Kekuasaan Islam di Tanah Sumatra


John Louis Esposito –seorang Katolik dan profesor Islamic Studies di Georgetown University, Amerika Serikat– tak jarang dikatakan naif. Dalam Islam: The Straight Path (1988), dia yakin sekali kalau dinamika abad 21 akan menjadi kebangkitan Islam, Islam revivalism, dalam abad ini ataupun sesudahnya. Dalam kajiannya, revivalisme Islam sudah (akan) menjadi kemestian walau banyak interpretasi yang akan diberikan kepada kata itu sendiri.

Paling tidak, ada beberapa indikator yang disebutkannya. Pertama, suburnya pandangan Islam holistik yang memandang Islam sebagai pegangan hidup yang lengkap dan total. Agama integral dengan politik, hukum, dan masyarakat. Sekularisme lambat-laun menjadi tema yang kurang menarik bagi umat Islam karena di seberang peradaban lainnya, terutama peradaban Eropa dan Amerika, sekularisme telah gagal untuk membawa manusia dalam peradaban dan kebudayaan yang adiluhung.

Hal terakhir ini sekaligus menjadi indikator kedua yang diajukan Esposito dalam memerediksi kebangkitan Islam. Sekular-materialistis akan semakin kehilangan pegangan ketika hancurnya moralitas, nisbinya tujuan hidup dan sempitnya daya jangkau relativisme dalam globalisasi, menjadikan masyarakat kehilangan konteks. Padahal konteks sungguh diperlukan untuk “menentukan” makna. Peradaban besar diceritakan justru dibingkai oleh konteks yang kuat. Renaissance sebagai fundamen masyarakat modern telah hilang. Bila kondisi “terang setelah gelap” seperti yang dimaksudkan oleh masa pencerahan, lalu apa?

Hal ini, sesungguhnya pernah menjadi pertanyaan besar ketika Islam mengalami masa keemasannya dulu. Lama-kelamaan lampu yang terang-benderang itu meredup dan gelap. Umat Islam dan negara-negara yang mayoritas Islam jatuh dalam kolonialisasi Eropa yang aktif mencari sumber-sumber daya untuk membiayai “pencerahan” seperti yang mereka maksudkan.

Faktor ketiga, adanya perubahan struktur maupun kultural masyarakat Islam dalam bingkai reformatif maupun revolutif. Esposito menggambarkan kondisi variatif dari kebangkitan Islam di negara-negara tertentu –Mesir, Libya, Iran, Lebanon, Arab Saudi, dan Pakistan– dan Islam di Eropa dan Amerika Serikat (termasuk Afro-American Islam). Adanya revolusi religio-politik di negara-negara Islam maupun berpenduduk mayoritas Islam, dikatakan berinsipirasi dari al-Quran dan nabi Muhammad.

Perubahan struktur dan kultural itu menegaskan eksisnya indikator keempat dalam tema revivalisme Islam yaitu adanya peralihan hukum positif secara berangsur-angsur maupun totalistik dari hukum yang berinspirasi dari Eropa dengan tatanan hukum Islam.

Ada beberapa indikator lain yang bisa dipahami dari uraian Esposito yaitu penolakan masyarakat Islam terhadap westernisasi namun bukan pada modernisasi dan ilmu pengetahuan. Selanjutnya adalah proses re-Islamisasi yang mensyaratkan institusionalisasi organisasi keislaman yang berdedikasi dan terlatih. Dalam tema besar itu, institusionalisasi itu akan secara langsung berhadapan dengan permasalahan sosial umat Islam di antaranya ketidakadilan sosial dan korupsi. Stasiun besar revivalisme Islam itu akan mengarah pada terciptanya suatu tatanan dunia baru yang menjadikan Islam sebagai kiblat dunia dalam segala bidang –agama, politik, ekonomi, budaya, sains dan teknologi–.

Lokalistik

Dalam tema besar itu, percaturan politik di Pilkada DKI Jakarta, agaknya terlalu dipaksakan untuk dimasukkan dalam pusaran besar revivalisme Islam. Selain itu, kalangan yang kontra ataupun yang sinis terhadap hal ini, telah terburu-buru menjadikan ini sebagai salah satu antitesis terhadap rumus-rumus revivalisme Islam. Beberapa analis dan aktivis politik yang menulis pasca kekalahan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli itu, langsung menyerang dengan pedas bahwa idiom-idiom politik berdasarkan SARA telah tidak laku dan ditentang masyarakat. Bahkan sebuah majalah terkemuka di Jakarta, menyatakan dengan lugas bahwa menggeser arah demokrasi ke sebuah pemilihan yang berdasarkan agama merupakan pilihan yang rendah dan itu tidak akan banyak berguna dalam masyarakat modern yang ingin maju.

