Listrik


lilinDunia tidak hanya berhutang pada Thomas Alva Edison, ketika dia menyambung penelitian-penelitian sebelumnyamengenai listrik dan mulai menjual lampu listrik. Jauh sebelum itu, dunia telah mencatat Thales, filsuf Yunani, telah memulai serangkaian penelitian pada 600 SM mengenai daya listrik. Pasca penemuan kapal uap oleh James Watt, revolusi industri di Inggris pun menjadi titik balik dari peradaban dan kebudayaan dunia. Dan energi listrik menjadi salah satu dasar utamanya.

Seperti kata Kartini, habis gelap terbitlah terang. Ya, penemuan ini laiknya membuat dunia kita terang-benderang. Listrik memungkinkan itu. Bahkan dia jauh lebih dari itu. Listrik tidak hanya bercerita soal lampu yang membikin terang itu, tapi juga soal ekselerasi, efesiensi dan efektifitas pekerjaan sehari-hari. Penemuan ini membuat serangkaian penemuan lainnya menjadi lebih mudah. Meminjam sebuah kalimat iklan produk, listrik membuat hidup lebih hidup.

Tidak cuma itu. Listrik adalah bahan dasar industri. Pabrik-pabrik, besar atau kecil, transportasi, gedung-gedung dan lain-lain lagi, yang dulu hanya bisa diangan-angankan, kini berdiri gagah. Dia memutar dan meningkatkan nilai tukar perekonomian. Dia menjadi begitu sangat-sangat berharga, bahkan seolah-olah dia merupakan “tuhan” kita yang baru. Tanpa listrik, hidup kita bisa jadi tercerabut. Dialah sumber kehidupan. Begitulah sederhananya.

Tapi kita lupa. Dunia, Indonesia dan kita di Sumatera Utara, pernah hidup tanpa listrik sama sekali. Kita sama sekali tak keberatan dan tak mengalami kesusahan. Nenek moyang kita hidup aman damai tanpa listrik. Untuk lampu penerang, kita mengandalkan sumber daya api, apakah dalam bentuk api kayu bakar, lilin atau mungkin yang dipakai oleh lampu petromaks. Tanpa listrik, kita sebenarnya bisa hidup. Rupanya dia bukan “tuhan”, dia hanya komplemen, pelengkap hidup. Mungkin dia sekedar “konsekuensi sejarah”. Setelah listrik, penemuan-penemuan baru pasti dihasilkan dan itu di antaranya untuk mengganti energi listrik. Kita percayakan itu pada orang-orang pintar di dunia eksakta.

* * *

Perusahaan Listrik Negara (PLN), salah satu BUMN strategis, didirikan oleh negara ini untuk menyediakan listrik bagi seluruh warga. Sudah berapa lama itu? Ah, biarlah PLN saja yang menghitungnya. Dan PLN berdiri di atas sebuah negeri yang terkenal di seluruh dunia, kaya-raya akan sumber daya energi alam. Apa yang tidak ada di negeri ini? Energi panas bumi, air, uap, bahkan nuklir pun ada.

Dus, aneh bukan ketika PLN hingga kini tak mampu menyediakan listrik bagi seluruh warga di seluruh pelosok. Aneh, bila peristiwa listrik padam berulang-kali itu selalu dialaskan dengan argumentasi soal perbaikan pembangkit. Aneh bila listrik saja sudah diteliti sejak sebelum tahun masehi, orang-orang PLN tak juga mampu membuat teknologi baru yang efisien, efektif dan murah. Aneh, bila PLN juga mengeluh kekurangan uang. Benar bagi PLN, aneh bagi kita, para konsumen. Kalau mereka didemo, tentu karena alasan PLN itu tak masuk akal bagi konsumen bukan?

Tapi mungkin ada hikmah di balik itu. Mungkin PLN sadar benar dengan kehidupan nenek moyang kita di masa lampau. Kita, bisa hidup tanpa listrik. Dan PLN menganut itu. Mungkin. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s