Keadilan untuk yang Berhak


Anak-anak muslim China kurun 1912-1949. (Sumber: Age 92 of Familiar strangers: a history of Muslims in Northwest China by Jonathan Neaman Lipman - wikipedia.org)
Anak-anak muslim China kurun 1912-1949. (sumber: Familiar strangers: a history of Muslims in Northwest China by Jonathan Neaman Lipman – wikipedia.org)

‘Adl adalah nama Tuhan. Manusia mengartikannya adil. Dan dia memberikannya kepada manusia. Namun, manusia tidak menikmatinya secara cuma-cuma. Tidak seperti nafas dan jiwa yang justru menjadi syarat kita untuk hidup, ‘adl justru harus dicari, diperjuangkan, direbut, kadang-kala dicuri.

Ini mungkin tema besar dari seluruh hidup manusia dan non-manusia. Iblis merasa jatuh maruahnnya ketika dia diinstruksikan sujud kepada Adam. “Aku lebih mulia dari dia!” sergah Iblis. Iblis “merasa” diperlakukan tidak adil oleh Tuhan. Penafsiran kalangan liberalis suka membela Iblis. Disebutkan, itu justru menjadi bukti Tauhid Iblis kepada Tuhan; dia tak mau menyembah kepada siapapun kecuali hanya kepada Tuhan.

Tapi mungkin ini adalah kamuflase. Menuruti Tuhan adalah menurut tanpa reserve sama sekali. Jelaslah bila Ibrahim jauh lebih mulia dari Iblis dalam soal Tauhid itu. Jelaslah para malaikat yang tunduk dan sujud kepada Adam lebih mulia dari Iblis.  Ibrahim menuruti instruksi untuk menyembelih Ismail tanpa ada keragu-raguan sedikitpun. Padahal, kalau ditinjau dari segi tetek-bengek humanisme universal, Ibrahim mestinya menyanggah dan mengatakan: bukankah itu menyalahi nilai-nilai kemanusiaan? Dan karena rasa penyangkalan itu –biasanya ini menggebu-gebu—, akan ada selalu ayat yang dijadikan justifikasi. Tapi Ibrahim tidak melakukannya dan dia menurutinya. Ini bukan soal adil dan tak adil seperti yang (mungkin) dirasakan Iblis, tapi ini adalah soal menuruti kehendak Tuhan.

Kisah pembunuhan Habil oleh Qabil, dalam satu perspektif yang agak nakal, juga karena si Qabil merasa diperlakukan tidak adil. Konon, dia meminta yang cantik, Iqlima. Alasannya juga logis: Iqlima adalah saudara sekelahiran dengan dia. Tapi Adam bersabda lain. Itu sudah ketentuan Tuhan. Qabil menolak dan dia harus menjadi manusia pertama yang membunuh manusia ketika qurban yang diberikannya kepada Tuhan tertolak.

Isra’ mi’raj Muhammad demikian juga. Dari perspektif imani, tak ada gunanya mengorek-ngorek soal logis-tidaknya, ilmiah atau tidak, benar atau salah. Ketika Muhammad mengatakan demikian, maka demikianlah adanya. Tak ada keraguan lagi. End of question.

Tuhan adalah absolut, yang mutlak. Tapi bagaimana menentukan apakah itu kehendak Tuhan dan bukannya keinginan nafsu manusia ataupun bisikan dari makhluk lain? Sebagai seorang nabi, maka Adam dan Ibrahim mempunyai hubungan langsung kepada Tuhan. Statemen mereka adalah juga statemen Tuhan. Mereka tidak bisa salah. Di sini, iman yang berbicara. Keyakinan kepada Tuhan berbarengan dengan keyakinan kepada nabi dan rasul. Sami’na wa ata’na, kami dengar kami patuhi adalah proposisi yang disandarkan kepada Tuhan dan utusannya.

Kepada yang selain itu, mohon maaf, statemen Anda wajib diuji. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s