara resmi. Landasannya pun darurat, hanya berupa tanah yang dikeraskan, namun waktu itu sudah bisa menampung enam pesawat udara milik KNILM.

Itu artinya, persoalan bisa saja sangat sederhana. Sebuah bandara, sejatinya adalah kawasan luas tempat mendarat dan terbang pesawat. Di masa modern tentulah ada perkembangan, namun itu tak menghilangkan substansi awal dari bandara. Karena itu, masyarakat pun heran, mengapa ketika dana sudah tersedia (dan sedikit lagi habis) Rp 4 Triliun, Bandara Kualanamu tak juga kunjung selesai?

Karena begitu sederhananya persoalan itu, maka masyarakat jelas akan menertawakan ketika lagi-lagi ada pemberitaan soal rencana operasionalisasi Bandara Kualanamu dan penghentian operasi Polonia. Dan kementerian BUMN, sebagai kementerian yang bertanggung jawab soal itu, mestinya tidak lagi mengulangi hal itu ke depan publik. Kalau memang mau beroperasional, ya, operasionalisasikan saja. Bila itu diulang-ulang terus, masyarakat sudah mencatat; itu informasi lucu. Bukankah penyebar hal-hal yang lucu adalah pelawak? (*)

 

ilustrasi:
kediaman Michalski (1870)
Tropenmuseum/wikipedia

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s