Sepotong Senyum Sebagai Imbalan


studentSeorang mahasiswi berjalan di sebuah lorong di kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Pakaiannya, kalau menurut orang-orang yang berkecimpung di dunia mode, termasuk casual: jeans dan t-shirt berwarna coklat muda. Namun, lengan bajunya tidak panjang hingga ke pergelangan, tapi sampai ke siku saja. Tampaknya, ia menyelaraskan warna pakaiannya dengan warna kulitnya yang coklat muda keputih-putihan.

Wajahnya tidak terlalu lonjong dan tidak juga bulat, apalagi persegi. Rambutnya panjang sebahu. Bibirnya tipis. Bila dia tersenyum, maka rangkaian make-up yang hinggap di wajahnya, tampak semakin bersinar. Sinar wajahnya itu, mungkin, menjadi pemikatnya. Dan serombongan mahasiswa yang duduk-duduk di trotoar kampus. Suitan nakal terdengar. Ada yang bersiul panjang, ada yang memanggil-manggil, ada pula yang mengedipkan matanya. Mereka lalu tertawa-tawa. Tapi sayang, tak ada satupun yang menyambangi gadis itu. Gadis itu terus melenggang, melewati mereka. Kepada mereka, si gadis memberi imbalan sepotong senyum. Dia pun masuk ke lokalnya. Sendirian saja.

***

Sepotong kisah fiksi di atas paling menggambarkan bahwa setiap manusia, per individu maupun per kelompok, mempunyai persepsi dan pandangan sendiri-sendiri mengenai suatu objek. Mereka telah memiliki, dalam backmind-nya masing-masing, bagaimana menyikapi suatu objek. Mereka membawa pemahaman itu sesuai dengan latar belakang masing-masing, sesuai dengan kelompok bergaul mereka, sesuai apa yang diterima mereka di rumah mereka, kampung mereka, sekolah mereka dulu, dan seterusnya. Mereka mendapatkannya dari pengalaman.

Namun ada juga yang punya persepsi sendiri yang tidak dibentuk dari pengalaman inderawi hidupnya. Seorang yang terlalu lama hidup di pesantren, tidak pernah melihat, membincangkan ataupun memikirkan perempuan, tiba-tiba terbit dalam satu pemberitaan dalam media massa dalam kasus: pemerkosaan. Dia dapat darimana pengalaman itu? Bagaimana mungkin dia bisa memperkosa seorang gadis padahal dia punya riwayat hidup yang cukup suci dari perilaku yang demikian?

Mungkin saja dari dorongan biologisnya. Kebutuhan untuk hidup dan mempertahankan hidup membuat seorang manusia mampu menciptakan serangkaian perilaku yang sama sekali berbeda dengan kebudayaan dan adat-istiadat di lingkungannya. Pernah nonton film Tarzan? Nah, seumur hidupnya dia dikelilingi oleh Gorila yang membesarkannya dan hewan-hewan lain di hutan. Tiba-tiba ada sesosok bernama Jane, seorang perempuan yang berprofesi peneliti, tiba di hutan. Tarzan jatuh cinta kepada Jane. Darimana dia mendapatkan perasaan itu? Darimana dia tahu kalau dia harus menumpahkan perasaannya itu kepada seorang manusia perempuan dan bukannya seekor monyet betina?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s