Pahlawan yang Tersisa


pedang braveheartFernando Torres dan Luis Suarez menundukkan kepalanya. Dua orang itu, satu kelahiran Spanyol dan satu lagi orang Uruguay, membisu sebelum Chelsea vs Liverpool bertanding di Stamford Bridge, London, pada Minggu, 11 Nopember kemarin. Itu adalah hari Remembrance Sunday. Semua orang Inggris menghentikan aktivitasnya, mengheningkan cipta mengenang jasa para pahlawan mereka. Remembrance Sunday diperingati setiap hari Minggu kedua bulan November jam 11 siang, tepat ketika the Big Ben berdentang sebelas kali. Di Hyde Park London dilakukan penembakan meriam salvo dan hening cipta selama 2 menit di seluruh penjuru Inggris. Ratu diikuti para pejabat kerajaan, petinggi militer dan lainnya kemudian meletakkan karangan bunga di The Cenotaph, tugu pahlawan perang Inggris di kawasan Whitehall.

Beberapa saat sesudah pertandingan itu, salah satu televisi swasta di Indonesia menyiarkan perjuangan Sir William Wallace dalam film yang dibesut dengan sangat apik oleh Mel Gibson, Braveheart. Film itu menceritakan kekejaman dan penjajahan kerajaan Britania Raya di wilayah Skotlandia, dan Wallace adalah protagonis yang melawan kolonialisasi Inggris yang diperintah King Edward I of England. Wallace akhirnya tertangkap dan dihadapkan pada pengadilan. Di sana dia dituduh telah mengobarkan pemberontakan dan berkhianat pada Raja Inggris. “Aku tak pernah bersumpah setia padanya,” jawab Wallace ketika tuduhan itu dihadapkan padanya. Lantas, Wallace dihukum secara brutal. Dia digantung, dikebiri, isi perutnya dikeluarkan dan dibakar di hadapannya, kemudian dipenggal dan tubuhnya dicincang menjadi empat bagian. Sebelum ajalnya, Wallace masih sempat ditawari untuk mengakui kekuasaan Raja Inggris. Namun dia menolak dan berteriak lantang, “Freedom!”

Memerindingkan. Nun setelahnya, kita tidak pernah tahu apa yang ada di benak Fernando Torres, seorang anak dari bangsa Spanyol yang diceritakan sejarah pernah menjajah kawasan Uruguay, negerinya Luis Suarez. Kita tidak pernah tahu juga, apa makna Rememberance Sunday bagi mereka berdua. Yang pasti, mereka menundukkan kepala, mengheningkan cipta bagi para pahlawan Inggris. Saya pun tidak ingin membayangkan apa yang ada di benak para orang Skotlandia ketika melihat ritual sebelum pertandingan itu.

Pahlawan Rakyat

Seringkali, kepahlawanan dihubungkan dengan kemerdekaan, lepas dari sebuah penjajahan, sebuah kata yang begitu menakutkan dan menyimpan horor yang sedemikian dalam. Kedua kata itu, “merdeka” dan “jajah”, berada dalam lingkup “lawan kata”, sebuah pertentangan yang anehnya tidak diketahui yang mana lebih dulu muncul. Adakah “merdeka” merupakan reaksi perlawanan dari “jajah” sehingga dia muncul belakangan, ataukah sebaliknya merdeka adalah rasa yang sudah lebih dahulu ada sehingga kata “jajah” adalah bentuk ungkapan kontras dari orang-orang yang “pernah” merdeka?

Pahlawan adalah mereka yang berdiri di depan untuk membedakan antara merdeka dan jajah. Dia berada di sisi yang protagonis, berpihak pada makna yang terkandung pada kata “merdeka”. Dia membebaskan, membuka tabir dan memberangus habis seperangkat akibat dari penjajahan, sebuah kata yang antagonis. Lembarannya hanya berwarna dua; hitam dan putih, baik dan jahat.

Sejarah adalah pencerita terbaik soal para pahlawan. Dialah penutur dan kemudian mengalungi rangkaian bunga di leher para pahlawan itu. Masih ada yang mesti digarisbawahi. Kalau di Indonesia, mereka hanya diperuntukkan bagi yang sudah wafat. Dengan demikian, di negeri ini, kematian adalah pembatas sekaligus pemberi definisi bagi mereka-mereka yang ingin disebut pahlawan. Jasa, perjuangan, dan kehormatan tetap penting, tapi dia bukan yang pertama.

Ini mungkin yang membikin pahlawan jadi banyak versi, salah satu di antaranya, ya, versi negara di atas. Tapi mungkin bagi rakyat jelata, definisi seperti itu bisa ditanggapi dengan mengernyitkan kening. Bagi rakyat Notingham, Robin Hood sudah menjadi pahlawan bahkan sebelum dia mati. Demikian juga dengan rakyat Skotlandia menanggapi aksi heroisme William Wallace.

