Asing


asingKalaulah tidak ada negara nation, boleh jadi tak ada sekat-sekat negara di atas dunia. Namun, alam dan sejarah tampaknya berkata lain. Di masa kini, ada ada total 206 negara, dengan 193 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa dan 13 lainnya yang kedaulatannya masih dalam perdebatan.

Nation diambil dari bahasa latin, natio, yang berarti “yang telah lahir”. Sebagian kamus mendefinisikan “nation” sebagai orang-orang yang menduduki negara yang sama, bersatu di bawah pemerintahan yang sama, dan biasanya berbicara bahasa yang sama. Juga bisa merujuk pada: “orang-orang, ras atau suku, mereka yang memiliki keturunan yang sama, bahasa dan sejarah”.

Ada benang merah antara lahir, wilayah, bahasa dan sejarah yang sama. Di luar dari yang “sama” itu, dia adalah asing. Ada border, pembatas, antara “aku-kami-kita” dengan “kau-mereka”.

* * *

Globalisasi dan internasionalisasi sudah menjadi discourse yang umum. Bahkan, rakyat yang kurang pendidikannya pun sudah begitu fasih menyebutkan kata “globalisasi”. Namun, agak aneh juga kalau kadang-kadang dua kata itu disandingkan dengan kata “liberalisasi”. Ini terutama untuk dunia perekonomian.

Sekeping informasi menyebutkan, jelang diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), orang ataupun institusi asing dapat memiliki saham di perusahaan Indonesia maksimal sebesar 70%. Ini soal perdagangan bebas antar negara-negara di ASEAN. Tidak hanya inter-ASEAN, tapi juga dengan China dalam The ASEAN–China Free Trade Area (ACFTA), dan seterusnya. Belum lagi perdagangan bebas dunia.

Soal kepemilikan memang menjadi sorotan tersendiri karena itu berarti juga soal kekuasaan mengelola perusahaan. Bila manusia dan ekonomi Indonesia, terutama di level bawah, kalah bersaing dengan warga negara asing, maka otomatis, pengendalian ekonomi berada di tangan asing. Ini sebuah konsekuensi logis saja.

Di satu sisi, kondisi itu cukup mengkhawatirkan. Kalau daya saing ekonomi Indonesia terus tergerus, maka Indonesia berada dalam posisi lampu kuning dan berbahaya. Sementara dalih soal alih IPTEK, sudah lama dikritik orang implementasinya. Ilmu itu sesuatu yang sangat mahal, orang luar tak akan begitu mudah untuk memberikan ilmunya begitu saja kepada orang lain.

Kita memang suka mengharapkan hal yang naif. Ini ada lagi, misalnya, diputuskannya seorang warga negara Belanda untuk menjadi salah satu direktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN) strategis seperti Garuda Indonesia. Ini bukan soal ada larangan atau tidak, tapi ini adalah kedaulatan ekonomi dan selanjutnya adalah kedaulatan politik. Benarkah sudah tidak ada lagi anak-anak bangsa yang punya kaliber sama bahkan melebihi orang asing yang dipilih oleh pemerintah itu?

Ironis. Banyak anak bangsa yang entah mengapa begitu susah masuk sebagai pegawai dalam BUMN, perusahaan negaranya sendiri, sementara orang asing lenggang kangkung saja di negara Indonesia.

Bila kita sendiri tak percaya diri untuk menghadapi dunia internasional, lalu mengapa pula ikut-ikutan untuk memasuki pasar yang begitu ganas dan kejam? (*)

ilustrasi:
Strange Bodies Exhibit Hirshorn
strangepictures.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s