“N”


nSiapa superhero terkuat? Mungkin yang pernah dibuat oleh DC Comics, Superman. Apa profesinya? Jangan tersenyum dulu: dia memang seorang jurnalis. Kita tidak tahu juga mengapa penciptanya, Jerry Siegel dan Joe Shuster, menyematkan profesi itu kepada si manusia super itu. Profesi yang berkaitan dengan jurnalistik masih ada lagi, misalnya yang dibuat oleh Marvel, Spiderman. Profesi lain bukan tak ada. Batman, misalnya, adalah seorang pengusaha besar.  

Soal kuat, mungkin superhero yang lain juga kuat. Tapi kedigdayaannya yang paling menarik dan berkarakter kuat –sekaligus menjadi salah satu hayalan terbesar umat manusia—yaitu kemampuannya terbang. Ada imajinasi yang super di sana; terbang ke sana kemari, menembus awan, langit dan ke luar angkasa. Namun, sesuper apapun dia, tetap punya kelemahan. Tak usah kita ceritakan di sini. Ini memang bukan cerita komik.

* * *

Info menarik muncul dari Bandung. Dikabarkan,  PT Dirgantara Indonesia (DI) sedang banjir pesanan. Hebatnya, disebutkan pesanan banyak dari luar negeri. Acara Inacraft 2013 di Jakarta Convention Centre kemarin, coba melukiskan itu. Salah jenis pesawat yang, konon, banyak dipesan adalah pesawat N219.  Ini merupakan pesawat terbaru dan sedang intens dikerjakan PT DI. Ada kerjasama dengan Badan Pengembangan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) dalam soal anggaran riset. Itu tentu membahagiakan.

Indonesia, khususnya di Asia Tenggara, punya nama bagus di industri dirgantara. Dulu di zaman Prof. Dr. Ing. BJ Habibie, di kala hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei, diluncurkan pesawat N-250. Ini merupakan pesawat regional komuter turboprop rancangan asli IPTN (nama asal dari PT DI). “N” berarti Nusantara. Dulu, “N” juga berarti Nurtanio, pendiri dan perintis industri penerbangan di Indonesia. Disebutkan Habibie, ini merupakan “murni” Indonesia. Kita tentu bangga.

Pesawat yang diproduksi sebelumnya agak berbeda. Misalnya CN-235 di mana kode CN menunjukkan CASA-Nusantara atau CASA-Nurtanio, yang berarti pesawat itu dikerjakan secara patungan antara perusahaan CASA Spanyol dengan IPTN.

Namun apa lacur, krisis melanda Indonesia. Industri pesawat kita dilanda kebangkrutan. Apalagi, industri strategis ini juga kena tuduh tidak efesien dan efektif dengan kondisi Indonesia yang masih “belajar berjalan”.

Untunglah, kini, setelah industri berjalan terseok-seok selama beberapa tahun, kita patut bangga terhadap industri pesawat kita yang menggeliat lagi. Pesanan demi pesanan kepada PT DI paling tidak membuat kita ceria kalau industri pesawat kita memang diperhitungkan. Agak miris rasanya ketika maskapai Indonesia lebih memilih membeli pesawat Boeing (Amerika) dan Airbus (Perancis/Eropa) untuk memerkuat armadanya. Mirisnya hampir sama ketika mendengar BUMN strategis seperti Garuda Indonesia, harus memakai jasa warga negara asing sebagai salah satu direksinya.

Memang, saat ini kita belum mampu membuat pesawat tipe jumbo. Tapi kalau industri ini tidak diperkukuh, sampai kapan kita akan menunggu? Apalagi, bisnis transportasi penerbangan di Indonesia sedang tumbuh pesat.  (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s