Bila jujur, maka pemikiran itu sebenarnya cukup dikotomis, parsial dan prematur. Pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi, sejak semula memang tidak dibungkus sebagai pasangan Islam ataupun Islami. Barulah pasca pemilihan putaran pertama, pasangan ini kemudian diketahui memakai secara tegas baju Islam untuk menggaet dan menaikkan jumlah pemilihnya di putaran kedua. Dikotomis bisa dinyatakan karena seandainya Fauzi Bowo-Nachrowi dikatakan pasangan Islamis, maka pasangan lawannya Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) telah berposisi sebagai “tidak islamis”, hal mana telah menimbulkan kegelisahan yang amat sangat di pasangan ini. Kegelisahan ini terbukti ketika Joko Widodo kemudian juga mengkampanyekan dirinya adalah seorang Islam juga. Jadi, (simbol) Islam menyeruak dalam Pilkada DKI Jakarta adalah persoalan mendongkrak suara alias persoalan taktis semata.

Struktur sosial di DKI Jakarta juga tidaklah bisa dikatakan representasi masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Bila polarisasi Islam gaya Geertz masih laku dipakai yaitu abangan-santri, maka inilah saatnya mengkaji struktur masyarakat muslim di Jakarta: adakah muslim Jakarta termasuk abangan ataukah santri? Jangan-jangan kita dapat menemukan pola lain dari  karakter Islam di ibukota. Dengan demikian, adalah menarik untuk menemukan adakah perbedaan relatif atau mutlak antara muslim ibukota dan muslim di kawasan lainnya di Indonesia. Pertanyaannya misalnya bisa cukup sederhana saja; samakah karakter muslim Jakarta dengan muslim Sumatera Barat atau Aceh? Tapi biarlah ini menjadi pe-er orang Jakarta saja. Itupun kalau mereka berminat.

Kini, yang terpampang di depan mata adalah Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2013 mendatang. Ada hal menggelikan sekaligus hal yang terlalu dipaksakan ketika beberapa waktu lalu muncul “dugaan” kalau syndrom Jokowi juga akan menyebar dalam perhelatan politik di kawasan ini. Premisnya adalah bila ingin menang maka model Jokowi akan menjadi contoh yang paling pas untuk memerkukuh daya elektibilitas. Ini membuat hipotesa tambahan bahwa masyarakat memang menginginkan model yang seperti Jokowi ini untuk dipilih. Benar atau tidak hipotesa ini, lagi-lagi, Pilkada DKI Jakarta adalah contohnya.

Karena model Jokowi yang begitu sekular –adanya pemisahan yang kuat antara agama dan politik—maka adalah hal menarik untuk melihat Pilgubsu 2013 dalam kerangka besar revivalisme Islam. Pertama, syndroma itu jelas akan berhadap-hadapan secara langsung terkait pertanyaan menarik: benarkah ketika menjadikan Islam sebagai tema besar dalam pilgubsu akan membuat masyarakat terjebak dalam konflik SARA? Bila jujur dan adil, maka itu hanya sekedar reduksi kalau tidak bisa dikatakan mengeliminir majunya politik Islam di Indonesia. Model Jokowi –seperti yang dikatakan oleh pendukungnya—yaitu sama sekali nihil dari arus politik SARA, memprioritaskan penawaran program bagi masyarakat, dan direct approach kepada masyarakat bawah adalah hal yang menggelikan. Tentu, bila jujur memandangnya, itu tidak benar. Hampir semua kandidat akan melakukannya. Itu pola umum saja.

Kedua, Islam memanglah tidak patut dipakai sebagai bahan jualan politik. Namun, gairah terbesarnya adalah bagaimana menjadikan tema revivalisme Islam itu dalam serangkaian prioritas program yang lebih modernis, terbuka dan tentu saja fleksibel. Itu membuat Islam tidak hanya jadi jargon politik, tidak hanya sekedar taktik untuk memertinggi perolehan suara. Jelas itu pilihan yang rendah untuk kemuliaan Islam.

Itu akan memerlukan banyak indikator. Ada di urutan teratas adalah pemahaman terhadap politik Islam yang lebih luas, komprehensif dan holistik. Tentu itu mensyaratkan adanya tafsir-tafsir baru mengenai bagaimana program Islam dalam ranah politik yang lebih bercita rasa lokalistik, dan yang mungkin penting adalah aplikatif.

Nah, kalau di tengah lingkungan masyarakat muslim dan tidak terdengar program-program yang merupakan turunan dari Islam politik, bukankah itu aneh? Itu seaneh ketika dalam lingkungan besar masyarakat muslim, mesjid-mesjid bisa diruntuhkan seenaknya. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s