Seandainya Aku Seorang Jawa


blangkon jawaMedia Inggris, Telegraph, baru-baru ini menulis “aib” negerinya. Mengutip buku Stuart Laycock berjudul All Countries We’ve Ever Invaded: And the Few Never Got Round ToTelegraph memberitakan kalau hampir 90% negara yang ada di dunia saat ini pernah dijajah oleh Inggris. Kalau studi dan berita media ini bisa disebut dalam sebuah nada kebanggaan sebagai sebuah nasion, maka apa yang pernah dituliskan oleh Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara pada 20 Juli 1913 dalam artikel sepanjang 4.500 kata berjudul Als ik eens Nederlander was … (Seandainya aku suatu saat menjadi orang orang Belanda), seakan menghampar kembali.

Dalam buku yang menarik karangan Daniel Dakhidae, Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Kekuasaan Negara Orde Baru (2003), Daniel mengomentari bahwa bagian inti tulisan tersebut menempatkan diri Soewardi Soerjaningrat  sebagai “warga/bawahan/onderdaan/kawulo” di dalam seluruh gemuruh pesta-pora perayaan kekesatriaan dan kemerdekaan Belanda. Di mana tempat seorang Soewardi dalam sistem kekuasaan Hinda?

Ik wilde, dat ik voor een oogenblik Nederlander kon wezen … een zuiver onvervalshcte zoon van Groot Nederland, geheel vrij van vreemde smetten (Aku ingin sejenak menjadi Belanda … Belanda sejati tak bercela putera Nederland Raya, yang sama sekali bersih dari noda-noda asing)

Menurut Daniel, bilamana semuanya ditempatkan di dalam seluruh diskursus etika, Nederlander-Inlander, maka menjadi Belanda bukan menjadi asing di Hindia. “Dengan menempatkan dirinya sebagai seorang Belanda, Soewardi sudah merasa dirinya mampu ikut bersama melantunkan madah kebangsaan Belanda Wilhelmus …,” tulis Daniel Dakhidae.

Namun setelahnya, masih menurut Daniel Dakhidae, tiba-tiba Soewardi melawan semua pendapat yang dikatakannya di atas tentang dirinya yang justru sudah berubah menjadi Belanda sejati. “… sebagai putera Nederland Raya, yang sama sekali bersih dari noda-noda asing, dia melarang pesta semacam itu …,” demikian komentar Daniel.

Kutipan di bawah ini merupakan bagian dari bait tulisan Soewardi Soerjaningrat seperti dikutip Daniel Dakhidae dari H.A.H. Harahap dan B.S. Dewantara dalam Ki Hajar Dewantara dan Kawan-kawan, Ditangkap, Dipenjarakan, dan Diasingkan (1980).

“… aku tidak sudi melihat penduduk boemipoetra negeri ini turut merayakan peringatan itu; akan aku larang mereka ikut bersuka ria dalam pesta-pora itu, aku akan kucilkan tempat pesta itu sebegitu rupa sehingga tidak ada seorang pun boemipoetra bisa melihat apa pun dari kegembiraan pesta-pora memperingati hari kemerdekaan kita. Menurut pendapatku, di sana letak sesuatu yang kurang sopan, dalam pikiranku sesuatu yang tidak pantas samasekali, tidak cocok kalau kita —aku masih membayangkan diriku sebagai orang Belanda— membiarkan kaum boemipoetra turut bersorak-sorai pada peringatan kemerdekaan kita. Pertama-tama kita menyinggung rasa hormatnya yang tinggi, dengan memperingati kemerdekaan kita sendiri di tanah tumpah darahnya yang kita jajah. Kini kita bersorak-sorai, karena seratus tahun lampu kita bebas dari suatu kekuasaan asing; dan semuanya itu kini terjadi lagi di depan mata mereka yang kini masih berada di bawah penjajahan kita. … Seandainya aku orang Belanda, maka tidak akan kurayakan pesta kemerdekaan di suatu negeri, di mana rakyatnya kita singkirkan dari kemerdekaannya.”

Seandainya Aku

Akan sangat rendah ketika tulisan Ki Hajar Dewantara di atas dimasukkan dalam diskursus sosial politik dan kebudayaan dalam bingkai Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2013 ini. Tidak. Namun, adalah sebuah catatan pula kalau apa yang dipampangkan di hadapan masyarakat Sumut saat ini –yang adalah juga salah satu imbas dari buruknya politik nasional Indonesia– , mungkin sungguh jauh dari apa yang pernah dibayangkan Ki Hajar Dewantara semasa menulis itu. Dia tidak membayangkan, ketika Indonesia merdeka (suatu saat nanti), Indonesia akan masuk dalam keterpurukan politik yang menyebabkan adanya jurang pemisah nan dalam antara negara, pemerintah, elit-birokrasi, dan rakyatnya.

