Subsidi


subsidiOleh pemerintah, subsidi dibuat padanannya, yaitu bantuan. Bantuan, mengandung makna positif daripada negatif. Misalnya, dalam doa-doa setiap orang yang beragama, manusia selalu membutuhkan bantuan dari Tuhan. Dia juga mengandung pengertian bahwa sesuatu yang berat akan diringankan. Beban menjadi berkurang kadarnya.  Yang lemah menjadi kuat atau paling tidak sedikit kuat dan yang penting tidak lemah lagi. Sifatnya jadi melindungi. Begitulah.

* * *

Subsidi sering juga disebut subvensi. Bantuan keuangan dalam bentuk subsidi bisa datang dari suatu pemerintahan, namun istilah subsidi juga bisa mengarah pada bantuan yang diberikan oleh pihak lain, seperti perorangan atau lembaga non-pemerintah.

Dia juga difenisikan sebagai bentuk bantuan keuangan yang dibayarkan kepada suatu bisnis atau sektor ekonomi. Sebagian subsidi diberikan oleh pemerintah kepada produsen atau distributor dalam suatu industri untuk mencegah kejatuhan industri tersebut. Misalnya karena operasi yang merugi atau peningkatan harga produknya atau hanya untuk mendorongnya mempekerjakan lebih banyak buruh. Ini misalnya terjadi dalam kebijakan subsidi upah.

Subsidi bisa juga dianggap sebagai suatu bentuk proteksionisme atau penghalang perdagangan dengan memproduksi barang dan jasa domestik yang kompetitif terhadap barang dan jasa impor.

Namun selain positif, subsidi juga dapat mengganggu pasar dan memakan biaya ekonomi yang besar. Sudah lama didengungkan kalau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mendapat beban yang luar biasa berat terhadap adanya subsidi energi, baik kepada minyak maupun energi lain seperti listrik. Dikatakan, subsidi ini terpaksa dilakukan agar harga ekonomi sektor energi tidak langsung dirasakan oleh rakyat. Biasanya, indikator harga ekonomis tersebut adalah harga pasar internasional. Namun, lama-kelamaan, karena harga dunia tidak bisa dikontrol oleh pemerintah, kebijakan melakukan subsidi energi ternyata membebani APBN. Bila subsidi dicabut, otomatis harga terdongkrak.

Sehari sebelum Presiden SBY mengumumkan kebijakannya akan menaikkan harga BBM, pada Selasa (30/4), untuk seluruh jenis angkutan –mobil, sepedamotor, angkutan umum—rupa-rupanya International Monetery Fund (IMF) sudah mengeluarkan rilisnya bahwa ekonomi Asia cenderung mengarah ke krisis. Salah satu pasal yang dijadikan alasnya adalah kebijakan subsidi energi yang diberlakukan negara. Kata IMF, itu termasuk Indonesia. Berhubungan? Entahlah.

Namun, yang juga aneh adalah pemakaian kata “subsidi rakyat” tadi itu. Pasalnya, bukankah “uang pemerintah” itu sejatinya memang tak pernah ada? Bukankah yang ada dalam APBN (plus APBD) adalah uang rakyat seluruhnya? Kalau memang itu adalah uang rakyat, bukankah itu memang semestinya dipergunakan oleh dan untuk rakyat? Karena itu, akan janggal benar bila ada kalimat yang menyatakan begini: “pemerintah memberi bantuan atau subsidi kepada rakyat”. Lha, kok bantuan? Memangnya itu uang siapa?

Nah, kalau itu bisa disetujui, barulah demokrasi menjadi punya makna. Ini negara demokrasi bukan? (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s