Buron


fugitive1Dikejar-dikejar itu pasti tak asyik. Kecuali bila Anda yang laki-laki dikejar-kejar oleh perempuan, atau sebaliknya perempuan dikejar-kejar laki-laki. Itupun, mesti ada syaratnya juga. Misalnya, bila Anda tak sreg dengan yang mengejar, maka boleh jadi perasaan Anda jadi tak asyik. Tapi bila sebaliknya, bisa dibayangkan kalau pepatah lama yang mengatakan bagai pungguk merindukan bulan menjadi realita. Kita pun menjadi bahagia, senang, sukaria dan seterusnya. Tidak hanya itu. Dikejar-kejar tentu beda maknanya dengan hanya sekedar datang dan menghampiri. Ada intensitas yang beda.

Yang dikejar tentu adalah target. Memancangkan target tinggi tanpa mengetahui kapabilitas dari si pengejar, tentu akan dihadapkan pada kendala. Tapi tak apa. Hidup tanpa target, kata orang bijak, juga tak akan asyik. Tentu pula, kalau seperti dikejar-kejar rentenir atau debt collector tidak akan pernah asyik.

* * *

Indonesia adalah negeri yang luar biasa. Di sini, seorang mantan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) dan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, seperti Susno Duadji, tiba-tiba mengalami kondisi terbalik. Dari semula mengejar-ngejar penjahat, kini dia pula yang ditetapkan sebagai buron oleh kejaksaan. Entah mengapa, tidak hanya perasaan geli yang ada pada kita, tapi juga ironi.

Ini juga menandakan soal hukum di negeri ini masih lagi menjadi pertanyaan besar, super besar malah. Jangan lupakan bahwa Susno Duadji, melalui kuasa hukumnya, Prof Yusril Ihza Mahendra, pun punya argumentasi bahwa mereka punya landasan hukum untuk menolak “eksekusi” yang akan dilaksanakan kejaksaan. Artinya, masyarakat dihadapkan pada dua kubu yang sama-sama punya argumentasi hukum.

Ada dua persoalan yang melanda kita, soal kepastian dan penegakan hukum. Dari sisi bisnis ekonomi, dua hal ini merupakan prasyarat utama dari para pebisnis maupun calon investor untuk memulai ataupun merencanakan aktivitas bisnisnya. Di manapun begitu. Bila semakin tidak ada kepastian dan penegakan hukum, maka sudahlah jelas kalau bisnis yang akan dijalankan pun berada di luar koridor hukum. Kalimat jeleknya, non-legal. Walau, ada juga pebisnis yang sempat bercanda kalau semakin tidak ada aturan maka berbisnis juga semakin leluasa.

Tentu kita tidak ingin sampai ada bisnis yang tidak punya aturan main. Di situlah fungsi negara. Kalau sampai bisnis seperti pertambangan tidak diatur, maka boleh jadi akan ada eksploitasi alam yang luar biasa dan merusak lingkungan. Kita butuh aturan, butuh hukum yang pasti.

Kasus Susno Duadji jelas adalah domain hukum, wewenangnya negara. Kalau ini tidak bisa dituntaskan, maka akan ada pertanyaan penting; untuk apakah ada negara? (*)

 

– ilustrasi:
A Ride for Liberty, The Fugivite Slaves
Eastman Johnson
sumber: wikimedia.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s