Saat ini, ketika rakyat dihadapkan pada praktek money politic pada proses pemilihan penguasa yang dijadwal oleh model demokrasi yang dipilih Indonesia, mungkin pula mereka sedang membayangkan “seandainya aku menjadi seorang penguasa?” Rakyat tidak mampu melawan politik uang yang disodorkan pada mereka karena mereka dipertontonkan oleh politik uang para elit yang begitu parah. Partai politik tak malu-malu meminta dana kampanye sebagai penghalus bahasa dari “uang perahu”. “Setoran” pada pemimpin begitu kukuh dalam penentuan jabatan birokrasi. Korporat sungguh merajalela masuk dalam jaring-jaring pemerintahan dan menjadi salah satu pemutus utama dalam kebijakan-kebijakan negara dan pemerintahan. Ki Hajar Dewantara (mungkin) tak membayangkan itu. Beliau tak membayangkan demokrasi seperti apa nanti yang akan dipraktekkan dalam Indonesia merdeka.

Dalam tulisan itu, Ki Hajar Dewantara adalah seorang penyindir sekaligus penyerang yang hebat dalam pertarungan diskursus itu. Atas nama apapun, Belanda seharusnya memang tak berhak merayakan dan mendefinisikan “kemerdekaan” karena dia adalah penjajah. Dari dia kita bisa mafhum kalau hipokritas adalah bagian koin yang lain dari wajah penjajah.  Dan dia melawan itu.

Ki Hajar Dewantara berjalan menelusuri lubuk terdalam kolonialisme yang dirasakannya secara langsung. Dia memertanyakan soal kemerdekaan dari balik tabir takdir seorang yang terjajah. Dia sadar benar soal harkatnya sebagai boemipoetra terjajah sebagai “aku” yang penuh kelemahan dan kehampaan masa depan, sebuah masa yang begitu multitafsir dan dipandang dalam kerangka yang rigid; jelek dan buruk.

Dalam pandangannya itu, si “aku” telah punya pandangan tinggi soal “kalian” dan “mereka” dan berusaha untuk masuk menjadi bagian dalam kata “kita”, sebagai seorang Belanda. Ketika berbaju Belanda, lantas terlihatlah sesosok boemipoetra yang begitu menyedihkan yang merupakan dirinya dulu. Bayang-bayang yang terkandung dalam kata “seandainya” itu kini menjelma menjadi realitas.

Begitulah. Rakyat punya bayang-bayang ketika melihat kekuasaan yang menyejahterakan para elit, keluarga dan kelompoknya. Apa yang pernah dikampanyekan mantan Gubernur Syamsul Arifin dulu –rakyat tidak lapar, miskin, dan bodoh– adalah ekspresi dari kalimat “seandainya” yang begitu kuat dibawakan oleh Syamsul dan memikat rakyat banyak. Kalimat itu begitu memesona bak bayangan surga dalam kitab suci, seperti sebuah tontonan wayang di atas panggung yang dipelototi hingga dinihari. Malah, dia bisa juga menjadi tabir dari kegelapan dan kejahatan pelaksanaan prosedur demokrasi yang diributkan banyak orang.

Akan halnya kekuasaan, maka posisi nederlander-inlander seperti yang diungkap oleh Daniel Dakhidae, tak diragukan juga telah menular. Kaum penguasa menjadi patron yang kemudian diidentifikasi, dianalisis, disimpulkan, dan lantas oleh mereka yang memanjat ke sana, akan mengambil langkah imitatif dan adaptif. Yang tak sukar adalah membayangkan untuk mengenakan simbol dan atribut yang sama pula dari kaum-kaum penguasa itu.

Ketika konstitusi berbicara kaku dan literer soal aturan, bagi kaum inlander ini adalah sebuah romantisme dan kadang-kadang utopia belaka. Kekuasaan faktuil memang tak pernah terwujud dalam konstitusi karena konstitusi demokrasi justru dibikin untuk mengendalikan hasrat kekuasaan yang liar dan kejam. Para pemanjat kekuasaan akan melihat di luar dari itu, membayangkan apakah sesungguhnya yang bisa dilakukannya secara nyata untuk bisa duduk di atas kekuasaan itu. Bukan moral, karena dia adalah sesuatu yang lain. Tapi misalnya inlander ingin jadi presiden, mungkin saja dia akan bergumam, “Seandainya aku seorang Jawa.” (*)

One thought on “Seandainya Aku Seorang Jawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s