Mukhlizardy Mukhtar


Kali ini saya wajib menulis tentang seseorang. Seseorang yang indah dan tak luput senyum dari bibirnya, selalu.

Mukhlizardy M Dido
Mukhlizardy Mukhtar (almarhum)

Semula, saya ingin meminjam kalimat Khairil Anwar yang begitu pedih: duka maha tuan bertahta. Tapi agaknya, dia mungkin akan melarang saya. “Janganlah, itu terlalu berlebihan,” mungkin begitu kata dia. Dia selalu tersenyum dan mungkin itu pula alasannya, senyum.

Saya dan dia tahu, dia dan saya tak punya hak untuk mengendalikan dan dikendalikan apa yang akan ditulis. Tapi kali ini kami melanggar kesepakatan itu; dia menyarankan saya sesuatu dan saya mengikuti.

* * *

Suatu waktu, di kala senja mulai mendekat, di seputaran kawasan Gajah Mada Medan, kami berdebat soal asal muasal. Ada satu orang lagi, Abyadi Siregar. Saya yang paling kecil. Sesekali teh manis dingin dan panas –itu pesanan dia— melewati kerongkongan kami.

Dia memulai dari materialisme, walau dia sama sekali tidak menyebutkan kata itu. Dia begitu rinci dan halus menjelaskan soal materialisme. Saya kira, Darwin dan Marx serta pengagum alam pikiran materialisme yang bertutur Indonesia mesti berguru padanya untuk sebuah kesederhanaan penjelasan. Dia bercerita seperti anak kecil yang ceria ketika diberi mainan baru atau saat sedang menyedot es cendol. Dia menguraikan dengan menerangkan zat-zat kimiawi yang ada di alam semesta. Dia orang ilmu alam, sarjana kimia dan melanjutkan pendidikan di jalur yang sama di negeri tetangga, Malaysia. “Kita berasal dan terbuat dari zat yang sama, mengonsumsi zat yang sama dan terus begitu seterusnya,” kata dia dalam alur yang cukup tenang. Setelah itu terkekeh. Dia jarang terbahak yang membuat rautnya memerah dan dadanya terguncang-guncang.

Dia jelaskan kepada saya soal itu dengan fasihnya tapi dia tidak mengatakan satu hal: apakah dia setuju dengan itu atau tidak.

* * *

“Bikinlah lamaran dan jumpai saya,” kata dia di seberang telepon. Waktu itu, 1999, kami anak-anak pers mahasiswa baru saja mengikuti pelatihan dalam lingkup Jaringan Wartawan Pemantau Pemilu (JWPP). Dia menjadi fasilitatornya di Medan. Dia mengajak saya bergabung dengan Harian Tabloid Ekspress Medan. Setahu saya, dia waktu itu tidak lagi di Majalah Tempo dan Gatra. Saya pun bekerja di sana.

Suatu hari saya mendapat tugas dari redaksi dalam liputan bertema Hari Pers Nasional. Saya kebagian tema soal kertas untuk koran. Seharian saya di luar untuk mengerjakan satu tema dan kemudian baru tiba di kantor menjelang maghrib. Kelamaan masuk, saya tak kebagian komputer. Tapi sebuah mesin tik tua teronggok di koridor ruangan. Saya lalu duduk di situ. Laporan awal saya tulis dalam dua lembar, dan kemudian pe-er saya kumpul di meja sekretaris redaksi. Saya kemudian duduk dan menyeruput kopi. Lantas…

“Ini laporan, Awak? Bisa selesaikan hari ini?”
Itu kata dia sembari menatap saya. Ada beberapa peluh di keningnya. Tangannya menggenggam dua lembar kertas ubi. Saya terkejut.

“Bisa. Jam berapa mesti siap, Bang?”
“Setengah jam bisa?”

Saya tak menyangka dia memberikan waktu yang bagi saya cukup cepat. Saya iyakan saja. Lalu, saya kembali bekerja, kali ini di sebuah komputer yang kosong. Laporan itu baru selesai dua jam kemudian.

* * *

Komunikasi via teknologi memang sungguh tak pernah mengasyikkan. Tak ada sentuhan manusia. Kita hampir tak mendapatkan apapun, kecuali petunjuk yang diberikan oleh intonasi dan imajinasi yang kita berikan. Begitu pragmatis. Antara knowing dan seeing, begitu jauhnya, begitu beda.

Beberapa bulan ini, begitulah saya berhubungan dengan dia. Abyadi Siregar memberikan saya teleponnya. Dia sudah tersambung. Waktu itu dia masih di Sumatera Barat, sebelum berangkat ke Jakarta. Kami tahu kesehatannya agak terganggu.

