Murah


miskin1Tafsir membuat segalanya menjadi mungkin. Meski, wajib ada imajinasi yang membuat si penafsir tadi dapat mengembara dalam ruang yang tak terbatas. Mahal dan murah demikian juga. Bagi seorang kaya raya, harga BBM Bensin Premium yang rencananya dinaikkan Rp 6.500 per liter, itu tidak ada apa-apanya. Bagi orang miskin, walau tak ada pengaruh karena dipastikan dia tidak punya mobil pribadi berplat hitam, itu mahal.

* * * 

Di Inggris ada berita menarik. Dikabarkan seorang perempuan Inggris berumur 21 tahun, menjadi orang kaya paling muda yang ada di dalam daftar seribu orang terkaya di Inggris. Namanya cukup menarik: bernama India Rose James. Kita panggil saja dia dengan India.

India diperkirakan punya harta senilai £ 329 juta (kurang lebih Rp 5 triliun) yang dia kuasai bersama kakak tirinya, Fawn (27 tahun). The Telegraph yang mengutip Sunday Times Rich pada Selasa (23/4),  menuliskan kekayaan pribadi India itu jauh melampaui harta milik Ratu Elizabeth senilai £ 320 juta (sekitar Rp 4,7 triliun).

Memang, India tak mengusahakan sendiri hartanya itu. Dia mendapatkan warisan super-wah dari kakeknya, taipan properti Paul Raymond yang berjuluk “King of Soho”. Mendiang kakeknya itu mewariskan lebih dari 80% kekayaannya kepada cucunya tersebut setelah ia meninggal di umur 82, tahun 2008 lalu.

Tapi kaya adalah kaya, darimanapun dia mendapatkannya. Bagaimana dia mendapatkan (dan membelajakannya), itu menjadi tak penting benar. Itu bila kita tak meletakkan sisi moralitas di situ. Tapi dengan kekayaannya itu, dia dipastikan tak akan susah dari segi keuangan.

Nun jauh di Inggris, kita Indonesia ini hidup masih dalam standar yang disebut oleh ekonom maupun lembaga keuangan dunia sebagai the developing country, negara berkembang. Ini merupakan peningkatan karena dulu, kita sempat disebut “negara dunia ketiga”. Para aktivis terkadang cukup emosional menanggapi ini. Itu ketika negara kita dimasukkan dalam kasta terendah (dari segi ekonomi) negara-negara di dunia.

Apa yang membedakannya adalah soal tafsir tadi. Orang kaya (dan negara-negara kaya dan maju) selalu menghitung berdasarkan koceknya. Dia tidak peduli indikator kebahagiaan seseorang di luar dari duit. Ketika si kaya menggenggam duit Rp 100.000, mungkin itu hanya untuk ongkosnya saja; uang minyak. Tapi bagi si miskin, dengan duit itu mungkin dia sudah bisa berhayal-hayal untuk “berpoya-poya”.

Lagi-lagi ini soal tafsir. Karena itu, masyarakat Indonesia yang sebagian besarnya bukanlah orang kaya, ketika dihadapkan pada kenaikan karga minyak, gas elpiji, bahan-bahan kebutuhan pokok, dan seterusnya, secara langsung telah berhadap-hadapan dengan tafsir pemerintah yang memakai perspektif dunia internasional dalam menentukan harga. Harga ekonomi BBM Bensin Premium dikatakan Rp 9.500/liter di dunia internasional. Pengusaha setuju-setuju saja dengan kenaikan ini. Alasan pemerintah (dan pengusaha) juga masuk akal; dengan subsidi minyak maka APBN terbebani. Rp 9.500/liter itu murah terjangkau.

Di situlah letak masalahnya; soal tafsir “murah” itu tadi. Tak percaya? Tanyalah si India. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s