Ahimsa


ahimsaKuat dan lemah ditentukan orang berdasarkan dayanya. Kata sederhananya adalah tenaga. Satu prinsip fisika berujar soal dinamisasi gerak, semakin cepat gerak, daya yang ditimbulkan juga semakin kuat. Namun, dalam diam juga ada gerak. Orang-orang suka menyebutnya dengan “potensi”. Dulu, Mohandas Karamchand Gandhi, sering dipanggil Mahatma Gandhi, memopulerkan kembali istilah “ahimsa” yang secara harfiah berarti “anti kekerasan”. Salah satu wujudnya adalah perlawanan dalam diam. Melawan kolonialisasi Inggris, dia malah mengkampanyekan pemakaian produk asli India. Bukan dengan senjata, tapi dengan diam.

Film The Little Budha yang diperankan dengan baik oleh Keanu Reeves mengungkap perspektif lain soal ini. Dalam semedinya di bawah pohon di tepi sebuah sungai, dia belum menemukan apa-apa. Sehingga suatu hari lewatlah seorang pemusik dan gurunya yang sedang berlayar di atas rakit. Dia mendengar dialog antara keduanya. Si pemusik mengeluh dia tidak menemukan nada yang pas di atas senar gitarnya. Si guru tersenyum dan mengatakan, “Kalau terlalu kencang ikatan senarnya, dia akan putus, bila terlalu kendur senarnya tidak akan berbunyi.”

* * *

Demonstrasi kaum buruh boleh jadi sedang marak kemarin di seluruh dunia, termasuk di sini, kota Medan. Untunglah tidak terjadi apa-apa. Kota ini sudah punya pengalaman akan demonstrasi yang berujung anarkisme. Tapi memang, anarki terjadi tak pernah tanpa sebab. Dan anarkisme juga diceritakan bukan monopoli disebabkan oleh kaum buruh semata. Di negeri ini, tidak hanya kaum buruh yang “pandai” berdemonstrasi.

Substansinya adalah ada sesuatu yang diperjuangkan, dituntut oleh kaum buruh. Tuntutan terus dilaksanakan karena tuntutan itu belum terkabulkan. MayDay yang dulu bermula ketika pada 1 Mei 1886 adalah karena kelompok buruh di Amerika Serikat menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Mereka melawan eksploitasi.

Dan itu, kini menjadi seakan-akan abadi. Dia terus diperingati oleh kelompok pekerja hingga kini, dan mungkin juga di masa depan. Salah satu titik tuntutan, adalah meliburkan diri di tanggal ini. Dan beberapa waktu lalu itu berhasil. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diketahui sudah menyetujui kalau 1 Mei dijadikan sebagai Hari Libur Nasional. Ini berarti, selama Indonesia ada dan tidak ada keputusan politik yang kemudian membatalkannya, buruh diakui menjadi salah satu komponen penting dalam sistem politik ekonomi Indonesia. Bukan hanya ini tuntutan buruh, masih banyak lagi yang lain.

Namun, di sisi yang  lain juga ada kaum pemodal, pengusaha. Mereka juga punya tuntutan. Karena itu, pengabulan tuntutan kaum buruh jangan diartikan bahwa ada kemenangan. Kedua belah pihak –buruh dan pengusaha— seperti dua sisi koin. Satu pihak tak punya nilai bila tak ada sisi yang lainnya. Karena itu, pemerintah mestilah menunjukkan objektifitasnya terhadap kelompok yang selama ini seolah-olah berbenturan; buruh dan pengusaha. Tidak boleh bandulnya lebih kuat kepada pengusaha dan tidak boleh pula keberpihakannya terlalu memuja buruh.

Bila terlalu kencang, senarnya akan putus; bila terlalu kendur, senarnya akan tak berbunyi. (*)

ilustrasi:
Mahatma Gandhi mengunjungi pekerja di Darwin.
sumber: lancashiretelegraph.co.uk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s