“Guru, kali ini kita butuh tulisan pamungkas. Semua telah dirampungkan, tinggal tulisan terakhir. Karena ini pamungkas, maka hanya Guru yang bisa menuliskan ini.”

Itu kata saya melalui telepon. Kami cekikikan dan dia juga begitu. Sebelum-sebelumnya kami hanya kontak melalui BBM. Dia masih mengajar di sebuah sekolah menengah di Binjai. Dia juga sedang merancang sebuah media berbasis online. Untuk blognya, dia juga berkonsultasi sesuatu kepada saya. Saya menyanggupinya walau saya yakin bila tak berjumpa langsung, apa yang saya pesankan kepada dia itu tak akan banyak berguna. Dan untuk tulisan pamungkas itu, alhamdulillah, dia menyanggupinya.

“Ini tentang apa, Wan? Sudahlah, Awak saja yang nulis, hehehe…”
“Gak bisa, Guru. Ini mesti Guru yang nulis, kalau tidak, semua ini tidak akan selesai. Kita butuh tulisan yang merampungkan semua, semacam kesimpulan, lah.”
“Ya, sudahlah. Abang coba, ya.”

Di bulan Desember kemarin, dia menepati kata-katanya. Tulisannya yang lembut, santun, tak meledak-ledak tapi menusuk, mampir ke email. Kematangan dan kedewasaan yang konsisten terlihat di baris demi baris yang disusunnya. Dia adil dan tidak diskriminatif kepada pembacanya. Pilihan kata dan kalimatnya adalah kata dan kalimat yang bisa dinikmati dengan segelas teh atau sebatang rokok oleh seluruh kalangan, tua-muda, kaya-miskin, pintar-bodoh, apapun sukunya, apapun agamanya. Dia seorang jurnalis dan penulis terhebat yang pernah saya jumpa.

Saya bersuka ketika dia mengabarkan akan ada di Medan pada Sabtu, 16 Februari kemarin. Kami berencana jumpa pada Senin-nya. Di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, ketika hendak terbang ke Medan, Sabtu 16 Februari 2013, ternyata malaikat Izrail lebih dulu mengajaknya terbang ke yang Maha Lembut. Saya sungguh bodoh untuk dapat menangkap isyarat ketika meminta tulisan terakhir dari dia. Rindu berjumpa pun tak terlampiaskan, rindu yang akan berketerusan.

Begitulah. Kali ini, saya wajib menuliskan tentang seseorang. Seorang serius yang selalu tersenyum yang tak ingin berlebihan dalam suka maupun duka, dalam hal apapun. Seseorang yang karena kekayaannya, memilih untuk hidup sederhana. Seseorang yang akan selalu dirindukan.

Catatlah namanya: Mukhlizardy Mukhtar. “Berhasrat jadi orang ikhlas di bumi. Itu sesuai makna namaku, Mukhlizardy, mukhlis = ikhlas dan ardi = bumi,” tulis dia. Kami memanggilnya Dido. (*)

5 thoughts on “Mukhlizardy Mukhtar

  1. … Catatlah namanya : Mukhlizardy Mukhtar. “Berhasrat jadi orang ikhlas di bumi. Itu sesuai makna namaku, Mukhlizardy, mukhlis = ikhlas dan ardi = bumi,”
    Nama Mukhlis (Ikhlas) yg dipadu dengan kumpulan kata ZARDY :
    Z = Zuhud ; A = Amanah : Ramah ; D = Dedikasi ; Y = Yakin,
    Sebagaimana arti namanya ikhlas di bumi, Semoga Almarhum Dido juga dierima bumi dengan ikhlas dan mendapat tempat yang mulia disisi Allah Swt, Aamiin !

    Like

  2. … Catatlah namanya : Mukhlizardy Mukhtar. “Berhasrat jadi orang ikhlas di bumi. Itu sesuai makna namaku, Mukhlizardy, mukhlis = ikhlas dan ardi = bumi,”
    Nama Mukhlis (Ikhlas) yg dipadu dengan kumpulan kata ZARDY :
    Z = Zuhud ; A = Amanah : Ramah ; D = Dedikasi ; Y = Yakin,
    Sebagaimana arti namanya ikhlas di bumi, Semoga jasad Almarhum Dido juga diterima bumi dengan ikhlas dan mendapat tempat yang mulia disisi Allah Swt, Aamiin !


    amin ya rabb alamin. beliau sedang tersenyum di sana.

    Like

  3. (alm) om dido mmg org yg baik, slalu bpikiran positif thd prilaku manusia yg ada d sekitarnya, keikhlasan hati tersirat di wajah beliau yg selalu tampak cerah, Insya Allah, om bahagia disana aamiin

    amin ya rabb alamin.🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s