Renminbi


renminbi1Renminbi adalah mata uang resmi China. Biasa ditulis dengan huruf “RMB”. Unit utamanya adalah yang sering kita dengar, Yuan. Satu yuan dibagi menjadi 10 jiǎo, yang nantinya dibagi lagi menjadi 10 fen. Uang kertas Renminbi tersedia dalam tukaran 1 jiao sampai 100 yuan (¥ 0,1-100) dan dalam bentuk koin dari 1 fen sampai 1 yuan (¥ 0,01-1).

Ini mungkin belum cukup familiar di Medan (dan Indonesia). Tapi sebentar lagi, orang di Medan bisa saja tertarik menggunakan dan menyimpan mata uang ini. Apalagi, Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), bank terbesar di China dan perusahaan terbesar di dunia 2012, seperti dilaporkan Forbes, sudah lama menancapkan kuku-kuku tajamnya di jantung Kota Medan, Sumatera Utara. 

ICBC bukan bank mainan anak-anak. Dikatakan Forbes, hingga Mei 2013, nilai pasar ICBC adalah US$ 237,3 miliar. Sementara pendapatan ICBC mencapai US$ 134,8 miliar dengan keuntungan US$ 37,8 miliar atau sekitar Rp 359 triliun. Nilai aset perusahaan ini adalah US$ 2,813 triliun. Ingat, itu dalam ukuran triliun dolar AS.

Mereka memerkerjakan 408,859 pekerja dengan jaringan di hampir seluruh dunia. Outletnya lebih banyak dari dua bank terbesar di Indonesia, Bank Mandiri dan BCA, yaitu 16.648 outlet hanya di China saja dan 239 cabang di seluruh dunia. Diketahui memiliki 4,11 juta perusahaan sebagai nasabah dan 282 juta nasabah individual.  Seluruh layanan produk perbankan dimiliki mereka.

* * *

Kita ingin berbicara mengenai China sebagai sebuah negara –yang menamakan dirinya secara resmi dengan kata “China”—. Tentu, kita menghargai istilah “Tionghoa” yang lebih dipilih oleh warga etnis Tionghoa yang ada di Indonesia. Namun, bukan itu yang sedang kita bicarakan.

China dan Medan sudah tak lagi sekedar bersentuhan, tapi bahkan berpilin-pilin. Bukan hanya di era sekarang, tapi kala Indonesia ini belum ada, masih dijajah Belanda, Jepang dan masih berbentuk kerajaan-kerajaan tradisional. Dulu, Tjong A Fie, pernah mendapatkan posisi terhormat di Kota Medan ketika dia berhasil menjadi penyalur tenaga kerja dari China ke perkebunan-perkebunan yang ada di Kota Medan. Bukan dia saja dan bukan cuma dia pula yang memelopori hubungan erat antara (penguasa) China dan Medan .

Kemudian, China pernah tersangkut hubungan tak sedap dengan Indonesia, itu ketika hubungan terjalin antara China yang berhaluan komunis dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) waktu itu. Kedua belah pihak menjadi trauma; negara (dan penguasa) trauma, kelompok warga dari China pun trauma, gara-gara peristiwa G-30S/PKI. Tapi pasca reformasi, China dan Medan sudah mesra.

Hubungan China dan Kota Medan kini pun sangat mesra, terutama dari segi bisnis. Investasi masuk deras walau dari pejabat yang berwenang soal itu kita belum dapat penjelasan yang tegas dan shahih berapa sebenarnya investasi yang ditanamkan usahawan China di Kota Medan. Tapi, dengan adanya bank asing milik China yang masuk ke Kota Medan, kita sudah dapat menduga, bahwa potensi ekonomi-bisnis yang terjadi antara China dan Medan, bukan dalam ukuran ecek-ecek. Mungkin saja suatu saat, Renmibi menjadi asyik untuk diperbincangkan di warung-warung kopi. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s