Tutup


closedClosed kata orang Inggris. Kata ini tidak identik dengan pintu, walau sering digunakan sebagai pasangan kata. Tapi, kata “tutup” mempunyai makna yang bersemayam diam-diam, di antaranya adalah akses; sebuah terusan, arah, ataupun jalan. Dia seperti sebuah titik kesimpulan, sebuah ujung setelah melewati sebuah lorong –misalnya pada makna jalan—tadi. Dia ada di bagian akhir. Dia diawali dengan “buka”. Jadi, sebuah kata seperti “tutup”, hampir mustahil berdiri sendiri. Dia merupakan akibat dari sebuah titik dan ribuan (mungkin juga tak terhingga) sebab.

Rangkaian apa yang terjadi antara sebab dan akibat tadi, kadang suka diacuhkan orang. Orang-orang lebih suka melihat hasil daripada proses, metode. Ketika anak Anda dinyatakan tidak lulus dan kemudian tidak naik kelas, Anda boleh jadi marah-marah kepada anak Anda, atau malah kepada guru dan sekolah anak Anda. Tapi bagaimana mungkin melihat hasil kelulusan seorang anak dari sebuah sekolah tanpa melihat proses yang dijalaninya selama bertahun-tahun? Mengapa dan bagaimana kondisi yang dialami si Anak tadi sehingga dia diputuskan tidak lulus oleh sekolahnya? Jangan-jangan, bukan si Anak tadi yang salah. Jangan-jangan si sekolah yang memang tak becus mendidik. Jangan-jangan ada persekongkolan jahat untuk tak meloloskan anak Anda. Jangan-jangan, jangan-jangan …

Jadi, kata seperti “tutup” (dapat) berposisi sebagai sebuah titik kesimpulan. Selesai? Belum. Persoalan selanjutnya adalah bagaimana Anda menutup. Bila diandaikan dalam menutup pintu, ada pintu yang ditutup dengan pelan, halus dan sedikit bersuara. Ada pula yang dengan cara  membanting. Ah, ada pula yang pintu otomatis yang dapat menutup dirinya sendiri. Anda dapat merasakan perbedaannya bukan?

Sekali lagi: sebab, alasan, akibat hingga kesimpulan yang terjadi merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

* * *

Kita bercerita soal penutupan sejumlah bisnis sebagai sebuah titik simpul. Sejumlah alasan boleh dikemukakan oleh si pemilik badan usaha ataupun mereka yang berwenang menutup sebuah kegiatan bisnis. Boleh sekali.

Tapi dalam dunia ekonomi –juga sosial, politik, budaya, dan seterusnya– kita tidak boleh melihat persoalan ini secara kasuistik atau kasus per kasus. Dunia ekonomi rentan dengan dampak domino. Masih kuat dalam benak kita, bahkan krisis yang dialami sebuah bank kecil seperti Bank Century ternyata mendapatkan perhatian luar biasa besar dari pemerintah sehingga pemerintah pun mengucurkan dana hingga Rp 6,7 Triliun untuk menyelamatkan bank swasta ini. Waktu itu pemerintah menghindari sesuatu yang abstrak: kepanikan.

Dunia ekonomi-bisnis sangat reaktif terhadap isu, sekecil apapun itu, baik dari peristiwa ekonomi maupun yang di luar bingkai ekonomi bisnis. Kepanikan jelas tidak kita harapkan. Itu kalau pakai logika SBY, Boediono dan Sri Mulyani Indrawati. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s