Teror


terorAmunisi sebenar dari teror bukanlah senjata, peluru, nuklir, bom dan seterusnya, seperti yang sering kita lihat di film-film. Kekuatan teror terletak pada substansinya yaitu rasa takut. Padanannya yang lain seperti rasa khawatir, gentar, was-was dan lain sebagainya. Teroris menyebar ketakutan ke target sasarannya. Jadi, dia punya target khusus tidak seluruh orang, kelompok atau masyarakat. Tapi, dia selalu memanfaatkan ketakutan komunal untuk memerkukuh atau katakanlah, sebagai bingkai, serangan teror yang dirancang dan dilakukannya. Apa yang paling ditakutkan dari masyarakat, itulah yang menjadi bingkai teror.

Bila serangan bom terjadi di masyarakat yang setiap hari melihat dan mengalami bom, seperti di daerah-daerah konflik, maka teror bom tidak akan pernah menakutkan. Itu makanan mereka sehari-hari. Tapi di tengah-tengah situasi masyarakat yang aman, terkendali, nyaman dan stabil, maka ledakan bom akan sangat mengerikan. Dia akan membuat panik massal. Si penyebar teror pun tersenyum.

* * *

Beberapa hari lalu, pemerintah melalui institusi kepolisian dan TNI, melakukan simulasi penanggulangan teror di kantor Walikota Medan. Dikatakan, itu sebagai salah satu persiapan untuk menyambut pertemuan APEC di Kota Medan. Tidak ada yang luar biasa. Tentu juga ada yang membuat kening berkernyit, misalnya penamaan kelompok teroris yang menjadi contoh dalam simulasi itu. Kelompok Islam tentu akan tidak senang ketika kelompok yang menjadi contoh teroris dinamakan “al-Furqan”. Itu merupakan salah satu nama al-Quran. Tapi kita bukan membahas ini walau pemerintah seharusnya sensitif terhadap apa yang dilakukannya.

Namun sebenarnya, bukan jenis teror itu yang kita khawatirkan saat ini. Ada semacam “teror” yang dibuat oleh pemerintah sendiri dengan rencana kenaikan BBM Bensin Premium bagi mobil plat hitam. “Teror” seperti itu terjadi ketika –hingga tulisan ini ditulis–, pemerintah tak juga memastikan kapan kebijakan ini akan diambil. Pemerintah masih terus sibuk berwacana. Padahal, kebijakan seperti ini cukup sensitif. Akibat ketidakpastian, masyarakat pun mulai resah dan titik-titik kepanikan sudah mulai kelihatan. Misalnya, potensi kenaikan harga pengangkutan dan nantinya akan menjadi penyebab kenaikan harga-harga barang/jasa.

Semestinya, untuk kebijakan yang sangat sensitif ini, pemerintah juga mesti mempunyai sensitifitas yang jauh luar biasa daripada rakyatnya sendiri. Kita lihat, akibat ketidakpastian keputusan, kekhawatiran akan adanya kelompok-kelompok spekulan yang mulai lakukan penimbunan –tidak hanya BBM tapi juga produk barang—sudah mulai kelihatan niscaya. Ini jelas merugikan bagi perekonomian secara keseluruhan.

Pemerintah semestinya tidak menebar “teror” kenaikan BBM. Buatlah keputusan dengan cepat dan terangkan secara transparan mengapa kebijakan itu mesti diambil. Bila ini tidak dilakukan, alih-alih pemerintah ingin agar gejolak sosial diminimalisir, malah kelambanan keputusan membuat rasa takut dan khawatir telah menyebar luas di masyarakat. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s