Tapi tentu, bagi kerajaan Inggris, Robin Hood dan William Wallace –semasa hidup maupun setelah wafat– bukan pahlawan melainkan pengkhianat. Ini juga seperti di Indonesia masih dikuasai Belanda. Para pejuang disebut Belanda sebagai ekstrimis, pengacau keamanan, sementara bagi rakyat Indonesia mereka adalah pahlawan. Sejarah Indonesia juga menuliskan “agresi” sementara Belanda menegaskan tentang “polisionil” pada satu peristiwa pertempuran antara Belanda dan Indonesia pada 1948 lalu.

Ini memang persoalan makna dan kalau lebih mengerucut lagi, mungkin ada persoalan pada “nasionalisme”, sebuah nasion. Pahlawan akan sangat tergantung pada yang menyematkan, dan bila diperkecil lagi pada bangsa atau malah “suku bangsa” yang merupakan kumpulan para rakyat dalam skup yang paling tradisional dan mengakar. Bila Soekarno dan Hatta disebut “pahlawan nasional” yang menggelorakan “Indonesia”, maka adakah Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Tengku Umar, Sisingamangaraja XII, dan yang lain-lainnya, dulu mengenal dan kemudian mengakui sebuah “bangsa Indonesia”? Kepada siapa dan untuk apa mereka dulu melawan para penjajah-penjajah Eropa itu?

Bila negara Indonesia yang kemudian terbentuk ini, disepakati sebagai jembatan ataupun kumpulan dari seluruh anak bangsa dan mempunyai kewenangan untuk mengesahkan soal “pahlawan” dari seluruh anak bangsa di seluruh wilayah Indonesia, lalu bagaimana kita memandang soal ukuran-ukuran yang diciptakan oleh instrumen negara untuk mengakui seseorang menjadi pahlawan sebuah negara? Bukankah ada resiko terjadi dualisme makna pahlawan dari negara dan rakyatnya sendiri? Mari berbicara seandainya saja negara bernama Indonesia ini kolaps dan berganti dengan sebuah negara yang sangat lain, atau katakanlah Indonesia di suatu nanti dijajah oleh negara lain, apakah yang terjadi dengan para “pahlawan” ini? Apalagi kita sama-sama mafhum bila penyematan pahlawan pun sangat terkait dengan dinamika politik yang sarat dengan kepentingan-kepentingan yang subjektif. Bila Soekarno baru di 2012 ini “diakui” sebagai pahlawan dan tidak pada pemerintahan dan tahun-tahun sebelumnya, tentu itu jadi pertanyaan.

Bila ini bisa kita setujui, maka boleh jadi kita akan memertanyakan apakah sesungguhnya yang disebut “negara” dan “rakyat” serta korelasi antara keduanya. Benarkah negara adalah hasil kesepakatan dalam sebuah “kontrak sosial”? Benarkah dalam kontrak itu juga tertera soal monopoli pemaknaan pahlawan bagi para rakyatnya? Bila pertanyaan ini dilanjutkan, boleh jadi akan ada ruang besar keraguan terhadap apa yang sering disebut sebagai substansi dan formalisasi demokrasi. Benarkah demokrasi, meminjam ucapan Abraham Lincoln, adalah pemerintahan dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat? Atau jangan-jangan, dalam kontrak itu, telah terjadi ketidakseimbangan posisi antara negara dan rakyat, di mana negara telah terlalu dominan sementara rakyat justru telah jatuh pada posisi subordinat.

Kata “ketidakseimbangan posisi” itu pun aneh juga, karena toh, demokrasi pada galibnya bertumpu pada kedaulatan rakyat. Tentu, memang akan ada varian-varian demokrasi seperti yang terjadi pada monarki demokrasi di beberapa negara seperti Inggris ataupun konsepsi “republik” dalam negara seperti Iran.

Rakyat boleh jadi memiliki pahlawannya dalam versinya sendiri. Apakah itu diakui atau sama dengan versi pemerintah, mungkin itu sekedar bonus saja. Rakyatlah yang paling tahu siapa yang benar-benar berjuang, membela dan melindungi mereka. Itu karena mereka yang disebut pahlawan itu, pada hakikatnya telah membuktikan kalau hidup mereka pun tidak hanya diperuntukkan bagi dirinya semata, melainkan juga untuk orang-orang di sekitarnya. Rakyat telah menobatkan sendiri para  pahlawan mereka yang hingga kini belum diakui negara sebagai pahlawan. Rakyatlah pemilik sebenar dari pahlawan yang tersisa itu. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s