Utang


utangAda dua wajah utang; berkah dan musibah. Dia menjadi berkah ketika posisi kita sedang tak beruntung ataupun sedang sangat-sangat memerlukannya. Dulu sewaktu debat kandidat calon Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), ada pasangan yang nyeletuk soal pemberian kredit kepada rakyat miskin. Dia menanggapi seorang kandidat yang mengatakan rakyat kecil sangat perlu permodalan untuk usahanya. Kandidat ini begitu bersemangat. Tampaknya dia sangat tahu seluk-beluk penyaluran kredit bagi rakyat. Namun, celetukan bagi kompetitor kandidat ini tampaknya mengena bagi audiens yang hadir pada waktu itu, mereka bertepuk tangan. Apa celetukannya? “Itu ‘kan menambah utang rakyat, menambah penderitaan saja.”

* * *

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan menyebutkan, total utang pemerintah Indonesia hingga Maret 2013 mencapai Rp 1.991,22 triliun dengan rasio 24,1% terhadap PDB. Dari jumlah tersebut, Rp 588,38 triliun merupakan utang luar negeri yang didapat dari beberapa negara dan juga lembaga-lembaga multilateral.

Angka utang RI ini begitu mengkhawatirkan dan sudah mendekati titik Rp 2.000 Triliun. Bandingkan dengan data utang pada 2012 lalu, yang sebesar Rp 1.975,42 triliun.

Namun ada pula yang mengatakan usaha mana yang tidak ada utang. Beberapa menyebutkan, utang perlu untuk kelanggengan usaha. Dia menjadi modal kerja. Semakin besar modal kerja, perencanaan semakin tinggi. Kian mantap perencanaan, semakin kuat pula potensi estimasi rencana produksi dan keuntungan.

Negara butuh utang di antaranya sebagai komplemen anggaran negara dan nantinya sebagai anggaran pembiayaan proyek-proyek pembangunan.  Dulu ketika pasca merdeka 1945 dan pasca Orde Lama 1966, negara dihadapkan dengan ketiadaan modal. Negara kemudian, di antaranya, mengeluarkan kebijakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing di Indonesia. Hasilnya lumayan untuk mencukupi hidup negara. Tapi untuk menabung, sejahtera dan persiapan untuk masa depan, itu jelas tak cukup.

Namun kita memiliki sumber daya alam. Orang luar melihat kekayaan alam ini menjadi semacam agunan/jaminan yang tak ada dunianya. Alam kita bernilai sangat mahal. Luar negeri kemudian melirik Indonesia sebagai salah satu negara yang sangat berpotensi untuk diberikan pinjaman. Dan itu tak salah. Pinjaman masuk ke Indonesia bak air bah. APBN dan cadangan devisa pelan-pelan mulai teranggarkan.

Tentu tak ada yang gratis. Luar negeri kemudian bebas beroperasi dan mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke. Emas yang ditambang di Indonesia kemudian melingkar di leher dan jari-jari orang Amerika dan Eropa.

Namun, bila berbicara utang negara, maka jelas sekali kita juga mesti memerhitungkan soal siapakah nanti yang membayar beban itu. Sebagai rakyat, maka merekalah yang berada di barisan depan untuk menanggulangi itu. Kini, dengan beban utang yang kian tinggi, rakyat masih dihadapkan lagi dengan kenaikan Tarif Dasar Listrik, Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga kepada pajak-pajak yang banyak jumlahnya. Selain harus membayar utang-utang mereka secara pribadi, rakyat mau tak mau, juga harus membayar utang negara. Bisakah Anda bayangkan persoalan itu bagi rakyat? (*)

 

ilustrasi: forumkeadilan.com

One thought on “Utang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s